PLASMA DARAH UNTUK BAHAN OBAT

0
1.181 views

Darah adalah suatu tipe jaringan ikat yang memiliki sel tersuspensi dalam suatu cairan intra seluler, yang berfungsi sebagai tranportasi, proteksi, dan regulasi. Darah terdiri dari dua komponen utama yaitu cairan (plasma) dan sel-sel darah. Dalam perkembangan cara pengobatan modern, terdapat berbagai bahan obat yang berasal dari plasma darah dan turunannya, seperti serum, imunoglobulin, hormon, asam amino, protein dan albumin. Plasma darah (46 – 63% dari darah) dipisahkan dari darah melalui suatu proses sentrifugasi (pemutaran kecepatan tinggi) sampel darah segar, dimana sel-sel darah menetap di bagian bawah karena lebih berat, sedangkan plasma darah di lapisan atas.

Serum merupakan bagian plasma tanpa faktor pembekuan darah, mengandung sistem kekebalan terhadap suatu kuman yang apabila dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, maka orang tersebut akan mempunyai kekebalan terhadap kuman yang sama (imunitas pasif). Imunoglobulin atau antibodi dihasilkan oleh sistem imun yang terkandung dalam plasma darah sebagai respon adaptif yang spesifik dari suatu antigen. Pemberian imunoglobulin juga memberikan sifat kekebalan pasif.

Serum dan imunoglobulin dibuat dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh suatu hewan (sapi, kuda, kambing, dll), sehingga sistem kekebalan tubuhnya memberikan respon terhadap vaksin tersebut. Setelah diuji dan hasilnya menunjukkan bahwa hewan tersebut telah kebal terhadap vaksin yang dimasukkan, maka dilakukan pengambilan darah melalui vena leher (vena jugularis). Hormon, asam amino, dan albumin merupakan komponen protein dalam plasma darah yang juga mempunyai khasiat obat.

KETENTUAN HUKUM

  1. Pada dasarnya darah adalah najis, karenanya haram dipergunakan sebagai bahan obat dan produk lainnya.
  2. Plasma merupakan unsur darah, dan bagian tersendiri dari darah yang sifat- sifatnya; warna, bau dan rasa berbeda dengan darah, hukumnya suci dengan ketentuan:
    • hanya untuk pengobatan dengan penggunaan seperlunya;
    • tidak berasal dari darah manusia;
    • berasal dari darah hewan halal (tidak dari darah hewan haram).

3. Keputusan pada nomor 2 di atas merupakan salah satu pendapat di antara dua pendapat, sedangkan pendapat lainnya menyatakan bahwa hukumnya najis sama dengan darah.

Dasar Penetapan

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-An’am,[6] : 145)

Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW,:

عن أَ اء قالَت جاءت امرأَةٌإَِل الناِب صلاى اللاه علَيِه وسلام فقالَت إِحدانا يِصيب ثَوبها ِمن دِم

ا يضة كيف تصنع بِه قاَل :َت ه ُاتقرصه بِالماء ُاتنضحه ُاتصلي فيه (رواه متفق عليه(ََََََََََََُُُُُُُُُ

Diriwayatkan dari Asma r.a, beliau bercerita, ada seorang wanita datang menemui Nabi Saw seraya berkata: Salah seorang diantara kami bajunya terkena darah haid, apa yang harus ia lakukan? Nabi Saw menjawab: koreklah terlebih dahulu darah itu, kemudian digosok dengan air, lalu dicuci dan, setelah itu bisa digunakan untuk sholat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)