ADUHAI WAQAF, MENGAPA DIMILIKI

0
1.216 views

Oleh: Prof.DR.H. Hasan Bakti Nasution, MA

Pada tanggal 19 Februari 2013 yang akan datang akan diadakan muzakarah Internasional tentang hukum keluarga dan Intensifikasi gerakan waqaf. Muzakarah yang diikuti lima negara, yaitu Malaysia, Brunai, Singapura, Thailand dan Indonesia dengan jumlah peserta 250 orang akan diadakan di hotel Madani ini akan dibuka oleh wakil Ketua Mahkamah Agung RI. Turut hadir plt Gubernur Sumatera Utara dan para hakim agama se Indonesia.

Dari tema seminar, terlihat semangat yang diembannya ialah bagaimana upaya meningkatkan gerakan waqaf di Indonesia yang mayoritasnya menganut Islam sebagai pemilik ajaran waqaf. Gerakan perlu digelorakan, bahkan dengan jargon internasional, karena disadari bahwa hari ini gaungnya agak sayup, mabniyyun ’alas-sukun, berjalan di tempat. Akibatnya tugas suci waqaf sebagai sebuah media pengangkat harkat dan martabat umat, menjadi impoten, tidah berdaya.

Fenomena ini tentu tidak mungkin diteruskan dalam waktu lama, harus ada upaya dan upaya, sehingga eksistensi waqaf dirasakan adanya dalam kehidupan umat yang hari ini memang sangat-sangat mengharapkan uluran bantuan dan belaian perhatian semua pihak, dan dengan asa itulah muzakarah ini menjadi semakin penting.

TUGAS SUCI WAQAF

Waqaf adalah kata khas Islam sehingga mendapat sorotan dalam buku-buku fiqh Islam. Bahkan banyak ulama yang secara khusus menulis tentang waqaf, seperti Imam Ghazali, Yusuf Qardhawi, dan lain-lain. Dari berbagai karya tersebut waqaf terungkap bahwa waqaf memiliki tugas suci, yaitu upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dan manusia sekaligus sebagai media perbaikan dan peningkatan kualitas umat. Pentingnya aktualisasi tugas suci ini membuat waqaf menjadi bagian penting ajaran Islam. Itulah sebabnya para sahabat Nabi kejar- kejaran dalam mewaqafkan hartanya. Adalah Umar bin Khattab, yang sebetulnya tidak terlalu kaya, tetapi mewaqafkan sebidnag tanahnya di sekitar kota Madinah. Utsman bin ’Affan, tidak kalah cepat, pernah suatu ketika mewaqafkan dalam arti memberikan seluruh harta dagangannya untuk kepentingan umat Islam. Itulah pula yang menjadi dorongan para ulama terdahulu menjadikan waqaf sebagai prestasi keulamaannya.