Shalat Tarawih

0
1.927 views

oleh Ketua Umum MUI Sumatera Utara/ Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA

Shalat di malam bulan Ramadhan ini dinamakan shalat tarawih, karena sahabat Nabi melaksanakan dengan istirahat setelah setiap empat rakaat selama seperti empat rakaat itu, istirahat itu dilakukan karena panjangnya bacaan mereka dalam shalat tarawih itu. Shalat tarawih adalah 20 rakaat dengan 10 kali salam. Dilaksanakan setelah shalat Isya (setiap 2 rakaat 1 kali salam). Shalat tarawih disunnatkan berjamaah, baik di Masjid ataupun di rumah, dan dibolehkan dilaksanakan sendiri- sendiri.

Menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat Tarawih berjamaah: Shalat Tarawih disyari’atkan berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:”Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada waktu tengah malam, lalu beliau shalat di masjid, dan shalatlah beberapa orang bersama beliau. Di pagi hari, orang-orang memperbincangkannya. Ketika Nabi mengerjakan shalat (di malam kedua), banyaklah orang yang shalat di belakang beliau. Di pagi hari berikutnya, orang- orang kembali memperbincangkannya. Di malam yang ketiga, jumlah jamaah yang di dalam masjid bertambah banyak, lalu Rasulullah SAW keluar dan melaksanakan shalatnya. Pada malam keempat, masjid tidak mampu lagi menampung jamaah, sehingga Rasulullah SAW hanya keluar untuk melaksanakan shalat Subuh. Tatkala selesai shalat Subuh, beliau menghadap kepada jamaah kaum muslimin, kemudian membaca syahadat dan bersabda, ‘Sesungguhnya kedudukan kalian tidaklah samar bagiku, aku merasa khawatir ibadah ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak sanggup melaksanakannya.” Rasulullah SAW wafat dan kondisinya tetap seperti ini. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam sau riwayat lain, rasul datang ke Masjid sembahyang bersama jamaah lainnya 2 malam, selanjutnya orang sembahyang masing-masing sendirian, ada yang di Masjid dan ada yang dirumah. Setelah itu Rasul wafat dan manusia melaksanakan shalat itu seperti itu yaitu sendirian di Masjid atau dirumah. Di masa khalifah Abu Bakar di permulaan Khalifah Umar juga berlaku seperti ini. Kemudian Umar memprakarsai shalat tarawih berjamaah di Masjid, dengan menjadikan Ubai bin Ka’ab sebagai imam jamaah laki-laki dan Sulaiman bin Abi Hasmah imam jamaah wanita, Para sahabat memuji perbuatan Umar ini dan mendukungnya. Saidina Usman berkata di masa khalifahnya mengenai tarawih. “Allah telah mencahayai kuburan Saidina Umar, sebagai mencahayai Masjid kita ini”

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmizi dan lainnya: Rasul berkata “maka ikutlah sunnahku dan sunnah khulafaurasidin yang mendapat petujuk sesudahku dan peganglah kuat- kuat” Dalam hadis lain rasul berkata pula “ikutlah dua orang sesudahkku yaitu Abu Bakar Sidik dan Umar Ibn Khatab” (Riwayat Ahmad, Tirmizi, dan Ibnu Majah)

Abu Nuim meriwayatkan pula, bahwa Nabi SAW berkata “akan terjadi sesudahku perkara (sesuatu yang baru), maka yang paling kusukai adalah engkau mengikuti apa yang dialkukan Umar” yaitu melakukan tarawih secara berjamaah di Masjid. Dikatakan juga dengan istilah lain, sebaik-baik bid’ah yang dilakukan Umada adalah soal tarawih berjamaah di masjid. Perbuatan Umar inilah yang sampai sekarang diikuti umat Islam di seluruh dunia,

Dengan demikian melakukan shalat tarawih di masjid secara berjamaah adalah paling baik atau afdhal. Dari beberapa hadis dan penjelasan di atas, dapat pula dipahami, bahwa tidak semua bid’ah itu tidak baik atau dhalalah, tetapi ada yang baik atau hasanah seperti Umar mengadakan shalat tarawih berjamaah dengan satu imam, sedang sebelumnya, tidak demikian dan dikatakan pula sebaik-baik bid’ah adalah apa yang dilakukan Umar dalam tarawih ini.