AJARAN JAMA’ATUL MUSLIMIN (1979)

0
6.778 views

MEMBACA:

  1. Surat Majelis Ulama Indonesia tanggal 1 Jumadil Awal 1400 H, 18 Maret 1980 M, No.:A-227/MUI/III/1980, Hal: Mohon Pembahasan yang meminta kepada Majelis Ulama Sumatera Utara untuk meneliti ajaran Jama’atul Muslimin.
  2. Risalah al Jama’ah yang menjadi lampiran surat Majelis Ulama Indonesia tersebut di atas.

MANIMBANG:

Bahwa ajaran dan menamakan dirinya Jama’atul Muslimin yang berpusat di Majalaya Jawa Barat, sesuai dengan risalah yang diperbuatnya dengan judul “Risalah Al Jamaah” perlu diberikan suatu pendapat, demi untuk tidak terjadinya pengkaburan dan kesalahpahaman terhadap ajaran Islam di negara Republik Indonesia;

MENDENGAR:

Pendapat-pendapat anggota Sidang Pleno Majelis Ulama Sumatera Utara tanggal 16 April 1980, 26 April 1980 dan tanggal 29 April 1980.

MENGINGAT:

Surat Keputusan Jaksa Agung RI tanggal 29 Oktober 1971 No.:Kep-089/D.A/10/1971, tentang “Pelarangan Terhadap Aliran-Aliran Darul Hadis. Jama’ah Quran Hadis, Islam Jama’ah, JPID, Japeenas dan lain-lain organisasi yang bersifat/berajaran serupa.

MEMUTUSKAN:

MENETAPKAN:

Pertama:

  1. Bahwa ayat al Quran dan hadis yang termuat pada risalah tersebut, adalah sesuai menurut ayat-ayat al Quran dan al Hadis yang memuat dakam kitab-kitab al Quran dan Hadis yang mu’tabar, tetapi ada yang salah tulisannya: Yanqutsu (ينقث ) sebenarnya yankustu (ينكث) pada halaman 10 risalah tersebut.
  2. Penerjemahan dan penafsirannya ada yang salah, tidak dapat diterima, di antaranya pada halaman 6 dan 7:
    1. ditafsirkannya surat al Haj ayat 78 “huwa samakumul muslimin” (هو سماكم المسلمين ) dengan nama Jama’atul Muslimin, tidak dapat diterima, dimaksud dengan ayat tersebut adalah: Allah menamakan orang yang beriman dengan Muhammad muslimin dalam kitab-kitab yang telah lalu dalam al Quran Demikian Tafsir al Maraghi juzu 15 halaman 149 Tegasnya tidak ada sangkut pautnya ayat tersebut dengan Jamiataul Muslimin sebagai yang ditafsirkan oleh penulis risalah.
    2. Terjemah “liyakunar rasulu syahidan ‘alaikum watakunu syuhada a linnah” ليكون الرسول شهيدا عليكم اوتكونوا شهدآ علي الناس  )   adalah salah. Yang benarnya: supaya Rasul menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia.

Kedua:

  1. Kami menyimpulkan bahwa isi Risalah Jama’atul Muslimin yang membicarakan permasalahan: 1. Jama’ah; 2. Imamah; 3. Imarah; 4. Bai’ah dan; 5. Muslimin. Istilah istilah tersebut dipakaikan oleh penulis Risalah al Jama’ah ini dengan pengertian yang keliru, dan sama sekali tidak menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan istiah-istilah tersebut. (lihat lampiran)
  2. Kami berpendapat bahwa penyusun Risalah al jama’ah yang bernama Yusuf Rahmat bin K.H. Fachrurrazi bukanlah seorang Ulama yang ahli dalam agama Islam dan lebih lebih lagu bukanlah seorang yang ahli dalam menafsirkan ayat-ayat al Quran dan Sunnah Rasul SAW seperti pengambilan nama Jama’atul Muslimin yang tersebut pada ayat pertama di atas.

Ketiga:

Bahwa pengakuannya dan prosedur pengangkatannnya sebagai Iman tidak dapat diterima dan adalah batal, karena pengertian Imam yang sebenarnya adalah sama dengan Khalifah yang mempunyai kekuasaan penuh dalam pemerintahan. Sebab di dalam satu negara hanya dibenarkan seorang Imam/Khalifah atau Kepala Negara. Sedangkan di negera Republik Indonesia sudah ada seorang Kepala Negara yang sah.

Keempat:

Karena adanya persamaan antara “Jama’atul Muslimin” dengan “Islam Jama’ah” antara lain:

  1. Pengakuan Imam dari pimpinannya
  2. Kewajiban bai’ah dari pengikutnya
  3. Penyusunan kelompoknya dalam satu jama’ah

Maka kami mengusulkan:

  1. Agar pemerintah melarang gerakan Jama’atul Muslimin, sebab termasuk sejenis dengan islam Jama’ah atau sejenisnya yang telah dilarang Jaksa Agung RI
  2. Agar Pemerintah c.q. Departemen Agama dapat memberikan penerangan-penerangan yang sebenarnya tentang agama Islam kepada kelompok Jama’ah ini.

Ditetapkan      : di MedanPada Tanggal : 29 April 1980

Anggota Sidang Pleno Tanggal 16,26, dan 29 April 1980

  1. H. Hamdan Abbas (Ketua Bidang Fatwa)
  2. Drs. H. Nukman Sulaiman (Ketua MU SU)
  3. H.M.Thahir Abdullah (Penasihat MU SU)
  4. K.H. Ahmad Nasution (Anggota MUSU)
  5. H. Abdullah Syah, MA (Anggota MUSU
  6. N.D. Pane (Anggota MUSU)
  7. Prof. Dr. Yafizham, SH (Anggota MUSU)
  8. Let.Kol D. Batubara (Anggota MU SU)
  9. H. Mahmud Aziz Siregar, MA (Anggota MU SU)
  10. Syekh H. Maksum Siregar (Anggota MUSU)
  11. Drs. H. Kari Ahmad (Anggota MUSU)
  12. H. Abdullah Sani (Anggota MUSU)