URGENSI DAKWAH ISLAM DALAM PEMBANGUNAN BANGSA DI NEGARA PANCASILA[1]

0
4.942 views

Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA[2]

وَ مَنۡ اَحۡسَنُ قَوۡلًا مِّمَّنۡ دَعَاۤ اِلَی اللّٰہِ وَ عَمِلَ صَالِحًا وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ

Fushilat (41): 33,34,45 “siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar.”

Sebelum saya menjelaskan tentang Urgensi Dakwah dalam pembangunan bangsa di Negara Pancasila perlu dipahami bahwa di Indonesia yang berdasarkan  Pancasila agama merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan,  agama harus diikutkan di dalam mengatur segala aspek kehidupan, termasuk di dalamnya aspek politik dan kenegaraan. Agama bukan sekedar urusan pribadi atau ajaran moral yang bersifat individual belaka, melainkan pengatur bagi seluruh interaksi yang dilakukan oleh manusia dalam hidupnya, baik interaksi manusia dengan Tuhan, manusia dengan dirinya sendiri, maupun manusia yang satu dengan manusia yang lain. Keberadaan negara bahkan dipandang sebagai syarat mutlak agar seluruh peraturan agama dapat diterapkan. Inilah pandangan ideologi Islam, yang pernah diterapkan sejak Rasulullah Saw. berhijrah dan menjadi kepala negara Islam di Madinah hingga hancurnya Khilafah Utsmaniyah di Turki tahun 1924 M.

Islam adalah agama yang telah sempurna dan  menjelaskan segala sesuatu. Artinya, Islam telah menjangkau dan menerangkan peraturan untuk semua perbuatan manusia dalam segala aspek kehidupannya, secara sempurna dan menyeluruh, termasuk di dalamnya aspek kenegaraan. Allah SWT berfirman:
“Pada hari ini, telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridlai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maa’idah : 3)

Allah SWT berfirman (yang artinya) “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS. An Nahl 89)

Pengertian Dakwah

Pengertian dakwah menurut bahasa; dakwah berasal dari bahasa Arab yakni دعا– يدعوا – دعوة (da’a – yad’u – da’watan). Kata dakwah tersebut merupakan ism masdar dari kata da’a yang dalam Ensiklopedia Islam diartikan sebagai “ajakan kepada Islam. Kata da’a dalam al-Quran, terulang sebanyak 5 kali, sedangkan kata yad’u terulang sebanyak 8 kali dan kata dakwah terulang sebanyak 4 kali.

Kata da’a pertama kali dipakai dalam al-Quran dengan arti mengadu (meminta pertolongan kepada Allah) yang pelakunya adalah Nabi Nuh as. Lalu kata ini berarti memohon pertolongann kepada Tuhan yang pelakunya adalah manusia (dalam arti umum). Setelah itu, kata da’a berarti menyeru kepada Allah yang pelakunya adalah kaum Muslimin.

Kemudian kata yad’u, pertama kali dipakai dalam al-Quran dengan arti mengajak ke neraka yang pelakunya adalah syaitan. Lalu kata itu berarti mengajak ke surga yang pelakunya adalah Allah, bahkan dalam ayat lain ditemukan bahwa kata yad’u dipakai bersama untuk mengajak ke neraka yang pelakunya orang-orang musyrik.

Sedangkan kata dakwah atau da’watan sendiri, pertama kali digunakan dalam al-Quran dengan arti seruan yang dilakukan oleh para Rasul Allah itu tidak berkenan kepada obyeknya. Namun kemudian kata itu berarti panggilan yang juga disertai bentuk fi’il (da’akum) dan kali ini panggilan akan terwujud karena Tuhan yang memanggil. Lalu kata itu berarti permohonan yang digunakan dalam bentuk doa kepada Tuhan dan Dia menjanjikan akan mengabulkannya.

Definisi “Dakwah” secara bahasa:. Meminta dengan sangat untuk memenuhi seruan, baik disambut maupun tidak permintaan itu. Dan permintaan ini berkaitan dengan keyakinan, perkataan dan amal perbuatan.

Allah ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. al-Anfal 24)

Ada beberapa perkatan ulama dalam mendefiniskan dakwah sebagai berikut:

  1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata: dakwah kepada Allah adalah dakwah menuju keimanan kepada-Nya dan terhadap apa yang di bawa oleh Rasul-Nya dengan meyakini apa yang dikhobarkan olehnya dan menta’ati perintahnya.[3]
  2. Imam Ibnu jarir аt-Thobari rahimahullah berkata tentang maksud dakwah: yaitu menyeru menusia menuju Islam dengan perkataan dan perbuatan.[4]
  3. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Dakwah kepada Allah yaitu dakwah/seruan kepada persaksian bahwa tidak ada “ilah” yang berhak disembah kecualai Allah ta’ala satu-satunya dan tidak ada sekutu baginya.[5]
  4. Syaikh Ali Mahfudz rahimahullah berkata: Dakwah kepada Allah ialah memotivasi manusia kepada kepada kebaikan, petunjuk, dan memrintahkan kebaikan serta mencegah yang mungkar agar meraih kebahagiaan dunia akherat.[6]

Jadi Pengertian Dakwah secara istilah syar’i:

“Sebuah usaha baik perkataan maupun perbuatan yang mengajak manusia untuk menerima slam, mengamalkan dan berpegang teguh terhadap prinsip-prinsipnya, meyakini aqidahnya serta berhukum dengan syari’аt-Nya.”

Dai merupakan kunci dakwah oleh karena ia bagaikan orang yang memegang alat dakwah. Di tangannya dakwah memperolehkeberhasilan atau kegagalan. Adapun hal yang perlu diperhatikan oleh juru dakwah dalam berdakwah yakni : corak kemajemukan pluralitas masyarakat suatu bangsa adalah ke-bhinekaan dalam beberapa aspek kehidupan yang meliputi ideologi, sosio-kultural, agama, suku, bahasa,politik dan sebagainya