Friday, 25 September, 2020

PERLINDUNGAN ATAS EKSISTENSI MASJID DAN TANAH WAKAF


Dr. H. Akmaluddin Syahputra, M.Hum

Buku ini disusun dari hasil Fokus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Komisi Hukum MUI Sumut yang dilengkapi dengan rujukan sumber-sumber lain, baik penelitian, dokumen institusi, artkel dan sumber media. Hasil diskusi itu kemudian diramu menjadi sebuah buku yang dapat diterbitkan MUI Sumut. [1]

Isi buku ini mengenai rekam jejak permasalahan yang dialami umat Islam, tepatnya terancamnya eksistensi masjid dan wakaf. Permasalahan yang dibahas dalam buku ini tidak mencakup semua masalah masjid dan perwakafan, tetapi lebih fokus pada membuka kembali catatan sejarah mengenai masjid-masjid yang dirobohkan, dipindahkan, tidak dikeluarkan izinnya atau dirusak misalnya dengan cara dibakar; dan tanah wakaf yang beralihfungsi, dijual, disewakan atau disengketakan.   

Persoalan masjid dan tanah wakaf sebenarnya lebih merupakan persoalan yang sangat mendasar dalam membangun peradaban Islam. Ada empat konsep yang paling mendasar dalam membangun peradaban Islam, semuanya ada pada konsep masjid dan tanah wakaf, yaitu ibadah, manfaat, pertanggungjawaban dan keadilan sosial. Tidak ada jalan lain membangun peradaban Islam yang terbukti dalam sejarah kecuali melalui jalan ini, yakni memakmurkan masjid dan mengelola harta benda wakaf secara professional, sehingga berkembanglah asset umat Islam; sehingga terjaminlah kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan umat Islam. 

Perkembangan zaman telah menggerus sebagian besar tradisi Islam yang mulia, sebagaimana yang telah diarusutamakan oleh para generasi terbaik terdahulu. Bahkan, sisa-sisa peradaban Islam pun sudah banyak yang punah, berganti gaya hidup dan tradisi baru yang tidak memberi tempat sama sekali bagi Islam sebagai dien yang paling tinggi dan tiada yang lebih tinggi melebihi Islam. Kendati demikian, sebagai umat yang membawa rahmat bagi semesta alam, Umat Islam tetap harus menjaga fungsi dan perannya, sebagai umat yang berakhlak mulia, umat yang selalu mengutamakan perdamaian, umat yang selalu menyelesaikan persoalan dengan cara-cara yang memikat hati, meskipun tak jarang umat Islam menjadi bulan-bulanan kezaliman dan sasaran fitnah. 

Umat Islam bangsa Indonesia, khususnya umat Islam di Sumatera Utara telah membuat sejarah dalam melindungi eksistensi masjid dan tanah wakaf. Ini sebuah perjuangan yang luar biasa besarnya di hadapan Allah dan Rasul Nya. Semoga Allah menjaga hati mereka agar tetap semata mencari keridhaan Nya. Semoga Allah melindungi mereka, sebagaimana mereka melindungi fondasi peradaban umat Islam dari perampasan dan penyimpangan syariat.

Buku ini juga banyak berisi informasi tentang peraturan perundang-udangan terkait wakaf, termasuk fatwa MUI Sumut dan fatwa-fatwa MUI di berbagai lapisan, baik MUI Pusat, MUI provinsi maupun MUI daerah Kabupaten/ Kota lain di Indonesia terkait masjid dan wakaf. Buku ini tidak mewakili secara menyeluruh mengenai konsep masjid dan wakaf, juga tidak banyak menyinggung UU Agraria/ Pertanahan dan UU Yayasan, selain hanya berkaitan langsung dengan lahan masjid dan tanah wakaf.

Selain itu, buku ini juga sangat menganjurkan dilakukannya sertifikasi terhadap tanah wakaf, termasuk untuk masjid, mushalla, madrasah, perkuburan kaum Muslimin dan sebagainya. Sertifikasi tanah wakaf patut dijadikan agenda umat Islam Sumatera Utara ke depan. Dengan adanya sertifikat tanah wakaf, semakin memudahkan Umat Islam untuk melangkah ke agenda berikutnya, membangun profesionalisme pengelolaan masjid dan tanah wakaf, in syaa Allah. Tanpa sertifikasi, hal itu cukup sulit untuk dilakukan.

 Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ambil peran dalam penerbitan buku ini, terutama Ketua BWI Sumut dan Kakanwil BPN Sumut. Juga kepada semua pakar hukum, pertanahan dan perwakafan dari dalam dan luar negeri. Semoga usaha ini menjadi amal jariah yang diridai Allah, amin.


[1] Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA (Ketua Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara)

Download Buku

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?