Tuesday, 24 November, 2020

FIQHUD-DA’WAH (HUKUM DA’WAH)


Drs. H. Nukman Sulaiman

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله له دعوة الحق وإليه ترجون. والصلاة و السلام على رسول الله المبعوث بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون على آله وصحبه وتابعيه وتابعي تابعيه إلى يوم لاينفع مال ولا بنون

PENDAHULUAN

Kedatangan Rasul-Rasul

Diantara hikmah-hikmah kebangkitan Rasul-rasul itu, diterangkan Allah SWT dalam firman-Nya : Artinya : (mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ( Q.S. An-Nisa’ 165).

Pengiriman Rasul-rasul tersebut juga dalam rangka kebjaksanaan Tuhan terhadap hamba-Nya, dimana Allah SWT menegaskan “Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang Rasul untuk-rasul untuk membertahukan terlebih dahulu.” (Q.S. Al-Isra’ 15).

Justru karena itu, maka Rasul-rasul tersebutlah menyampaikan risalah Tuhannya kepada manusia antara lain seperti yang dijelaskan Tuhan kepada Nabi-Nya Nuh a.s. dalam firman-Nya. Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”. “Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al-A’raf 61-62).

Adapun kerasulan Muhammad SAW antara lain dijelaskan Tuhan dalam firman-Nya: “Hai Nabi, Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk Jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, Dan untuk Jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk Jadi cahaya yang menerangi. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.” (Q.S. Al-Ahdzab 45-47).

Dan kepada Nabi Muhammad SAW. diperintahkan Tuhan agar menyampaikan risalah itu selengkapnya yang dinyatakan-Nya dalam firman-Nya :”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Q.S. Al-Maidah : 67).

Ayat ini dengan tegas menyatakan agar Nabi Muhammad. menyampaikan keseluruhan dari pada wahyu yang diterimanya. Tidak ada walaupun seayat bahkan satu kata, (kalimat) pun yang tidak disampaikan Nabi. Andainya ada satu ayat ataupun satu kata yang tidak disampaikan Nabi, itu bagaikan Nabi tidak menyampaikan keseluruhannya.

Hal yang demikian itu dapat dibuktikan dengan adanya ayat-ayat Al-Qur’an yang sifatnya mencla sikap Nabi ataupun memberi peringatkan kepadanya. Andaikata ada yang boleh tidak disampaikan, rasanya tidaklah buru-buru Nabi menyampaikan ayat yang menegurnya (memarahinya) ketika ia membuang muka dari Abdullah bin Ummi Maktum (seorang buta) yang meminta pengajaran kepadanya, dimana Nabi ketika itu sedang asyiknya membujuk gembong-gembong Quraisy agar memeluk agama Islam (padahal mereka tetap enggan). Fiman Allah SWT:”Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, Karena telah datang seorang buta kepadanya.Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), Atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?. (Q.S. ‘Abasa.1-4)

Demikian juga halnya beberapa ayat yang dimulai dengan kata “ قل “ yang artinya: “ katakanlah olehmu (Ya Muhammad). Bukankan cukup seyogianya cukup disampaikan Nabi : هو الله احد (Dialah Allah satu-satunya).

Karena dialah yang disuruh mengatakan itu, kenapa pula mesti ia harus mengatakan Qul (قل). Tetapi karena dasarnya adalah wahyu yang harus disampaikan keseluruhannya, maka sebuah huruf pun tidak ada yang disembunyikan Rasulullah SAW.

Adapun tentang terdapatnya ayat-ayat yang tidak disenangi orang mendengarnya sehingga nabi khawatir bahwa Ia akan dibinasakan orang jika disampaikan juga ayat-ayat tersebut, maka dalam hal ini Nabi Muhammad yang mendapat jaminan dari pada Allah SWT. sebagaimana dijelaskan dalam ayat tersebut di atas “Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (Q.S. Al-Maidah 67). Dan apa yang telah dijanjikan Allah itu telah terbukti kebenarannya.

KEDATANGAN RASUL-RASUL MEMBAWA RISALAH TUHAN

Dari keterangan yang terdahulu jelas diketahui bahwa menyampaikan risalah (kehendak) tuhan kepada manusia itu adalah tugas Rasul-rasul. Hal ini dilakukan para Rasul-rasul berturut-turut dari satu masa kepada suatu masa maupun pada tempat yang satu ataupun ditempat yang berbeda-beda. Firman Allah SWT. “Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) Rasul-rasul Kami berturut-turut. tiap-tiap seorang Rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, Maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), Maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Q.S. Al-Mukminun 44).

Segala Rasul-rasul itu adalah menyampaikan risalah Tuhannya. Firman Allah Swt: “(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan.”(Q.S. Al-Ahdzab 39).

Nabi Muhammad adalah Rasul yang telah didahului beberapa Rasul sebelumnya, sebagaimana yang dinyatakan Tuhan: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (Q.S. Ali Imran 144).

Risalah Tuhan yang disampaikan Rasul-rasul itu adalah sederhana, kemudian berangsur-angsur menjadi sempurna, sebagaimana juga kejadian manusia itu yang pada mulanya sangat lemah, kemudian berangsur-angsur kuat dan akhirnya kukuh.

Risalah syari’at yang ada pada mulanya bersifat daerah dan terbatas menurut keadaan setempat, lama kelamaan disempurnakan Tuhan sehingga layaklah dijadikan syari’at kepada seluruh manusia, Nabi Muhammad menggambarkan hal tersebut dengan sepedanya:

مثلي و مثل الأنبياء من قبلي كمثل رجل بنى بيتا فأحسنه وجمله الا موضع لبنة واحدة فجعل الناس يطوفون به و يعجبون له ويقولون هلا و ضعت هذه اللبنة فأنا اللبنة و أنا خاتم النبيين

Artinya : Perumpamaanku dan perumpamaan Nabi-nabi yang sebelumku adalah seperti orang yang membangun suatu gedung, di cantikkan dan diindahkanya gedung tersebut, kecuali ditempat sebuah batu (tembok).  Kemudian ramailah manusia mengelilingi memujikan keindahan bangunan tersebut, sehingga mereka terlihat kepada sebahagian yang belum siap itu dimana mereka berkata, sekiranya disiapkan batu (tembok)  yang belum siap ini. Maka batu (tembok) itu dan aku lah ke sudahan nabi-nabi. (H.R.Bukahari).

NABI MUHAMMAD  MEMBAWA RISALAH YANG KEKAL

Allah SWT telah menjelaskan di dalam Al-Quran bahwa kedatangan Nabi Muhammad SAW adalah setelahnya kedatangan Rasul-rasul terputus di dunia ini dan setelahnya manusia mengharapkan dengan amat  sangat kedatangan Rasul penutup itu. Firman Allah Swt: “Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan Dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah Sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui.” Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”. ( Q.S. Al-Maidah 19).

Kedatangan Muhammad saw sebagai Rasul penutup sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits terdahulu, juga dijelaskan Tuhan dalam firman-Nya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Q.S.A-Ahdzab 40)

Sesuai dengan kedudukannya sebagai Rasul penutup, dimana di dunia ini (pada ketika itu) tidak ada seorang Rasulpun yang memberi petunjuk, maka layaklah jika Muhammad adalah diutus kepada sekalian manusia di seluruh alam, firman Allah Swt:  Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (Q.S. Al-A’raf 158).

Firman Allah swt lagi: Artinya : Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan Dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah Sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui.” Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.(Q.S. Al-An’am19).

Demikian Nabi Muhammad Saw. berdakwah yang pada mulanya terbatas pada orang-orang yang berada di tanah Mekah, kemudian terhadap daerah sekitarnya, kemudian pada sekalian manusia ke seluruh alam. Artinya :  Dan Apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik? (Q.S. Asy- Syura 7).

Kerasulan Muhammad kepada seluruh alam (seluruh manusia)  ditegaskan Tuhan lagi dengan firmannya : Artinya : Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.(Q.S. As-Saba 28).

Demikian juga  firman tuhan yang berbunyi: “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (Qs. Al furqan 1).

Bahkan kedatangan Muhammad juga membawa rahmat kepada seluruh alam sebagaimana dinyatakan dalam firmannya: “Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Qs. Al Anbiya 107).

Maksud kedatangan Nabi membawa rahmat kepada seluruh alam ialah bahwa seluruh alam dilindungi oleh syari’at agama Islam. Tidak ada suatu alam (benda) pun yang tidak terjamin kedudukannya di dalam peraturan Islam.

NABI SEBAGAI PENERIMA DAN PENYAMPAI

Dipandang dari suatu segi, maka adalah tugas Nabi Muhammad SAW, ketika hidupnya dapat disimpulkan kepada dua perkara, yaitu:Penerima wahyu dan Penyampaikan wahyu.

Tugas yang pertama sebagai penerima, telah berakhir dengan turunnya ayat : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (Q.S. Al-maidah 3).

Demikian juga dengan turunnya ayat : “Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (Al Baqarah 281).

Karena Nabi tiada hidup sesudah turunnya ayat pertama itu kecuali 81 hari dan sesudah turunnya ayat kedua itu kecuali sembilan malam. Dalam pada itu sebagaimana kita ketahui umur manusia ini adalah terbatas, termasuk umur Nabi Muhammad SAW, sedang manusia penghuni dunia ini adalah berkesinambungan terus-menerus.

Peraturan hidup manusia sebagai suatu peraturan yang dikehendaki Allah SWT, sudah cukup, tidak perlu ditambah dan dikurangi lagi karena telah sempurna dan dapat pula berlaku sampai sepanjang zaman, maka Allah SWT berkehendak,  tidak mendatangkan Rasul lagi sesudah Muhammad saw, karena tidak ada wahyu lagi (untuk manusia)  yang perlu diturunkan. Sedang ke-Nabi-an itu adalah suatu pangkat yang diperlukan untuk menerima wahyu. Jika wahyu telah berakhir, maka pangkat Nabi (Ke-Nabi-an)  tidak diperlukan lagi.

Tugas Nabi yang masih diperlukan ialah, menyampaikan wahyu (melanjutkan seruan/da’wah). Oleh karena tugas untuk menyampaikan wahyu itu tidak perlu berpangkat Nabi, maka cukuplah tugas itu dilaksanakan oleh orang-orang yang mengetahui (yang alim) wahyu.

Justru karena itulah Nabi Muhammad saw telah mengadakan suatu peristiwa yang merupakan timbang terima tugas dengan para sahabat (umat) nya lebih kurang 80 hari menjelang wafatnya dalam bentuk suatu pidato perpisahan yang dikenal dengan “khutbatul wada’ “.

Khutbatul Wada

Khutbatul Wada‘  artinya Pidato Perpisahan. Pidato perpisahan ini terjadi pada Hajjatul Wada’ , artinya Haji Penghabisan yang juga berarti Haji Perpisahan.

Sebagaimana diketahui sesudahnya wajib haji difardhukan, Nabi kita hanya sekali mengerjakan haji yaitu pada tahun kesepuluh Hijriyah (pada tahun wafatnya). Walaupun selama tinggal di Mekkah Nabi juga mengerjakan ibadah haji sebagai tradisi yang baik.

Khutbahtul Wada’ ini terkenal suatu pidato yang sangat bernash dan prinsipil sekali, karena dalam pidato ini Nabi menjelaskan prinsip-prinsip agama Islam yang sangat lengkap. Betul-betul merupakan pengajaran yang penghabisan bahkan merupakan penjelasan tentang hak-hak asasi manusia menurut ajaran islam. Pada akhir pidato Rasul tersebut, beliau menjelaskan :

فإن دماء كم و اموالكم و اعراضكم عليكم حرام كحرمة يومكم هذا فى بلدكم هذا وفى شهركم هذا وستلقون ربكم فيسألكم عن اعمالكم افلا ترجوا بعدي كفارا يضرب بعضكم رقاب بعض الا ليبلغ الشاهد الغائب فلعل بعض من يبلغه ان يكون اوعى له من بعض من سمعه. ثم. قال : الا هل بلغتز الا هل بلغت. قلنا نعم. اللهم اشهد.

Artinya: Sesungguhnya darah kamu, harta kamu, kehormatan (harga diri) kamu,  haram sesama kamu seperti haramnya hari kamu ini, seperti haram nya negeri kamu ini, seperti haramnya bulan kamu ini. Kamu akan menemui Tuhan dan Tuhan akan menanyakan tentang amal kamu, maka janganlah kamu kembali kepada kekafiran sepeninggal aku, memerangi setengah kamu akan setengahnya. Ketahuilah, hendaklah menyampaikan orang yang hadir kepada orang yang tidak hadir, karena boleh jadi orang yang disampaikan itu lebih paham tentang sebagian yang disampaikan dari pada orang yang menyampaikan.

Kemudian Nabi berkata : “Bukankah sudah aku sampaikan? Bukankah sudah aku sampaikan?” Kami menjawab: “Sudah Rasullah”. Nabi berkata: “Ya Allah, saksikanlah, (pengakuan orang ini)”. (H.R Bukhari dan Muslim).

Dari hadits tersebut, jelaslah dapat dipahamkan bahwa Nabi kita telah menyerahkan tugas melanjutkan seruan agama Islam kepada umatnya yang hadir ketika itu.

Bahkan hadits tersebut mempunyai pengertian pula bahwa yang hadir artinya yang tahu yang tidak hadir artinya yang tidak tahu, sehingga hadits tersebut mempunyai makna, hendaklah menyampaikan orang yang tahu kepada orang yang tidak tahu dan itulah arti dak’wah (seruan).

Imam Nawawi 631-679 H Mencantumkan hadits tersebut di atas dalam kitabnya “Ar-Riyadhus-Shalihin pada Bab: Haram berbuat kezaliman. Dalam hal ini masuklah  menjadi suatu kewajiban menyampaikan sesuatu amanah yang diterima yang seharusnya mesti disampaikan amanah tersebut ialah Agama Islam ataupun wahyu. Tidak menyampaikan seruan Islam bagi orang yang tahu walaupun saya adalah kezaliman.

KEWAJIBAN BERDAKWAH

Adapun tentang melakukan dakwah itu hukumnya fardhu kifayah, itu sudah jelas, firman Allah SWT : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(Qs ali imran 104).

Tetapi bagaimana pengertian fardhu kifayah yang sesungguhnya, itulah yang selalu menimbulkan persoalan sehingga kalau da’wah tidak berjalan sebagaimana mestinya, lalu sorotan ditujukan kepada guru-guru, para muballigh, organisasi islam dan Majelis Ulama semata-mata.

Pemikiran-pemikiran sementara masyarakat jika kita mengatakan fardhu kifayah,  maka contoh yang selalu tergambar dalam pemikiran mereka ialah faardhu kifayah menyelenggarakan  jenazah orang mati yang dapat diselesaikan oleh dua atau tiga orang, lalu lepaslah tuntutan dari yang lainnya.

Demikianlah soal dakwah yang dianggap hanya kewajiban guru-guru agama atau para Ulama. Oleh sebab itu perlulah pengertian fardhu kifayah ini dikaji kembali oleh masyarakat kaum muslimin dalam pengertian yang sebenarnya.

Fardhu kifayah ialah suatu pekerjaan yang menjadi hajat dan kepentingan masyarakat yang diwajibkan oleh agama sebagai tanggung jawab kaum muslimin walaupun mungkin dapat terlaksana jika dikerjakan oleh hanya sebahagian dari anggota masyarakat itu.

Fardhu kifayah hendaklah dikerjakan oleh masyarakat, sehingga pekerjaan itu dianggap selesai. Andaikata pekerjaan itu tidak selesai jika tidak dikerjakan oleh seluruh anggota masyarakat, maka wajib lah pekerjaan itu dikerjakan oleh setiap anggota masyarakat itu.

Terlepaslah sebagian anggota masyarakat dari pada tugas mengerjakan pekerjaan itu, ialah disebabkan karena pekerjaan telah habis dikerjakan oleh sebagian lainnya, bukan karena sebagian yang tidak mengerjakan itu tidak wajib mengerjakannya.

kewajiban ini jelas diketahui dalam Firman Allah Swt yang berbunyi : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S An-Nahal ayat 125).

Ummat Muhammad yang telah menerima tugas penerus da’wah sebagaimana dijelaskan pada bagian khutbahul wada’  yang lalu dinyatakan pula sebagai umat yang terbaik yang pernah dilahirkan ke permukaan bumi.

Dengan tgas Allah SWT menyatakan sebagai “terbaikny”a umat Muhammad itu dipandang dari segi tugasnya yaitu :

تأمرون بالمعروف و تنهون عن المنكر و تؤمنون بالله.

Artinya: kamu menyuruh kepada ajaran kebaikan dan mencegah dari kemungkaran serta beriman kepada Allah.

Sebaliknya Allah SWT. mencela atas sikap umat yang sebelumnya, yang kurang mementingkan al-amru bil ma’ruf dan An-Nahyu ‘anil mungkar dalam firman-Nya: “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Qs Al Maidah 79).

Oleh sebab itulah umat Muhammad sebagai umat penerus dakwah yang melanjutkan tugas rasul dan sebagai pemegang amanah yang kemudian dijuluki pula dengan “umat yang sebaik-baiknya”.  Hal itu dipersyaratkan Tuhan jika mereka melaksanakan tugas tersebut,  yaitu jika mereka menyuru umat kepada kebaikan mencegah umat dari pada kemungkaran dan beriman kepada Allah Swt.

Jika tidak demikian, maka tidaklah dapat dikatakan mereka sebaik-baik umat,  malah mungkin sebaliknya.

Diriwayatkan dari Ibnu Jariz,  bahwa Umar bin Khattab pernah melihat seseorang yang berkelakuan keji, lalu umar membacakan ayat.

كنتم خير امة أخرجت للناس

Artinya adalah kamu sebaik-baik umat yang dilahirkan ketengah masyarakat manusia.

Selanjutnya Umar berkata :

من شره ان يكون من هذه الأمة فليؤد شرط الله فيها.

Artinya : Orang yang ingin agar termasuk dalam umat islam (umat yang terbaik) maka hendaklah ia melaksanakan persyaratan yang ditetapkan Allah swt. Padanya ( Maksudnya hendaklah ia melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar dan beriman kepada Allah ) Muhammad jamaludin Al-Qasiny, Juz III, Dar.

Dengan keterangan ini dapat dari simpulkan bahwa setiap seorang muslim hendaklah ia menjadi da’i ( juru da’wah )

Sabda Nabi SAW:

بلغوا عني ولو آية

Artinya : Sampaikanlah oleh kamu daripada aku walaupun satu ayat.

Bagaimana cara menyampaikan telah dijelaskan Allah Swt dalam firmannya :

بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتى هي احسن.

Artinya: Dengan hikmah, dengan nasihat yang baik dan dengan cara bertukar pikiran.

Ketiga cara pokok ini tidak mungkin dapat dilaksanakan, kalau dia tidak dengan sarana-sarana yang baik mulai dari menciptakan para da’inya yang mempunyai mental dan spirit yang tinggi sampai kepada penguasaan ilmu dan alat-alat media, alat-alat pengangkutan dsb.

Maka dalam hal inilah tiap-tiap pribadi kaum muslimin terlibat untuk berda’wah, untuk membangun perguruan perguruan Islam mulai dari yang serendah-rendahnya sampai kepada yang setinggi-tingginya, memperlengkapi alat-alat dan media dakwah mulai dari yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang semoderen-moderennya, dimana tidak ada seorang muslimpun yang dapat terlepas diri dari tugas da’wah,  maupun dengan dirinya, dengan bertanya dan dengan jihadnya (kesungguhannya), karena kegagalan kaum muslimin dalam bidang da’wah ini akan menimbulkan dosa atas tiap-tiap pribadi kaum muslimin keseluruhannya.

PENUTUP

Berdakwah bukanlah berarti memaksakan, tetapi menyampaikan dengan kebajikan. hal ini dijelaskan Allah dalam firmannya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat.” (Q.S Al Baqarah ayat 256).

Firman allah swt : “Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (Q.S Yunus 99).

Bahkan berdakwah adalah dilakukan dengan lemah lembut dalam kurung bijaksana sebagaimana yang diterangkan Tuhan : Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (Qs ali imran 159).

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, berda’wah berarti menyampaikan bukan memaksakan, jelas dapat diperhatikan dari petunjuk Tuhan terhadap mereka yang meminta suaka dari kau muslimin sebagai yang diterangkan Tuhan dalam firman-Nya “Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. ” (Q.S At-Taubah 6).

Ayat ini menjelaskan jika diantara orang ditawan kaum muslimin, maka kepada tawanan tersebut tidak boleh dipaksakan agar memeluk agama Islam.

Tawanan itu hanya boleh disuruh mendengar “kalam Allah” mendengar ajaran Islam. Kemudian itu terserah kepada tawanan tersebut untuk memikirkan pengajaran islam, itu apakah mau dikutnya ataupun masih mau dipikirkannya dan seterusnya.

Dalam pada itu kaum muslimin wajib menempatkannya di tempat yang aman. Selain daripada berda’wah itu satu kewajiban, juga berdakwah itu adalah untuk menghindarkan bala dari pada Allah Swt.

والذي نفسي بيده لتأمرن بالمعروف و لتنهون عن المنكر او ليوشكن الله ان يبعثث عليكم عتابا منه ثم تدعونه فلايستجاب لكم.

Artinya: Demi Tuhan yang  (diriku dalam genggaman-Nya), hendaklah kamu menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari pada kemungkaran. Jika tidak, maka pastilah Allah akan menurunkan bala kepada kamu, sehingga mendo’a pun kamu tidak akan diperkenankan Tuhan lagi (H.R Tirmidzi dari Hudzaifah r.a).

Sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari pada aku Ummil Mukminin Zinab binti Jahsy  dimana Zainab bertanya:  

يا رسول الله انهك وفيا الصالحون. قال نعم اذا كثر الخبث.

Artinya: Ya Rasulallah, apakah kita akan hancur dalam kurung ditimpa bala padahal di tengah-tengah kita ada orang soleh soleh tanda tanya jawab nabi ya jika telah merajalela kejahatan.

Al-Quran sebagai kitab suci yang kekal, telah mengkekalkan pula ancaman-ancaman bagi orang yang tidak mengambil perhatian atas da’wah ini, terutama da’wah yang dititik beratkan kepada Al-Amru bil Ma’ruf dan An-Nahyu ‘anil Munkar. Firman Allah Swt. “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Q.S al-An’am 44).

Abu Daud dan Tirmidzi telah meriwayatkan sebuah hadis yang panjang daripada Ibnu Mas’ud antara lain menurut riwayat Tirmidzi):

لما وقعت بنوا اسرآئيل نهتهم علمآء وهم فلم ينهوا فجالسوهم فى مجالسهم آ كلواهم وشاربوهم فضرب الله قلوب بعضهم ببعض ولعنهم على لسان داود و عسى بن مريم ذلك بما عصوا وكان يعتدون. فجلس رسول الله صلى الله عليه وسلم وكان متكئا فقال لا والذي نفسي بيده حتى تأتروهم على الحق اطرا. 

Artinya: Tatkala telah terjadi perbuatan maksiat dikalangan Bani Israil, maka para Ulama mereka itupun berusaha mencegah maksiat itu. Tetapi tatkala dilihat para Ulama itu, mereka ini tidak berhenti dari kemaksiatannya, maka berhentilah para Ulama itu dari mencegah kemaksiatan itu, Kemudian para Ulama itu sendiri turut makan minum bersama-sama orang yang mengerjakan maksiat itu. Akhirnya terjadilah perkelahian setengahnya dengan setengah, dan Tuhanpun mengutuk mereka atas lidah Daud dan ‘Isa bin Maryam. yang demikian itu ialah disebabkan mereka berbuat aniaya.

Kemudian Rasul SAW. pun duduk dan sambil bertelekan ia berkata: Tidak, demi Tuhan yang diriku dalam genggaman-Nya hendaklah kamu cegah mereka dengan keras.

Demikianlah ancaman dan peringatan Tuhan yang seharusnya kita camkan bersama-sama tanpa kecuali, semoga Allah SWT. menurunkan rahmat-Nya yang tiada terhingga dan tiada putusnya untuk kita semua. Artinya: Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(Q.S. Al-A’raf ayat 96).

ربنا افتح بيننا وبين قومنا بالحق وأنت خير الفاتحين.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?