TINJAUAN AGAMA ISLAM TERHADAP MASALAH YANG TIMBUL DALAM PEMBUATAN VISUM ET REPERTUM

0
353 views

H. HAMDAN ABBAS Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tk. I Provinsi Sumatera Utara

Pendahuluan

Beberapa pokok hukum agama islam dalam meninjau masalah yang timbul dalam pembuatan visum et repertum:

  1. Islam menyuruh menghormati manusia, baik ketika masih hidup maupun ketika sudah mati. “Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam….”(Q.S. Al-Isra’: 7)
  2. Islam melarang merusak tubuh mayit.

عائشة قالت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كَسْرُ عَظْمِ المَيِّتِ كَكَسْرِهِا حَيًّا) رواه وأبو داود على شرط مسلم).

3. Islam melarang melihat aurat orang lain.

 ولا يبدين زين الا ما ظهر منها والنور

Artinya : ” Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang bisa nampak dari padanya.”

4. Allah mensyaratkan agama Islam agar memelihara manlulahat manusia.

 لا ضرر ولا ضرر

Antinya : Tidak boleh menganiaya diri dan tidak boleh menganiaya orang lain.

4. Islam menyuruh agar menghukum terhadap sesuatu perkara dengan hukuman yang adil.

 وان حکمت فاحكم بينهم بالقط (المائدة ٤٢)

       Antinya : Dan jika kamu memutuskan perkara mereka maka putuskanlah di antara mereka dengan putusan yang adil.

VISUM JENAZAH DITINJAU DARI HUKUM AGAMA ISLAM

Sesungguhnya kita tidak menemukan judul tersebut dalam kitab-kitab Fiqh. Akan tetapi yang kita jumpai pembahasan pembahasan ahli Fiqh adalah masalah membedah perut wanita yang mati untuk mengeluarkan anaknya yang masih hidup. sebaliknya (wanita yang hidup sedangkan anaknya mati) dan masalah membedah perut orang mati untuk mengeluarkan sesuatu (harta) yang ditelannya ketika hidup.

  1. MAZHAB HANAFI

Ulama Hanafiyah berpendapat tentang masalah pertama, bahwa apabila seorang perempuan hamil meninggal dunia dan di dalam perutnya ada yang bergerak-gerak sedang menurut pendapat mereka yang bergerak itu anak yang hidup, dapat dibelah perutnya.

Karena, meskipun ini bertentangan dengan penghormatan terhadap mayit dari satu segi, tetapi merupakan pemeliharaan dan penghormatan bagi manusia yang hidup yaitu anak dengan sebab yang demikian maka dibolehkan.

Apabila bayi yang mati dalam kandungan ibunya sedangkan ibu dalam keadaan hidup, apabila dikhawatirkan akan keselamatan ibunya, maka bayi itu dipotong dan dikeluarkan dengan cara memasukkan tangan wanita yang menerima bayi itu ke dalam perut ibunya lalu memotong-motong bayi itu dengan alat setelah jelas matinya.

Adapun jikalau anak itu masih hidup maka tidak boleh memotong-motongnya atau membunuhnya, karena kematian ibunya masih berada ditingkat “diragukan” maka  membunuh manusia karena sesuatu yang diragukan tidak dibolehkan, oleh karena penghormatan terhadap keduanya adalah sama.

Masalah yang kedua (harta dalam perut mayit) adakalahnya milik orang lain. Apabila harta itu miliknya, tidak boleh dibelah perutnya untuk mengeluarkan harta itu. Karena penghormatan terhadap harta.

Demikian pula apabila harta itu milik orang lain, sedangkan mayit itu tidak ada meninggalakan harta, maka tidak dibelah perutnya dalam keadaan demikian, tetapi diserahkan dari harta yang ditinggalkan mayit itu seharga harta orang lain yang ditelannya. Apabila harta itu milik orang lain dan mayit tidak meninggalkan harta, maka perut mayit itu dibelah karena hak manusia didahulukan dari hak Allah Ta’ala, dan didahulukan pula atas hak orang yang zhalim. Penghormatan atas orang zhalim hilang (terhapus) disebabkan ia melanggar hak pada harta orang lain.

Demikian pendapat Mazhab Hanafi tentang kedua masalah tenebut diatas.

2. MAZHAB SYAFI’I

Apabila seorang menelan permata orang lain kemudian dia pun meninggal. Dan pemilik harta itu menuntut haknya, perut bayi dapat dibelah untuk mengambil permata itu supaya dikembalikan kepada pemiliknya.

Akan tetapi jika permata yang ditelannya itu adalah miliknya sendiri, ada dua pendapat yaitu:

  1. Perutnya dibelah, karena permata itu sudah menjadi hak ahli waris, sama halnya dengan permata orang lain.
  2. Tidak wajib dibelah perutnya, karena permata itu sudah dihabiskannya pada masa hidupnya (dengan menelannya)

Dengan demikian tidak ada hubungan harta itu dengan waris lagi.

Apabila seorang wanita meninggal dan di dalam perutnya ada janin (bayi) yang hidup, perutnya dapat dibelah menyelamatkan bayi itu. karena tindakan ini melanjutkan kehidupan manusia yang masih hidup dengan membinasakan salah satu organ tubuh manusia yang mati. ini menyerupai seperti memakan bangkai untuk menjaga roh dalam keadaan darurat.(Al-Muhazzab, Jus I hal. 131).

Adapun HANAFIAH dan Sahnun AL-MALIKY berpendapat, perutnya dibelah secara mutlak.

Adapun hadis-hadis yang mengandung larangan tentang menghina mayit bukan merupakan nash bagi kasus-kasus di atas. Dan hadis ini tidak menceritakan mayat yang dipermasalahkan. Andai kata kasus membelah perut mayit bertentangan dengan nash, tentu tidak akan dijumpai pembahasannya pada kitab-kitab Fiqh.

Setab timbulnya hadis itu malah peristiwa seorang penggali tanah kuburan yang mengeluarkan tulang-tulang dari bumi (betis dan lengan manusia). Dia bermaksud memecah-mecah tulang itu. Lalu Nabi Muhammad SAW berkata “jangan pecahkan tulang itu, memecahkan tulang manusia dalam keadaan mati sama seperti memecahkan dalam keadaan hidup, sembunyikan saja di samping kuburan itu.”

III. VISUM JENAZAH

Syeikh Hasanain Makhluf (Mufti Mesir dan Kubara Ulama-Ulama Mesir) dalam buku Lajnah Fatwa negeri Mesir.

Adapun visum untuk maksud-Maksud lain, seperti Visum mayit yang terbunuh untuk mengetahui memperjelas sehat sebab kematiannya, dan untuk menentukan/menetapkan tindak pidana (Jinayah) atas diri pembunuh atau membebaskannya, maka hal seperti ini tidak ada larangan tentang bolehnya, apabila kebenaran dalam masalah jinayat itu tergantung padanya. Karena adanya dalil-dalil yang menunjukkan bahwa wajib berlaku adil dalam soal hukum, agar tidak terjadi menghukum orang yang tidak bersalah atau membebaskan orang yang salah. Sudah banyak kejadian dimana visum memperjelas antara yang benar dengan yang salah, yang adil dan yang zalim.

Bisa saja terjadi seseorang dituduh membunuh orang lain dengan menyelipkan racun dalam makanan, dan ada pula saksi-saksi palsu yang bersedia menjadi saksinya. Akan tetapi melalui visum dibuktikan bahwa tidak ada pengaruh racun pada tubuh mayit. Kematiannya hanya dikarenakan sebab yang alami sehingga orang yang dituduh itu bebas (lepas dari segala kesalahan yang dituduhkan padanya).

Kalau tidak karena visum tadi, dapatlah yang bersangkutan dikenakan hukuman pembunuh atau pun dipenjarakan.

Dan kadang kalanya seorang melakukan pembunuhan, kemudian mayit orang yang telah dibunuhnya itu dibakarnya supaya timbul pengertian orang lain bahwa mayit itu mati karena terbakar, bukan karena yang lain. Melalui visum dapat diketahui bahwa kematiannya adalah karena tindak pidana pembunuhan. Pembakaran itu hanyalah usaha untuk menutupi tindak pidana pembunuh tadi. Kalau bukan karena visum, pembunuh itu lepas dari ancaman hukuman dan tetap tinggal di tengah-tengah masyarakat bibit kuman kejahatannya.

IV. Syeikh Yusuf Ad-Dajuy, berkata :

Dalam kitab-kitab Fiqh tidak dijumpai keterangan keterangan yang memuaskan tentang masalah ini. Sementara orang mengira bahwa visum itu hukumnya haram. Tidak dibolehkan syari’at, karena Islam memuliakan/menghormati manusia hidup atau mati.

Akan tetapi orang yang mengetahui jiwa Syari’at (روح الشريعة ) dan tuntutan-tuntutan akan mashlahat, ia berpendirian bahwa antara mashlahat dan mafsadah itu selamanya harus seimbang, ia akan menetapkan hukumnya yang paling kuat di antara keduanya, berdasar atas hikmah dan pandangan yang benar. Dengan demikian pandangan kita harus jauh mempertimbangkan mashlahat yang kuat sesuai dengan jiwa syari’at Islam dan sesuai pula menurut kepentingan/kebahagiaan dunia dan akhirat .

Karena itu kita berpendapat bahwa visum itu adakalanya merupakan keharusan ( ضرورة ) dalam beberapa hal seperti apabila seorang dituduh jinayat terhadap orang lain. Kecurigaan itu akan lepas setelah visum membuktikan bahwa mayat itu bukan matinya karena aniaya (jinayat), atau ada orang yang membunuh orang lain korban pembunuhan itu dibuangnya ke dalam perigi dengan maksud menyembunyikan kejahatan dan menutupi tindak pidana yang dilakukan nya. Dan banyak lagi contoh lain yang memperlihatkan kepentingan visum sebagai kemajuan ilmu yang berguna bagi ummat manusia dan kemanusiaan seluruhnya.

Begitulah visum itu menyelamatkan banyak orang yang sudah diikat pada kebinasaan atau diliputi kesulitan dari berbagai segi, dan begitu juga sebaliknya. Maka orang yang memikirkan yang di atas secara global serta keterangan-keterangan lebih lanjut dengan terperinci, dia mesti berpendapat bolehnya visum et repertum itu, karena mendahulukan mashlahat yang kuat atas mudharat yang lemah.

Kapan saja visum itu dilakukan dengan maksud tersebut di atas, bukanlah merupakan penghinaan atau merusak ke hormatan mayit. Karena bahwa visum dengan maksud tersebut jauh lebih wajar (lebih aula) menurut pendapat kita daripada apa yang ditetapkan oleh ahli-ahli Fiqh dalam kitab mereka, yaitu mayit yang menelan sesuatu harta sebelum mati, perutnya boleh dibelah untuk menyelamatkan harta itu, walaupun harta itu hanya sedikit. Sebahagian Ulama Malikiyah menetapkan kadar harta itu sebesar nisab pencurian, yaitu seperempat dinar atau tiga dirham.

Dari satu segi para Fuqaha menetapkan harta yang ditelan mayit itu lebih sederhana lagi, apabila kita bandingkan harta yang sedikit dengan keuntungan dan mashalahat yang disebutkan di atas, kita berkesimpulan bahwa menghindari mudhrat, menghasilkan mashlahat pada visum atas mayit lebih aula daripada bolehnya mengeluarkan harta yang sedikit itu dari perut mayit. Ini berdasarkan Qur’an menurut pendapat kita.

Akan tetapi lebih dari itu, kita melihat keharusan ihtiyath dalam penetapannya, sehingga orang tidak leluasa, hendaknya dibatasi pada hal-hal yang darurat. Dan hendaknya para dokter dan Pejabat-pejabat yang berwewenang dalam hal itu taqwa kepada Allah.

Banyak hadits-hadits yang menonjolkan kemuliaan tubuh manusia. Dan orang yang mengira bahwa bedah dan visum tidak dibenarkan untuk kepentingan apapun.

Akan tetapi dengan berfikir sedikit tentang kaedah dan syari’at dapat diketahui bahwa ruang lingkup hukum syari’at adalah memelihara mashlahat dan menghindari mudharat. Sesuatu yang mengandung mashlahat yang kuat disuruh mengambilnya. Dan segala sesuatu yang mengandung mudharat yang kuat disuruh meninggalkannya.

Dan sudah jelas bahwa perseimbangan antara masadat (merusak kehormatan/kemuliaan mayit) dengan mashlahat (mengobati, menetapkan keadilan, melepaskan orang yang tidak bersalah dari hukuman, atas pelaku kejahatan) menunjukkan bahwa mashalahatnya lebih kuat dari mudharatnya.

VISUM WANITA

 Syari’at Islam menegaskan bahwa pembuktian dalam perzinaan hanya dua:

  1. Pengakuan dari yang tertuduh.
  2. Kesaksian dari empat orang yang cukup syarat dengan penglihatan mata.
  3. Mengandung bagi yang tidak bersuami, tetapi ini masih belum pasti.

Jadi tidak perlu bahkan tidak dibolehkan dengan pembuktian visum terhadap perzinaan, apabila ia sudah mengakui berzina. Sebab wanita yang sudah dewasa dan yang hampir dewasa haram melihat auratnya, baik bagi laki-laki ataupun wanita

Firman Allah :Artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya, kecuali kadaan darurat.

Seperti pengobatan dan kesaksian yang diperlukan atau seseorang wanita yang dituduh oleh empat orang saksi bahwa si wanita berbuat zina dan wanita itu ingkar berbuat zina, maka si wanita tersebut boleh divisum untuk membuktikan siapa yang benar. Dan apabila si wanita itu masih gadis, maka saksi yang empat itu dihukum dengan hukuman-hukuman qazap.

Begitu juga seorang wanita yang belum dewasa dan kuat dugaan bahwa wanita itu diperkosa, dan laki-laki yang diduga memperkosa itu tidak mengaku terhadap perkosaan tersebut. Maka hal yang demikian inilah baru dibolehkan melihat aurat wanita atau memvisumnya (dalam hal-hal yang darurat).

FATWA AL – USTAZ MUSTHAFA AHMAD AZ – ZAREA

Memandang kepada qaedah darurat dalam syari’at Islamiyah: Boleh bahkan adakalanya wajib bedah mayat keilmuan dan bedah mayat kehakiman/visum atas jenazah yang diperiksa.

Sebagaimana bolehnya melihat aurat laki-laki dan wanita karena pengobatan yang asalnya adalah haram , tetapi diperbolehkan bila sampai pada tingkat darurat.

VISUM PENGANIAYAAN DAN KECELAKAAN LALU – LINTAS

Dasar hukum Firman Allah dalam surat Al-maidah, ayat 45: Artinya: Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.

Penganiayaan dan kecelakaan lalu lintas, bila keduanya tidak sampai menghilangkan nyawa apabila perlu ada mashlahat untuk pembuktian dan keadilan, maka visum dibolehkan keduanya, walaupun dengan melihat aurat keduanya,” laki-laki dan wanita karena pengobatan.

Sesuai dengan kaedah: Darurat membolehkan yang haram. Akan tetapi apabila yang mengalami kecelakaan tidak bersedia di visum, maka visum tidak dilakukan. Tinggal hak yang berkuasa untuk keadilan. Sebab hukuman gugur apabila terdapat salah satu dari tiga sebab:

  1. Pemaafan dari yang kena aniaya terhadap yang menganiaya dengan imbalan  atau tidak
  2. Perdamaian di antara yang kena aniaya dengan yang menganiaya.
  3. Lupu/tidak ada anggota yang dihukum.

KESIMPULAN

  1. Dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW maka Al-Quran dan Sunnah telah berakhir dan kejadian-kejadian diatas dunia ini tidak berakhir, bahkan tetap bertambah terus-menerus sampai hari kiamat nanti.
  2. Dengan ini jelas bahwa Al-Quran dan Sunnah tidak menjelaskan semua permasalahan yang akan terjadi didunia ini dengan Nash yang jelas Tafshili. Apalagi dalam masalah Mu’amalah (hubungan hamba dengan hamba). Akan tetapi Al-Quran dan Sunnah menjelaskan dasar-dasar pokok untuk bahan dasar pemikiran fuqaha’ untuk mengetahui hukum atas sesuatu yang terjadi. Oleh karena Allah SWT tidak menjadikan sesuatu itu sia-sia tanpa ada hukum.

Diantara dasar-dasar tersebut:

  1. Dasar Syari’at Islam untuk menghilangkan kesulitan dan memberikan jalan kemudahan bagi manusia, firman Allah : Artinya : Allah tidak hendak menyulitkan kamu. (Al-Maidah 6)
  2. Allah menghendaki keringanan bagi manusia: Artinya : Maka barang siapa dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. (Al-Baqarah 173)
  3. Dasar untuk memilih maslahat umum, sabda Nabi Muhammad SAW.

لاضرر و لاضرر Artinya :tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.

4.  الضرورات تبيح المحظورات

Artinya: Darurat/terpaksa mengharuskan yang haram.

Dengan ini jelas bahwa menghukum atas sesuatu kejadian yang tidak ada Nash-nya dalam kitab dan Sunnah begitu juga Ijmal dan Qiyas, didasarkan kepada mashlahat dan mudharat, dengan mendahulukan yang lebih kuat banyak di antara keduanya. Melihat pada dasar-dasar yang di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa:

Bedah mayat kehakiman, yaitu bedah mayat yang dilakukan Dokter terhadap seseorang yang kematiannya tidak wajar/diduga tidak wajar, atas permintaan penegak hukum, jaksa atau Polisi untuk menegakkan Hukum keadilan dalam masyarakat, adalah Hukumnya HARUS dan BOLEH. Karena hanya dokterlah yang dapat menentukan sebab kematian seseorang.

Dan begitu juga visum kecelakaan, visum penganiayaan tergantung kebolehannya kepada mashlahat yang arjah/lebih menonjol. Dengan syarat apabila tidak terdapat lagi jalan lain yang lebih ringan mudharatnya bagi si mayat tersebut. Pada dokter harus membatasi pembedahan pada sekurang-kurangnya dapat mengetahui sebab kematian mayat tersebut, sesuai dengan dasar hukum.

 الضرورات تقدر بقدرها

Artinya: Keadaan darurat/terpaksa ditentukan dengan sekadarnya.

PENUTUP

Demikianlah uraian makalah singkat ini kami kemukakan dalam seminar/lokakarya VISUM ET REPERTUM, semoga Tuhan menunjuki kita ke jalan yang benar.

Medan , 15 Nopember 1980.