Ayah Maslin Batubara : Engkau Adalah Orang Baik (by-Irwansyah)

0
242 views

Aku lupa kapan pertama kali aku mengenalmu, aku tak ingat tanggal berapa saat pertama kali aku menyalami dan mencium tanganmu,  yang kuingat,  namamu selalu disebut dan kudengar saat pertama kali aku menginjakkan kaki di kota besar ini,  menempuh pendidikan PKU MUI Sumatera Utara, saat itu tahun 2006. Aku mendengar  banyak orang memujimu, bahwa, “Maslin Batubara itu orang kaya, dermawan”.

Satu kali, aku pernah kesulitan untuk memenuhi SPP perkuliahan pada penyelesain studi sarjanaku, dimana saat itu aku kehabisan uang bahkan untuk ke kampus pun aku harus berjalan kaki karena tidak ada ongkos untuk naik sudako. Kuberanikan diri menulis sepucuk surat dan mengadukan hal ku padamu, dengan menyebut bahwa aku alumni PKU,  bermaksud supaya engkau mengenalku. Dengan  senyum dan nasehat kau menolongku atas kesulitan dan kebingunganku saat itu.

Semenjak itu, perjalanan ilmiahku dalam menuntut ilmu bahkan di Strata Tiga ku juga tak luput dari pertolonganmu.

Pesanmu yang sangat kuingat sebelum engkau mengulurkan tanganmu, kau menasehatiku, supaya “lurus” jangan “bengkok”. “Jadilah ulama, jangan hanya sekedar intelektual”. “Teruskan pendidikanmu, saat kau sulit, bilang”. Sampai sekarang rasanya suaramu itu seperti baru kudengar dua jam yang lalu.

Satu kali, saat demi kebutuhan perbaikan organisasi Al Washliyah bersama Syahrin Harahap, Ramli Abdul Wahid, H.M Nasir, dan Ismail Efendi kau juga menyertakanku. Kau bilang, “Kau ikut, kita perlu generasi”. Masih sempat engkau berfikir untuk penerus, tak berhitung berapa uang Yang harus kau keluarkan karna menyertakanku,  demi Al Washliyah yang kau cintai. 2017 di Ibu Kota Jakarta aku ikut menjadi saksi sejarah bersamamu. 

Pernah, aku datang ke ruang kerjamu di Jl. H.M Yamin, engkau bercerita banyak, bahkan perjalanan hidupmu pada masa merintis usahamu. Aku sempat, tercengang bahkan sedikit terkesima mendengar kisahmu. Awalnya aku berfikir, engkau terlahir di keluarga yang kaya raya sehingga apa yang engkau peroleh hari ini adalah merupakan perolehan dari orangtuamu. Tapi, setelah mendengar kisahmu yang begitu panjang, aku sadar bahwa karir bisnismu  kau rintis dengan kerja keras dengan banyak pengorbanan. Kau pernah berdagang di ke luar negeri dengan kapal laut di malam hari, “Saat itu kau sampaikan, bahwa itu lah sejarah hidup, tidak ada yang instan, butuh perjuangan, kerja keras, ikhlas, dan keberanian. Kutawarkan untuk menulis kisahmu dalam sebuah buku untuk dibaca dan diteladani generasi muda sepertiku, namun kau jawab, “siapkan dulu kuliahmu”, aku bahagia, aku pernah menjadi bagian dari penerima pesanmu”.

Ayah…

Banyak hal yang tak bisa kuungkapkan, banyak kisah dan jasamu yang tak mampu kutuliskan, yang pasti, engkau di antara orang yang berjasa dalam pendidikanku. 

Ayah Maslin Batubara, dari lubuk hatiku yang paling dalam kukatakan, aku sedih dengan kepergianmu. Engkau orang kedua setelah Buyah Ramli yang kutangisi karena kepergiannya. Berita kepergianmu tak bisa membendung air mataku, bahkan sampai tulisan ini kusiapkan di tengah larutnya malam. Dengan tetesan  air mata kusampaikan, aku tak punya apapun untuk membalas semua kebaikanmu, aku tak punya apa-apa dan engkaupun tahu itu. Aku hanya orang kampung yang mencoba memberanikan diri belajar dan mengadu nasib di perantauan. Diperjalanan, Allah kirimkan orang-orang sepertimu kepadaku.

Tapi…. aku masih punya tangan yang akan selalu kuangkat dan kutadahkan ke langit, aku masih punya lisan yang saat tangan itu menengadah bibirku berucap doa untuk kebahagiannmu di sisi-Nya”. Amin

Selamat  jalan ayah……

Kebaikanmu kan selalu kukenang, sosok mu akan selalu ada dihati kami orang-orang yang pernah terselesaikan kesulitannya karena kebaikanmu.  

Medan, 23 Juli 2021