SALAT HARI RAYA

0
1.020 views

Oleh: Dr. H. Muhammad Tohir Ritonga, Lc. MA. (Komisi fatwa MUI Sumut/ Direktur PP. Darul Qur’an)

(Sebab penamaannya):

Dinamakan ‘idh dengan nama ini, karena Allah ta’ala banyak memberikan manfaat pada hari itu artinya bermacam-macam kebaikan yang kembali kepada hamba-Nya pada setiap tahun, di antaranya:

  • Berbuka setelah terlarang makan, dan sedekah fitrah.
  • Menyempurnakan haji dengan tawaf ziyarah, daging kurban dan selainnya.
  • Dan karena kebiasaan padanya: perasaan senang dan gembira, semangat biasanya disebabkan dengan demikian itu.
  • Dan makna asalnya “idh” secara bahasa: kembali, maka dia kembali dan berulang dengan kegembiraan setiap tahun.

Dalil disyariatkannya shalat Idul Adha

Salat Idul adha disyariatkan pada tahun pertama Hijriyah, dengan dalil riwayatkan Anas ra.: Rasul saw. sampai di Madinah, dan penduduk Madinah memiliki dua hari mereka bergembira pada hari itu: Nabi berkata: (ada apa dengan dua hari ini?) mereka berkata: kami bergembira pada dua hari ini di masa Jahiliyah, lalu Nabi bersabda: (Sesungguhnya Allah mengganti kepada kamu dua hari ini dengan yang lebih baik yaitu: hari Idul Adha dan Idul Fithri).

Dan dalil pensyariatannya: Al-Quran dan Hadis serta Ijma’.[1]

Adapun dalil dalam Al-Quran: firman Allah yang terjemahannya: Maka salatlah karena Tuhanmu dan berkurbanlah. (QS. Al-Kautsar: 3) yang masyhur dalam tafsir bahwa yang dimaksud adalah salat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban.

Adapun Hadis: telah tetap secara mutawatir bahwa Rasul saw. melaksanakan salat Idh Adha dan Fithri. Dan pertama kali yang dilaksanakan adalah salat Idhul Fithri yaitu pada tahun yang ke dua Hijriyah.

Ibn Abbas ra. berkata: Aku menghadiri salat Idul Fithri bersama Rasul saw. dan Abu Bakar ra. dan Umar ra., mereka salat sebelum khutbah. Dan darinya juga: bahwa Nabi saw. salat Idh tanpa ada azan dan iqamah. (Muttafaqun ‘Alaih).

Hukum Fikih:

Ada tiga pendapat ulama tentang hukum salat Idh: ada yang mengatakan fardu kifayah, wajib dan sunnah.

Al-Hanabilah dalam zahir mazhab mereka berpendapat[2]: Salat Idh adalah fardu kifayah, apabila sebagian orang melaksanakan maka gugurlah kefarduan bagi yang lain, artinya seperti salat jenazah, karena ayat yang terdahulu yang terjemahannya: Maka salatlah karena Tuhanmu dan berkurbanlah. (QS. Al-Kaatsar: 3) maksudnya adalah salat Idh menurut ahli sejarah, dan Nabi saw. bersama Khulafaur Rasyidin terus-menerus melaksanakannya, dan karena ia zahir dari bagian agama, maka ia wajib seperti halnya jihad, namun tidak wajib ‘ain atas setiap muslim, karena ada hadis riwayat A’rabi (kecuali bahwa engkau salat sunnah), berarti menafikan kewajiban salat selain salat lima waktu, hanyasanya wajib salat Idh dengan perbuatan Rasul saw, dan sahabat-sahabat setelah beliau.

Maka jika penduduk kampung semuanya meninggalkannya dan sampai bilangan mereka 40 orang tanpa ada uzur, imam kaum muslimin boleh memerangi mereka karena salat Idh merupakan syiar Islam yang zahir, yang meninggalkannya berarti merendahkan agama.