Wednesday, 21 April, 2021

Pesantren Harus Ramah Terhadap Anak



Muisumut.com- Terjadinya beberapa kasus ketidaknyamanan anak dalam mengeyam pendidikan di suatu lembaga menjadi fenomena yang harus diatasi. Pesantren Darul Arafah Raya Deli Serdang memulai untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi santri-santrinya. Pesantren Darul Arafah telah memulai program yang disebut dengan “Pesantren Ramah Anak”.

Dalam hal ini Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara menyambut baik program ini. Melalui Komisi Hukum Perundang-undangan HAM dan Advokasi MUI SUMUT mengadakan penyuluhan hukum “Pesantren Ramah Anak”.

Ketua Komisi Hukum Perundang-undangan HAM dan Advokasi MUI SUMUT DR H Ramlan Yusuf Rangkuti MA mengatakan “Kami dari MUI SUMUT mengadakan penyuluhan hukum “Pesantren Ramah Anak” yang kami tentukan tempatnya di Pesantren Darul Arafah Raya ini dengan tiga sasaran, yaitu untuk para guru dan itu telah dilakukan pada Selasa dan Rabu tanggal 22 sd 23 September lalu dan sekarang kita laksanakan sesi untuk para santri dan Dyah (sebutan santri perempuan) “, ujarnya dalam  lanjutan Penyuluhan Hukum Pesantren Ramah Anak di Aula STAIDA Pesantren Darul Arafah Deli Serdang, Ahad (27/8).

Ramlan menjelaskan bahwa kita dididik di Pesantren untuk menjadi orang yang saling berkasih sayang satu sama lain, saling membantu dalam kesulitan yang dihadapi saudara kita, bukan untuk saling bermusuhan dan bertikai.

“Ramah dengan sesama, baik kepada teman-teman sepermainan, ataupun kepada lingkungan sekitar, maka akan terbentuk persatuan diantara kita”, tegasnya

Wakil Dekan I FITK Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU) Rustam MA  mengatakan “Setiap orang memiliki hak yang sama, yaitu menginginkan agat dirinya didengarkan orang lain kendatipun dia masih anak kecil, sementara permasalahan di negeri kita adalah orang dewasa yang tidak mau mendengarkan pendapat anak”, ujarnya.

Konsep ramah adalah diperlakukan nya semua orang dengan penghargaan yang sama, tidak menyalahkan orang yang tidak tahu seperti contoh kesalahan anak, yang mana dia menganggap perbuatan nya bukan kesalahan melainkan hiburan.

“Kita sebagai atasan harus berlaku adil dan bijaksana terhadap bawahan kita, jangan semena-mena main kekerasan atas balasan kesalahan orang lain, tapi mari mendengarkan keluhan dan permasalahan mereka terlebih dahulu sebab pada akhirnya nanti kita tidak tahu siapa yang menjadi atasan dan bawahan diantara kita”, tegasnya.

Kegiatan kali ini menghadirkan lebih banyak narasumber, karena dilaksanakan secara paralel, Narasumber utamnaynya adalah Misran Lubis selaku Eksektif Konsil Jakarta, Wakil Dekan FITK UINSU, dan beberapa guru dari Pesantren Darul Arafah.

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?