Tuesday, 24 November, 2020

KARAKTER KEPEMIMPINAN NABAWIYAH:Refleksi Mengenang Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ sebagai Teladan Agung dalam Kepemimpinan


Disampaikan dalam Muzakarah 24 Oktober 2020 Oleh: Husnel Anwar Matondang

  • Pendahuluan

Kebutuhan terhadap pemimpin merupakan hukum kauniyah dalam ranah kehidupan sosial. Sudah menjadi fitrah manusia untuk hidup secara berkaum. Dalam perkauman itu, mereka membutuhkan pemimpin yang mengendalikan berbagai persoalan yang ditimbulkan dalam relasi dan interaksi mereka. Walaupun bentuk kepemimpinan itu berbeda-beda tetapi substansinya tetap sama, yaitu adanya pengendali sistem dalam kepemimpinan bagi suatu komunitas atau sosialitas.

Tidak saja sebagai hukum kauniyah, keberadaan pemimpin juga dilandasi hukum syar`iyah. Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan bagi orang yang musafir lebih dari dua orang untuk mengangkat seorang pemimpin. Nabi juga menunjuk salah seorang sahabat untuk memimpin ekspedisi hijrah, perjalanan dakwah, dan pemimpin dalam peperangan sariyyah. Ketika beliau sakit, ia mendelegasikan kepemimpinan shalat di masjid Nabawi kepada Abu Bakar. Setelah kewafatannya, masyarakat Muslim mengangkat Abu Bakar menjadi pemimpin menggantikan peran Nabi dalam mengatur ihwal umat. Pengangkatan pemimpin tersebut menjadi tradisi (sunnah) al-khulafa` ar-rasyidun. Akhirnya, kepemimpinan itu terlembaga dan dilanjutkan generasi ke generasi umat ini.

Ketika kepemimpinan menjadi keniscayaan di dalam Islam, maka konsekwensi logisnya tentu agama ini memiliki nilai-nilai atau norma-norma yang dijadikan sebagai landasannya. Islam, sebagaimana klaim kitab suci Alquran, adalah agama yang ikmal (sempurna) dan itmam (universal) –surah al-Mai`idah ayat 3-, sangat mustahil tidak memiliki patron ideal yang mampu mengaplikasikan nilai-nilai luhur Islam yang menyejarah. Sebab, Islam adalah agama yang diturunkan untuk membumikan kemashlahatan makhluk dunia, bukan terhenti pada alam ide, walaupun dasar ajarannya diturunkan dari langit.

Patron ideal yang menyejarah dan mampu menerapkan nilai-nilai sempurna dan universal itu adalah Nabi Muhammad ﷺ. Ia bukan saja menerapkan nilai-nilai Alquran dalam segala aspek, termasuk kepemimpinan, tetapi ia sendiri adalah bagian dari nilai-nilai hidup yang sejatinya menjadi qudwah umat. Keteladanan beliau dalam memimpin manusia, baik dalam ranah spritualitas (ukhrawi) maupun temporalitas (duniawi) terbukti evektif menggerakkan umat dari jantug kebodohan ke puncak kecerdasan. Lebih dari prediksi siapapun waktu itu, nilai-nilai Islam yang menjadi landasan Nabi Muhmmad ternyata tidak sampai satu abad mampu menumbangkan sekaligus menggantikan dua pradaban besar, Romawi dan Persia.

Melihat prestasi Nabi Muhammad ﷺ dengan nilai-nilai yang dibawanya dalam kepemimpinan dunia, maka beliau tidak saja layak untuk diteladani tetapi sejatinya menjadi kewajiban bagi setiap orang yang ingin sampai pada kesuksesan dalam kepemimpinan. Atas kerangka dasar inilah tulisan kami yang sederhana ini akan mencoba menapaki sifat-sifat dan karakter kepemimpinan Nabi Muhammad ﷺ tersebut, sekaligus sebagai refleksi terhadap kepemimpinan nasional saat ini.

  • Tidak Ada Yang Instan

Menjadi hukum sejarah, seorang pemimpin besar hadir tidak dengan instan, tetapi didahului oleh penempaan kepribadian. Sebagai seorang pemimpin temporal dan spritual umat manusia, Nabi Muhammad ﷺ juga secara sunnatullah juga melalui babakan ini, sejak kecil ia sudah menjadi seorang pengembala kambing yang berhasil menjadi pedagang yang sukses, dan juru damai yang dipercaya. Dalam pada itu, pada umumnya Nabi-nabi Allah ﷻ , selain beliau ternyata juga melalui tahapan ini, yaitu sebagai pengembala kambing. Hal ini  sebagaimana kesaksian Nabi sendiri, ““Tidaklah Allah  mengutus seorang nabi melainkan dia mengembalakan kambing.” Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau juga?” Nabi Muhammad menjawab, “Ya, aku pun mengembalakannya dengan upah beberapa qirat (keping dinar) milik penduduk Makkah.[1]

Kambing adalah binatang yang dapat hidup berkelompok tetapi tidak memiliki pengendali yang lahir dari mereka sendiri. Karena itu, kambing selalu berpencar dalam kelompok-kelompok kecil. Atas dasar inilah kambing perlu digembalakan agar mereka hidup dalam kelompok besarnya dan bisa terkendali. Zaid bin Abdul Karim az-Zaid mengatakan bahwa dalam mengembala kambing terdapat pelajaran untuk membiasakan diri mengatur, menyantuni dan, mengayomi. Tatkala mereka bersabar dalam mengembala dan mengumpulkannya setelah terpencar di padang gembalaan, mereka mendapat pelajaran bagaimana memahami perbedaan tabiat dan kemampuan. Dalam pada itu, kesiapan seseorang untuk mengembala kambing merupakan suatu sikap rendah hati dan mengasah kepedulian terhadap binatang yang tidak mampu mempertahankan diri dari musuh-musuhnya. Hal yang sama juga dikemukakan sebelumnya oleh Badruddin al-Aini dan Ibn hajar al-Asqalani di dalam Fath al-Bari.[2]

Kecakapan dalam mengelola sesuatu yang butuh kesabaran, ketawadu`an, kepeduliaan, dan kepekaan, tentu akan menghadirkan kepribadian yang kuat dan luhur serta kemampuan yang memadai mengelola masyarakat. Kemampuan-kemampuan tersebut secara niscaya akan menghadirkan reputasi yang baik. Reputasi yang dibangun dari kapasitas pribadi yang luhur dan kuat tersebut tentunya akan mengundang simpati dan kepercayaan tulus dari masyarakatnya. Berbeda halnya dengan reputasi yang dipaksa hadir karena di-blow up media-misalnya, maka kepercayaan itu lambat laun akan berbalik arah menjadi penghinaan dan caci-maki. Ketika sosok instan dan lemah ini disetting menjadi memimpin, maka kehancuran dan perpecahan di tengah-tengah umat merupakan suatu kepastian dalam hukum sejarah.

  • Dari Masyarakat Jahiliyah Menuju Generasi Rasyidah

Catatan sejarah tentang masyarakat jahiliyah pada umumnya bersifat negatif. Tidak ada sejarawan yang jika ia melibatkan emosional psikologi sosial kecuali sangat pesimistis terhadap masyarakat ini. Siapa pun yang hadir di sana, maka ia akan terpulan dalam kuatnya arus tradisi barbar tersebut. Sekiranya ada lorong waktu yang bisa mengembalikan kita pada era ini, maka tidak ada dua kemungkinan yang akan terjadi kecuali ikut dalam locus jahiliyah. Benarlah ungkapan dalam postulat sejarah bahwa seseorang merupakan anak zamannya. Namun, ternayata hukum sosial itu tidak berlaku untuk seseorang yang bernama Nabi Muhammad ﷺ ibn Abdillah. Ia tidak saja menentang arus pada adat dan tradisi kebodohan tetapi juga keluar dari poros paradigma dan keyakinan mereka.

Kita bisa mengutas kilah bahwa Muhammad ﷺ ibn Abdillah mampu menjadi tawar di tengah-tengah asinnya laut kebodohan disebabkan bimbingan wahyu. Tetapi, kita juga jangan mengabaikan fakta bahwa sosok Ibn Abdillah tersebut sampai menjelang usia 40 tahun adalah manusia biasa yang tanpa lentera wahyu. Kendatipun kemungkinan pada dirinya telah terbangun jaringan frekwensi spritual yang dipersiapkan untuk menerima kalam ilahi tersebut, tetapi kita tidak bisa mengabaikan peran personalitas kemanusiaannya. Muhammad ﷺ ibn Abdillah telah membangun karakter dan kepribadian luhur yang berasas pada pencarian kebenaran. Tidak saja itu, ia juga berhasil menjaga fitrah yang diberikan kepada setiap manusia pada alam arwah dan mengekploitasinya menjadi karakter yang sempurna. Fitrah kebaikan itu asasnya adalah tauhid dan tunduk pada nilai-nilai kebenaran.

Peristiwa yang mengitari Rasulullah tersebut menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa di lembah kenistaan apap pun seseorang itu, tetap saja memiliki harapan untuk sebuah perubahan. Namun yang harus dicatat, persyaratan mutlak bagi penggerak perubahan berangkat dari karakter dan kapasitas pribadi penggerak itu sendiri. Ia harus menjadi anti tesa dari karakter buruk masyarakat yang menjadi objek perubahan. Oleh sebab itu, penggerak ini diniscayakan telah memiliki nilai-nilai kebenaran yang harus diperjuangkannya, yaitu tauhid. Inilah pelajaran penting yang kita ambil dari sirah Nabawiyah Muhammad ibn Abdillah di atas.

Persyaratan kedua, ia harus mengetahui akar masalah yang terjadi di tengah-tengah masyarakatnya. Karena itu, penggerak perubahan itu seyogianya berada di tengah-tengah objek atau peristiwa sosial tersebut. WAllah ﷻ u a`lam, atas hikmah inilah, Allah ﷻ  mengutus seorang Nabi Muhmmad lahir dari rahim sosial jahiliyah itu sendiri agar ia melihat, mengatahui dan mengalami sendiri semua peristiwa negatif tersebut. Hingga akhirnya ia menghadirkan solusi untuk setiap masalah yang ada. Tahukah kita, Makkah ketika itu adalah pusar akal sakit (antonim akal sehat) dari sentero bumi ini. Artinya, beliau berada pada masyarakat yang menjadi refresentasi segala keburukan dan perilaku destruktif di era itu. Karena itulah, walaupun ia memiliki kapasitas pribadi yang kuat, namun ia harus dibimbing dengan nilai-nilai agung yang universal untuk menjadi peta kebanaran semesta alam ini. Nilai-nilai kebenaran universal itu adalah bersumber dari wahyu Allah ﷻ .

Betapa dahsyatnya nilai-nilai penggerak (wahyu) yang dijadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pedoman untuk melakukan perubahan tersebut. Dengan asas nilai itu ia berhasil memabawa masyarakat yang tidak ‘dianggap’ oleh dua peradaban besar dunia, Romawi dan Persia, mampu mengalahkan semua kepongahan yang ada. Kendatipun ia berada di tengah-tengah masyarakat yang memiliki sumber daya manusia yang rendah dan sumber daya alam yang nihil tetapi tidak sampai satu abad, jantung-jantung kekuasaan Romawi dan Persia tunduk di bawah dakwah yang dibawanya.

Akar jahiliyah itu ada pada paradigma mereka dalam memandang kehidupan  atau memilih sebuah tindakan. Replika peristiwa jahiliyah itu bisa kita temukan dalam banyak riwayat. Misalnya, dialog Abu Jahal dengan sahabatnya, bahwa ia mengakui kebenaran ajaran Nabi Muhammad ﷺ tetapi ia memilih untuk menjadi oposisi hati nuraninya karena ingin terus bertahan dalam status quo kekuasaan kaumnya. Karena itu, ciri dari kejahiliahan itu ada pada penolakan terhadap kebenaran itu sendiri, kendatipun ia mengakuinya pada konsepsinya, namun disebabkan alasan kekuasaan atau oportunitas duniawi, baik pribadi ataupun kelompok, ia mengambil jalan berseberangan.

  • Karakter Kepemimpinan Nabi Muhammad

Keberhasilan Nabi Muhammad ﷺ dalam semua lini, terkhusus kepemimpinan, yang tercatat dalam sejarah disebabkan oleh faktor-faktor berikut, yaitu kapasitas pribadinya, kecerdasan perilaku sosial-pilitiknya, dan pengasasan setiap tindakannya dengan bimbingan wahyu. Dalam uraian berikut, kita akan melihat sejumlah catatan penting tentang hal ini.

  1. Kapastitas Pribadi Dan Sifat-sifat Rasulullah
  2. Jujur, Amanah, dan Adil

Nabi Muhammad ﷺ sangat dikenal sebagai seorang yang jujur (shiddiq). Pengakuan itu tidak saja datang dari para sahabatnya tetapi juga dari mereka yang menentangnya. Di dalam Shahih al-Bukhari diriwayatkan bahwa Abu Sufyan, sebelum memeluk Islam, pernah ditanya oleh Heraclius tentang sifat-sifat Nabi Muhammad ﷺ tersebut. “Apakah kamu pernah menemukannya berdusta? Lalu Abu Sufyan mengatakan, “Tidak sama sekali.”[3] Karena itulah memori orang-orang Quraiys akan merujuk kepada Nabi Muhammad ﷺ ketika disebutkan al-Amin. Dua alasan pentinya adalah tidak ada orang yang melebihi kejujuran beliau; dan pada kenyataannya sosok baginda tidak pernah melakukan kedustaan sama sekali, walaupun itu hanya dalam canda.[4]

Dalam kepemimpinan, kejujuran dan amanah merupakan persyaratan mutlak yang harus dimiliki pemimpin tersebut. Tonggak kepercayaan masyarakat sangat tergantung terhadap dua sifat ini. Munculnya kecurigaan dan ketidakpercayaan publik itu berawal dari perilaku seseorang dalam berkata dan berperilaku jujur. Ketika seorang pemimpin telah mengumbar kedustaan, janji-janji palsu, dan pencitraan semu sebagai orang baik, maka kecurigaan mereka terhadap keamanahan pemimpin itu akan tumbuh dan akhirnya terdegradasi ke titik paling ekstrim. Dari sinilah api kebencian itu akan menjalar dan sangat memungkinkan menjalar menjadi aksi pembangkangan dari orang-orang yang mengangkatnya itu sendiri.

Kejujuran dan amanah akan menghantarkan pada keadilan. Keadilan yang dimaksud adalah memberikan hak seseorang kepada yang berhak untuk memperoleh dan mendapatkannya tanpa ada kezaliman. Dalam sirah Nabi Muhammad ﷺ, keadilan Rasulullah itu dapat dilihat dalam segala lini sosial, baik ekonomi maupun hukum. “Orang-orang sebelum kamu binasa disebabkan tatkala yang mencuri adalah orang-orang terpandang maka mereka tidak menerapkan hukuman. Namun ketika yang mencuri orang-orang yang lemah, maka mereka menerapkan hukuman terhadapnya. Demi Allah  jika Fathimah bintu Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.”[5]

Dalam Khutbah Wada’ Rasulullah menjelaskan sejumlah prinsip penting tentang keadilan dan persamaan hak, “Hai ummat manusia! Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah satu. Ingatlah! Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang lain Arab; tidak pula ada kelebihan bagi orang selain Arab atas orang Arab; tidak juga ada kelebihan orang yang berkulit merah atas orang kulit hitam; dan tidak pula orang kulit hitam atas orang kulit merah, melainkan ketakwaannya. Sebab sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling bertakwa kepada Allah .”

Pada perang Badar setiap satu unta ditunggangi tiga orang. Namun ‘Uqbah meminta hanya berjalan di belakang karena tidak mau menyusahkan Rasulullah dan sejumlah sahabat kenamaan. Lalu, Rasulullah bersabda, “Tidaklah kamu lebih kuat dari aku dan tidak lah aku lebih membutuhkan balasan pahala dari pada kamu.”[6] Di sini Rasulullah ingin menunjukkan kepada para sahabat agar berlaku adil, kendatipun itu dalam masalah terkecil.

  • Fathanah wa Syaja`ah

Fathanah (kecerdasan) merupakan sifat yang sangat dibutuhkan seorang pemimpin. Kecerdasan itu tidak saja harus hadir pada kepemimpinan skala besar, tetapi dalam kepemimpin terbatas pun hal tersebut sangat dibutuhkan. Karena itulah pemimpin yang cerdas akan memiliki wawasan luas, konsep penyelesaian masalah, dan inisiatif dalam bertindak. Kecerdasan tersebut telah dibuktikan Nabi Muhammad ﷺ sepanjang usianya. Salah satunya dapat disimak pada peristiwa ketika orang Arab terjebak dalam kebuntuan penyelesaian peletakan Hajar al-Aswad di Ka`bah. Karena reputasinya, beliau diangkat menjadi penengah dalam masalah ini. Baginda mengambil selendangnya dan menaruh Hajar al-Aswad tersebut di atasnya dan para pemuka suku Quraisy yang bersengketa itu memegang bagian dari kain tersebut dan mengangkatnya ke tempat peletakan Hajar Aswad.

Syaja’ah adalah keberanian dalam segala hal, termasuk mengambil keputusan, dan bersikap tegas. Sifat ini sangat dibutuhkan seorang pemimpin, karena bagaimanapun masalah akan selalu hadir dalam lingkup pengelolaan sosial dan politik. Sikap keberanian ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah dalam segenap keadaan dan situasi. Ungkapan Ali Abi Thalib berikut ini sudah cukup menjadi saksi atas sempurnanya karakter tersebut pada diri Nabi Muhammad ﷺ. “Jika perang sudah membara, pasukan bertemu pasukan, maka kami berlindung pada diri Nabi Muhammad ﷺ. Tidak seorang pun dari kami yang lebih dekat dengan musuh daripadanya.”[7]

Keberanian yang ditunjukkan Rasulullah bukan keberanian tanpa pertimbangan dan kalkulasi. Sebab, keberanian tanpa pertimbangan, sejatinya bukan keberanian (syaja`ah) tetapi justru kecerobohan dan kedunguan. Lihatlah proporsionalitas syaja`ah yang ditunjukkannya dalam kisah baiat Aqabah kedua. Ketika itu para sahabat Yatsrib yang telah membaiatnya, dengan semangat membara, ingin merespon tindakan dari penduduk Mina. Sahabat-sahabat itu mengatakan, “Wahai Rasulullah, jika engkau berkenan, maka kami akan menghancurkan penduduk Mina dengan pedang-pedang kami.” Lalu Rasulullah bersabda, “Kamu belum diperintahkan untuk berperang, kembalilah ke kemah-kemah kalian.”[8] Karena itulah Rasulullah tidak pernah lari dari medan jihad dan tidak pernah lari ketika rakyatnya atau umatnya mendatanginya.

  • Luthf, Rahmah, dan `afw

Seorang pemimpin seyogianya memiliki sifat kelembutan, kasih sayang, dan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Salah satu kelembutan Nabi dapat kita lihat dalam riwayat Abu Hurairah bahwa seorang Arab Badui masuk ke dalam masjid dan kencing di salah satu sudutnya. Lalu, orang-orang ingin mengusirnya. Serta merta Nabi Muhammad ﷺ pun bersabda, “Biarkan dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kamu diutus untuk memberi kemudahan (kelembutan) dan tidak diutus untuk membuat kesulitan (kekasaran).”[9]

Siapapun yang membaca Sirah Nabawiyah pasti akan menemukan kasih sayang beliau kepada umat manusia. Hal itu tidak saja untuk urusan duniawinya terlebih lagi adalah untuk masalah ukhrawi mereka. Diriwayatkan bahwa Rasulullah berta`ziyah kepada salah satu keluarga sahabat yang meninggal. Setelah memberikan kata-kata nesehat, lalu beliau bersabda, ”Saudara-saudaraku, kalau ada di antaramu seseorang yang mati meninggalkan harta, maka hartanya itu harus dibagikan kepada ahli warisnya. Dan kalau ada yang mati meninggalkan utang yang besar atau tanggungan keluarga yang banyak, maka hendaklah kalian datang kepadaku, karena akulah penolong dan pelindungnya.”

Di antara sifat keutamaan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pemimpin adalah kemurahan hatinya untuk memaafkan kesalahan manusia jika kemaafan itu tidak bertentangan dengan syariat. Salah satu kasusnya adalah tatkala Futuh al-Makkah. Nabi [10]

  • Tabligh dan Ittishali

Sejak kecil Nabi Muhammad ﷺ hidup di tengah-tengah pengguna Bahasa Arab yang fasih. Karena itulah, ia terdidik menggunakan kata-kata yang efektif, lugas, baligh, dan bermakna. Bukti tentang hal ini cukup banyak ditemukan di dalam hadis-hadis Nabi, khususnya hadis yang diriwayatkan secara redaktif bukan maknawi. Istilah yang dikenal untuk ini adalah jawami` al-kalim. Salah satu contoh sederhana, “Tinggalkan yang meragukan dan ambil yang tidak meragukan.”[11]

Tidak bisa diandaikan jika ada pemimpin besar yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Sebab, kemampuan berkomunikasi tersebut dapat membuat seseorang lebih baik dalam menyampaikan ide dan gagasan, mampu membangun hubungan dengan orang lain, berhasil mempromosikan sesuatu, dan juga bisa meningkatkan kepercayaan orang lain. Sebelum manusia mengenal teori-teori public speaking Rasulullah telah melakukannya sejak beliau pertama kali diperintahkan untuk mengajak manusia kepada jalan Allah ﷻ . Dengan susunan kata-kata serta kandungan yang benar dan bermakna, tidak sedikit orang menyatakan kesiapannya memeluk Islam. Begitu juga ketika Nabi berpidato pada haji wada`, para sahabat ketika itu larut dalam nuansa isi khutbah beliau. Pada hari ini tidak sedikit pemimpin yang gagal memahamkan masyarakatnya dengan ungkapan-ungkapan mereka yang jelek dan ambigu. Maka, terjadilah kesalahpahaman dan membias menjadi penolakan dan ejekan. Terkadang mereka harus menggunakan orang lain untuk menyampaikan gagasannya karena ketidakmampuannya. Ini suatu kelemahan yang dipertontonkan kepada publik yang sangat merusak imajanisi publik terhadap pemimpinnya.

Sebagai seorang Rasul Allah ﷻ , Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk menyampaikan semua ajaran wahyu yang diturunkan untuk beliau dan umatnya. Allah ﷻ  mengecam tindakan Ahli Kitab yang menyembunyikan sebagian ayat-ayat Allah ﷻ  dan menjelaskan sebagian lainnya.[12] Atas dasar inilah kita mengatakan bahwa tidak ada ajaran yang disyariatkan oleh Allah ﷻ  kepada manusia yang tidak disampaikan oleh Rasulullah. Bahkan, ketika ia akan wafat, ia bertanya kepada sahabat-sahabat yang ada di sekitarnya, bukankah aku telah menyampaikan!

  • Perilaku Kepemimpinan Rasulullah
  • Musyawarah dan Komitmen pada Keputusan

Di antara karater kepemimpinan Nabi Muhammad ﷺ adalah terbukanya ruang keterlibatan umat (publik) dan pengikutnya dalam mencari solusi dan pengambilan keputusan. Beliau kerap mengkonsultasikan persoalan-persolan yang mereka hadapi dengan sejumlah tokoh masyarakat. Dengan kata lain, salah satu ciri kepemimpinan beliau yaitu melazimkan musyawarah. Kesaksian Abu Hurairah berikut ini merupakan cacatan penting dalam masalah ini. “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih banyak bermusyawarah dengan sahabatnya dibanding Rasulullah.”[13]

Ketika keputusan telah diambil dalam suatu musyawarah, maka Nabi secara konsisten menerapkan hasil musyawarah tersebut, selama tidak ada wahyu yang menyatakan lain. Konsistensi dan keteguhan Nabi dalam mengaplikasikan hasil ketetapan musyawarah tersebut dapat ditelusuri pada peristiwa perang Uhud. Ketika kafir Quraisy bergerak menuju Madinah, maka Nabi mengajak para sahabat untuk bermusyawarah menghadapinya. Pada awalnya, Beliau menginginkan agar pertempuran dilakukan di dalam kota, namun hasil musyawarah menetapkan pertempuran dilakukan di luar kota, yaitu dekat bukit Uhud. Dengan hasil keputusan itu, maka Nabi pun memakai baju perangnya. Ketika itu para sahabat melihat Nabi berberat hati dengan keputusan tersebut, maka mereka mengusulkan agar Nabi bertahan di dalam kota, yakni mengikuti pendapatnya dan meninggalkan pendapat mayoritas. Namun beliau mengatakan ‘Tidak pantas bagi seorang Nabi apabila ia telah memakai baju perangnya, lalu ia melepasnya hingga datang keputusan dari Allah .”[14]

  • Tadhhiyah dan Khidmah

Ciri terpenting lainnya dari kepribadian Rasulullah dalam kepemimpinannya adalah siap berkorban dan berkhidmat untuk umat, bukan untuk kepentingan pribadi dan sukunya (kelompoknya). Pengorbanan dan bakti sosial adalah tonggak kepemimpinan yang diperankan manusia terbaik tersebut. Hal ini dapat kita temukan dari kesaksian orang terdekatnya, yaitu Khadijah binti Huyay. Peristiwa itu terjadi ketika Rasulullah baru mendapat wahyu dan ia kembali ke rumah dipenuhi rasa kekhawatiran. “Aku khawatir tentang diriku,” Lalu Khadijah mengatakan, “Tidak, WAllah i, bergembiralah, Allah  tidak akan mencelakakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau benar-benar seorang yang senantiasa menyambung silaturahmi, seorang yang jujur kata-katanya, menolong yang lemah, memberi kepada orang yang tak punya, engkau juga memuliakan tamu dan membela kebenaran.”[15]

  • Hiwar dan Muraja`ah

Rasulullah memiliki kepribadian terbuka dan dialogis serta bersedia menarik keputusan ketika kebijakan itu tidak lebih baik dari yang disarankan oleh sahabatnya. Hal ini dapat dilihat tatkala baginda memimpin peperangan di lembah Badar. Ketika itu Rasulullah membawa pasukannya mendekati mata air Badar mendahului orang-orang Musyrik agar musuh tidak bisa menguasai mata air. Saat Rasulullah sudah menentukan satu posisi, al-Hubâb bin Munzir mengeluarkan pendapatnya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapat anda tentang posisi ini? Apakah ini wahyu Allah  sehingga kita tidak boleh maju atau mundur; ataukah ini hanya pendapat, siasat dan taktik  perang”? Beliau menjawab: “Ini hanya pendapat, siasat dan taktik perang.” Al-Hubâb mengatakan, “Wahai Rasulullah, posisi ini kurang tepat, bawalah orang-orang ini ke sumur yang paling dekat dengan posisi musuh. Kita kuasai sumur itu lalu yang lainnya kita rusak. Kita membuat telaga besar lalu kita penuhi air. Kemudian baru kita perangi mereka, kita bisa minum sementara mereka tidak bisa.” Rasulullah bersabda kepada al-Hubâb, “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu.” Rasulullah menyetujui dan melakukannya”.[16]

  • Bu`d an-Nazhr wa Tanbih

Pemimpin ideal adalah orang yang memiliki visi dan pandangan jauh ke depan. Ia harus mempunyai ketajaman analisis dan prediksi tentang mashlahat dan mafsadat pada era terkini dan masa depan rakyatnya. Di sinilah kecakapan itu dibutuhkan untuk melihat peluang dan keuntungan yang dapat diambil suatu masyarakat. Karena itu, jika seorang pemimpin hanya fokus pada keuntungan hari ini tetapi merugikan masa depan, maka sesungguhnya ia telah menghancurkan masa depan banyak orang. Kebijakan tanpa visi masa depan justru selain akan membebani generasi berikutnya tetapi juga dapat menghancurkan dan menghilangkan peta kekuasaan suatu bangsa.

Kecakapan ini dapat kita saksikan pada diri Rasulullah dalam banyak peristiwa. Salah satunya adalah pada perjanjian Hudaibiyah. Sebagian sahabat melihat isi kesepakatan itu sangat merugikan umat Islam. Sebab, dinyatakan dalam salah satu pasalnya bahwa Jika ada penduduk Makkah yang pergi ke Madinah maka akan dikembalikan ke Makkah, namun jika ada muslim dari Madinah yang kembali ke Makkah maka dia tidak akan dikembalikan.[17]

Namun, ternyata setelah kesepakatan itu berlangsung beberapa tahun, baru mereka sadar bahwa keputusan Nabi ini sangat menguntungkan masa depan kekuasaan dan dakwah Islam. Kesepakatan itu telah memberikan kesan mendalam kepada orang-orang Quraisy tentang toleransi Islam dan kesombongan orang Quraisy. Dalam pada itu, sejarah membuktikan Rasulullah dan kaum muslim berhasil umrah pada tahun berikutnya dengan pengikut mencapai dua ribu jiwa. Jeda satu tahun memberi waktu Islam berkembang pesat dan menghindari pertumpahan darah. Keuntungan lain adalah, kaum muslim di Makkah tidak lagi mengalami penyiksaan dan perlakuan tidak menyenangkan. Mereka bebas berbicara dan menyebarkan Islam serta menjalin kesepakatan dengan suku lain. Akhirnya penduduk Makkah semakin banyak yang tertarik dan simpati kepada ajaran Islam. Hingga titik kulminasinya kaum Muslim mampu menguasasi Makkah tanpa peperangan dan perlawanan.

  • Tahrik Nas fi A`mal wa Tha`ah

Kemampuan mengorganisir dan menggerakkan manusia untuk melakukan sesuatu merupakan kecakapan lain yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Hal itu dapat dilihat dalam sejumlah kasus yang dilakukan Rasulullah. Salah satu yang membekas adalah ketika akan terjadi perang Ahzab. Kaum Muslimin pada saat itu berada dalam paceklik (kelaparan) dan musim dingin yang ekstrim,[18] namun mereka diperintahkan oleh Rasulullah untuk menggali parit lebih dari dua kilo meter panjangnya dengan lebar sepuluh meter dan kedalam yang tidak bisa dinaiki manusia dan kuda tanpa alat.

Rasulullah berhasil membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat tentang urgensitas apa yang diperintahkan itu. Hal tersebut tidak saja untuk kemashlahatan duniawi mereka tetapi juga ukhrawinya. Kesadaran itu dimungkinkan dari tiga hal penting, yaitu kepribadian Rasulullah itu sendiri, kesadaran akan keselamatan mereka, dan balasan ukhrawi. Oleh sebab itu, tidak ada yang lebih ampuh untuk menggerakkan suatu masyarakat kecuali adanya kesadaran batin dan keyakinan atas balasan kemanfaatan duniawi dan ukhrawi yang akan mereka terima. Atas dasar inilah jika sebuah rezim tidak mengindahkan peran spritualitas dan agama dalam kepemimpinannya maka rakyatnya tidak akan bertindak di atas suatu keikhlasan. Tindakan pemimpin yang demikian merupakan kejahilan dalam menangkap potensi soliditas sebagai penguasa.

  • Tahi`ah Syabab wa Shaff Tsani

Kesadaran untuk keberlanjutan generasi berkualitas merupakan sisi lain yang ditunjukkan Rasulullah sebagai pemimpin umat. Ia mempersiapkan para pemuda untuk melanjutkan perjuangan dan masa depan yang cerah. Karena itulah, Rasulullah sangat peduli terhadap bakat mereka. Sebagai contoh, ia mempersiapkan keilmuan untuk Ibnu Abbas, kepemimpinan kepada Usamah ibn zaid, Dakwah kepada Mush`ab, dan pertanian ke sejumlah anak-anak Madinah dan Thaif.

  • Tsabat ‘ala Mabadi` wa Da`wah

Di antara karekter kepemimpinan Nabi adalah konsistensi dalam menjalankan prinsip dan dakwah. Pemimpin harus tetap berada di atas prinsif dan nilai-nilai kebenaran. Sehingga, ia tidak terjebak dan tergelincir oleh tawaran negatif dan godaan syahwat. Utbah bin Rabiah sebagai utusan Quraisy pernah menawarkan berbagai kesenangan duniawi kepada Rasulullah, mulai dari kekuasaan, harta, wanita, dan lainnya.[19] Namun Nabi tetap berada di atas jalan dan perinsif kebenaran. Kebahagiaan seorang pemimpin ada pada empat hal. Pertama, pemerintahannya tetap berada di atas jalan kebenaran dan rida Allah ﷻ , kebahagian dan kemakmuran rakyatnya lahir dan batin, dan berkembangnya sumber daya rakyatnya dalam kepemimpinannya, serta adanya generasi penerus yang siap melanjutkan idialisme dan kepemimpinan.

  • Layyin Rafiq fi Waqt; Syadid Matin fi Waqt Akhar

Dalam kepemimpinannya Rasulullah menunjukkan sikap kelembutan. Ia adalah pemimpin orang-orang yang lemah dan tertindas; pemimpin terhadap anak-anak yatim dan janda-janda miskin. Namun ia juga sahabat bagi orang-orang kaya dan berkedudukan. Dialah sosok pelindung yang dapat diandalkan oleh siapaun yang membutuhkan pertolongan dan perlindungannya. Ia adalah suami, ayah, dan sahabat yang sangat penyayang. Walau demikian, ia tegas dan keras pada setiap pengkhiyanatan dan penyimpangan yang dilakukan oleh siapapun. Karena itulah ia bersabda, “Demi Allah , jika Fathimah bintu Muhammad mencuri, pasti aku akan memotong tangannya…”[20] Kelembutan itu bersifat proporsional. Ketika suatu kondisi mebutuhkan kelembutan maka ia sangat lembut dan bersahabat; dan pada waktu mengharuskan ketegasan, maka ia bersifat tegas.

  • Hirsh ‘Ala Tajmi`

Dalam kepemimpinannya, Rasulullah adalah sosok pemersatu di tengah-tengah umat. Dialah yang menyatukan Muhajirin dan Anshar, menyatukan antara Aus dan Khazraj, menyatukan antara kabilah-kabilah, dan menyatukan warna kulit dalam satu ikatan masyarakat Islam. Beliau adalah solusi dalam perselisihan dan menjadi perekat sosial yang efektif, bukan justru menjadi pemeceh-belah. Tidak ada orang berseberangan dengannya kecuali disebabkan faktor-faktor kejahiliyahan. Karena itulah beliau mewanti-wanti tentang pentingnya persatuan dan buruknya perpecahan. Beliau mengungkapkan, “Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat, tetapi ia akan menciptakan pertikaian di antara mereka.”[21]

  • Tasyji`  wa Irfa` Ma`nawiyat

Rasulullah adalah sosok yang mampu memotivasi sahabat. Dia memberikan apresiasi dan pujian bagi yang berhak mendapatkannya. Namun ia juga akan memberikan teguran yang bijaksana bagi yang melakukan kesalahan. Ia piawai mendorong dan meningkatkan moral para pengikutnya ke tingkat yang tertinggi. Salah satu bukti yang terekam dengan baik adalah ketika terjadi perang Khandaq. Beliau mampu menggerakkan raga-raga yang sedang kelaparan, kelelahan dan kedinginan di malam hari untuk bekerja ekstra keras. Dengan tangkas Rasulullah menjelaskan tentang konsekwensi dari peperangan itu untuk kemashlahatan dunia dan akhirat mereka. “Sekarang kita yang akan menaklukkan mereka dan mereka tidak bisa menyerang kita, karena itu  kita berjalan ke arah mereka.”[22] Sepenggal ungkapan itu telah menjadikan moral para pengikutnya meningkat tinggi, hingga akhirnya musuh porak-poranda.

  • Shabr Qanu` Hakim wa Thuma`ninah

Salah satu karakter kepemimpinan Rasulullah adalah mengasaskan responnya terhadap berbagai persoalan dengan ketenangan, kesabaran, dan kebijaksanaan.  Beliau mengatakan bahwa terburu-buru dan ceroboh merupakan tipu daya setan. “Ketergesa-gesaan itu dari setan …”[23] Kebijaksanaan Rasulullah tersebut dapat dilihat pada peristiwa suatu Kabilah masuk Islam. Ketika itu ada seorang Arab Baduwi meminta harta kepada Rasulullah, lalu Rasulullah berkata kepadanya ambillah semua kambing yang ada di lembah antara dua bukit itu. Orang baduwi itu kembali ke kampung halamannya seraya berkata, “Masuk Islamlah kamu wahai kaumku. Sesungguhnya Muhammad ﷺ akan memberikan sesuatu dan ia tidak takut kehilangan hartanya.”[24] Oleh peristiwa ini, maka suku itu secara total masuk Islam dan akhirnya justru mereka yang dengan suka rela membela Islam dengan harta dan jiwanya.

  • Qa`id Bariz wa Khuluq Azhim

Nabi Muhammad ﷺ adalah pemimpin rakyat yang terbuka dan mudah ditemui. Karena itu, tidak ada sekat dan penghalang antara dirinya dan umat dari semua lapisan dan kelas sosial. Tidak ada stratifikasi atas dasar duniawi, yang ada adalah persamaan yang menjunjung adab dan akhlak. Karena itu, pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapapun yang membutuhkannya. Setiap orang mudah bekomunikasi dengannya tentang berbagai persoalan mereka. Jarir meriwayatkan, “Rasul tidak menghalangiku untuk menemuinya selama aku Islam. Tidaklah aku melihat wajahnya kecuali dia tersenyum ke arah wajahku.”[25]

Dalam pada itu, `Aisyah menjadi saksi bahwa Rasulullah memiliki adab yang luar biasa agungnya. Sehingga, ketika ia ditanya bagaimana akhlak Rasulullah, maka ia menjawab Al-Qur`an. Keagungan akhlak itu juga diterakan di dalam Al-Qur`an.[26]

  • Syakhshiyyah Mu`tadilah

Dalam memimpin umat Rasullah bersikap moderat. Ia tidak pernah berlebihan dalam hal apapun, termasuk dalam mengekspresikan kegembiraan. Beliau tidak pernah ketawa terbahak-bahak dalam menunjukkan kegembiraan. Demikian pula sebaliknya, Rasulullah tidak pernah di luar kontrol ketika marah terhadap pelanggar Syariat. Dalam sebuah riwayat beliau bersabda, “Jangan marah, maka engkau akan meraih surga.[27] Rasulullah juga menyatakan, “Tidaklah orang yang kuat itu karena mampu bergulat, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”[28]

  • Penutup

Sekelumit dari cuplikan karakter dan akhlak Nabi Muhammad dalam kepemimpinan di atas, tidaklah idealisme semu yang hanya layak dalam bacaan sejarah. Sikap dan kepribadian itu telah efektif menggerakkan manusia-manusia jahiliyah menjadi orang-orang yang cerdas. Manusia-manusia jahiliyah yang berada pada indeks terendah dalam SDM dan SDA bergerak meninggalkan peradaban lainnya. Semua indeks kehidupan itu meroket dengan konsep dan karakter kepemimpinan Nabi Muhammad, mulai dari indeks pengamalan agama, moralitas, pendidikan, hubungan sosial, kebahagian keluarga, ekonomi, dan politik. Apa yang diperankan Nabi Muhammad tersebut bukanlah nilai-nilai eksklusif dan temporal yang hanya berlaku untuk suatu ras dan waktu tertentu. Sungguh, nilai-nilai yang dibawanya itu adalah universal di mana setiap manusia yang menggunakan akal sehatnya akan mengaminkannya.

Jika kita sudah berada pada pengakuan atas ketinggian nilai-nilai dan karakter kepemimpinan Nabi Muhammad tersebut, maka ketika kita merefleksikannya dalam realitas sosial politik kita hari ini, maka yang kita temukan adalah anti tesa dari nilai-nilai dan karakter tinggi tersebut. Itu artinya kita sedang berada pada karakter kepemimpinan yang sangat tidak memadai dan jauh dari konsepsi ideal yang pernah menyejarah di dunia ini dengan kegemilangannya. Hal inilah membuat kita tidak dapat optimis untuk bisa keluar dari problem-problem politik dan sosial kita. Tentunya dengan catatan jika kita masih dalam kubangan yang sama tanpa ada koreksi dan perbaikan. Namun, karena Allah melarang kita pesimis dan putus asa, maka kita tetap mengharapkan adanya umpan balik yang mampu merubah semua keadaan ke arah yang oleh orang-orang yang memiliki akal sehat sama-sama mencita-citakannya. Amin Ya Mujib as-Sa`ilin. Wallahu a`lam.


[1]Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz III, h. 88.

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الغَنَمَ»، فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: «نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ»

[2] Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, Juz I, h. 144.

[3]Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz I, h. 8.

وَسَأَلْتُكَ، هَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالكَذِبِ قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ، فَذَكَرْتَ أَنْ لاَ، فَقَدْ أَعْرِفُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ لِيَذَرَ الكَذِبَ عَلَى النَّاسِ وَيَكْذِبَ عَلَى اللَّه

[4] Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Juz IV, h. 253.

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ»

[5] An-Nasa`i, Sunan al-Kubra, Juz VII, h. 17.

إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَايْمُ اللهِ لَوْ سَرَقَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

[6] Ahmad, Musnad Ahmad ibn Hanbal:

كنا يوم بدر كل ثلاثة على بعير، وكان أبو لبابة وعلي بن أبي طالب زميلي رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال: وكانت عقبة -دور- رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقالا : نحن نمشي عنك، فقال : ما أنتما بأقوى مني ، ولا أنا بأغنى عن الأجر منكما

[7] Ahmad ib Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Juz II, h. 453.

كُنَّا إِذَا احْمَرَّ الْبَأْسُ، وَلَقِيَ الْقَوْمُ الْقَوْمَ، اتَّقَيْنَا بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَا يَكُونُ مِنَّا أَحَدٌ أَدْنَى مِنَ القَوْمِ مِنْهُ

[8] Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn hanbal, Juz XXV, h. 89.

فَقَالَ لَهُ الْعَبَّاسُ بْنُ عُبَادَةَ بْنِ نَضْلَةَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَئِنْ شِئْتَ لَنَمِيلَنَّ عَلَى أَهْلِ مِنًى غَدًا بِأَسْيَافِنَا، قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَمْ أُؤمَرْ بِذَلِكَ»

[9] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz I, h. 54.

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي المَسْجِدِ، فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ، فَقَالَ لَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»

[10] Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, Juz IX, h. 99.

عَنْ أَبِي يُوسُفَ فِي هَذِهِ الْقِصَّةِ أَنَّهُ قَالَ لَهُمْ حِينَ اجْتَمَعُوا فِي الْمَسْجِدِ: ” مَا تَرَوْنَ أَنِّي صَانِعٌ بِكُمْ؟ ” قَالُوا: خَيْرًا , أَخٌ كَرِيمٌ وَابْنُ أَخٍ كَرِيمٍ. قَالَ: ” اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ “

[11] Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal, Juz XX, h. 23.

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

[12] Lihat al-Baqarah, 159-160:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ*إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

[13] Ahmad ibn Hanbal, Juz 31, h. 243.

قَالَ الزُّهْرِيُّ: وَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ يَقُولُ: مَا رَأَيْتُ أَحَدًا قَطُّ كَانَ أَكْثَرَ مَشُورَةً لِأَصْحَابِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

[14] Al-Bukhari, Juz IX, 112.

وَقَالَ: «لاَ يَنْبَغِي لِنَبِيٍّ يَلْبَسُ لَأْمَتَهُ فَيَضَعُهَا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ»

[15] Al-Bukhari, Shahih, Juz IV, 173.

قَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا فَوَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

[16] Ibnu Hisyâm, Juz II, h. 312-313.

[17] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz III, h. 185.

صَالَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُشْرِكِينَ يَوْمَ الحُدَيْبِيَةِ عَلَى ثَلاَثَةِ أَشْيَاءَ: عَلَى أَنَّ مَنْ أَتَاهُ مِنَ المُشْرِكِينَ رَدَّهُ إِلَيْهِمْ، وَمَنْ أَتَاهُمْ مِنَ المُسْلِمِينَ لَمْ يَرُدُّوهُ، وَعَلَى أَنْ يَدْخُلَهَا مِنْ قَابِلٍ وَيُقِيمَ بِهَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، وَلاَ يَدْخُلَهَا إِلَّا بِجُلُبَّانِ السِّلاَحِ السَّيْفِ وَالقَوْسِ وَنَحْوِهِ، فَجَاءَ أَبُو جَنْدَلٍ يَحْجُلُ فِي قُيُودِهِ، فَرَدَّهُ إِلَيْهِمْ

[18] Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, ta’liq Syekh bin Baz, Bâb Ghazwatil Khandaq, Juz VII, h. 395.

[19] Ibn Kasir, al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz III, h. 81

يَا ابْنَ أَخِي إِنْ كُنْتَ إِنَّمَا تُرِيدُ بِمَا جِئْتَ بِهِ مِنْ هَذَا الْأَمْرِ مَالًا جَمَعْنَا لَكَ مِنْ أَمْوَالِنَا حَتَّى تَكُونَ أَكْثَرَنَا مَالًا، وَإِنْ كنت نريد بِهِ شَرَفًا سَوَّدْنَاكَ عَلَيْنَا حَتَّى لَا نَقْطَعَ أَمْرًا دُونَكَ، وَإِنْ كُنْتُ تُرِيدُ بِهِ مُلْكًا مَلَّكْنَاكَ عَلَيْنَا، وَإِنْ كَانَ هَذَا الَّذِي يَأْتِيكَ رَئِيًّا تَرَاهُ لَا تَسْتَطِيعُ رَدَّهُ عَنْ نَفْسِكَ، طَلَبْنَا لَكَ الطِّبَّ وَبَذَلْنَا فِيهِ أَمْوَالَنَا حَتَّى نُبْرِئَكَ مِنْهُ

[20] An-Nasa`i, Sunan al-Kubra, Juz VII, h. 17.

وَايْمُ اللهِ لَوْ سَرَقَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

[21] At-Tirmizi, Sunan at-Tirmizi, Juz IV, h. 330.

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ المُصَلُّونَ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

[22] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz V, 110.

الآن نغزوهم ولا يغزوننا نحن نسير إليهم

[23] Abu Na`im, Hilyah al-Awliya`, Juz VII, h. 78.

[24] Muslim, Shahih Muslim, Juz IV, 1806.

مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْإِسْلَامِ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ، قَالَ: فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ، فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ، فَقَالَ: يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِي عَطَاءً لَا يَخْشَى الْفَاقَةَ “

[25] Abu ‘Awanah, Mustakhraj Abi ‘Awanah, Juz XIX, h. 91.

ما حجبني رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، ولا رآني منذ أسلمت، إلا تبسم في وجهي

[26] Allah ﷻ  berfirman dalam surah al-Qalam:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

[27] Ath-Thabrani, al-Mu`jam al-Ausath, Juz III, h. 25.

[28] Malik ibn Anas, Muwaththa`, Juz V, h. 1335.

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?