HADIAH FATIHAH UNTUK ORANG SAKIT

0
17.255 views

From: Dody Indra

Message Body:
Assalamualaikum… Pak/bu.
Apa hukumnya menghadiahkan Al-Fatihah kepada orang sakit?
Syukron Jazzakallahu Khair

Jawaban:

Dalam Tafsir al Qurtubhi,I/111-113, ada dua belas nama untuk sebutan surat al-Fatihah, yaitu: al-Shalah, al-Hamdu, Fatihat al-Kitab, Umm al-Kitab, Umm al-Qur’an, al-Matsani, al-Qur’an al-Adzim, al-Syifa, al-Ruqyah, al-Asas, al-Wafiyah, dan al-Kafiyah. Dari dua belas nama surat al-Fatihah di atas ada dua nama yang terkait dengan penyembuhan, yaitu al-Syifa dan al-Ruqyah.  Al-Syifa berarti obat atau kesembuhan. Surat al-Fatihah dinamakan al-Syifa, karena berdasarkan hadis Nabi Saw bahwa:

فَاتِحَةُ الْكِتَابِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ

Surat al-Fatihah itu merupakan obat segala macam penyakit (HR. Al-Darimi dan al-Bayhaqi).

Adapun sebutan al-Ruqyah (mantra untuk kesembuhan) adalah berdasarkan hadis shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, pernah suatu ketika sejumlah rombongan sahabat Nabi Saw melakukan perjalanan dan singgah di sebuah kampung. Saat itu kepala kampungnya menderita sakit karena sengatan ular atau kalajengking. Salah seorang sahabat Nabi Saw mendatangi kepala kampung itu kemudian melakukan ruqyah dengan cara meniup dan sedikit meludah ke bagian tubuhnya yang terluka sambil membacakan surat al-Fatihah.  Dengan izin Allah, sakit yang diderita kepala kampung itu hilang dan sembuh total. Para sahabat pun mendapatkan hadiahnya. Setelah dikonfirmasikan kepada Nabi Saw, beliau tertawa dan mengatakan:

مَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ

“Bagaimana kamu tahu kalau surat al-Fatihah itu bisa digunakan untuk melakukan ruqyah?

Selanjutnya Nabi Saw mengatakan: “Kalian telah berbuat yang benar. Sekarang bagikanlah hadiahnya dan sebagian berikan untuk saya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri).

Abu Sa’id al-Khudri pernah mengobati kepala kampung dengan cara membaca surat al-Fatihah sambil meniupkan dan meludah pada bagian tubuh yang sakit tersebut, di kemudian hari dijadikan acuan ulama dan orang-orang sesudahnya untuk menjadikan surat al-Fatihah sebagai bacaan ruqyah untuk suatu penyembuhan.

Ibn Qayyim al-Jauziyah pernah berkata, “Pada suatu ketika aku pernah berada di Makkah dan jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter dan obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat al-Fatihah. Aku ambil segelas air zam-zam dan membacakan padanya surat al-Fatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku sembuh total. Selanjutnya aku berpedoman dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar (al-Tibb al-Nabawi, I/152).

Selanjutnya beliau berkata :

فَكُنْتُ أُعَالِجُ نَفْسِيْ بِالْفَاتِحَةِ فَأَرَي لَهَا تَأْثِيْرًا عَجِيْبًا فَكُنْتُ أَصِفُ ذَلِكَ لِمَنْ يَشْتَكِيْ أَلَمًا وَكَانَ كَثِيْرٌ مِنْهُمْ يَبْرَأُ سَرِيْعًا

Kemudian aku berusaha mengobati diriku sendiri dengan bacaan surat al-Fatihah lalu aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Selanjutnya aku beritahukan kepada banyak orang yang menderita sakit dan ternyata banyak dari mereka yang berhasil sembuh dengan cepat. (al-Jawab al-Kafi, I/3).

Praktik Abu Said al-Khudri dan Ibn al-Qayyim tersebut dipahami oleh ulama (masyarakat) secara beragam. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa bacaan al-Fatihah bisa digunakan untuk kepentingan apa saja dan dengan berbagai cara. Di antara mereka ada yang membacakan surat al-Fatihah (kirim doa) secara bersama-sama untuk orang yang sakit di suatu tempat, sebagian lagi yang lain ada yang membacakannya (kirim pahala) untuk orang yang sudah mati. Mereka mengambil dasar dari hadis Nabi Saw:

اَلْفَاتِحَةُ لِمَا قُرِئَتْ لَهُ

“Al-Fatihah itu bisa dibaca untuk apa saja”(HR. Al-Baihaqi)

Menurut Syekh bin Baz,  beberapa surat al-Qur’an yang boleh dibacakan saat mengunjungi orang sakit adalah Surat Al-Fatihah, Ayat kursi, Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, Surat An-Naas, dan ayat yang lain dari Al-Quran Al-Aziz. Dalam membacanya boleh mengulang-ulanginya setiap pagi dan sore dan boleh ditambah dengan doa yang ma’tsur dari Nabi Saw, misalnya:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِه وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain”  (HR Bukhari 535 dan Muslim 2191).

Syekh bin Baz lebih jauh mengatakan, selain bacaan tersebut bisa juga dibacakan doa lainnya yang diinginkan. Akan tetapi doa yang berasal dari Nabi Saw lebih baik. Dalam hal ini, Bin Baz tidak menganjurkan pembacaan al-Fatihah secara bersama-sama untuk tujuan mendapatkan kesembuhan bagi orang yang sakit. Adapun yang dianjurkan adalah membaca al-Fatihah atau surat-surat yang lain(ruqyah) di dekat orang yang sakit. Hal ini sesuai dengan hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudri, sebagaimana yang telah disebutkan tadi.

Kesimpulan:

Berdasarkan hadis-hadis tersebut dipahami bahwa bacaan surat al-Fatihah itu dibolehkan dan bisa menjadi obat segala penyakit bahkan bisa difungsikan untuk apa saja (al-Fatihah lima quriat lahu);