Penggunaan Atribut Islam bagi Non-Muslim

0
2.993 views


Oleh: Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA[1]

Penggunaan atribut non-Islam bagi orang Islam telah dibicarakan bulan lalu. MUI Jawa Timur telah mengeluarkan fatwa haramnya bagi Muslim karena perbuatan itu menyerupai perbuatan-perbuatan tasyabbuhdengan agama lain. Di antara dalilnya adalah hadis:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum (golongan), maka dia termasuk golongan mereka (HR. Abû Dâwûd).

Saat ini kita berbicara sebaliknya, yakni non-Muslim menggunakan atribut Islam, seperti non-Muslimah perempuan memakai jilbab, non-Muslim laki-laki memakai lebai putih, serban, baju koko, menempel fotonya di cover surat Yasin. Penggunaan atribut-atribut ini oleh non-Muslim tidaklah bisa serta-merta dihukum berdasarkan zahirnya semata, melainkan perlu diketahui maksud dan tujuannya. Jika maksud dan tujuannya karena suka melihatnya atau telah menjadi trendkarena atribut Islam telah mendominasi budaya setempat, maka hukum perbuatan itu nampaknya tidak bermasalah. Misalnya di Mesir Nasraniyah Qibthiyah memakai jilbab dan telah menjadi budaya mereka. Demikian juga perempuan non-Muslimah di Eropa di musim dingin memakai pakaian menutup semua tubuhnya seperti menutup aurat bagi perempuan Muslimah. Walaupun perbuatan mereka seperti pakaian menutup aurat di kalangan perempuan Muslimah, tidaklah menjadi masalah karena tidak ada unsur ejekan dan kepentingan tertentu.

Akan tetapi, jika non-Muslimah memakai jilbab persis seperti jilbab Muslimah untuk tujuan minta sedekah kepada orang Islam atau agar menarik perhatian laki-laki Muslim untuk mengawininya atau agar umat Islam mendukung dan memberikan suara kepadanya dalam pemilihan, hal ini adalah haram dan terlarang. Sebab, dalam contoh ini telah terjadi pengecohan, pembohongan, dan penipuan. Demikian juga laki-laki non-Muslim memakai lebai putih dan baju koko untuk tujuan seperti di atas, yaitu untuk meminta sumbangan, sedekah dari kalangan Muslim atau tujuan agar bisa mengawini Muslimah atau mendapatkan dukungan suara dari umat Islam dalam pemilihan, semuanya ini adalah haram dan terlarang. Sebab, tindakan-tindakan ini adalah jelas pengecohan, pembohongan, dan penipuan.

Sehubungan dengan perlunya identitas dan atribut yang jelas berkaitan dengan KTP. Sekarang muncul wacana untuk menghapuskan kolom agama dari KTP sehingga agama pemiliknya tidak jelas apakah Islam atau tidak. Penghapusan kolom agama dari KTP pasti membawa bencana kepada umat Islam. Tanpa kolom agama KTP, seorang non-Muslim akan mudah mengklaim sebagai Muslim untuk dikawinkan dengan seorang Muslimah. Hal ini sulit dicegah, terutama atas dasar HAM dan demokrasi. Non-Muslim yang mati akan mudah menuntut untuk dimakamkan di pekuburan Islam . Non-Muslim yang mati di tengah jalan akan mempersulit bagi umat Islam memakamkannya apakah di pekuburan Islam atau di pekuburan agama apa.

Demikian juga calon legislatif yang mencetak surat Yasin atau surat-surat lain dan menempelkan gambar dan namanya di cover surat Yasin tersebut. Sama juga dengan tindakan non-Muslim mencetak kalender Hijriah atau kalender dengan gambar bulan sabit dan bintang serta menempelkan foto dan namanya pada kalender tersebut untuk tujuan mengelabui umat Islam dalam kepentingan duniawi, seperti dalam pemilihan dan dagang adalah haram dan terlarang.

Termasuk dalam hal ini penggunaan pakaian Islam dalam warung-warung nasi non-Muslim yang tidak memiliki sertifikat halal. Apalagi dengan menempelkan logo halal atau tulisan ayat-ayat Alquran dalam warung makanan, padahal tidak pernah mengurus sertifikat halal adalah sangat terlarang berdasarkan syariat Islam dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Dalam kaitan pembahasan di atas, umat Islam wajib menertibkan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan non-Muslim demi memelihara dan mengawal kesucian agama Islam. Memang umat Islam wajib bersikap toleran dalam pengertian mengakui dan menghormati agama lain. Sebaliknya, umat Islam juga wajib melindungi, menjaga, dan mengawal agamanya jangan sampai dilecehkan, dinodai, dan dieksploitasi oleh penganut agama lain.

Suatu hal yang perlu dipahami umat Islam adalah bahwa orang musyrik dan orang kafir bukan hanya berdosa karena tidak beriman, tetapi juga berdosa karena meninggalkan kewajiban-kewajiban syariat, seperti tidak salat, tidak puasa, tidak berzakat, tidak berhaji, dan lain-lainnya berdasarkan ayat berikut:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ ﴿٤٢﴾ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ ﴿٤٣﴾ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ ﴿٤٤﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ ﴿٤٥﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ ﴿٤٦﴾ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ ﴿٤٧﴾ فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ ﴿٤٨﴾

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam (neraka) Saqar? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, kami membicarakan yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian. Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberikan syafaat(Q.S. al-Muddatstsir [74]: 42-48).