Tuesday, 29 September, 2020

APAKAH SIFAT ALLAH TA’ALA QADIM?


Dr. H. Muhammad Tohir Ritonga, Lc. MA (Anggota Komisi Fatwa MUI SU)

Beberapa Kitab Yang Menyatakan Sifat Allah Ta’ala Qadim

  • Ibanah Al-Ahkam Syarh Bulugh Marom

Alquran adalah kalam Allah yang qadim, diturunkan Jibril as. yang terpercaya dengan bahasa Arab. Ibanah Al-Ahkam Syarh Bulugh Marom, Hasan Sulaiman An-Nury dan ‘Alawi Abbas Al-Maliky, jilid 1, hal…..

Dari ungkapan ini dapat dipahami bahwa kalam Allah adalah qadim, maksudnya tidak ada awalnya, tidak sama dengan perkataan makhluk, tidak berawal dan berakhir, tidak dengan suara dan huruf, tidak baharu. Jika kalam Allah baharu maka akan ada pada dzat Allah yang baharu, artinya Allah bersifat dengan sifat baharu, ini  menyebabkan dzat Allah baharu, karena menyifati sifat yang baharu. Kemudian jika dikatakan sifat Allah baharu, akan muncul pertanyaan: karena sifat Allah baharu tentu ada permulaannya, sebelum sifat Allah tadi diadakan berarti dzat Allah kosong dari sifat !!! tentu ini mustahil. Tidak mungkin ada dzat tanpa ada sifat atau kosong dari sifat. 

  • Aqidah Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah

Sifat-sifat  Dzat Ilahiyah

Ia adalah sifat-sifat yang berada pada dzat Allah ta’ala, yaitu sifat ma’ani yang tujuh atau delapan sesuai dengan perbedaan pendapat dalam hal itu, ia adalah ­qadim sama seperti nama-nama Allah swt.

Karena jika sifat Allah baharu akan melazimkan adanya baharu pada dzat Allah ta’ala, dan akan melazimkan bahwa dzat Allah sunyi dari sifat itu pada azali, dan melazimkan membutuhkan kepada yang menjadikan, dan ini menafikan bahwa Allah Maha Kaya secara mutlak, yaitu ketiadaan berhajat secara mutlak.

Dan demikian sifat-sifat salbiyah juga qadim azali.

Namun sifat-sifat af’al (perbuatan) tidak ada satupun yang qadim, ini adalah paham Asya’irah. Aqidah Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah, Syekh Ali Jum’ah (Mufti Mesir), hal. 47.

Sifat Allah yang ma’ani adalah qadim, sama dengan nama-nama Allah yang 99 nama. Sifat salbiyah juga qadim sebagiamana qidam­nya dzat Allah ta’ala.

Namun sifat-sifat af’al (perbuatan) seperti menciptakan anak si Zaid, karena anak si Zaid baru ada setelah si Zaid menikah. Dengan kata lain ta’alluq sifat qudrah menciptakan anak si Zaid adalah baharu, bukan sifat qudrah baharu.

  • As-Syarh Al-Jadid Li Jauharah At-Tauhid

Adapun perkataan pengarang (seperti itu sifat-sifat Dzat-Nya adalah qadim) maka kita tidak mengetahui perbedaan dalam hal ini, sehingga seolah-olah perkataan pengarang menolak yang mengatakan sifat Allah baharu. As-Syarh Al-Jadid Li Jauharah At-Tauhid, Syekh Muhammad Ahmad Al-‘Adawy (ulama Al-Azhar), hal. 71

Dalam kitab ini juga jelas dikatakan bahwa sifat-sifat Allah adalah qadim bukan baharu. Bahkan pengarang kitab menolak pendapat yang mengatakan bahwa sifat Allah baharu.

  • As-Salaf wa As-Salafiyah baina At-Tanzih wa At-Tasybih

Ibn Taimiyah berkata: Sepakat Salaf Ummah dan ulama-ulama mereka bahwa Allah ta’ala berkata-kata dengan kalam yang berada dengan-Nya, dan bahwa kalam-Nya bukan makhluk.

Dan bahwa Allah ta’ala Maha Berkata-kata secara hakikat dengan kalam yang berada pada nafs-Nya.

Dan sesuatu yang berada pada dzat-Nya ta’ala wajib bahwa ia qadim karena dzat Allah qadim. As-Salaf wa As-Salafiyah baina At-Tanzih wa At-Tasybih, Abdur Rahman Al-Murakiby, hal. 506

Imam Ibn Taimiyah menyatakan bahwa sifat Allah adalah qadim bukan makhluk, karena dzat yang qadim pasti memiliki sifat yang qadim juga, sebagaimana baharu akan bersifat dengan yang baharu.

  • Syarh Hadis Jibril

Dan keadaan-Nya mutakalliman dengan perkataan yang qadim azali tidak menyerupai perkataan makhluk, tidak berhuruf dan tidak bersuara, sebagaimana Allah mendengar tanpa dengan telinga, dan melihat tanpa bola mata. Syarh Hadis Jibril, Habib Zain Ibrahim Smith, hal. 24

Dari ungkapan ini dapat dipahami bahwa sifat Allah kalam adalah qadim, jika kalam qadim maka sifat-sifat Allah yang lainnya juga demikian, karena semua sifat yang dzat-Nya qadim tentu qadim juga.

  • Tarikh Al-Mazahib Al-Islamiyah

Menurut Muktazilah, tauhid tidak hanya diartikan Tuhan adalah zat yang Mahaesa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, tapi Tuhan harus benar-benar disucikan dari hal-hal yang dapat mengurangi keesaan-Nya. Tuhanlah satu-satunya yang esa. Artinya, Tuhan tidak memiliki sifat-sifat ma’ani yang qadim seperti ‘ilmu (pengetahuan), qudrat (kekuasaan), hayat (hidup), sama’ (mendengar), bashar (melihat) dan sifat-sifat Allah lainya yang disebutkan di dalam Alquran. (Tarikh Al-Mazahib Al-Islamiyah, Muhammad Abu Zahrah, hal. 141)

  • Al-Milal Wan Nihal

Mereka menakwilkan sifat-sifat Allah sebagai nama-nama Allah. Tuhan menurut mereka adala Maha Mengetahui, Maha Berkuasa, Maha Hidup, Maha Mendengar, dan Maha Melihat, bukan sifat-Nya, tapi dengan dzat-Nya sendiri. Sebab hanya Dia-lah yang qadim (ada tanpa permulaan). (Al-Milal Wan Nihal, Asy-Syahrastani, hal. 38)

  • Aliran-Aliran Teologi Islam

Washil bin ‘Atha’ menjelaskan, jika Tuhan mempunyai sifat-sifat yang qadim seperti pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya, maka akan muncul teori ta’addud al-qudama’ (beberapa dzat yang tak bermulaan) atau akan ada sesuatu yang qadim  lebih dari satu. Barang siapa menyakini bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat yang qadim, maka ia telah menyekutukan Tuhan dan tidak percaya akan keesaan Tuhan. Hal ini tidak dapat diterima karena termasuk perbuatan syirik dan menodai keesaan Tuhan itu sendiri. Dengan demikian, menurut mereka pengetahuan dan kekuasaan Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, yaitu dzat atau esensi Tuhan. Bukan sesuatu yang melekat pada dzat Tuhan. (Aliran-Aliran Teologi Islam, Kaisar ’08 Tim Karya Ilmiah Santri Lirboyo 2008, hal. 155)

Al-Ghazali berkata untuk membantah pemikiran mereka:

“Sesungguhnya Allah mengetahui dengan pengetahuan, hidup dengan kehidupan, mendengar dengan pendengaran, dan mengetahui dengan pengetahuan. Orang yang mengatakan bahwa ia tahu dengan tidak berpengetahuan, maka sama halnya dengan ia kaya tanpa mempunyai harta, alim tanpa memiliki ilmu dan tanpa ada yang diketahuinya. Pengetahuan, yang diketahui, dan orang yang mengetahui, ketiga-tiganya tidak dapat dipisahkan. Seperti halnya pembunuhan, yang dibunuh, dan pembunuh, ketiga-tiganya saling terkait. Pembunuh tidak aka nada jika tidak ada pembunuhan atau tidak ada yang dibunuh. Tidak masuk akal, jika ada pemunuh tapi tidak ada yang dibunuh. Begitu juga tidak masuk akan, orang alim tidak mempunyai ilmu, dan ilmu tanpa ada yang diketahui, atau ada yang diketahui tanpa ada yang mengetahui. Karena ketiga-tiganya merupakan satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kesimpulannya, kalau Tuhan tidak mempunyai sifat seperti kenyakinan Muktazilah, maka Tuhan sama dengan orang kaya tapi tidak punya harta. Hal ini tidak masuk akal. (Aliran-Aliran Teologi Islam, Kaisar ’08 Tim Karya Ilmiah Santri Lirboyo 2008, hal. 156) 

Kesimpulan saya dari beberapa penjelasan ulama dalam kitab-kitab mereka sebagai berikut:

  1. Sifat Allah semua adalah qadim, karena dzat Allah qadim, sifat yang berada pada dzat yang qadim adalah qadim juga, jika tidak maka ada pada dzat Allah yang baharu dan ini bertentangan dengan akal.
  2. Sifat ma’ani berada pada dzat Allah, ia tidak terpisah dari dzat Allah, dan pada hari kiamat penduduk surga bisa dilihat dzat Allah dan sifat-sifat ma’ani itu.
  3. Paham yang menyatakan bahwa sifat Allah secara keseluruhan atau sebagian adalah paham sesat. Pada zaman dahulu yang bepaham seperti ini adalah Muktazilah. Paham muktazilah dinilai para ulama adalah sesat. Setiap paham yang sama dengan Muktazilah harus kembali kepada pemahaman Ahl As-Sunnah Wal Jama’ah.
  4. Surga dan neraka tidak bisa disebut qadim, karena qadim adalah sesuatu yang tidak berawal, sedangkan surga dan neraka berawal dan diciptakan.
  5. Surga dan neraka adalah makhluk ciptaan Allah yang dikekalkan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran.
  6. Kekalnya surga dan neraka tidak sama dengan sifat dzat Allah yang baqa’, karena surga dan neraka dikekalkan Allah, adapun dzat Allah wajib bersifat kekal (baqa’).
  7. Sifat Allah bukan nyawa bagi manusia, akan tetapi tempat ta’alluq, ta’tsir atau tempat  bekas dari sifat-sifat Allah, misalnya qudrah maka Allah berkuasa atas manusia untuk mematikan dan menghidupkan begitulah seterusnya dengan sifat-sifat yang lain.

_______________________

Wallau A’lam

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?