SHALAWAT WAHIDIYAH DALAM PERSPEKTIF SUNNAH

0
5.695 views


Oleh  : H. Musaddad Lubis[1]

Pendahuluan.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallah adalah nabi penutup dari seluruh nabi dan rasul yang pernah diutus Allah ke permukaan bumi ini. Sebagai nabi dan rasul Allah, Muhammad Saw sangat dicintai oleh umatnya yang setia kepadanya hingga hari kemudian. Sosok Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terukir dalam hati sanubari umatnya sehingga senantiasa dijadikan sebagai tauladan dalam kehidupan umatnya sepanjang masa. Tiada putusnya umatnya menyebut namanya baik dalam ungkapan sehari-hari dalam pergaulan, acara serimonal maupun dalam ritual ibadah, bahkan penyebutan namanya menjadi tolok ukur sah tidaknya suatu ibadah yang dilaksanakan. Misalnya dalam ucapan azan dan iqamat, nama Muhammad Saw disebutkan dan demikian juga dalam bacaan tahiyyat dalam shalat, nama Muhammad juga disebutkan.

Shalawat sebagai salah satu bentuk ritual kegamaan dalam Islam selain memiliki dasar dan landasan yang kuat dari sumbernya kemudian difahami sebagai ungkapan tanda kesetiaan kepada nabi Muhammad Saw dan dalam kesatuan ungkapan dan kalimatnya walaupun dalam kalimat yang tidak panjang diajarkan oleh nabi dan terlihat jelas dalam berbagai kitab hadis. Akan tetapi karena begitu pendeknya kalimat shalawat itu maka para ulama memperpanjang kalimatnya sehingga lebih menarik lagi dan bahkan dibuat dalam bentuk syi’ir bergaya pantun. Tujuannya tidak lain agar bernuansa seni dan enak didengar karena dilantunkan dengan berlagu dan bersajak. Isinya tidak lain hanya mengungkapkan rasa cinta umat kepada nabinya.

  1. Bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw.
  1. Pengertian Shalawat.

Dalam Kamus al-Munawwir, shalawat terambil dari kata صلى  mengandung arti دعا  berdo’a atau berarti shalat. Sedangkan kata  صلى الله على النبي artinya ; Moga-moga Allah memberikan berkah kepada Nabi Muhammad Saw.

  • Dasar Hukum Bershalawat.

Dalam Alquran terdapat beberpa ayat yang menyuruh bershalawat, di anataranya dalam Surat Al-Ahzab ayat 56 :  Artinya : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

 Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti berkah dan  rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ‘ala Muhammad. Dengan mengucapkan Perkataan seperti:Assalamu’alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai Nabi.

Kemudian dalam Surat al-Ahzab ayat 43- 44 :Artinya : . Dialah yang Tuhan yang  rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya Ialah: Salam, dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.

Dalam hadis-hadis Nabi terdapat banyak teks yang menganjurkan bershalawat, diantaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim terdapat dalam kitab Bulug al-Maram karya Ibnu Hajar ‘Asqallani halaman 288 :

و عن ابى هريرة رض قال : قال رسـول الله ص م : ما قعد قوم مقعدا لـم يذكروا الله فيه ولـم يصلوا على النبي صلى الله عليه و سلم الا كان عليهم حسرة يوم القيامة . رواه الترمذى

Artinya : Tiadalah duduk suatu kaum di dalam satu majelis tidak menyebut nama Allah di dalamnya dan tidak pula menyebutkan shalawat atas nabi saw melainkan mereka dalam keadaan merugi (penyesalan) di hari kiamat. (H. R. Tirmizi).