Tuesday, 29 September, 2020

BAHAYA ALIRAN SESAT & PENISTAAN AGAMA


Dr. H. Sori Monang, M.Th (Anggota Komisi Fatwa MUI Sumatera Utara) Ketua Lembaga Wakaf PWNU Sumatera Utara

Pendahuluan

            Kebebasan, khususnya dalam kehidupan beragama yang terjadi pada era reformasi telah melahirkan banyak peluang, dan sekaligus tantangan. Di satu sisi berbagai aktifitas dakwah berjalan dengan lancar dan berbagai nilai Islam yang mendasar dengan laluasa disuarakan tanpa hambatan yang berarti. Tapi di sisi lain, dengan kebebasan itu pula aliran atau kelompok yang menyuarakan pemikiran, paham dan aktifitas yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam dengan leluasa bergerak dan berkembang di tengah masyarakat.

            Pemikiran, faham dan aktifitas yang bertentangan dengan akidah dah syariah tentu tidak boleh berkembang begitu saja di tengah masyarakat karena pasti akan menimbulkan keresahan umat disamping akan menimbulkan korban dari kalangan umat yang telah disesatkan. Oleh karena itu, harus ada upaya sungguh-sungguh untuk menangkal dan menghentikan aliran itu dan menyadarkan mereka untuk kembali ke jalan yang benar (rujuk ilal haq).

Ulama sebagai Pewaris Nabi memiliki peran dan tanggung jawab besar dalam membimbing umat untuk tetap istiqamah menjalankan nilai-nilai Islam yang benar sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Saw. Karena itu Ulama harus bersikap tegas, arif dan bijaksana menghadapi setiap penyimpangan baik terkait dengan akidah maupun syariah Islam. Ketidaktegasan sikap akan membuat penyimpangan dalam aqidah dan syariah semakin marak dan meluas.

Majeli Ulama Indonesia (MUI), sebagai wadah para ulama dan zuama serta cendikiawan muslim harus mengambil peran aktif dalam menjaga nilai-nilai Islam dan melindungi umat dari setiap paham dan aliran yang menyimpang, diantaranya dengan menetapkan pedoman untuk menyikapi suatu kelompok atau aliran tersebut sesat atau tidak berdasarkan analisa, kajian dan dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan. Penetapan ini akan menjadi pedoman bagi umat Islam dalam menilai suatu faham, sehingga bisa menyikapinya dengan benar.

Pembahasan

Ancaman Orang-orang yang Mengabaikan Alquran

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126)[1]

Allah berfirman : “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘wahai Rabbku, mengapa engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat.’‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini pun kami melupakan’.” (QS. Thaha : 124-126).

مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا (100)

            Artinya : “Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagai kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah kami berikan kepadamu dari sisi kami suatu peringatan (Alquran). Barangsiapa yang berpaling dari pada Al-qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat” (QS. Thaha : 99-100).

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (36)

            Artinya : “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) yang maha pemurah (Alquran), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan) maka syetan itulah yang menjdi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Zukhruf : 36).

Golongan Manusia Yang Berpaling Dari Alquran

            Orang-orang yang berpaling dari Alquran terdiri dari 7 golongan:[2]

  1. Para Ulama.

Mereka berpaling dari Alquran karena 2 alasan :

  1. Buku-buku yang mereka baca dan pelajari tidak mengantarkan mereka mendapat hidayah, tidak menguakkan cahaya Ilahi ke dalam hatinya, tidak membukakan pintu rahasia kebesaran yang Maha Perkasa, nasehat yang Maha Rahman dan bimbingan-Nya yang menyentuh, tidak memahamkan makna rangsangan (targhib) dan ancaman (tarhib) dan tidak menjelaskan tentang kisah-kisahnya, keajaibannya dan perhitungannya.
  2. Kedudukan yang tinggi dan harta yang banyak. Harta dan anak telah melalaikan untuk menjelaskan perintah dan larangan Allah sesuai Firman Allah Ta’ala “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan dari (dari) berjihad di dalam-Nya. Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. at-Taubah : 24).
  • Orang-orang yang kaya tapi kikir, yang disibukkan oleh kekayaan dan ambisi.

Mereka termasuk golongan orang-orang yang dinyatakan Allah sebagai kufur ni’mat, Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menukar nikamt Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan.” (QS. Ibrahim : 28).

  • Para Qari yang membaca Alquran demi kenikmatan duniawi

Mereka yang membaca Alquran pada acara pesta-pesta, perlombaan-perlombaan dan malam-malam peringatan yang meriah. Mereka banyak belajar berbagai macam qiraat hanya demi penghasilan dan lebih populer yang itu artinya untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan kemewahan.

  • Orang-orang Sufi

Kebanyakan para Sufi belajarnya langsung ke tasawuf tanpa mempelajari, mendalami terlebih dahulu tentang ketauhidan dan syari’at Islam yang benar.

  • Orang-orang kebarat-baratan dikalangan para Pegawai.

Mereka terlalu memanjakan diri mereka dengan surat kabar yang membahas masalah politik, majalah-majalah hiburan, buku-buku cerita, novel, sastra, puisi dan lainnya. Mereka banyak tahu masalah-masalah politik yang pelik, hikayat dan kisah-kisah, anekdot, puisi dan lainnya, tetapi mereka tidak memahami sedikit pun ilmu Islam, bahkan mereka menganggap orang yang bersemangat memahami Islam dan mengamalkannya sebagai orang gila dan orang terbelakang.

  •  Orang-orang yang Buta Huruf

Mereka hafal ratusan dongeng, ratusan cerita dan berbagai macam puisi, mereka mampu menceritakannya semua yang mereka dengar dan yang dibacakannya dihadapannya misalnya Zhahir Bebars, Antarah dan cerita tentang khalifah. Namun kemudian, jika engkau mengingatkan kepadanya tentang bacaan Alquran agar shalatnya baik, ia akan segera berkelit bahwa mereka tidak mampu membaca dan menulis. Lalu mereka bertanya “ wahai tuanku, apakah setelah dewasa nanti orang-orang mengharapkannya dapat memahami Alquran?”

Inilah jawaban mereka. Mereka fasih bicara dengan orang Barat dengan bahasa mereka, banyak orang-orang yang buta terhadap Alquran, namun mahir membaca dan menulis bahasa asing. Ironis sekali, mereka sama sekali tidak mampu melafazkan “sami’allahu liman hamidah” dan surat al-Fatihah sekalipun.

  • Orang-orang yang suka duduk di warung-warung sambil minuman keras, main musik, kartu, gaple, kasino, domino, narkotik, opium, kokain, dll

Semua itu hina dan terlaknat, sangat membahayakan dan merusak mental generasi muda. Berapa banyak rumah, gedung dan rumah tangga yg hancur gara-gara narkoba.

            Jalan keluarnya hanya satu, yakni kesepakatan para Ulama dan pemerintah untuk saling bahu membahu dalam menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya dengan penuh kesungguhan, kesabaran, santun, nasihat yg baik dan berdebat dengan bijaksana terhadap orang yang tersesat, ahli bid’ah dan orang-orang bodoh.

Kriteria Sesat

MUI Pusat mengeluarkan Fatwa Suatu faham atau aliran keagamaan dinyatakan sesat apabila memenuhi salah satu dari kriteria berikut :[3]

  • Mengingkari salah satu dari Rukum Iman yang 6 (enam) yakni beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-rasul-Nya, kepada hari Akhirat, kepada Qadha dan Qadar dan rukun Islam yang 5 (lima) yakni mengucapkan dua kalimah syahadat, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, menunaikan Ibadah haji.

وَقاَلَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَمِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ ، وَتَحُجَّ البَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً

Lanjutan dari Hadis Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, Selanjutnya ia berkata, “Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam”. Rasulullah Saw., menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya”. (HR. Muslim).

  • Meyakini dan mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil Syar’i (Alquran dan Assunah).

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

Artinya : “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi”. (QS. az -Zumar: 65).

  • Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.

Artinya : “Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” .(QS. Al-maidah : 3).

  • Mengingkari Otentisitas dan kebenaran isi Alquran.

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ (21) بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُكَذِّبُونَ (22) وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ (23) فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (24) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Artinya : Dan apabila Alquran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud, bahkan orang-orang kafir itu mendustakan (Nya). Padahal Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (dalam hati mereka). Maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih, Tetapi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya. (Q.S. al-Insyiqaq [84]: 21-25).

  • Melakukan Penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah Tafsir.

وَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ حِجَابًا مَسْتُورًا (45) وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُورًا (46)

Artinya : Dan apabila Engkau (Muhammad) membaca Alquran, kami jadikan antaramu dan antara orang-orang yang tidak beriman dinding yang tertutup (45). Dan kami jadikan atas hati mereka itu tertutup untuk mereka memahaminya dan dalam telinga mereka tersumbat. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu dalam Alquran sendiri (tidak ada sekutunya) mereka berpaling ke belakang (melarikan diri) dalam keadaan ingkar (46). (QS. al-Isra’ [17] : 45-46).

  • Mengingkari kedudukan Hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

Artinya : “Dan tiadalah yang diucapkan itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3-4).

  • Menghina, melecehkan dan merendahkan para Nabi dan Rasul.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (111)

Artinya : “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Alquran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

  • Mengingkari Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (40)

Artinya : “Bukanlah Muhammad itu bapak salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi”.(QS. al-Ahzab : 40).

  1. Merubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah seperti haji tidak ke Baitullah, shalat fardhu tidak 5 waktu

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ (7)

Artinya : Dialah yang menurunkan Al Kitab (Alquran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Alquran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta´wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta´wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami“. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.(QS. Ali Imran : 7).

  • Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil Syar’i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (94)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu : “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. begitu jugalah Keadaan kamu dahulu2 , lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. an-Nisa : 94).

            Menurut MUI dan pernyataan bapak Sekum MUI Pusat, Drs. H.M Ichwan Sam (saat itu) bahwa masyarakat dapat menggunakan kriteria tersebut untuk menilai sebuah aliran itu sesat atau tidak, keluar dari ajaran Islam atau tidak. Jika satu saja kriteria yang muncul dari suatu paham atau aliran tersebut sudah dapat divonis SESAT dan menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.

Adapun beberapa Aliran sesat yang pernah timbul, terjadi di Sumatera Utara, seperti : Soul Training, Al-Haq, Pengajian menyimpang, dan sebagainya, telah dapat di atasi dan dinyatakan menyimpang atau sesat, sehingga umat Islam menjauhi Aliran itu, dan akhirnya tidak berkembang dan mati sendiri. Sebagaimana Allah berfirman dalam Alquran surah al-Israa’ ayat 81 sebagai berikut :

وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقٗا 

            Artinya : “Dan katakanlah : “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”.

  • Dosa Orang yang Pertama mengajak Kesesatan atau Orang yang memberi contoh yang Buruk

Dalam Hadis dijelsakan sebagai berikut :

 وَاَخْرَجَ مُسْلِمٌ مِنْ رِوَايَةِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هِلاَلٍ عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ لله البخلى رضى الله عنه فِي حَدِيثِ طَوِيلٍ قَالَ فِيهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ [4].يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيئًا

             “Meriwayatkan Imam Muslim dari riwayat ‘Abdirrahman bin Hilal dari Jarir ibn ‘Abdillah al-Bakhla ra. dalam Hadis yang panjang, telah berkata padanya: Rasulullah Saw bersabda, ”Barangsiapa yang membuat contoh yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang mencontohkan contoh buruk dalam Islam, maka ia menerima dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka”.

عن ابْنُ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا تُرْضِي اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا.

            Dari ibnu ‘Amr bin Auf bahwa Nabi Saw, beliau menjawab : “Barangsiapa menghidupkan salah satu sunnahku yang telah ditinggalkan sepeninggalku, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa membuat kebid’ahan Allah dan Rasul-Nya tidak meridlainya, maka baginya dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Tirmidzi).

 عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه و سلم الْمُتَمَسِّكُ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِي لَهُ أَجْرُ شَهِيدٍ

            Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah Saw bersabda : “Orang yang berpegang dengan sunnahku ketika umatku sedang rosak maka baginya ganjaran syahid”. (HR. Thabrani).

  • Pecahan umat Nabi Muhammad Saw 73 kelompok, prinsip Kelompok Sesat dan Kelompok yang Selamat

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: هُمْ الَّذِيْنَ عَلَى الَّذِى أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى

Dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: “Rasulullah Saw telah bersabda : ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka. Kecuali satu golongan. ”(Mereka) Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan ditempuh oleh aku dan para sahabatku.”  (HR.Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).[5]

قَلَ الِّشِّهَاب الخَفَاجِى رَحِمَهُ الله تَعَلَى فِى نسيم الرياض : وَاَلْفِرَقُ النَّاجِيَةُ هُمْ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

Telah berkata Syihab al-Khafaji Rahimahullah ta’ala di dalam kitab Nasim ar-Riyadh : kelompok yang selamat mereka adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah.

وفي حاشية السنوانى على مختضرابن ابي جمرة : هم ابوالحسن الاشعرى وجماعته اهل السنة وائمة العلماء لان الله تعالى جعلهم حجة على خلقه واليهم تفزع العامة في دينهم وهم المعنيون بقوله صلى الله عليه وسلم : ان الله لايجمع امتى على ضلالة.

            Dalam kitab “Hasyiah syanwani’ ala mukhtashor ab Jamrah” dijelaskan bahwa ahli sunnah wal jama’ah adalah kelompok al-Asy’ari dan para imam Ulama, karena Allah telah menjadikan mereka sebagai hujjah atas makhluknya dan orang-orang yang berpegang kepadanya. Mereka inilah yang dimaksud dalam Hadis : “umatku tidak akan berkumpul( sepakat)  dalam kesesatan”.

Kesimpulan

Semua kaum yang telah kita pelajari sampai sekarang, mempunyai beberapa sifat umum seperti : Melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, menyekutukan-Nya, berlaku sombong di muka bumi, dengan sewenang-wenang menguasai hak milik orang lain, cenderung terhadap perilaku seksual yang menyimpang, dan angkara murka. Sifat umum lainnya adalah penindasan dan kesewenangan mereka terhadap kaum Muslim di sekitar mereka. Mereka mencoba segala cara untuk mengintimidasi kaum Muslim.

Tidak satu pun dari hal-hal ini dapat menyelamatkan seseorang dari hukuman dan azab Allah. Alquran mengingatkan kita atas kenyataan ini :

 “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memak-murkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan memba-wa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah tidak sekali-kali berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.” (QS. ar-Ruum, 30: 9).

 “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami ; Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah, 2: 32).

            Wallohul muaafiq ila aqwamith tharieqh

Assalum ‘alaikum wr.wb

TERIMAKASIH


[1]Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-QURAN AL-KARIM DAN TERJEMAHNYA, (Surabaya: HALIM Publishing dan Distributing, 2014).

[2] Syaikh Muhammad ‘Abdussalam, Bid’ah-bid’ah yang dianggap Sunnah (Qisthi press, jakarta : 2004) h. 237-244.

[3] Pada tanggal 6 November 2007 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan Fatwa tentang 10 Kriteria Aliran Sesat sebagai pedoman identifikasi aliran sesat, pedoman yang dikemukakan dalam penutupan Rekarnas MUI di hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta, Selasa (6/11/2007).

[4] K. H. Muhammad Ishom Hadziq, kumpulan kitab karya Hadlratus syaikh K. H. Muhammad Hasyim Asy’ari – Risalah Ahli Sunnah wal Jama’ah (Pustaka warisan Islam Tebuireng Jombang) h. 22.

[5] Ibid h. 23

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?