Wednesday, 21 April, 2021

Ketua MUI SU Bidang Fatwa Drs H.Sanusi Lukman LC MA: Kasus Pematang Siantar Tidak Terulang Lagi. Rumah Sakit Harus punya Rohaniawan .


muisumut.com. Medan,– Ketua MUI SU Bidang Fatwa  Drs H.Sanusi LC MA,  mengharapkan kasus kesalahan pelaksanaan syariat Islam dalam memandikan jenazah di Pematang siantar, belum lama ini tidak terulang lagi. Untuk itu setiap rumah sakit umum di Sumatera Utara  baik rumah sakit swasta maupun  rumah sakit  daerah, dapat menempatkan tenaga rohaniwan muslim. Hal ini tak lain agar kasus yang terjadi disalah satu rumah sakit Pematang Siantar, ” Kasus ini jangan terulang lagi dan perlu ada rohaniawan muslim disetiap rumah sakit ” tegas Sanusi Lukman, dalam  pertemuan dengan muisumut.com. di kedai Wakaf MUI SU, Jumat (26/2).

Menurut  Sanusi Lukmnan yang juga dosen di UINSU, perlunya ditempatkannya rohaniawan muslim di setiap rumah sakit, dapat memberikan masukan bagipihak rumah sakit bila ada kasus yang berkaitan dengan pelaksanaan syariat Islam. Seperti pelaksanaan fardu kifayah  dalam memandikan dan hal lain dalam pelaksanaan jenazah. Selain itu rohaniwan tersebut dapat memberikan nasihat secara keagamaan  kepada keluarga pasien  agar mereka lebih tenang dan tabah dalam menerima cobaan penyakit dalam menjaga pasien. Selain itu juga bila diperlukan dapat memberikan bimbingan bagi pasien untuk sabar menerima datangnya musibah penyakit.

Hanya saja kata Ketua Bidang Fatwa MUI  Sumut itu, rohaniawan muslim yang ditempatkan hendaknya menguasai ilmu agama  Islam, sehingga dapat memberikan kesejukan bagi pasien dan keluarga. selian itu juga  dapat bekerja sama dengan ulama atau MUI yang ada di Kabupaten/Kota, sehingga apa bila ada kasus berkaitan dengan syarait Islam dapat diselesaikan dengan baik dan kasus kesalahan pelaksanaan syariat Islam di rumah sakit tidak terulang lagi.” Mari kita bangun hubungan yang baik agar masyarakat tetap rukun ” tegas Sanusi Lukman.

Diketahui belum lama ini terjadi kasus memandikan jenazah disalah satu rumah sakit di kota Pematang siantar, sehingga berujung pada tuduhan penistaan agama, namun  kasus ini tidak dilanjutkan  kepengadilan.  (hus/Sadan )     

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?