Istibdal Harta Wakaf Dalam Fikih dan UU No 41 Tahun 2004 tentang Wakaf

0
1.760 views


Ketika Rasulullah berhijrah dari Makkah menuju Madinah, beliau memperkenalkan wakaf kepada kaum Muslim, beliau mengatakan: ”Wahai Bani Najja, maukah kalian menjual kebun kalian ini?” Mereka menjawab: ”Ya!, tapidemi Allah, kami tidak akan meminta harganya, kecuali mengharapkan pahala dari Allah.” Kemudian beliau mengambilnya, lalu membangun masjid di atasnya.” Dari sinilah lahir syariat Islam untuk berwakaf, sehingga umat Islam berlomba-lomba untuk mewakafkan tanah- tanah miliknya, untuk keperluan pembangunan masjid dan kepentingan umum lainnya.

Dalam pejalanan waktu harta wakafpun mengalami perkembangan yang dinamis, pemahaman tentang pengelolaannyapun menjadi beragam, Salah satu yang memilki pemahaman yang berbeda antara ahli fikih adalah tentang kobelehan istibdal wakaf. Istibdal atau ibdal diartikan sebagai penjualan barang wakaf untuk dibelikan barang lain sebagai wakaf penggantinya. Hal ini dianggap sangat dibutuhkan jika ada barang wakaf yang tidak produktif misalnya perkebunan karena umurnya sudah tua atau lahanya rusak sehingga tidak lagi menghasilkan apakah boleh untuk dijual yang kemudian dibelikan kebun baru yang produktif. Demikian juga dengan masjid jika tidak lagi representatif apakah boleh dijual dan dipindahkan ke tempat yang lebih representatif.

Ulama Fikih berbeda pendapat dalam menyikapi boleh tidaknya istibdal, paling tidak ada dua pendapat besar dalam hal ini:

1. Barang wakaf tidak boleh dijual
Pendapat ini diwakili oleh pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik

Imam Syafi’i berpendapat untuk mempersulit istibdal wakaf demi menjaga kelestarian barang wakaf, dikalangan ulama Syafiiyah ada juga perbedaan pendapat tentang wakaf tanah yang sudah sama sekali tidak memberikan manfaat, sebagian membolehkan dilakukan istibdal dan sebagian melarang. Dalam kitab al Muhazzab dikatakan bahwa “Apabila seseorang mewakafkan ternak kemudian sakit sakitan karena umurnya, atau batang korma untuk tiang masjid kemudian lapuk , maka ada yang berpendapat membolehkan untuk menjualnya karena menjualnya lebih baik daripada membiarkannya tidak berguna. Khusus masjid mazhab Syafi’i melarang secara mutlak, meskipun masjid itu roboh atau sudah tidak ditempati untuk ibadah.