Friday, 25 September, 2020

SHALAT IDUL ADHA DAN PENYEMBELIHAN HEWAN KURBAN SAAT WABAH COVID-19


FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 36 Tahun 2020

Idul Adha merupakan salah satu momentum yang luar biasa dalam agama Islam, umat muslim melaksanakan shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban sebagai simbol ketakwaan dan kecintaan kepada Allah swt. Di wilayah Indonesia wabah COVID-19 belum sepenuhnya terkendali, sehingga harus tetap melakukan kewaspadaan agar tidak terjadi peningkatan penularan;
Muncul pertanyaan di masyarakat tentang tata cara shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban saat pandemi COVID-19 seperti ini; karena itu dipandang perlu menetapkan fatwa tentang Shalat Idul Adha Dan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Wabah COVID-19 untuk dijadikan pedoman.

Ketentuan Hukum

  1. Shalat Idul Adha hukumnya sunnah muakkadah yang menjadi salah
    satu syi’ar keagamaan (syi’ar min sya’air al-Islam).
  2. Pelaksanaan shalat Idul Adha saat wabah COVID-19 mengikuti
    ketentuan Fatwa MUI:
    a. Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah
    di Saat Wabah Pandemi COVID-19;
    b. Nomor 28 Tahun 2020 tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi COVID-19;
    c. Nomor 31 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Shalat Jum’at dan Jamaah Untuk Mencegah Penularan Wabah COVID-19.
  3. Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkadah, dilaksanakan
    dengan penyembelihan hewan ternak.
  4. Ibadah kurban tidak dapat diganti dengan uang atau barang lain
    yang senilai, meski ada hajat dan kemaslahatan yang dituju.
    Apabila hal itu dilakukan, maka dihukumi sebagai shadaqah.
  5. Ibadah kurban dapat dilakukan dengan cara taukil, yaitu pekurban
    menyerahkan sejumlah dana seharga hewan ternak kepada pihak
    lain, baik individu maupun lembaga sebagai wakil untuk membeli
    hewan kurban, merawat, meniatkan, menyembelih, dan
    membagikan daging kurban.
  6. Pelaksanaan penyembelihan kurban harus tetap menjaga protokol
    kesehatan untuk mencegah dan meminimalisir potensi penularan,
    yaitu:
    a. Pihak yang terlibat dalam proses penyembelihan saling
    menjaga jarak fisik (physical distancing) dan meminimalisir terjadinya kerumunan.
    b. Selama kegiatan penyembelihan berlangsung, pihak
    pelaksana harus menjaga jarak fisik (physical distancing),
    memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun
    selama di area penyembelihan, setiap akan mengantarkan
    daging kepada penerima, dan sebelum pulang ke rumah.
    c. Penyembelihan kurban dapat dilaksanakan bekerja sama
    dengan rumah potong hewan dengan menjalankan ketentuan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal.
    d. Dalam hal ketentuan pada huruf c tidak dapat dilakukan,
    maka penyembelihan dilakukan di area khusus dengan
    memastikan pelaksanaan protokol kesehatan, aspek
    kebersihan, dan sanitasi serta kebersihan lingkungan.
    e. Pelaksanaan penyembelihan kurban bisa mengoptimalkan keluasan waktu selama 4 (empat) hari, mulai setelah pelaksanaan shalat Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah hingga sebelum maghrib tanggal 13 Dzulhijjah.
    f. Pendistribusian daging kurban dilakukan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.
  7. Pemerintah memfasilitasi pelaksanaan protokol kesehatan dalam
    menjalankan ibadah kurban agar dapat terlaksana sesuai dengan
    ketentuan syari’at Islam dan terhindar dari potensi penularan
    Covid-19.

Rekomendasi

  1. Pengurus masjid perlu menyiapkan penyelenggaraan shalat Idul
    Adha dan penyembelihan hewan kurban dengan berpedoman pada
    fatwa ini.
  2. Umat Islam yang mempunyai kemampuan dihimbau untuk
    melaksanakan kurban, baik dilaksanakan sendiri maupun dengan
    cara diwakilkan (taukil).
  3. Panitia kurban agar menghimbau kepada umat Islam yang tidak
    terkait langsung dengan proses pelaksanaan ibadah kurban agar
    tidak berkerumun menyaksikan proses pemotongan.
  4. Panitia Kurban dan Lembaga Sosial yang bergerak di bidang
    pelayanan ibadah kurban perlu menjadikan fatwa ini sebagai
    pedoman.
  5. Pemerintah perlu menjamin keamanan dan kesehatan hewan
    kurban, serta menyediakan sarana prasarana untuk pelaksanaan
    penyembelihan hewan kurban melalui rumah potong hewan (RPH)
    sesuai dengan fatwa MUI tentang standar penyembelihan halal.
//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?