Konsep Wakaf dalam Islam

0
2.724 views

Oleh:

Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA

(Ketua Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara)

1. Pendahuluan

Wakaf merupakan suatu permasalahan klasik yang sampai sekarang masih sangat aktual. Wakaf sudah mengarah kepada pemikiran yang lebih luas khsususnya sebagai alternatif pemecahan ekonomi umat dan sekaligus sebagai harapan kesejahteraan ditengah keterpurukan ekonomi. Sebagai suatu lembaga keagamaan wakaf dapat berfungsi ganda, baik berfungsi ubudiyah, sosial, dan bahkan memiliki fungsi ekonomis yang dapat dikembangkan. Wakaf merupukan ekspresi keimanan (حبل من الله ) dan rasa solidaritas sesama manusia ((حبل من الناس. 

Perwakafan tanah di Indonesia telah dikenal dan berjalan cukup lama, serta dilaksanakan umat Islam sejak agama Islam masuk ke Indonesia. Disamping memang wakaf telah mengakar dan menjadi tradisi umat Islam dimanapun juga. Sebagai sebuah lembaga Islam, wakaf menjadi salah satu penunjang perkembangan agama Islam, khususnya untuk kepentingan rumah ibadah, pondok Pesantren, madrasah dan kuburan.[1] Di Indonesia khususnya (termasuk Sumatera Utara[2]) wakaf telah berperan cukup signifikan dalam menunjang perkembangan masyarakat Islam. Hampir semua tempat ibadah, perguruan Islam, perkuburan muslim, dan isntitusi lainnya dibangun di atas tanah wakaf. [3]

2. Pengertian Wakaf

Kata wakaf[4] berasal dari bahasa Arab “waqafa” yang berarti menahan atau berhenti atau diam di tempat. Kata “waqafa-yaqifu waqfan’ sama artinya dengan “habasa-yahbisu-tahbisan[5] yang artinya menahan.[6]  Dalam Ilmu Fiqh wakaf adalah menahan terhadap benda milik wakif (pewakaf, orang yang berwakaf) atau harta yang telah menjadi milik Allah sebagai sadaqah yang diambil manfaatnya dalam hal kebaikan dari awal sampai tanpa batas waktu[7]  

حبس مال يمكن الإ نتفاع به مع بقاء عينه بقطع التصرف في رقبته على مصرف مباح

موجود ( الرملى والشربينى )

Yakni “menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya, dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut, disalurkan pada sesuatu yang mubah (tidak haram) yang ada,[8]

Atau “Wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam” dan “Benda wakaf adalah segala benda, baik bergerak atau tidak bergerak, yang memiliki daya tahan yang tidak hanya sekali pakai dan bernilai menurut ajaran Islam” ( Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Buku III, Bab I, Pasal 215, (1) dan (4); sehingga atas dasar pengertian tersebut, bagi mereka hukum wakaf uang (waqf al-nuqud, cash wakaf) adalah tidak sah;

Dalam Undang-Undang Nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf pada Bab I Ketentuan Umum pasal 1 defenisi wakaf dirumuskan sebagai berikut: “Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/ atau menyerahkan sebgaian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syari’ah.