Wednesday, 28 October, 2020

BEBERAPA PERMASALAHAN KURBAN (Muzakarah)


Oleh: Dr. H. M. Tohir Ritonga, Lc. MA[2]

Pendahuluan

Kurban adalah ibadah yang sangat mulia. Setiap tahun umat islam dianjurkan untuk melaksanakannya. Sangat tidak baik orang yang mampu namun tidak mau berkurban.

Ada beberapa permasalahan yang perlu dimuzakarohkan, sehingga ibadah kurban yang setiap tahun dilaksanakan benar-benar sesuai dengan sunnah Rasul Saw., dan mendatangkan manfaat bagi umat Islam, terutama fakir dan miskin.

  1. Kurban dengan uang

Berkurban dengan harga hewan tidak sah. [Meluruskan Pemikiran dan cara Beribadah Dalam Islam, Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA, Medan: Perdana Publishing, Cetakan Pertama, 2017, hal. 144-145]

لا تصح التضحية إلا بالأنعام. فلا يجزئ بغيرها. (الرياضة البديعة، ص. 8)

Tidak sah kurban kecuali dengan binatang ternak. Maka tidak memadai dengan selainnya.

            Dari penjelasan di atas bahwa tidak sah kurban dengan menggunakan uang atau harga hewan kurban, karena jenis yang dikurbankan harus binatang ternak sedangkan uang tidak termasuk hewan.

2. Kurban tidak disembelih

Kurban adalah hewan yang disembelih karena ibadah pada hari raya Adlha dan hari-hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah. [Ilmu Fiqih, H. M. Arsyad Thalib Lubis, Medan: Firma Islamyah, Cetakan Kesepuluh, 1399-1979, hal. 91]

Kurban adalah penyembelihan hewan tertentu pada tanggal 10 sampai dengan 13 Dzulhijjah dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah. [Kurban, H. A. Fuad Said, Medan: Pustaka Babussalam, Cetakan Pertama: 1990, hal. 1]

Udhhiyah adalah menyembelih hewan yang tertentu karena beribadat kepada Allah. [Seluk Beluk Agama, H. Abu Bakar J., Medan: Penerbit Saiful, Cetakan Kelimabelas, 1979, hal. 270]

Tidak boleh membiarkan hewan kurban tetap hidup diserahkan kepada fakir miskin untuk tujuan sebagai modal usaha yang lebih produktif. [Meluruskan Pemikiran dan cara Beribadah Dalam Islam, Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA, Medan: Perdana Publishing, Cetakan Pertama, 2017, hal. 145]

Kurban berarti perbuatan menyembelih hewan yang sudah ditentukan syari’at. Dengan adanya kalimat “menyembelih” maka tidak dikatakan berkurban orang yang menyerahkan hewan kurban hidup-hidup kepada fakir miskin, sekalipun itu dianggap lebih baik karena bisa dikembangbiakkan. Hal ini didasarkan bahwa sudah jelas Nabi dan para Sahabat juga menyembelih hewan kurban mereka baik langsung atau diwakilkan, kita dituntut untuk mengikuti perbuatan Nabi dan para Sahabat. 

Demikian juga tidak termasuk berkurban orang yang membeli daging di pajak lalu memberikannya kepada fakir miskin, sekalipun pada waktu penyembelihan hewan kurban, karena tidak ada perbuatan penyembelihan.

3. Kurban dengan selain bahimatul a’am

Ibnu Abbas ra. berpendapat, sah berkurban dengan sekedar menumpahkan darah hewan, seperti menyembelih ayam, rusa dsb.

Menurut ‘Ikrimah, Ibn Abbas pernah mengutusnya membeli daging dengan dua dirham, seraya berakata: “Katakan kepada yang anda temui, bahwa daging ini adalah kurban Ibn Abbas”.

Menurut riwayat Bilal, Ibn Abbas pernah berkurban dengan seekor ayam. [Kurban, H. A. Fuad Said, Medan: Pustaka Babussalam, Cetakan Pertama: 1990, hal. 11]

Hanya Ibn Abbas berpendapat sah berkurban dengan ayam, itik atau angsa, karena menurut pendapatnya, kurban itu sah asal menumpahkan darah dari hewan yang halal dimakan. [Konsultasi Agama Islam, H. A. Fuad Said,Jakarta: CV Haji Masagung, 1990, Jilid 2, hal. 93]

Jenis binatang yang dikorbankan: ialah seperti unta, kambing, lembu dan kerbau. Binatang yang lain dari yang tersebut kebanyakan menyatakan tak sah. Tetapi ada juga salah seorang sahabat Nabi menyatakan bahwa memadai [boleh] berkorban dengan sebangsa itik/ayam. Dan tentang ini ada juga sebagian kecil dari ulama yang menganjurkan agar bertaklid kepada kata-kata Ibnu Abbas ini. [Seluk Beluk Agama, H. Abu Bakar J., Medan: Penerbit Saiful, Cetakan Kelimabelas, 1979, hal. 272]

Dari penjelasan terdahulu, bahwa Ibnu Abbas ra. pernah berkurban dengan menyembelih ayam dan membeli daging dipasar lalu menyerahkannya kepada fakir miskin. Pendapat ini berlainan dengan pendapat Jumhur Ulama yang menyatakan bahwa hewan kurban sudah ditentukan.

Berkurban dengan pengertian yang sesungguhnya haruslah dengan jenis hewan yang sudah ditentukan. Namun berkorban dengan maksud membantu orang lain tentu boleh dengan apa saja selama dibenarkan syari’at.

4. Bersedekah atau berkurban

مذهبنا أن الأضحية أفضل من صدقة التطوع، للأحاديث الصحيحة المشهورة فى فضل الأضحية، ولأنه مختلف فى وجوبها بخلاف صدقة التطوع، ولأن التضحية شعار ظاهر. (المجموع، ج. 8، ص. 425)

Mazhab kami bahwa kurban lebih afdhal dari sedekah sunnah, karena ada beberapa hadis yang shahih lagi masyhur menjelaskan keutamaan berkurban, dan karena diperselisihkan hukum wajibnya berbeda dengan sedekah, juga karena kurban syi’ar yang jelas.

(قوله وهي) أي التضحية (وقوله أفضل من الصدقة) أي للإختلاف فى وجوبها، ولقول الشافعى رضى الله عنه: لا أرخص فى تركها لمن قدر عليها، ومراده: أنه يكره تركها للقادر عليها، سواء كان من أهل بوادى أو من أهل الحضر أو السفر. (إعانة الطالبين، ج. 2، ص. 331)    

(perkataannya: dan dia) artinya kurban (dan perkataannya lebih afdhal dari sedekah) artinya karena diperselisihkan hukum wajibnya, dan karena perkataan Imam Asy-Syafi’i ra.: Tidak aku berikan keringanan untuk meninggalkannya bagi orang yang mampu, dan maksudnya: bahwa dimakruhkan meninggalkannya bagi orang yang mampu, baik penduduk kampung atau penduduk yang menetap atau dalam perjalanan.

            Dari ungkapan di atas bahwa berkurban lebih utama dari bersedekah, karena banyak hadis-hadis yang populer menjelaskan keutamaan berkurban. Demikian juga tuntutan berkurban lebih besar daripada bersedekah.

5. Kurban wajib dan sunnah

Daging kurban halal dimakan atau dimiliki oleh yang empunya, paling banyak sepertiganya. [Kurban, H. A. Fuad Said, Medan: Pustaka Babussalam, Cetakan Pertama: 1990, hal. 68]

Hukum dasar berkurban adalah sunnah muakkadah, namun bisa berubah menjadi wajib jika dinazarkan, diwasiatkan atau dita’yinkan.

Dalam hal bagian bagi pekurban, dalam kurban sunnah pekurban dan keluarganya boleh mengambil bagian 1/3 dari daging kurbannya, bahkan sunnah hukumnya. Dan sisanya diberikan kepada fakir miskin dan jiran tetangga.

Daging kurban wajib, seperti nazar, haram dimakan oleh empunya dan tanggungannya. [Kurban, H. A. Fuad Said, Medan: Pustaka Babussalam, Cetakan Pertama: 1990, hal. 68]

Kurban wajib, tidak ada hak bagi pekurban dan keluarganya untuk mengambil bagian meskipun sedikit, semuanya harus disedekahkan kepada fakir miskin. Juga tidak boleh diberikan kepada orang kafir.  

6. Ta’yin Kurban

Berkurban tidak wajib, kecuali jika dinazarkan atau seekor hewan sejak dimiliki ditentukan untuk itu. Misalnya pada bulan Rajab seseorang membeli seekor kambing. Ketika orang lain bertanya untuk apa kambing itu, maka dia menjawab: untuk kurban.

Dengan menentukan atau mengkhususkan kambing itu untuk kurban, maka jadilah ia kurban wajib. [Kurban, H. A. Fuad Said, Medan: Pustaka Babussalam, Cetakan Pertama: 1990, hal. 5]

Jika terjadi yang demikian maka hewan kurban tersebut menjadi kurban wajib, oleh karena itu pemilik hewan dan beserta anggota keluarga yang menjadi tanggungannya haram memakan dagingnya dan memanfaatkan apa saja dari hewan kurban tersebut.

7. Kurban sebelum akikah

Pekurban tidak disyaratkan harus telah berakikah. Sebab akikah itu tuntunan sunat terhadap orang tua bukan terhadap anak yang lahir, walaupun anak yang lahir setelah dewasa boleh juga membuat akikahnya sendiri bila orang tuanya belum mengakikahkannya. Sementara itu kurban adalah tuntutan sunat kepada semua orang yang mampu. [Meluruskan Pemikiran dan cara Beribadah Dalam Islam, Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA, Medan: Perdana Publishing, Cetakan Pertama, 2017, hal. 145]

Waktu berkurban adalah diusia bayi 7 hari, jika tidak memungkinkan maka diusia 14 hari, jika tidak maka ke 21 hari dari hari kelahirannya.

Jika orang tuanya tidak mampu sampai usianya dewasa, maka boleh ia sendiri yang mengakikahkan dirinya dengan biaya sendiri.

8. Kurban dan akikah sekaligus

(قوله شاة) ولو نوى بها العقيقة والضحية حصلا عند شيخنا خلافا لحج، حيث قال: لا يحصلان، لأن كلا منهما سنة مقصودة. (البجيرمى على المنهاج، ج. 4، ص. 303)  

(perkataannya: kambing) jikalau ia meniatkan dengan kambing tersebut sebagai akikah dan kurban hasil keduanya menurut Syaikh kita, berbeda dengan Ibnu Hajar Al-Haitami (909-973 H), ia berkata tidak hasil keduanya, karena masing-masing keduanya sunnah yang maqsudah (dituju/dimaksud).   

(مسئلة) لو نوى العقيقة والضحية لم تحصل غير واحد عند حج، ويحصل الكل عند م ر. (إثمد العين، ص. 77)

(masalah) jikalau meniatkan seseorang akikah dan kurban niscaya tidak hasil selain satu saja menurut Ibn Hajar Al-Haitami (909-973 H), dan hasil masing-masing keduanya menurut Syamsuddin Ar-Ramli (919-1004 H).

ولو ذبح شاة ونوى بها الأضحية والعقيقة أجزأه عنهما، قاله م ر، وقال إبن حجر: لا تتداخلان. (بغية المسترشدين، ص. 257)

Jikalau seseorang menyembelih kambing dan ia meniatkannya kurban dan akikah memadalah keduanya, ini pendapat Syamsuddin Ar-Ramli (919-1004 H), berkata Ibn Hajar Al-Haitami (909-973 H): Tidak bisa saling menutupi.

            Jika berbeda pendapat antara Imam Ibn Hajar Al-Haitami dengan Imam Syamsuddin Ar-Ramli, maka yang dijadikan sebagai pendapat mazhab adalah pendapat Imam Ibn Hajar Al-Haitami. Dengan demikian tidak bisa digabungkan kurban dan akikah pada satu ekor kambing atau satu bagian dari 1 ekor lembu.

9. Berkurban dengan Menabung dan Mencicil

Cara yang demikian ini [menabung] dibenarkan oleh agama, karena merupakan usaha agar mampu berqurban pada waktunya. [Qurban dan ‘Aqiqah, T. A. Lathief Rousydiy, Medan: Penerbit Firma Rimbow, Cetakan Ketiga, 1416 H-1996 M., hal. 131]

Menabung atau cicilan agar dapat berkurban boleh, karena itu salah satu usaha agar bisa beribadah di hari Raya yang mulia yaitu dengan ibadah kurban.

10. Kurban atas nama instansi/kantor atau satu kelas

 (و) تجزئ (الشاة) المعينة من الضأن أو المعز (عن واحد) فقط. (حاشية البجيرمى على الخطيب، ج. 4، ص. 334)

(dan) memadai (kambing) yang ditentukan dari jenis dha’n atau ma’izh (untuk satu orang) saja.

 (و) يجزئ (البعير والبقرة عن سبعة) للنص فيه. (نهاية المحتاج، ج. 8، ص. 134)

(dan) memadai (unta dan sapi untuk 7 orang) karena ada nasnya.

Jumlah kariawan dalam satu kantor biasanya lebih dari tujuh orang, jadi jika sebuah kantor membeli 1 ekor hewan kurban lalu dijadikan sebagai kurban maka tidak dapat dikatakan kurban, karena maksimal dalam 1 ekor lembu 7 orang pekurban.

11. Tujuh orang dalam 1 lembu berlainan niat

وتجوز مشاركة جماعة سبعة فأقل فى بدنة أو بقرة، سواء كان كلهم عن عقيقة أو بعضهم عن أضحية أو لا. (حاشية قليوبة وعميرة، ج. 4، ص. 256)

Dan boleh berkongsi jamaah 7 orang atau kurang pada 1 ekor unta atau sapi, baik semuanya niat akikah atau sebagian mereka niat kurban atau tidak.

ويجوز مشاركة جماعة سبعة فأقل فى بدنة أو بقرة، سواء كان كلهم عن عقيقة أو بعضهم عن ضحية أو لا ولا. (تحفة الحبيب على شرح الخطيب، ج. 4، ص. 344)

Dan boleh berkongsi jamaah 7 orang atau kurang pada 1 ekor unta atau sapi, baik semuanya niat akikah atau sebagian mereka niat kurban atau tidak akikah dan tidak kurban.

12. Berkurban hanya Bapak saja

(والشاة) تجزئ (عن واحد) ومن كان له أهل بيت حصلت السنة لجميعها. فالتضحية سنة كفاية لكل أهل بيت. (حاشية قليوبى وعميرة، ج. 4، ص. 250)

(dan kambing) memadai (bagi seseorang) dan semua keluarganya juga mendapatkan kesunnahannya. Kurban sunnah kifayah bagi setiap satu keluarga.

ومعنى كونها سنة كفاية مع كونها تسن لكل منهم سقوط الطلب بفعل الغير، لا حصول الثواب لمن لم يفعل. (إعانة الطالبين، ج. 2، ص. 330)

Dan makna keadaannya sunnah kifayah bersama keadaannya sunnah bagi tiap-tiap mereka adalah gugurnya tuntutan dengan orang lain yang mengerjakannya, tidak mendapatkan pahala bagi orang yang tidak melakukannya.

            Boleh 7 orang dalam satu ekor lembu berlainan niat, tidak mesti harus kurban semua.

13. Fakir miskin dan orang kaya menjual kulit kurban atau bagian lainnya

وللفقير التصرف فى المأخوذ ولو بنحو بيع المسلم، لملكه ما يعطاه. (بغية المسترشدين، ص. 258)

Dan bagi fakir bebas menggunakan yang ia ambil sekalipun menjual kepada muslim yang lain, karena kepemilikannya terhadap yang diberikan kepadanya.  

Orang fakir dan miskin dalam menerima daging kurban adalah littamlik (memiliki), sehingga ia bebas menggunakannya untuk dimasak, disedekahkan kepada orang lain atau menjualnya. Adapun orang kaya dia hanya lil intifa’ (mengambil manfaat), sehingga ia tidak boleh menjualnya.

14. Pekurban atau panitia menjual kulit dan bagian lain dari hewan kurban

ولا بيع أي يحرم على المضحى بيع شيئ من الأضحية أي من لحمها أو شعرها أو جلدها. (الباجورى، ج. 2، ص. 311)

Dan tidak menjual artinya haram bagi pekurban menjual sesuatu apapun dari hewan kurban artinya dari daging, bulu dan kulitnya.

واعلم أن موضع الأضحية الإنتفاع، فلا يجوز بيعها بل ولا بيع جلدها، ولا يجوز جعلها أجرة للجزار، وإن كانت الأضحية تطوعا. (كفاية الأخيار، ج. 2، ص. 242)

Dan ketahuilah bahwa kedudukan kurban dimanfaatkan, maka tidak boleh menjualnya bahkan tidak boleh menjual kulitnya, dan tidak boleh menjadikannya upah bagi penyembelih, sekalipun kurban sunnah.

            Pekurban tidak boleh menjual bagian apasaja dari hewan kurban, karena dia sudah mengurbankanya lillahi ta’ala. Panitia juga tidak boleh menjualnya karena mereka bukan pemilik tetapi perwakilan dari pekurban untuk melaksanakan kurban.

15. Hewan kurban dijadikan upah

ولا يجوز بيع شيئ من الهدي والأضحية نذرا كان أو تطوعا. (المهذب، ج. 1، ص. 240)

Dan tidak boleh menjual sesuatu dari hady dan kurban, baik nazar atau sunnah.

ويحرم أيضا جعله أجرة للجزار ولو كانت الأضحية تطوعا. (الباجورى، ج. 2، ص. 311)

Dan haram juga menjadikannya upah bagi penyembelih sekalipun kurban sunnah.

واعلم أن موضع الأضحية الإنتفاع، فلا يجوز بيعها بل ولا بيع جلدها، ولا يجوز جعلها أجرة للجزار، وإن كانت الأضحية تطوعا. (كفاية الأخيار، ج. 2، ص. 242)

Dan ketahuilah bahwa kedudukan kurban dimanfaatkan, maka tidak boleh menjualnya bahkan tidak boleh menjual kulitnya, dan tidak boleh menjadikannya upah bagi penyembelih, sekalipun kurban sunnah.

            Tidak boleh menjadikan upah bagian apa saja dari hewan kurban, baik kurban sunnah apalagi wajib.

16. Pendistribusian daging kurban diluar daerah pekurban

وفى نقل الأضحية وجهان يخرجان من نقل الزكاة والصحيح هنا الجواز. (كفاية الأخيار، ج. 2، ص. 243)

Dan dalam memindahkan kurban ada dua pendapat dikeluarkan dari memindahkan zakat dan yang shahih disini boleh.

            Pendapat yang kuat adalah boleh mendistribusikan daging kurban ke daerah lain, jika memang ada hajat dan kebutuhan fakir miskin di sekitar pekurban sudah terpunuhi.

17. Mengamanatkan seseorang dengan memberikan uang untuk membeli binatang kurban dan sekaligus menyembelihnya di luar daerah pekurban

وأما نقل دراهم من بلد إلى بلد أخرى ليشتري بها أضحية فهو جائز. (إعانة الطالبين، ج. 3، ص. 334)

Dan adapun mentransfer Dirham dari satu negeri ke negeri yang lain untuk dibelikan kurban maka boleh.

            Boleh seseorang mewakilkan orang lain untuk melaksanakan kurbannya di daerah lain dengan mentransfer biayanya.

18, Daging kurban diberikan kepada orang kafir

Tidak boleh diberikan kepada fakir miskin yang tidak beragama Islam. [Kurban, H. A. Fuad Said, Medan: Pustaka Babussalam, Cetakan Pertama: 1990, hal. 68]

Tidak boleh diberikan kepada orang kaya dan orang yang tidak Beragama Islam. [Konsultasi Agama Islam, H. A. Fuad Said,Jakarta: CV Haji Masagung, 1990, Jilid 2, hal. 92-94]

Daging kurban yang sunat boleh diberikan kepada kafir zimmi, yakni Yahudi dan Nasrani yang pergaulannya dengan orang Islam baik, buka kafir yang mengganggu agama atau tetangga yang Islam. [Meluruskan Pemikiran dan cara Beribadah Dalam Islam, Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA, Medan: Perdana Publishing, Cetakan Pertama, 2017, hal. 147]

19. Kurban atas nama orang yang meninggal dunia

(ولا) تضحية (عن ميت لم يوص بها) لقوله تعالى: وأن ليس للإنسان إلا ما سعى، فإن أوصى بها جاز. وقيل: تصح التضحية عن الميت وإن لم يوص بها، لأنها ضرب من الصدقة، وهي تصح عن الميت وتنفعه.  (مغنى المحتاج، ج. 4، ص. 292)

(dan tidak) kurban (dari si mayit tidak ada wasiat denganya) karena firman Allah yang artinya: bahwa seseorang tidak mendapatkan keculai apa yang ia kerjakan, maka jika ia wasiatkan baru boleh.

وأما التضحية عن الميت فقد أطلق أبو الحسن العبادى جوازها، لأنها ضرب من الصدقة، والصدقة تصح عن الميت وتنفعه وتصل إليه إجماعا. (المجموع، ج. 8، ص. 406) 

Dan adapun kurban bagi si mayit maka sungguh Abu Al-Hasan Al-‘Abbadi memutlakkan kebolehannya, karena ia bentuk dari sedekah, dan sedekah sah atas nama mayit dan bermanfaat serta sampai kepadanya secara ijma’.

            Kurban memiliki unsur sedekah yang dapat membantu fakir miskin, maka boleh dilakukan atas nama si mayit.

20. Berniat menjadikan pahala kurban untuk beberapa orang yang sudah meninggal dunia

قال الخطيب و م ر وغيرهما: لو أشرك غيره فى ثواب أضحيته كأن قال: عني وعن فلان أو عن أهل بيتي جاز وحصل الثواب للجميع. (بغية المسترشدين، ص. 257)

Berkata Al-Khatib, Syihabuddin Ar-Ramli dan selain keduanya: jikalau seseorang menggabungkan dengan selainnya dalam pahala kurbannya seumpama ia mengatakan: dariku dan dari fulan atau dari keluargaku maka boleh dan hasil pahala bagi semuanya.

            Boleh meniatkan pahala kurban kepada banyak orang, dan sampai pahalanya kepada mereka yang disebutkan atau diniatkan.

21. Tempat menyembelih kurban yang utama

الأفضل أن يضحي فى داره بمشهد أهله، هكذا قاله أصحابنا. (المجموع، ج. 8، ص. 425)

Lebih afdhal bahwa berkurban di rumahnya agar dapat disaksikan keluarganya, dan demikianlah sahabat kita berpendapat.

            Lebih utama menyembelih kurban di rumah masing-masing jika sanggup melaksanakannya, namun di aera mesjid atau tanah lapang juga baik karena ada unsur syiarnya.

22. Diantara adab menyembelih kurban

وأن لا يذبح واحدة بحضرة أخرى، بحيث تنظر إليها. (حاشية قليوبى وعميرة، ج. 4، ح. 243) 

Dan bahwa tidak boleh menyembelih satu hewan di hadapan hewan yang lain, dengan sekira hewan yang belum disembelih melihat hewan yang akan disembelih.

  • Penutup

Inilah beberapa pendapat ulama terkait masalah-masalah kurban. Dalam mengambil kesimpulan perlu kehati-hatian dari berbagai pendapat para Ulama. Mendahulukan pendapat yang lebih kuat dari yang lemah, namun tidak mengenyampingkan maslahat umat dengan melihat kemampuan dan kebiasaan serta yang paling memungkinkan untuk diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Demikian juga memilih pendapat yang mudah, namun bukan berarti mempermudah-mudah hukum.

Semoga dengan membaca makalah ini dapat menambah wawasan kita terhadap masalah-masalah kurban.

  • Daftar Pustaka

Dibawah ini nama kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam penulisan makalah ini, yaitu:

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, Imam An-Nawawi

Al-Muhazzab, Imam Asy-Syirazi

Ar-Riyadhoh Al-Badi’ah, Syekh Muhammad bin Sulaiman

Bughyah Al-Mustarsyidin, Al-Habib Abdurrahman bin Muhamamad

Hasyiyah Al-Bajuri, Imam Al-Bajuri

Hasyiyah Al-Bujairami ‘ala Al-Khatib, Imam Al-Bujairimi

Hasyiyah Qalyubi wa ‘Umairah, Imam Al-Qalyubi dan Imam Al’Umairah

I’anah Ath-Thalibin, Sayyid Bakri Syatha’

Ilmu Fiqih, H. M. Arsyad Thalib Lubis, Medan: Firma Islamyah, Cetakan Kesepuluh, 1399-1979

Kifayah Al-Akhyar, Syekh Taqiyuddin Abu Bakr Muhammad Ad-Dimasqi.

Kurban, H. A. Fuad Said, Medan: Pustaka Babussalam, Cetakan Pertama: 1990

Meluruskan Pemikiran dan cara Beribadah Dalam Islam, Prof. Dr. H. Ramli Abdul Wahid, MA, Medan: Perdana Publishing, Cetakan Pertama, 2017

Mughni Al-Muhtaj, Khatib Asy-Syirbini

Nihayah Al-Muhtaj, Imam Syamsuddin Ar-Ramli (919-1004 H)

Seluk Beluk Agama, H. Abu Bakar J., Medan: Penerbit Saiful, Cetakan Kelimabelas, 1979, hal. 270

Tuhfah Al-Habib ‘ala Syarh Al-Khatib, Syekh Sulaiman bin Muhammad Al-Bujairimi (1131-1221 H)


[1] Makalah ini disampaikan pada Muzakaroh rutin Komisi Fatwa MUI SU, pada hari Ahad tanggal 5 Juli 2020.

[2] Dosen PTKU MUI SU. Anggota Komisi Fatwa MUI SU. Direktur PP. Darul Qur’an Percut Sei Tuan Deli Serdang.

//
Konsultasi
Kirimkan via WhatsApp?