Wednesday, 28 October, 2020

UMAT WASAT: PELUANG DAN TANGANGAN


Dalam acara Silaturhami dan Seminar Internasional “Umat Wasat: Peluang dan Tantangan”

KATA SAMBUTAN

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara
Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni al-Azhar Indonesia Sumut Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA

Disampaikan sebagai Key note Speaker dalam acara Silaturhami dan Seminar Internasional “Umat Wasat: Harapan dan Tantanga” di Wisma Jambi di Kairo pada tanggal 30-31 Oktober 2019 M bertepatan dengan 1-2 Rabiul Awal 1441 H

Kembali ke Mesir adalah kembali ke kenangan masa lalu, saat saya menentut ilmu di tahun 70an di negeri seribu menara ini. Ini merupakan kenangan indah yang mengisi hidup saya yang menentukan masa depan saya. Saya kuliah bersamaan dengan Prof. Dr. Quraish Shihab, Prof Alwi, Gus Dur, Gus Mus dan Syukri Gontor. Mereka dulunya seperti anda, sebagai mahasiswa, sekarang mereka mengisi hari-hari bersejarah di Indonesia.

Pengaruh al-Azhar Mesir bagi kemerdekaan Indonesia dan mengisi pola pikir ke Islaman di Indonesia adalah hal yang tidak dapat diingkari. Alumninya yang belajar dan kembali ke tanah air memberi kontribusi positif bagi kelangsungan hidup berbangsa dan beragama di seluruh lini kehidupan. Suara alumni al-Azhar di tingkat internasional, nasional, lokal bahkan keluarga masih didengar dan diharapkan saran-saran positif darinya. Untuk itulah al-Azhar dibangun dan untuk itu kalian anak-anakku datang kemari. Belajar tentang cara menjadi khairu ummah atau umat terbaik, menjadi umat rahmat yang menebarkan perdamaian.

Keberadaan al-Azhar sebagai umat wasath atau moderat dengan ciri khaira ummah dan rahmat ini menjadikan al-Azhar dan alumninya sebagai solusi dalam hidup berbangsa dan beragama. Semoga anak-anakku dapat meneruskan risalah al-Azhar ini yang merupakan inti dari risalah Islam yang damai itu.

Kepada Mahasiswa Sumatera Utara yang sedang menimba ilmu di Mesir, saya sarankan untuk fokus pada pendidikan yang tidak saja bersifat formal di kampus, tapi juga ilmu yang terkait dengan sosial kemasyarakatan di tanah air. Belajar menjadi imam shalat, berdoa di hadapan jemaah dan memimpin prosesi shalat jenazah dan wejangannya.

Sangat menyedihkan jika ditemukan alumni al-Azhar pulang ke tanah air diminta untuk berdoa atau memimpin yasinan mereka menolak dengan alasan tidak bisa. Semua ilmu sosial kemasyarakatan walau tidak dipelajari di al-Azhar tapi perlu ditekuni, karena hal itu mudah dan dapat dikuasai, jika ada kemauan. Di sisi lain, ini menjadi cerminan hidup bermasyarakat di Indonesia. Ini cara meraih hati rakyat.

Di samping itu, perkembangan permasalahan Islam di dunia atau di Indonesia, memerlukan anak-anakku untuk tampil secara profesioanal di bidang yang kalian tekuni. Jadilah profesional di bidang yang sedang ditekuni. MUI Sumut terutama pengurus fatwanya diharapkan bisa dan mampu berbahasa Arab dengan baik dan benar, dan itu peluang besar yang menanti kalian semua. Menjadi dosen yang berkualitas di kampus yang paham agama dengan penguasaan alatnya, berupa bahasa Arab adalah kekuatan anak-anakku. Kekuatan ini harus diperhitungkan dengan persaingan yang bertambah hari bertambah ketat dengan alumni lokal yang terus berevaluasi untuk tampil menjadi lebih baik dalam system dan cara pengajarannya.

Lebih serius dan mengoptimalkan kesempatan belajar di Mesir dan mengamalkannya di daerah masing-masing seusai masa studi, adalah harapan saya, mewakili ayah emak dan bangsa Indonesia. Berhenti akan tergilas, sedangkan mundur pasti kalah. Anak-anakku, belajarlah untuk inzar qaum atau mengingatkan umat jika kembali ke tanah air. Jadilah orang yang bermanfaat bagi dunia dan Indonesia. Untuk itu, jangan berlama-lama di sini dan sibuk dengan hal yang bukan menjadi tujuan utama dalam kepergian menuntut ilmu ke Mesir.

Mengurus organisasi itu perlu, olah raga itu juga baik bagi kesehatan, main game sebagai hiburan sesaat juga baik; tapi menjadi hal buruk, jika selama hidup di Mesir waktu dan tenaga hanya habis untuk organisasi, bola dan game. Saat saya menjadi ketua umum Persatuan Pelajar Indonesia, saya ditawari untuk menjabat periode kedua, tapi saya tolak, saya pulang, walau kondisi ekonomi Indonesia tidak senyaman ketika menjadi mahasiswa dan hidup di Mesir.

Yakinlah, jika professional anak-anakku akan diterima di manapun kalian berada. Barang siapa yang tidak merasakan pahitnya belajar sekejap, dia akan merasakan pahitnya kebodohan seumur hidup. Belajarlah sungguh- sungguh, karena tidak ada seorang pun yang terlahir langsung pintar.

Saya mengucapkan terima kasih atas bisa terselenggaranya silaturahmi dengan mahasiswa Indonesia di Mesir pada hari ini. Semoga acara ini yang dilanjutkan dengan Seminar Internasional dapat berjalan dengan baik dan lancar.

DAFTAR ISI

  1. Umat Wasat: Peluang Dan Tantangan … 1
  2. Pemahaman ‘Umat Wasat’ Menurut Tafsir Syarawi Dan Pengaruhnya Bagi Pemikiran Indonesia, oleh: Prof. Dr. Zainal Arifin, Lc, MA (Ketua Harian MUI Sumut Komisi Hubungan Luar Negeri dan Dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara) … 7
  3. Islamic Protection Toward Non-Muslims: A Study Of Guarantee Letter Of Rasulullah Saw Toward The Monastery Of Santa Katarina, By: Arifinsyah, M.Akbar Rasyidi Datmi, Farid Adnir (The Compartive of Religion Faculty of Ushuluddin and Islamic Study State Islamic University of North Sumatera-Indonesia … 22
  4. Perlindungan Anak Di Indonesia (Studi Ketahanan Keluarga Melayu Sumatera Timur); Dr. Akmaluddin Syahputra, M.Hum; Dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) Medan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara … 39
  5. Kemanusiaan dalam Islam dan penerapannya di Indonesia; Prof. Dr. Hasan Bakti, Dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) Medan, Ketua Bidang Pendidikan MUI Sumatera Utara … 49

Baca selengkapnya download

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?