Pengertian Wakaf

0
1.275 views

Kata “Wakaf” atau “Waqf[1]berasal dari bahasa Arab “Waqafa”.Asal kata “Waqafa” berarti “menahan” atau “berhenti” atau “diam di tempat” atau tetap berdiri”. Kata “Waqafa-Yaqifu-Waqfan[2]sama artinya dengan “Habasa-Yahbisu-Tahbisan” . Kata al-Waqfdalam bahasa Arab mengandung beberapa pengertian:

الوقف بمعنى التحبيس والتسبيل

Artinya  :Menahan, menahan harta untuk diwakafkan, tidak dipindah milikkan.

Sayyid Sabiq, dalam kitabnya Fiqh al-Sunnahmenjelaskan definisi wakaf sebagai berikut: Wakaf secara bahasa berarti penahanan (al Habs). Adapun menurut syara`berarti “menahan pokok dan mendermakan hasilnya”, maksudnya adalah menahan (pokok) harta dan menyalurkan hasilnya/manfaatnya di jalan Allah.

Di dalam buku-buku fiqh, wakaf didefinisikan dengan:

حبس مال يمكن الانتفاع به مع بقاء عينه بقطع التصرف فى رقبته من الواقف وغيره على مصرف مباح موجود او بصرف ريعه على جهة بر وخير تقربا الى الله تعالى

Artinya:   Menahan harta yang mungkin diambil manfaatnya di mana bendanya kekal, dengan jalan memutuskan hak penguasaan terhadap harta itu baik oleh orang yang berwakaf maupun orang lain; disalurkan untuk penggunaan yang halal atau memanfaatkan hasilnya untuk tujuan kebaikan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT[3].

            Paling tidak ada tiga definisi wakaf yang dapat disimpulkan dari pendapat para ulama mazhab:

Pertama, definisi jumhur (mayoritas) ulama, yang ditegaskan oleh Imam an Nawawi adalah :

الوقف تحبيس مال يمكن الإنتفاع به مع بقاء عينه بقطع تصرف الواقف وغيره فى رقبته يصرف فى جهة خير تتقربا إلى الله تعالى[4]

Artinya: Menghentikan hak milik atas sesuatu harta yang bermanfaat dan tahan lama, dengan demikian terputuslah hak penggunaan atas harta itu dari si pemberi wakaf dan lainnya dalam pengawasannya untuk dipergunakan bagi suatu kebajikan, sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala” 

Definisi di atas menegaskan pandangan Jumhur Ulama termasuk mazhab Syafi’i yang menyatakan bahwa harta yang telah diwakafkan maka terputuslah kepemilikannya dari si pemberi wakaf (waqif) selamanya. 

Mazhab Syafi’i danAhmad bin Hambali berpendapat bahwa wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif, setelah sempurna prosedur perwakafan. Wakif tidak boleh melakukan apa saja terhadap harta yang diwakafkan, seperti: perlakuan pemilik dengan cara pemilikannya kepada yang lain, baik dengan tukaran atau tidak. Jika wakif wafat, harta yang diwakafkan tersebut tidak dapat diwarisi oleh ahli warisnya. Wakif menyalurkan manfaat harta yang diwakafkannya kepada mauquf ‘alaih(yang diberi wakaf) sebagai sedekah yang mengikat, dlimana wakif tidak dapat melarang penyaluran sumbangannya tersebut. Apabila wakif melarangnya, maka Qadli berhak rnemaksanya agar memberikannya kepada mauquf ‘alaih. Karena itu mazhab Syafi’i mendefinisikan wakaf adalah : “Tidak melakukan suatu tindakan atas suatu benda, yang berstatus sebagai milik Allah SWT, dengan menyedekahkan manfaatnya kepada suatu kebajikan (sosial)”.[5].