PENGAWETAN DAN PENDISTRIBUSIAN DAGING KURBAN DALAM BENTUK OLAHAN

0
615 views

Ibadah penyembelihan kurban adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah). Perhatian umat Islam terhadap ibadah kurban sangat besar, khususnya di masyarakat perkotaan dan/ atau masyarakat yang secara ekonomi di atas kecukupan, sehingga perlu pendistribusian ke daerah lain atau masyarakat yang lebih membutuhkan. Dalam rangka pendistribusian daging kurban ke daerah yang jauh, perlu proses pengolahan dan pengawetan daging kurban, supaya tidak rusak, oleh karena itu, Komisi Fatwa MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang hukum Pengawetan dan Pendistribusian Daging Kurban Dalam Bentuk Olahan sebagai pedoman.

Ketentuan Hukum

Pada prinsipnya, daging hewan kurban disunnahkan untuk:

  1. didistribusikan segera (ala al-faur) setelah disembelih agar manfaat dan tujuan penyembelihan hewan kurban dapat terealisasi, yaitu kebahagiaan bersama dengan menikmati daging kurban
  2. dibagikan dalam bentuk daging mentah, berbeda dengan aqiqah
  3. didistribusikan untuk memenuhi hajat orang yang membutuhkan di daerah terdekat.

Menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh) dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak.

Atas dasar pertimbangan kemaslahatan, daging kurban boleh (mubah) untuk:

  1. Didistribusikan secara tunda (ala al-tarakhi) untuk lebih memperluas nilai maslahat
  2. dikelola dengan cara diolah dan diawetkan, seperti dikalengkan dan diolah dalam bentuk kornet, rendang, atau sejenisnya
  3. Didistribusikan ke daerah di luar lokasi penyembelihan.

Download Fatwa