MASALAH RADD (Hukum Waris Islam)

0
9.608 views

            Sebagai kebalikan dari masalah ‘Aul ialah masalah Radd, yakni kasus pembagian harta pusaka yang jumlah saham-saham para ahli waris lebih kecil dari asal maalah yang akan dibagi, sehingga bila kepada ahli waris diambilkan haknya sesuai dengan ketentuan, akan terdapat sejumlah harta pusaka.

            Dalam ilmu mewarits sisa dari kelebihan harta tersebut harus dikembalikan lagi kepada ahli warits yang berhak menerimanya sesuai dengan perbandingannya yakni besar kecilnya saham yang menjadi hak masing-masing dan harus diperhatikan pula siapa di antara ahli warits yang tidak berhak menerima dari sisa harta tersebut.

            Pengembalian sisa lebih kepada ahli waris yang berhak menerima kelebihan itu dikalangan ahli faraidh dikenal dengan nama Radd, yang pengertiannya menurut bahasa ialah : Pulang satu kembali.

            Sedang pengertian Radd menurut istilah adalah : berkurangnya asal masalah dari yang telah ditentukan. Radd secara murni adalah kebalikan dari ‘aul. Apabila ada kelebihan dari tirkah setelah ash habul furudh diberikan hak atau bahagianya masing-masing dan disana tidak ada golongan ashabah, maka kelebihan ini diberikan kepada ahli waritsnya yang masih ada, yakni dari golongan ash habul furudh sesuai dengan nilai saham masing-masing.[1]

            Dari rumus tersebut di atas jelas bahwa dengan kurangnya saham ahli warits terhadap asal masalah berarti setelah diambil saham-saham ahli warits itu dari pusaka akan terdapat sisa lebih, kemudian sisa lebih itu ditambahkan kepada ahli warits secara seimbang sehingga dengan demikian jatah penerimaan ahli warits itu bertambah besar dari pada yang semestinya dalam keadaan biasa.

            Untuk dapat terujudnya masalah Radd diperlukan tiga hal, yaitu terdapatnya ash habul furudh dalam suatu kasus pembagian harta pusaka, terdapatnya kelebihan saham ahli warits terhadap asal masalah, dan tidak hanya ahli warits ashabah.

            Tiga unsur ini harus ada untuk terjadinya masalah Radd, sebag jika tidak ada salah satunya maka tidak akan terjadi masalah Radd itu, misalnya kalau ada ahli warits ashabah maka tidak akan terjadi Radd begitu pula kalau jumlah saham ahli warits sama besar dengan jumlah asal masalah Radd dimaksud.

            Mengenai masalah Radd ini tidak semua Fukaha’ sependapat menetapkannya pada garis besarnya ada dua pendapat dalam masalah ini, pendapat pertama adalah pendapat Zaid bin Tsabit dan sebagian kecil sahabat mengingkari adanya Radd dalam pembagian pusaka. Jika terjadi kelebihan harta dari saham para ahli warits, padahal tidak terdapat ahli warits ashabah, maka kelebihan itu tidak dikembalikan kepada ahli warits ash habul furudh melainkan sisa lebih diserahkan kepada baitul mall, untuk kepentingan kaum muslim.

            Para Imam Fukaha seperti Urwah, Az Zuhri, Malik Asyafi’I dan Ibnu Hazm Azh Zhahiri pada dasarnya sependapat dengan Zaid bin Tsabit. Menurut Fukaha’ Malikiyah sisa lebih harta pusaka itu tidak boleh di Raddkan kepada ash habul furudh dikala tidak ada ahli warits ashabah, melainkan harus diserahkan kepada baitul maal. Demikian pula tidak boleh sisa lebih itu diserahan kepada baitul maal baik baitul maal itu bekerja secara rapi ataupun tidak.[2]

            Fukaha’ Syafi’iyah sependapat dengan fukaha’ Malikiyah dalam masalah ini, yakni sisa lebih harta pusaka diserahkan kepada baitul maal, sebab kepala kas bendahara negara ataupun baitul maal, sebab kepala kas bendahara negara ataupun baitul maal menjadi pengawas dalam pelaksanaan kepentingan kaum muslimin.

            Kemudian dalam kondisi yang berbeda fukaha’ Malikiyah dalam masalah ini, yakni sisa lebih harta pusaka diserahkan kepada baitul maal, sebab kepala kas bendahara negara ataupun baitul maal menjadi pengawas dalam pelaksanaan kepentingan kaum muslimin.

            Kemudian dalam kondisi yang berbeda fukaha’ syafi’iyah merubah pendapatnya sebagaimana al-mutawalli berfatwa bahwa bila keadaan baitul maal itu tidak berfungsi lagi sebagai sumber dana sosial umat Islam, diperkenankan sisa atau lebih tersebut diraddkan kepada ash-habul furudh dan kepada zawil arham menurut perbandingan saham mereka.

            Fukaha ‘Malikiyah mutaakhirin juga memfatwakan yang demikian itu, yakni diperkenankan mengembalikan sisa lebih itu atau diraddkan kepada ash habul furudh dimaksud.[3]

            Menurut jumhur sahabat, Tabi’in, Imam-Imam mazhab seperti Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Fukaha Mutakhirin dari mazham Malikiyah, Syafi’iyah, fukaha’ si’ah Zaidiyah dan Imamiyah mengatakan adanya radd ini, hanya mereka berbeda pendapat tentang ash habul furudh yang tidak dibolehkan radd kepadanya.

                  Untuk menyelesaikan secara tuntas pembagian harta pusaka yang terdapat sisa ataupun lebih, yang dapat diraddkan atau dengan kata lain mengandung masalah radd, terlebih dahulu haruslah diteliti apakan dalam kasus dimaksud terdapat ahli waris yang ditolak menerima radd atau tidak ditolak (boleh menerima radd).

      Jika dari antara ahli ash habul furudh itu tidak terdapat seorangpun yang ditolak menerima tambahan sisa dari harta warisan tersebut maka penyelesaiannya dapat ditempuh melalui cara sebagai berikut dibawah ini:

      Adapun cara penyelesaiannya adalah mencari saham-saham para ahli waris ash habul furudh, lalu saham-saham itu dijumlahkan, kemudian jumlah saham-saham itu dijadikan asal masalah baru sebagai pengganti asal masalah lama, dengan kata lain asal masalah yang lama itu ditasbihkan dengan menguranginya, sehingga sesuai dengan jumlah saham-saham ahli waris.

      Sebagai contoh dapat dikemukakan misalnya seseorang mati dengan meninggalkan harta warisan sebuah rumah seharga Rp. 6.000.000,- dan ahli warisnya terdiri dari saudara perempuan sekandung, saudara perempuan seayah, dan seorang ibu.

      Cara penyelesaiannya sebagai berikut di bawah ini:

Ahli Waris Bahagian Asal Masalah = 6 – 1 = 5
1. Ibu 2. Saudari kandung 3. Saudari seayah 1/6 ½ ½ 1/6 x 6 = 1 ½ x 6 = 3 ½ x 6 = 1
Jumlah saham Jadi asal masalah baru = 5 (asal masalah)

      Dengan demikian maka bagian masing-masing adalah:

  1. Ibu mendapat bagian        

= 1 x 6.000.000,- : 5               = Rp. 1.200.000,-

  • Saudari kandung mendapat :

= 3 x 6.000.000,- : 5               = Rp. 3.600.000,-

  • Saudari seayah mendapat :

= 1 x 6.000.000,- : 5               = Rp. 1.200.000,-

Jumlah harta keseluruhan = Rp. 6.000.000,-

      Kasus diatas ini dapat diselesaikan dengan cara lain seperti perhitungan di bawah ini:

Cara kedua ini jumlah sisa lebih dari harta warisan, setelah terlebih dahulu diambil untuk memenuhi bagian masing-masing asg furudh diberikan lagi kepada mereka menurut perbandingan ketentuan bagian mereka masing-masing. Seperti contoh dibawah ini:

  1. Ibu mendapat         1/6 x Rp. 6.000.000,-  = Rp. 1.000.000,-
  2. Saudari kandung   ½ x Rp. 6.000.000,-    = Rp. 3.000.000,-
  3. Saudari seayah      1/6 x Rp. 6.000.000,-  = Rp. 1.000.000,-

Jumlah                   = Rp. 5.000.000,-

Jadi sisanya adalah Rp. 6.000.000 –  Rp. 5.000.000 = Rp. 1.000.000

Sisa atau lebih ini diberikan kepada masing-masing ahli waris ash habul furudh, menurut besar kecilnya perbandingan saham yaitu : 1/6 : ½ : 1/6 = 1 : 3 : 1

Jumlah perbandingan adalah 1 + 3 + 1 = 5 = 1.000.000,-

      Dengan demikian setelah ditashihkan, perolehan masing-masing adalah sebagai berikut:

  1. Ibu                         = Rp. 1.000.000 + 1/5 x Rp. 1.000.000          = Rp. 1.200.000
  2. Saudari kandung   = Rp. 3.000.000 + 3/5 x Rp. 1.000.000          = Rp. 3.600.000
  3. Saudari ayah          = Rp. 1.000.000 + 1/5 x Rp. 1.000.000          = Rp. 1.200.000

Jumlah keseluruhannya adalah                                                = Rp. 6.000.000

      Jelaslah bahwa hasil akhir dari dua perhitungan dalam contoh diatas sama saja, hanya cara atau jalan penyelesaiannya berlainan namun demikian cara pertama dalam contoh pertama diatas lebih muda dan praktis dari lainnya.

      Jika diantara ahli waris itu ada yang ditolak untuk menerima radd, misalnya suami atau istri, maka penyelesaiannya dapat ditempuh salah satu dari dua cara berikut ini:

Ahli Warist Bahagian Asal Masalah = 12 (lebih 3)
1. Istri 2. Nenek 3. 2 saudari seibu ¼ 1/6 1/3 ¼  x 12 = 3 1/6 x 12 = 2 1/3 x 12 = 4
Jumlah saham seluruhnya = 9

Perhitungan tahap pertama :

  1. Istri mendapat        3 x Rp. 480.000 : 12   = Rp. 120.000
  2. Nenek mendapat    3 x Rp. 480.000 : 12   = Rp.   80.000
  3. 2 Saudari seibu      4 x Rp. 480.000 : 12   = Rp. 160.000

Jumlah                   = Rp. 360.000

Adapun harta warisan yang diwarisi berjumlah Rp. 480.000 jadi sisanya adalah             Rp. 480.000 – Rp. 360.000 = Rp. 120.000

Sisa atau lebih ini di Radd kan kepada nenek dan saudari seibu, secara sebanding yaitu : 1/6 : 1/3 = 1 : 2

Jumlah perbandingan = 1 + 2 = 3 = Rp. 120.000

Tambahan untuk nenek = 1/3 x Rp. 120.000  Rp. 40.000

Tambahan untuk dua orang saudari seibu = 2/3 x Rp. 120.000 = Rp. 80.000

Dengan demikian penerimaan nenek setelah ditasbihkan secara tuntas =  Rp. 80.000 = Rp. 40.000 – Rp. 120.000.

Penerimaan dua seibu Rp. 160.000 + Rp. 80.000 = Rp. 240.000

Jadi masing-masing mereka menerima Rp. 240.000 : 2 = Rp. 120.000

Dalam hal ini istri tidak menerima tambahan Radd.

      Cara kedua, orang yang ditolah menerima Radd diambilkan bagiannya terlebih dahulu, kemudian sisanya diberikan kepada ash habul furudh yang berhak menerima Radd, dengan cara saham mereka dijumlahkan lalu diangkat menjadi asal masalah baru berdasarkan saham-saham mereka lalu jumlah saham-saham dari asal masalah baru itu dijadikan asal masalah baru dalam Radd.

      Dari contoh kasus ini, menurut perhitungan yang kedua ini penyelesaiannya sebagai berikut di bawah ini:

  1. Istri ¼ x 12 = 3 x Rp. 480.000 : 12 = Rp. 120.000 jadi sisa pusaka = Rp. 480.000 – Rp. 120.000 = Rp. 360.000
  2. Nenek 1/6 x 12 = 2 Rp. 360.000 : 12 = Rp. 120.000
  3. 2 saudari 1/3 x 12 = 4 x Rp. 360.000 : 12 = Rp. 240.000 jadi masing-masing dua saudari seibu menerima Rp. 240.000 : 2  = Rp. 120.000

[1] Aisywai Ahmad Asyawi, op.cit. hal. 117

[2] Dirjen Binbaga Islam Depag RI, Ilmu Fiqih, Jilid III, hal. 98

[3] Fatchur Rahman, op.cit hal. 424