Tausiyah Mahasiswa Kader Ulama di Ramadan Berbagi (Kedai Wakaf)

0
568 views


Sudah menjadi program mahasiswa Kader Ulama MUI Sumatera Utara untuk mengisi program Ramadan Berbagi 1440 H di MUI, Parade tausiyah setiap menjelang berbuka puasa menjadi salah satu program andalan untuk mencetak pengkaderan Ulama. Tusiyah yang berdurasi sekitar 10 hingga 15 menit memiliki beberapa tujuan; pertama; untuk memupuk keberanian dan kepercayaan diri berbicara di hadapan publik, kedua; memberikan kesempatan kepada generasi Ulama PTKU untuk bisa berdakwah melalui media sosial, yaitu dengan setiap Tausiyah akan diupload di website muisumut.com dan ke Yutube.

Pada kesempatan kali ini yang menjadi pentausiyah adalah Khairul Ansori yang akrab dipanggil Ansori, seorang mahasiswa Pendidikian Tinggi Kader Ulama Sumatera Utara. Lahir disebuah desa yang asri bernama Desa Kolam, 09 Oktober 1999.  Beliau adalah anak keenam dari delapan bersaudara, buah cinta dari pasangan Bapak Khairil Anwar dan Ibu Fatimah. Ansori terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang tuan kadi, sedangkan Ibu adalah ibu rumah tangga yang tugasnya mengurus rumah dan mendidik anak-anak. Sejak kecil kedua orangtua selalu menasehatinya  agar rajin beribadah, bersikap jujur dan berbuat baik terhadap sesama.

Di usia 6 tahun, ia mulai bersekolah di SDN 101773, Desa Kolam, kemudian setelah lulus melanjutkan pedidikan di Madrasah Tsanawiyah Al-jam’iyatul Wasliyah Tembung ditahun 2011. Selepas lulus MTs ditahun 2014 melanjutkan pendidikan ke salah satu Madrasah favorit di Kota Medan, yaitu Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan dengan memilih jurusan Ilmu Agama.

Ketika menginjak tahun ketiga dibangku MAN, Anshori yang kala itu sudah memasuki usia remaja mengalami kebingungan dalam menentukan perguruan tinggi dan jurusan yang akan dipilih. Ketika itu, ada seorang ustadz yang mengajarkan mata pelajaran Qiraatul Kutub Ustadz Irhas Pulus, beliau adalah orang ‘alim yang tawadu’ dan banyak memberikan memotivasi. Sampai suatu hari ustadz Irhas memberi saran untuk melanjutkan pendidikan ke PTKU MUI Sumut. Karena pendaftaran dibuka tahun 2018 sedangkan ia  lulus pada tahun 2017, maka ia memanfaatkan waktu setahun untuk belajar membaca kitab. Mengisi waktu luang dengan mengajar MDA dan menghadiri “taman-taman surga“. Ketika bulan Syawal 2018, tekad semakin bulat untuk menjadi mahasiswa PTKU MUI Sumut, terlebih setelah mencari informasi tentang PTKU MUI Sumut dengan mendatangi gedung MUI SU di jalan MUI. Alhamdulillah setelah melewati sesi pendaftaran, ujian tertulis dan non tertulis, serta kekhawatiran menunggu hasil tes, akhirnya ia  lulus dengan urutan nama nomor dua.

Selama bulan Ramadhan ini, MUI Sumut banyak mengadakan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang lebih memperluas cara pandang mahasiswa kader ulama, bagaimana bentuk pemberian sedekah sederhana yang dilakukan di PTKU MUI, pengiriman ulama-ulama ke daerah minoritas dengan membawa 40 dus Al-Quran yang akan dibagikan membuka pikiran bahwa berdakwah bukan hanya dimesjid, lebih dari itu seorang yang memiliki ilmu harus mendatangi mereka yang awam, menyampaikan ilmunya dengan cara yang ma’ruf. Fastaqul Khairat, ya! Selogan yang sering digaungkan dan memiliki makna dalam, banyak orang yang bingung bagaimana cara merealisasikannya, namun disini mahasiswa belajar bahwa berbuat baik bisa dimulai dengan hal kecil, seperti mengajarkan tahsin kepada anak-anak disekitar gedung PTKU MUI dan mengajarkan mereka cara menggambar dan membuat kaligrafi. Melihat tarikan simetris dari bibir mereka membuat kita sadar bahwa kebaikan tidak diukur dengan seberapa mahal pemberian, tetapi seberapa ikhlas ia dilakukan.

Berikut petikan ceramah Anshari pada saat menjelang berbuka puasa Hari ke 5 di Kedai Wakaf:

“Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT. Al-Imam Asy-Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim Al-Kaff didalam kitabnya At-Taqrirad As-sadidah fii Masailil Mufidah didalam pembahasan shaum halaman 433 beliau menuliskan pengertian puasa secara lughatan ialah الإمساك yaitu menahan, kemudian secara syar’an atau secara istilah pengertian puasa adalah

الأمساك عن جميع المفطرات من طلوع الفجر إلى غروب الشمس بنية مخصوصة

Puasa secara syariat adalah menahan segala sesuatu dari yang membatalkan puasa dari mulai terbitnya fajar shadiq sampai terbenamnya matahari dengan niat yang khusus. Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT. puasa adalah salah satu kewajiban umat Nabi Muhammad SAW. sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah:183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Wahai orang-orang yang beriman, berpuasalah kamu sebagaimana Allah telah mewajibkan puasa kepada orang-orang terdahulu sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang  yang bertaqwa.”

Diawal ayat tersebut Allah memakai kata يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا Allah memanggil orang-orang yang beriman, mengapa Allah memanggil orang-orang yang beriman? Allah tidak memanggil manusia dengan kalimat الناس, Allah juga tidak memanggil dengan kata Islam yaitu المسليم tetapi Allah memanggil dengan kata آمنو, mengapa Allah menggunakan kata tersebut., karena tidak sembarang manusia yang sanggup melaksanakan ibadah puasa ini, karena tidak sembarang orang Islam yang sanggup melaksanakan ibadah puasa ini. Bagaimana tidak, coba kita lihat disekeliling kita KTP nya tertulis tercantum agama Islam, ia mengaku beragama Islam namun disiang hari bulan Ramadhan ia tidak berpuasa, ia nampakkan dirinya bahwa ia tidak berpuasa, ini menunjukkan tidak sembarang orang Islam yang sanggup melaksanakan ibadah puasa ini, hanya orang-orang yang berimanlah yang sanggup melaksanakan ibadah puasa.

Hadirin yang dirahmatil oleh Allah SWT. berbicara tentang ibadah, seluruh ibadah dalam syariat Islam tentu ada yang namanya rukun, rukun didalam puasa tidaklah banyak. Diddalam kitab At-Taqrirad As-Sadidah dituliskan rukun puasa hanya ada dua, yang petama ialah niat, Rasulullah SAW. bersabda:

 إِنَّمَا الاأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Segala sesuatu itu harus diawali dengan niat.”  (H. R. Bukhari Muslim)

Kemudian berbicara tentang niat puasa, niat puasa ini berbeda dengan niat ibadah yang lainnya, biasanya niat dalam beribadah selalu beriringan dengan awal mulai ibadah tersebut, semisal shalat. Awal perbuatan shalat ialah takbiratul ihram, maka niat shalat berbarengan dengan pergerakan takbiratul ihram. Begitu juga dengan wudhu, awal perbuatan wudhu adalah  membasuh wajah, ketika kita hendak berniat maka barengkanlah niat ketika kita membasuh wajah, namun niat berpuasa ini tidak wajib berbarengan dengan awal kita berpuasa. Awal waktu puasa adalah terbitnya fajar shadiq, namun sangat sulit kita baregkan niat dengan terbitnya fajar shadiq, maka dari itu, Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَه

“Tidak dikatakan orang itu berpuasa bila ia tidak memalamkan niat.”

Maka wajib berniat pada malam hari atau sebelum terbitnya fajar shadiq. Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT, rukun yang kedua adalah meninggalkan apa-apa yang membatalkan puasa, dua hal itulah yang menjadi rukun puasa. Hadirin yang dirahmati oleh Allah SWT, segala sesuatu akan menjadi sesuatu yang mulia bilamana ia bersinggungan dengan Al-Quran. Nabi Muhammad menjadi orang yang paing mulia didunia maupun diakhirat karena pada diri beliau diembankan oleh Allah risalah Al-Quran, malaikat Jibril menjadi penghulunya para malaikat karna kepada beliaulah Allah kirimkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad. Dua kota yaitu Kota Mekkah dan Madinah menjadi dua kota yang mulia karena Allah turunkan Al-Qura didua kota tersebut, bulan ramadhan ini juga menjadi bulan yang mulia, menjadi penghulu dari dua belas bulan hijriyah lainnya, karna Allah turunkan Al-Quran pada bulan Ramadhan ini. Maka oleh karena itu, jangan sampai kita nodai kesucia, kemulian bulan Ramadhan ini, Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang memuliakan, menegakkan bulan Ramadhan dengan penuh iman, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.”

Maka marilah sama-sama kita menghidupkan amalan-amalan dibulan suci Ramadhan ini, Rasulullah SAW. bersabda:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة و غلقت أبواب النار

“Apabila bulan Ramadhan telah datang, maka pintu-pintu syurga Allah bukakan, pintu-pintu neraka Allah tutup, dan para setan Allah belenggu.”

Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqalani  menjelaskan maksud dari فتحت أبواب الجنة dibukakan pintu-pintu syurga, artinya Allah mudah untuk menerima amal-amal kebaikan pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu, jangan sampai  kita lewatkan watu kita di bulan Ramadhan ini tanpa amal kebaikan.

Billahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh