URGENSI SILATURRAHÎM DALAM MEMPERKUAT UMAT

0
1.625 views

Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA. (Syahrin_hrp@yahoo.com)

Disampaikan pada Muzakarah Ramadhan Majelis Ulama Indonesia Prov. Saumatera Utara Tgl. 9 Mei 2019 di Medan-Sumatera Utara

Rahîm (al-rahîm) dalam bahasa Arab digunakan untuk mengartikan jenis kelembutan yang merangsang dorongan dalam diri seseorang untuk mengasihi dan menyayangi orang lain.[1] Rahim merupakan salah satu  asmâ’/sifat Allah yang digandengkan dengan  al-rahmân,  al-Rahmân dan al-Rahîm.[2]Al-Rahîm, demikian juga al-rahmân, merupakan sifat  Allah yang paling menonjol. Dia selalu mengedepankan sifat ini dari sifat lain dalam memilih, menetapkan, dan memperioritaskan semua perkara. Bahkan seperti disebut Khomaeni, sifat al-rahmân dan al-rahîm, Pengasih dan Penyang, menunjukkan sifat kesempurnaan Allah. Sedangkan sifat-sifat lain tunduk pada sifat-sifat itu.[1]

Ketika menjelaskan hubungan sifat al-Rahmân dan al-Rahîm, Abû al-Qâsim al-Husain bin Muhammad  meyetir hadîs Rasulullah yang menceritakan bahwa ketika Allah menciptakan ‘al-rahmân’, Allah berkata kepadanya: “Aku ‘al-Rahmân’ dan engkau adalah ‘al-rahîm’. Aku ambil namamu dari nama-Ku. Siapa yang menghubungkanmu akan Ku-hubungkan dan siapa yang memutuskanmu akan Aku putuskan.[2]

Ketika menjelaskan pengetahuannya tentang yang ghaib dan yang nyata, Allah mengiringi informasi itu dengan sifat kasih sayang. Firman Allah:

هُوَ اللهُ الَّذِى لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الَّرحْمَنُ الرَّحِيْمُ

Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Q. S. 59/al-Hasyr: 22).

Selain itu, kenyataan bahwa surah- surah al-Qur’ân yang dimulai dengan kalimat kasih sayang itu (bismillâhirrahmânirrahîm), merupakan isyarat bahwa apa pun yang dijelaskan, didiskusikan, dikerjkan, dan diperintahkan serta dilarang oleh kitab suci ini senantiasa didasarkan pada kasih sayang universal.

Dari pengertian itu dapat diketahui bahwa al-rahîm adalah rasa sayang Allah dalam bentuk menciptakan, memelihara, dan membuat yang terbaik serta yang sempurna pada alam semesta serta yang bermanfaat bagi manusia di dunia dan diakhirat. Dengan demikian lawan dari al-rahîm adalah kebencian dengan segala bentuknya.

Kemudian sifat al-rahîm itu ditransmisikan kepada manusia. Artinya, manusia yang penyayang. Sebagaimana digambarkan dalam hadîs qudsi berikut:

الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ اِرْحَمُوا مَنْ فِى الْاَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

Orang yang berkasih sayang akan disayangi Yang Maha Penyayang, karena itu sayangilah yang ada di bumi, niscaya Yang Di langit akan menyayangimu. [HR. Bukhari].