KALALAH (Hukum Waris Islam)

0
6.808 views

      Kata Kalalah adalah mashdar dari “Kalla”, yang artinya penat atau letih ia.[1] Kala-Kalalah, kepenatan atau keletihan.

      Untuk menjelaskan apa sebenarnya Kalalah itu, akan dikemukakan beberapa kutipan sebagai berikut:

  1. Di dalam al-Qur’an Surat An-Nisa’ayat 176
  2. Di dalam Tafsir al-Manar disebutkan bahwa Kalla Yakillu dengan arti al-kalal yaitu kepenatan atau jauh selain kerabat anak dan bapak, karena lemahnya hubungan kepada kerabat Ushul dan Furu’.[2]
  3. Di dalam Kitab Tafsir Ibnu Kasir dijelaskan bahwa Kalalah diambil dari kata Iklil yaitu mahkota yang membelit di kepala dari samping. Dan dimaksud disini adalah orang yang menjadi ahli waris si mayit dari kerabat menyamping atau hawasyi, tidak ada ushul dan furu’nya[3]

      Dari beberapa kutipan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kalalah adalah ahli waris yang ditinggalkan si mayit tidak ada dari jurusan atas dan bawah (suhul dan furu’), ahli warisnya hanya dari samping (hawasyi).

      Orang tua dan anak merupakan dua ujung seseorang karena itu bila kedua ujung itu tidak ada, dan yang mengelilingi si mayit hanya saudara-saudaranya saja, diumpamakan seperti mahkota yang membelit di kelapa itulah sebabnya disebut Kalalah.

      Ulama berbeda pendapat dalam memahami lafaz ‘walad dalam kalimat laisa lahu walad. Sebagian mengatakan maksud walad hanya anak laki-laki saja tidak termasuk anak perempuan. Tetapi menurut pendapat ulama muhaqqiqun yang dimaksud dengan walad adalah anak laki-laki dan perempuan.[4]

      Pendapat kedua beralasan sebagai berikut:

  1. Saudara perempuan tidak akan mendapat seperdua dari harta warisan jika ada anak perempuan, jika ia bersama-sama dengan anak perempuan kedudukannya hanya sebagai asabah ma’al qhair. Memang ada kemungkinan saudara perempuan mendapat seperdua, dengan syarat ahli waris hanya dia bersama-sama dengan seorang anak perempuan saja. Tetapi bagian ini pun dari sebab kedudukannya sebagai asabah, bukan merupakan bagian tetapnya atau fardhnya.
  2. Saudara laki-laki tidak akan mendapat seluruh harta jika ada anak perempuan, dia hanya mendapat sisa harta setelah bagian anak perempuan.

      Dari alasan-alasan ini jelaslah bahwa adanya anak perempuan mempengaruhi bagian yang telah tercantum dalam ayat. Maka tidaklah dikatakan seseorang itu sebagai Kalalah, jika dia masih meninggalkan anak perempuan.

      Dalam hal ini anak perempuanlah yang mendapat bagian seperdua harta, sedangkan saudara perempuan hanya sebagai asabah dengan sebab dia bersama-sama dengan anak perempuan.

      Selanjutnya bahwa pengertian walad juga mencakup cucu laki-laki dari anak laki-laki si mayit, sebab cucu laki-laki tersebut menduduki banyak fungsi, jika ayahnya tidak ada lagi, yaitu sebagai pendinding saudara-saudara dan kedudukannya sebagai asabah.

      Jadi walaupun si mayit tidak mempunyai anak laki-laki atau perempuan, tetapi mempunyai cucu laki-laki dari anak laki-laki maka saudara-saudara si mayit terdinding. Dan jelaslah bahwa kehadiran cucu mempengaruhi bagian-bagian saudara seperti tercantum dalam ayat Kalalah.

      Istilah walad secara mutlak mencakup anak turun si mayit (Far’u Warits) betapapun jauh derajat menurunnya.

      Salah seorang ulama ilmu faraidh yang terkenal yaitu Zaid bin Sabid mengatakan bahwa cucu laki-laki dari anak laki-laki menduduki tempat anak laki-laki, bila si mayit tidak meninggalkan anak, laki-laki atau perempuannya mereka (cucu-cucu itu) seperti laki-laki dan perempuannya anak si mayit. Mereka juga dapat menghijab sebagaimana anak-anak mayit menghijab.[5]

      Kemudian timbul masalah, apakah yang dimaksud dengan “ushul” dalam kalalah itu termasuk juga ibu?

      Secara umum, yang dimaksud dengan ushul ialah ayah dan ibu si mayit. Tetapi dalam masalah ini yang dimaksud ushul disini hanyalah ayah saja. Tidak termasuk ibu sebab ayahlah yang dapat mendinding bagian saudara, sederhana ibu tidak dapat mendinding saudara.

      Jadi jika seseorang meninggal dunia, tidak ada meninggalkan furu’ waris dan ayah, tetapi mempunyai ibu dan saudara, maka bagian saudara-saudara tersebut adalah seperti yang tercantum dalam kalalah. Kehadiran ibu sebagai ahli waris tidak mempengaruhi bagian saudara-saudara. Bahkan sebaliknya saudara-saudaralah yang mempengaruhi bagian ibu, sebab dengan adanya dua orang saudara atau lebih dapat menghijab nuqshan ibu.

      Dari uraian-uraian diatas dapatlah diambil kesimpulan sejauh mana pengertian ushul dan furu’ yang terdapat dalam batasan-batasan untuk pengertian Kalalah.


[1] Muhammad Idris al-Marbawy, Kamus al-Marbawiy Juz. II, Cet. III, Mustafa al-Baby al-Halaby, Mesir 1354 H – 1935 M, hlm. 192

[2] Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Jilid IV, Cet. IV, Mathba’ah Muhammad ali Shubh wa Auladuh, Al Azhar, Mesir, 1374, hlm. 422

[3] Abil Fida’ Ismail bin Kasir al-Qurasyu, Tafsir Ibn Kasir, Juz. I, Al-Baby Al-Halaby wa Syirkah, Mesir, tt. Hlm. 460

[4] Muhammad Ali al-Sais, Tafsir Ayat Ahkam, Jilid II, Masba’ah Muhammad Ali Shabih wa Auladuh, al-Azhar Mesir, 1373 H 1953 H, hlm. 152

[5] Fatchur Rahman, Ilmu Waris, PT. Al-Ma’arif, Bandung Cet. II, 1981, hlm. 195