BADAL MELEMPAR JUMRAH

0
994 views

(Ijtima Ulama Komisi Fatwa se Indonesia Tahun 2018)

Melempar jumrah merupakan salah satu wajib haji. Setiap jamaah haji wajib melaksanakan lempar jumrah, baik pada 10 Dzulhijjah maupun pada hari-hari tasyriq. Jarak antara pemondokan jamaah haji Indonesia di Mina dengan lokasi tempat melempar jumrah (jamarat) cukup jauh, terlebih jika jamaah haji menempati tenda di Mina Jadid. Jauhnya jarak yang harus ditempuh jamaah haji ketika hendak melempar jumrah menyebabkan banyak jamaah yang jatuh sakit sehingga tidak memungkinkan untuk melaksanakannya. Ada juga jamaah haji yang kondisinya sudah tua yang jika memaksakan diri untuk melempar jumrah akan menimbulkan mudarat. Terhadap situasi yang seperti ini, ada jamaah yang memaksakan diri untuk tetap melempar jumrah, ada juga yang mewakilkan kepada orang lain dalam melempar jumrah. Tindakan mewakilkan ke orang lain dalam melempar jumrah ini sering dikenal dengan Badal melempar Jumrah.

1. Firman Allah swt.;

…َوَما َجَعَل َعلَيُكم ِال ديِن ِمن َحَرج (ا ج 78/22(

… dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS Al Haj,[22] : 78)

يِريد ٱللاه بُِكم ٱليسر ول يِريد بُِكم ٱلعسر (البقرة 185/2)

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al Baqarah,[2] :

Hadis-hadis Nabi saw. :

َعن َجابِر رضي ا عنه قَاَل َحَججنَا َمَع َرُسوِل اللاِه َصلاى اللاهَُعلَيِه َوَسلاَم َوَمَعنَا الن َساءَُوالص بيَاُن 

فَلَباينا عن الصبياِن ورمينا عنهم (رواه ابن ماجه)ََََََََُ

Dari Jabir ra. berkata; “Kami melaksanakan haji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bersama kami ada wanita dan anak-anak, kami bertalbiyah diikuti anak-anak dan kami melempar bersama mereka.”(HR. Ibnu Majah)

ِِِِِِِح ادثنا مد بن إ عيل الواسطي قال عت ابن عن أَشعث بِن سوار عن أَِب الزب عن جابر 

ِااِاِِِقَاَل ُكناا إَذا حججنَا مع الناِب صلى الله علَيه وسلم فَُكناا نُلَب عن الن ساء ونَرمي ع ن الصب يان قَاَل 

ََََََََََََََُِِِِِ أَبُو عيَسى َهَذا َحديٌث َغِريٌب َل نَعِرفُهُإِال من َهَذا الَوجه َوقَد أَ ََع أَهُل العلِم َعلَى أَان ا لَمرأََة َل 

ِِِِِِ يلَب عنها َغيرها بل هي تُلَب عن نَفسها ويكره َلا

ِِِِِِ Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il Al Wasithiberkata; Saya telah mendengar Ibnu Numair dari Asy’ats bin shallallahu ‘alaihi wasallamwar dari Ibnu Zubair dari Jabir berkata; “Ketika kami berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kami bertalbiyah mewakili para wanita dan melempar mewakili anak-anak.” Abu ‘Isa berkata; “Ini merupakan hadis gharib, tidak kami ketahui kecuali melalui sanad ini. Para ulama telah bersepakat bahwasanya seorang wanita talbiyahnya tidak dapat diwakili oleh orang lain. Tapi dia harus bertalbiyah sendiri, namun makruh baginya mengeraskan suara ketika bertalbiyah.” (HR. At-Tirmidzi)

Sunan Abi Daud nomor 1966
أَخبََرنَا ُسلَيَماُن بُن َعمِرو بِن ا َحَوِص َعن أُمِه قَالَت :َر أَيُت َرُسوَل اللاِه َصلاى اللاهَُعلَيِه َوَسلاَم 

ِِِِ ِِِ يرمي ا مرة من بطِن الوادي وهو راكب يَكبر مع كل حصاة ورجل من خلفه يستره فس أَلت عن َ ٌٌَََََََََََََََََََُُُُُُُُُِ

Telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin ‘Amr bin al-Ahwash dari ibunya, ia berkata; saya melihat Rasulullah Saw melempar jumrah dari tengah bukit, dalam keadaan berkendaraan. Beliau bertakbir bersama setiap lemparan kerikil. Dan orang yang ada dibelakang menutupi beliau. Kemudian aku tanyakan mengenai orang tersebut, lalu mereka mengatakan; Al-Fadhl bin al-Abbas. Orang-orang dalam keadaan berdesak-desakan, kemudian Nabi Saw bersabda: “Wahai para manusia, janganlah sebagian kalian membunuh sebagian yang lain, apabila kalian melempar jumrah maka lemparlah dengan kerikil sebesar kerikil khadzaf (kerikil untuk ketapel) (HR. Abu Dawud)

Pendapat Ulama

قال أصحابنا : وينبغي أن يستنيب العاجز ح ل أو من قد رمى عن نفسه فإن استناب من يرم عن نفسه ، فينبغي أن يرمي النائب عن نفسه ، عن ا ستنيب فيجزئهما الراميان ب خ ف ، فلو اقتصر على رمي واحد وقع عن الرامي ل عن ا ستنيب . هذا هو ا ذهب وبه قطع 

Jamaah haji yang tidak mampu melaksanakan lempar jumrah ia boleh mewakilkan kepada orang yang tidak berihram (tidak berhaji) atau kepada orang yang berhaji yang sudah melontar untuk dirinya. (An-Nawawi, Al Majmu Syarh al-Muhaddzab)

Ketentuan Hukum

1. Hukum badal melempar jumrah adalah boleh bagi yang terkena udzur syar’i, baik dengan membayar ujrah ataupun tidak membayar.

2. Udzur syar’i yang membolehkan badal melempar jumrah :

  • usia lanjut yang mengalami kesulitan;
  • sakit yang menyebabkan kesulitan;
  • wanita hamil;
  • wanita menyusui;
  • keadaan lain yang mengahalanginya

3. Jamaah haji yang sudah dibadalkan lempar jumrah, tidak wajib membayar dam.

4. Jamaah haji yang sudah dibadalkan melempar jumrahnya, kemudian hilangudzur syar’inya, tidak wajib mengulang melempar jumrah lagi, meskipun adakesempatan untuk melakukannya.

5. Syarat orang yang boleh mewakili melempar jumrah adalah: a. Muslim, akil dan baligh;b. Memiliki kemampuan dan dapat dipercaya untuk mewakili (tsiqah); c. Apabila orang yang mewakili melempar jumrah tersebut sedang melaksanakan ibadah haji, maka yang bersangkutan harus sudah melempar jumrah untuk dirinya sendiri; d. Apabila orang yang mewakili melempar jumrah tersebut tidak sedang melaksanakan ibadah haji, maka yang bersangkutan harus sudah pernah melaksanakan ibadah haji.

6. Dalam pelaksanaan badal melempar umrah, seseorang bisa melakukan badal untuk beberapa orang.