ZAKAT DAN PERSOALANNYA

0
1.871 views

Oleh   : H. Musaddad Lubis

disampaikan pada Muzakarah Khusus Ramadan 1440 H, 28 Ramadan

Pendahuluan.

Zakat dalam Islam dikenal sebagai kewajiban pokok agama yang terpenting atau disebut sebagai معلوم من الدين بالضرورة  karena itu zakat mendapat perhatian penting bagi para ulama maupun pemerintah untuk dikelola dengan baik. Dalam kitab-kitab fiqh, zakat mendapat tempat khusus dlam pembahasannya terkadang dalam suatu bab tersendiri maupun dalam rubu’ tertentu, sebagaimana kewajiban shalat, puasa maupun haji. Namun dalamn implementasinya dengan mengutif untkapan dari Prof. Dr. H. Bambang Sudibyo, Ketua Badan Amil Zakat RI mengatakan “zakat adalah kewajiban yang paling diabaikan umat Islam di Indonesa”. Ungkapan ini mengejutkan kita, karena selama ini umat Islam Indonesia terpandang sebagai umat yang taat menjalankan agamanya, karena telihat banyaknya masjid terbangun indah, puasa Ramadan yang semarak saing dan malam, ibadah haji yang mengharuskan daftar tunggu, silaturrahim dan pengajian akbar dimana-mana, ternyata berbeda dengan pengamalan zakat yang sepi-sepi saja, hampir tidak ada terlihat nuansa kesemarakan terjadi. Kondisi ini layak dipertanyakan mengapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana solusi yang bisa dilakkan agar perzakatan di negeri kita betul-betul sebagai rukun Islam yang mendapat tempat sebagaimana rukun Islam lainnya.

Pada pokoknya ada lima hal yang menjadi persoalan  penting yang dirasakan selama ini dalam hal pengelolaan zakat di lembaga resmi utama Badan Amil Zakat (BAZNAS) khususnya di Sumnatera Utara yaitu :

  1. Bidang Kelembagaan, yaitu belum terbentunya Banznas disemua Kabupaten/Kota di Sumatera Utara dan belum terbentuknya Unit Pengmpul Zakat pada institusi yang seharusnya terbentuk. Kendalanya ialah kurangnya dukungan pimpinan daerah terhadap lembaga ini dan kurangnya support dana untuk membiayai operasionalnya bagi Baznas yang sudah terbentuk.
  2. Bidang Penghimpunan, yaitu terbatasnya kegiatan sosialisasi ke berbagai lapisan masyarakat termasuk kepada kalangan pemerintah, swasta dan calon muzakki baik lembaga ataupun perorangan. Hal itu terjadi karena mahalnya biaya sosialisasi dan sumber biaya sosialisasi yang sangat terbatas.
  3. Bidang pendistribusian dan pendayagunaan, yaitu penistribusian zakat maupun  infak kepada fakir miskin dan asnaf lainnya mengalami kendala dalam hal survey lokasi  dimana kaum mustahik itu berada karena memerlukan alamat yang jelas, data-data pendukung berupa identitas diri, dan data-data usaha bagi pemohon modal usaha.
  4. Bidang keuangan yaitu pembuatan program dengan biaya-biaya yang diperlukan semacam Rencana Kegiatan dan Anggran Tahunan (RKAT) serta pelaporan dari Baznas Kabupaten/Kota dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang seharusnya memberikan laporan ke Baznas baik itu hasil penghimpunan, pendistribusian maupun pendayagunaan, terasa selama ini belum berjalan lancar, padahal Baznas harus menyampikan laporannya kepada pemerintah dan Baznas RI secara berkala.
  5. Bidang manajemen dan SDM, yaitu tatakelola manajemen dan administrasi Sumberdaya Manusia dirasakan masih belum kuat akibat keterbatasan penambahan wawasan dan keterampilan pengelola dan perangkat pendukung lainnya seperti sarana pendidikan bagi pelaksana, keterampilan mustahik dan biaya operasional Baznas itu sendiri.

Akumulasi dari persoalan diatas berdampak kepada kinerja Baznas sebagai lembaga resmi yang dibentuk pemerintah dalam pengelolaan zakat dan pengawas jalannya kegiatan Lembaga-Lembaga Zakat yang dibentuk masyarakat atas izin pemerintah berdasarkan regulasi yang ada.

Pengertian Zakat

Zakat berasal dari kata “Zaka”, para ulama memberikan makna bermacam-macam, antara lain:

  • Zakat bermakna At Thohuru (membersihkan atau mensucikan), sesuai firman Allah dalam Surah At Taubah: 103, yaitu:

“Ambillah zakat dari sebahagian harta mereka guna membersihkan dan mensucikan mereka”

  • Zakat bermakna Al Barakatu (Berkah)

Orang yang senantiasa membayar zakat akan dilimpahkan keberkahan hidup oleh Allah.

Dalam kamus Al Bisri, berkah berarti kenikmatan dan kebahagiaan.

Berkah: hidup tenang dan tenteram, merasa cukup dalam kehidupan (Qonaah).

Berkah: bertambahnya nilai kebaikan yang terus menerus terhadap dirinya maupun orang lain di sekitarnya, bahkan sepeninggalnya.

Berkah: Harta yang sedikit namun dirasakan mencukupi.

Berkah: seseorang yang senantiasa diberikan kesehatan lahir dan batin.

Hadist Bukhori: Rasulullah bersabda “sahurlah kalian, karena sahur itu mengandung berkah”

Hadist Bukhori: “Sesungguhnya yang paling aku takuti sepeninggalku adalah tidak dibukanya berkah dari bumi atas kalian.”

Al Qur’an Surah Al A’raaf:96

“jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

  • Zakat bermakna An Numuwwu (tumbuh dan berkembang)

orang yang senantiasa membayar zakat, hartanya akan selalu tumbuh dan berkembang

  • Zakat bermakna As Sholahu (Beres, bagus)

orang yang senantiasa menunaikan zakat, hartanya selalu bagus, tidak bermasalah dan terhindari dari persoalan, misalnya: keruakan, kehilangan, kecurian, kebakaran, kebangkrutan, implasi, dll.

  Hadist

            “bersedekahlah kalian, karena sedekah bisa menambah harta dalam     jumlah banyak”

            “bersedekahlah kalian, maka Allah akan menyayangi kalian”