Saturday, 15 May, 2021

TARGHIB DAN TARHIB BULAN RAMADHAN


Oleh : Dr. H. Maratua Simanjuntak

I. Pendahuluan

Menjelang datangnya bulan Ramadhan kita sering mendengar kata targhib dan tarhib Ramadhan, semarak datangnya bulan Ramadhan diisi dengan sambutan yang cukup meriah hampir disetiap daerah melaksanakan tabligh akbar dengan tema tarhib Ramadhan, pada tahun ini karena pandemic Covid-19 agak berkurang semaraknya karena disesuaikan dengan protokol kesehatan. Menyambut Ramadhan dengan berdo’a dan bersyukur, do’a agar Allah beri umur panjang sehingga dapat menunaikan ibadah Ramadhan, dapat membersihkan dosa mendapatkan ampunan, berkah dalam kehidupan dan sehat jasmani dan bersyukur atas kesempatan berada pada bulan bulan Ramadhan.
Dalam bulan Ramadhan ada istilah tarhib ( ترحيب )، targhib ( ترغيب ) dan tarhib ( ترهيب ) Ramadhan. Apa makna istilah-istilah yang sering disandarkan pada bulan Ramadhan tersebut? Baiklah kita bahas satu persatu.

II. Pembahasan
Yang pertama Tarhib Ramadhan
Diambil dari kosa kata bahasa arab yaitu rahhaba – yurahhibu – tarhiiban ( رحب -يرحب – ترحيبا ) yang artinya ; melapangkan dan menyambut. Tarhib Ramadhan maknanya adalah menyambut dengan rasa senang datangnya bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda :

اتاكم رمضان سيد الشهور فمرحبا به واهلا. جاء شهر الصيام بالبركات فاكرم به من زائر هو ات (الطبرنى)

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, tuan segala Bulan. Sampaikan ucapan selamat datang kepadanya, telah datang bulan Shaum membawa segala rupa keberkatan, maka alangkah mulianya tamu yang datang itu.”
Tarhib Ramadhan dilakukan di awal Ramadhan, yaitu menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan rasa senang dan dengan penuh berbagai persiapan baik fisik maupun psikis.
Pertama, menyambut dengan penuh rasa gembira, karena bulan Ramadhan sangat banyak faedah dan keutamaan-keutamaan yang terdapat didalamnya, pintu syurga dibuka, pintu neraka ditutup. Pahala dilipat gandakan, amalan sunnah menjadi seperti wajib dan masih banyak lagi.
Kedua, mendatangkan berbagai macam kajian puasa Ramadhan guna meningkatkan pengetahuan tantang Ramadhan. Agar hari-hari yang dilewati semenjak hari pertama sampai terakhir tinggal pemantapan dan pelaksanaan saja.
Ketiga, melakukan persiapan fisik, mental daan spiritual. Sejak awal sudah memiliki perencanaan yang matang mulai dari menyiapkan kesehatan jasmani dan rohani : IMAN, AMAN dan IMUN dan mempelajari anjuran dan larangan dibulan Ramadhan.
Yang kedua Targhib Ramadhan
Di ambil dari kosa kata bahasa Arab yaitu: raghghaba – yuraghghibu – targhiiban ( رغب – يرغب – ترغيبا ) yang artinya; menyemangatkan, menjadikan suka, membuat ingin, dan memotivasi.
Targhib Ramadhan berarti menyemangati, memberi motivasi untuk beribadah di bulan Ramadham. Rasulullah bersabda :

“Wahai manusia sesungguhnya kamu akan di naungi oleh bulan yang senantiasa agung lagi penuh keberkatan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah telah menjadikan Shaumnya suatu Fardu dan Qiyam (shalat) di malam harinya suatu tatawwu (ibadah sunat) barang siapa mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu pekerjaan yang baik di dalamnya samalah dia dengan orang yang menunaikan satu fardu di dalam bulan Ramadhan, dan Barang siapa yang menunaikan di dalamnya suatu fardu samalah dia dengan orang yang mengerjakan 70 fardu di bulan yang lain. Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya Surga. Ramadhan itu bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah menambahkan rizki orang-orang yang beriman. Barang siapa memberi makanan berbuka di dalam bulan Ramadhan, maka pengampunan bagi dosanya dan kebebasan dirinya dari neraka, orang yang memberikan makanan berbuka saum, baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakan Shaum itu tanpa sedikitpun berkurang.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)
Isi Kandungan hadis ini adalah targhib atau motivasi dari Rasulullah untuk kita semua selaku ummatnya supaya kita bersemangat melaksanakan berbagai ibadah baik yang sunat apalagi yang wajib di bulan Ramadhan, sebab Rasulullah telah menjanjikan pahala yang banyak dan menjanjikan puncak dari pahala Allah adalah surga. Oleh karena itu kita jangan menyia-nyiakan bulan Ramadhan, sebab waktu yang berjalan di bulan Ramadhan sangat berharga sekali. Kita harus punya anggap bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan yang terakhir bagi kita sehingga akan menjadi targhib atau motivasi untuk meningkatkan amal, memohon ampunan Allah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي ” ” لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ “
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua amal anak Adam akan dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh semisalnya sampai tujuh ratus kali lipat.” Allah Azza wa Jalla berfirman, “Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku. Akulah yang akan membalasnya sendiri; dia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagi orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; yaitu ketika berbuka dan ketika berjumpa dengan Tuhannya.” (HR. Muslim).
Hadist ini juga memotivasi untuk giat beramal bagi orang yang berpuassa
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ»
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah Azza wa Jalla mewajibkan kalian berpuasa. Pada bulan itu, pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan yang durhaka dibelenggu. Demi Allah, di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa yang tidak memperoleh kebaikannya, maka sungguh ia orang yang malang.” (HR. Nasa’i, dishahihkan oleh Al Albani)
Yang Ketiga Tarhib Ramadhan
Di ambil dari kosa kata bahasa Arab yaitu; Rahhaba – Yurahhibu – Tarhiiban ( رهب – يرهب – ترهيبا) yang artinya ; memberi ancaman atau menakut-nakuti.
TarHib Ramadhan maknanya adalah memberikan ancaman bagi yang tidak melaksanakan Shaum Ramadhan tanpa alasan Syar’i. Rasulullah bersabda :

من افطر يوما من رمضان من غير عدر ولا رخصة لم يقضه وان صام الدهر كله. – السنن الكبرى للنسائي
(3 / 358)

” Barang siapa yang berbuka sehari dari Shaum Ramadhan dengan tanpa udzur dan Rukhshah maka ia tidak dapat membayarnya, sekalipun ia Shaum satu tahun penuh.” (Sunan Kubra An-Nasa’i )

Hadits ini adalah ancaman (ترهيب) dari Rasulullah bagi siapa saja yang berani berbuka Shaum di bulan Ramadhan tanpa di sertai alasan yang kuat secara sar’i

Seperti telah di jelaskan dalam surat albaqarah ayat 184 dan 185  tentang orang - orang yang di benarkan secara Syar'i berbuka Shaum di bulan Ramadhan dengan konsekwensi harus membayar Qodho di hari-hari lain di luar Ramadhan atau pidyah, yaitu orang sakit, yang sedang bepergian (safar) atau bagi yang tidak kuat Shaum ( يطيقونه ) seperti para jompo atau orang yang lanjut Usia, orang yang sakit menahun para pekerja berat yang membutuh tenaga yang kuat ketika bekerjanya dll.

Dari Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya :

“Ketika aku tertidur datanglah dua orang pria kemudian memegang dhahaya (dua lenganku, ( membawaku ke satu gunung yang kasar (tidak rata), keduanya berkata, “Naik”. Aku naik hingga sampai ke puncak gununng, ketika itulah aku mendengar suara yang keras. Akupun bertanya, “Suara apakah ini?”. Mereka berkata, ini adalah teriakan penghuni neraka, kemudian keduanya membawaku, ketika itu aku melihat orang-orang yang digantung dengan kaki diatas, mulut mereka rusak/robek, darah mengalir dari mulut mereka. Aku bertanya, siapa mereka? Keduanya menjawab, mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum tiba berbuka puasa (hadis riwayat An Nasa’I dalam Al Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf 4 dan Ibnu hibban (no 1800-zawaidnya)dan Al hakim I/430 dari jalan Abdurrahman bin Yazid dari Salim bin ‘Amir dari Abu Umamah. Sanadnya shahih.

III Rangkuman

Islam menggunakan metode targhib wa tarhib ini, untuk memunculkan motivasi agar selalu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan membaca ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan syurga, maka secara tidak langsung akan menumbuhkan
satu harapan tersendiri, dari harapan inilahmuncul motivasi dalam diri untuk mengerjakan amal shalih. Sedangkan ayat yang menggambarkan kekejaman siksa neraka, secara tidak langsungakan menimbulkan perasaan takut bagi pembacanya. Sesungguhnya orang yang beriman berdiri diantara dua motivasi yaitu takut dan harapan.
Ruang lingkup tarhib adalah ancaman dalam kehidupan manusia seluruhnya, dan berbagai sisi yang mencakupnya. Ia mendorong perkembangan akal, fisik, perasaan, sosial, memahami pertumbuhan , dalam bentuk yang tidak disenangi dan diinginkan sehingga tidak melaksanakannya.
Sementara targhib adalah pengarahan untuk berfikir, merenung, dan membahas ciptaan Allah, Ia adalah pengarahan kepada pelaksanaan terhadap apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan melarang apa yang dilarang,
Dalam penerapannya, ketika metode targhib tidak diimbangi dengan tarhib, maka manusia terlalu berharap mendapatkan ampunan Allah dan berangan-angan masuk surga. Akhirnya manusia cendrung akan bertawakkal, bersikap santai, dan mengabaikan kewajiban dan aturan agama.
Begitu juga jika hanya menerapkan konsep tarhib tidak diimbangi dengan targhib, maka manusia menjadi putus asa memperoleh rahmat Allah dan tidak memiliki harapan untuk dapat masuk surga. Dengan kata lain terlalu optimis mendapatkan ampunan dan terlalu pesimis mendapat rahmat Allah sama-sama menimbulkan madharat.
Penggunaan targhib dan tarhib didasarkan atas asumsi bahwa tingkat kesadaran manusia berbeda-beda. Disatu pihak ada yang sadar walau hanya dengan nasehat, dipihak yang lain ada orang yang tidak disadarkan kecuali dengan rangsangan atau ancaman. Bahkan ada yang memperlakukan pembuktian secara autentik terhadap isi ransangan dan ancaman tersebut. Oleh karena itu, bentuk ransangan dan ancaman itu berbeda-beda sesuai dengan kadar dan watak masing-masing orang. Untuk itu Al-Qur’an mengklasifikasikan bentuk rangsangan dan ancaman sebagai berikut :

  1. Bentuk targhib (rangsangan)
    a. Dijanjikan bahwa Allah akan senantiasa berbuat kebajikan (Q.S. Ali Imran :134)
    b. Dijanjikan akan memperoleh kebahagiaan di dunia (Q.S. Yunus : 63-64)
    c. Dijanjikan akan mendapatkan kenikmatan langsung dirasakan didunia (Q.S. At-Talaq : 2-3)
  2. Bentuk Tarhib (Ancaman)
    a. Mendapat siksa langsung di dunia (Q.S. Al-Maidah : 3)
    b. Diancam hukuman di dunia (Q.S. At-Taubah : 74)
    c. Diancam hukuman di neraka (Q.S. Al-Baqarah ; 39)
    Pembahasan terhadap taghib dan tarhib ditinjau dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist cukup luas dan mencakup berbagai hal. Makalah ini belum dapat mencapai tujuan ilmiyah karena memerlukan penelitian yang lebih luas. Makalah ini baru sekedar mengungkap sebahagian dari makalah tarhib dan targhib atas kekurangan agar bisa disempurnakan.
    Wallahu a’lam

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sumber: . http:// www.harianekspos.com
http://www.radioismail.com
http://qiraati.wordpres.com

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?