Wednesday, 21 April, 2021

Penjelasan MUI Terkait Pria Memandikan Jasad Wanita Covid yang kembali Viral


Medan, muisumut.com,  Sehubungan dengan peristiwa yang kembali viral  terkait pelaksanaan fardhu kifayah atas jenazah almarhumah ZAKIAH yang dimandikan oleh 4 orang pria pasca ditetapkannya pelaku menjadi tersangka, maka MUI Sumatera Utara melalui bidang informasi dan komunikasi menjelasakan beberapa hal, Rabu, 24 Februari 2021

Dr. Akmaluddin Syahputra yang merupakan ketua bidang infokom menjelaskan “pasca ditetapkannya beberapa orang menjadi tersangka, banyak pihak yang menanyakan kepada beliau secara pribadi maupun kepada Lembaga MUI Sumatera Utara, terlebih Sekjen MUI Pusat juga sudah mengeluarkan pernyataannya” demikian ungkapnya di Kedai Wakaf MUI Sumatera.

Akmaluddin yang pada periode sebelumnya merupakan Sekretaris Komisi Fatwa menyebutkan bahwa Dalam beberapa surat kabar baik online maupun konvensional ramai memberitakan, “bahkan Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan telah mengeluarkan pernyataan di surat kabar terkait empat petugas medis laki-laki di RSUD Djasamen Saragih, Pematangsiantar, Sumatera Utara yang memandikan jenazah pasien suspek berjenis kelamin perempuan telah melanggar syariat Islam dan fatwa MUI soal memandikan jenazah pasien virus Corona.” jelasnya.

Dalam hal ini MUI Pusat mengeluarkan fatwa No 18 tahun 2020  PEDOMAN PENGURUSAN JENAZAH (TAJHIZ AL-JANA’IZ) MUSLIM YANG TERINFEKSI COVID-19, yang antara lain menyebutkan Pedoman memandikan jenazah yang terpapar COVID-19 dilakukan sebagai berikut: a. Jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya b. Petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan dan dikafani; c. Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian. Jika tidak, maka ditayamumkan. d. Petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum memandikan; e. Petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh; f. Jika atas pertimbangan ahli yang terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara: 1) Mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal sampai pergelangan) dengan debu. 2) Untuk kepentingan perlindungan diri pada saat mengusap, petugas tetap menggunakan APD.

Lebih lanjut ketua bidang Infokom menyatakan bahwa “MUI Sumatera Utara juga telah membahas terkait hal ini ketika MUSDA ke Sembilan di Medan yang dilaksanakan tanggal 18-20 Desember 2020 dan mengeluarkan fatwa yang isinya antara lain bahwa memandikan mayat wanita muslimah dan melihat auratnya oleh laki-laki yang bukan mahram-nya dan/atau tidak Muslim adalah perbuatan yang melaggar syariat Islam dan hukumnya adalah haram.”   

Berikut kronologis peristiwa yang diperoleh dari MUI Kota Pematang Siantar,

  1. Pada Hari Ahad tanggal 20 September 2020 telah berpulang kerahmatullah seorang pasien RSUD Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar yang bernama Ibu Zakiah berumur 50 tahun pada pukul 17. 20 WIB. Menurut pihak RSUD Djasamen Saragih almarhumah merupakan pasien Covid-19, dan sesuai aturan yang berlaku, jenazah almarhumah akan dilaksanakan pemulasaran jenazah sesuai protokol Kesehatan.
  2. Oleh pihak RSUD Djasamen Saragih menyampaikan surat persetujuan pemulasaran jenazah Covid-19, dan ditanda tangani oleh suami almarhumah Bapak Fauzi Munthe dan beliau bersedia menanda tangani surat persetujuan pemulasaran jenazah Covid-19 atas istrinya karena pihak RSUD Djasamen Saragih menyatakan petugas mereka sudah mendapat sertifikat Bilal Mayit dari Majelis Ulama Indonesia, dan tidak mengetahui bahwa petugas yang memandikan jenazah istri beliau adalah laki-laki.
  3.  Akhirnya dilaksanakan pemulasaran jenazah almarhumah Zakiah oleh 4 orang laki-laki (2 Islam dan 2 Kristen) dan Bapak Fauzi Munthe tidak diperkenankan ikut memandikan dan terkesan dilarang untuk ikut menyaksikan.
  4. Pihak RSUD Djasamen Saragih beralasan, jenazah Almh Zakiah dimandikan oleh laki-laki karena ketiadaan petugas pemulasaran jenazah wanita di RSUD Djasamen tersebut.
  5. Menyikapi hal tersebut, DP MUI Kota Pematangsiantar menyurati Dirut RSUD Djasamen Saragih yang ditembuskan kepada Wali Kota Pematangsiantar, Ketua DPRD Kota Pematangsiantar dan Kapolresta Pematangsiantar untuk meminta Klarifikasi penanganan Jenazah tersebut, maka dilaksanakan pertemuan pada hari Rabu 23 September 2020 pukul 10.00 WIB di Aula Kantor MUI Pematangsiantar. Pertemuan itu dihadiri oleh, pihak RSUD Djasamen Saragih, Pihak Keluarga Almarhumah Zakiah, dan DP MUI Kota Pematangsiantar.
//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?