Wednesday, 21 April, 2021

HUKUM WARIS ISLAM (Bag.4 Ahli Waris)


Ahli Waris Dalam Islam

Seperti yang disebutkan diatas, hukum kewarisan Islam manganut prinsip kewarisan individual bilateral. Maka dengan sendirinya hukum Islam tidak membatasi pewaris itu dari pihak bapa ataupun pihak ibu saja dan ahli waris pun demikian pula tidak terbatas pada pihak laki-laki atau pihak perempuan saja.

Ahli waris dalam hukum Islam telah dijelaskan baik dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Rasul SAW, yaitu :

  1. Zawil furud terdiri dari 12 (dua belas) orang
  2. Asabah, terdiri dari:
    1. Juz al mayit, seperti anak dan cucu dari anak laki-laki
    2. Aslu al mayit, seperti bapak dan al-jad (nenek)
    3. Saudara kandung atau sebapak dst
    4. Paman kandung atau sebapak dst
  3. Zawil Arham, yakni sanak kerabat yang tidak termasuk zawil furud dan juga tidak termasuk ’asabat.
  4. Baitu al Mal.[1]           

Maka atas dasar tersebut Islam pada hakikatnya tidaklah mengenal ahli waris pengganti, yang terkenal di Indonesia dengan teori Al-Marhum bapak Prof. Hazairin, SH, maksud dan tujuannya baik sekali, yaitu untuk menyantuni cucu yang bapaknya meninggal sebelum kakeknya dimana cucu dalam keadaan tersebut menurut ulama-ulama Fiqih tidak mendapat bagian (mahjub).

Kami sependapat dengan ulama yang mengatakan bahwa pada prinsipnya si cucu harus mendapat bagian dari harta kekayaan kakeknya, namun bukan dengan jalan sebagai pengganti bapaknya yang telah meninggal itu, tetapi dengan melalui ”Wasiat Wajibat”.

Wasiat wajibat artinya suatu wasiat yang dianggap oleh hukum berwasiat sekalipun tidak dinyatakan baik dengan lisan maupun dengan tulisan sebagaimana lazimnya wasiat. Hal ini akan diterangkan dalam pasal tersendiri.

Kesimpulan ahli waris, ahli waris laki-laki ada 14 orang, yaitu:

  1. Anak
  2. Cucu sampai kebawah
  3. Bapak
  4. Kakek sampai keatas
  5. Saudara kandung
  6. Saudara seayah
  7. Saudara seibu
  8. Anak saudara kandung
  9. Anak saudara sebapak laki-laki
  10. Paman kandung
  11. Paman sebapak laki-laki
  12. Anak paman kandung laki-laki
  13. Anak paman sebapak laki-laki
  14. Suami

Ahli waris perempuan 9 orang, yaitu:

  1. Anak perempuan
  2. Cucu perempuan sampai kebawah
  3. Ibu
  4. Nenek perempuan dari pihak ibu
  5. Nenek perempuan dari pihak bapak
  6. Saudara kandung perempuan
  7. Saudara sebapak perempuan
  8. Saudara seibu perempuan
  9. Isteri

Keterangan orang-orang yang terhijab (terhalang mendapat pusaka).

            Dengan keterangan tersebut diatas nyatalah bahwa ahli waris itu terbagi atas dua bagian :

  1. Qarib yang aqrab (lebih dekat) kepada mayat, yaitu anak, ibu, bapa, suami dan isteri. Maka mereka ini selalu mendapat pusaka, tidak terhalang (tertutup) oleh siapapun.
  2. Qarib yang bukan aqrab, seperti cucu, nenek, saudara dst. Jika qarib yang aqrab masih hidup, maka qarib yang bukan aqrab tidak mendapat pusaka, yakni qarib qarib yang jauh tertutup (terhalang mendapat pusaka) oleh qarib yang lebih hampir. Apabila qarib yang lebih hampir telah meninggal dunia, barulah qarib yang jauh itu mendapat pusaka.

Oleh sebab itu ditetapkanlah apa-apa yang dibawah ini :

  1. Kakek (bapa dari bapa) tertutup (terhalang) oleh bapa jika bapa masih hidup, maka nenek itu tidak mendapat pusaka
  2. Nenek perempuan (ibu dari ibu) tertutup oleh ibu
  3. Nenek perempuan dari pihak bapa (ibu dari bapa) tertutup oleh bapa dan oleh ibu juga
  4. Cucu (anak laki-laki/perempuan dari anak laki-laki) tertutup oleh anak laki-laki
  5. Saudara kandung laki-laki tertutup oleh (a) anak laki-laki, (b) cucu (anak laki-laki dari anak laki-laki), (c) bapa.
  6. Saudara kandung perempuan tertutup juga oleh orang yang tersebut dari a-c
  7. Saudara sebapa laki-laki dan perempuan tertutup oleh orang-orang yng tersebut dari a-c dan oleh saudara kandung laki-laki dan saudara kandung perempuan serta anak perempuan atau cucu perempuan.
  8. Saudara seibu (laki-laki atau perempuan) tertutup oleh (a) anak laki-laki atau perempuan, (b) cucu (laki-laki atau perempuan), (c) bapa dan, (d) nenek laki-laki
  9. Anak laki-laki dari saudara kandung laki-laki tertutup oleh (a) anak laki-laki, (b) cucu laki-laki, (c) bapa, (d) nenek laki-laki, (e) Saudara kandung laki-laki dan (f) saudara sebapa laki-laki.
  10. Anak laki-laki dari saudara sebapa laki-laki tertutup oleh mereka yang tersebut pada no.9
  11. Paman (saudara sebapa) kandung laki-laki tertutup oleh  mereka yang tersebut pada no.9 dan 10
  12. Paman sebapa laki-laki tertutup oleh mereka yang tersebut pada no. 9, 10 dan 11
  13. Anak laki-laki dari paman kandung laki-laki tertutup oleh mereka yang tersebut pada no. 9, 10, 11 dan 12.
  14. Anak laki-laki dari paman sebapa laki-laki tertutup oleh mereka yang tersebut pada no. 9, 10, 11, 12 dan 13.
  15. Cucu perempuan (anak perempuan dari anak laki-laki) tertutup oleh anak laki-laki, begitu juga oleh dua orang anak perempuan, jika cucu perempuan itu tidak bersaudara laki-laki yang akan menjadikan dia ’asabah.

[1] Menurut Mazhab Hanafi dan Syafi’i dengan beberapa sarat.

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?