FATWA MUI TENTANG HAJI

0
576 views


“…Mengerjakan haji adalah kewajiban ma- nusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sangggup mengadakan perjalanan ke Baitullah..” (QS. Ali Imran [3]: 97). 

HAJImerupakan rukun Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa, menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslimin sedunia yang mampu istatha’ah. Pendapat Imam Sya `i dan Ahmad bin Hanbal bahwa istitha’ah hanya menyangkut kemampuan dalam bidang biaya (mãl); sehingga orang sakit yang tidak dapat melaksanakan haji sendiri tetapi ia mempunyai biaya untuk melaksanakan haji dipandang sudah memenuhi kriteria istitha’ah. Oleh karena itu, ia wajib membiayai orang lain untuk menghajikannya. 

Pendapat Imam Maliki bahwa kriteria istitha’ah hanya me-nyangkut kesehatan badan. Menurutnya, orang yang secara fisik tidak dapat melaksanakan haji sendiri tidak dipandang sudah memenuhi kriteria istitha’ah, walaupun ia memiliki sejumlah harta yang cukup untuk membiayai orang lain untuk menghajikannya. Karena itu, ia belum berkewajiban menunaikan haji, baik sendiri maupun dengan membiayai orang lain

Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 dzulhijjah ketika umat islam bermalam di mina, wukuf (berdiam diri) dipadang arafah pada tanggal 9 dzulhijjah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan ) pada tanggal 10 dzulhijjah, masyarakat indonesia biasa menyebut juga hari raya idul adha sebagai hari raya haji kerena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.

Berikut ini adalah fatwa fatwa MUI Pusat dalam ibadah Haji 

  1. PIL ANTI HAID 
  2. ISTITHA`AH DALAM MELAKSANAKAN BADAH HAJI 
  3. MIQAT HAJI DAN UMROH (I) 
  4. MIQAT HAJI DAN UMROH (II) 
  5. MABIT DI MUZDALIFAH
  6.  MABIT DI MINA 
  7. IBADAH HAJI HANYA SEKALI SEUMUR HIDUP 
  8. MIQAT MAKANI
  9. HAJI BAGI NARAPIDANA