MUZAKARAH KHUSUS AKHIR RAMADAN 1440 H

0
643 views


Pada 28 Ramadan 1440 H, MUI Sumut melaksanakan Muzakarah Khusus Ramadan Ahad ke IV di Aula MUI Sumut Jalan Sutomo Ujung/JL Majelis Ulama No.3. Meski menjelang H- 2 lebaran masyarakat Sumatera Utara tetap antusias menghadiri muzakarah tersebut, hal ini terlihat dengan ramainya jamaah yang hadir.

Tampil pada kesempatan pertama membicarakan Zakat dan Persoalannya yang disampaikan oleh H. Musaddad Lubis yang merupakan Wakil Ketua Bazsas Sumatera Utara sekaligus Wakil Ketua MUI Sumatera Utara. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan “ada lima hal yang menjadi persoalan  penting yang dirasakan selama ini dalam hal pengelolaan zakat di lembaga resmi utama Badan Amil Zakat (BAZNAS) khususnya di Sumnatera Utara yaitu :

  1. Bidang Kelembagaan, yaitu belum terbentunya Banznas disemua Kabupaten/Kota di Sumatera Utara dan belum terbentuknya Unit Pengmpul Zakat pada institusi yang seharusnya terbentuk. Kendalanya ialah kurangnya dukungan pimpinan daerah terhadap lembaga ini dan kurangnya support dana untuk membiayai operasionalnya bagi Baznas yang sudah terbentuk.
  2. Bidang Penghimpunan, yaitu terbatasnya kegiatan sosialisasi ke berbagai lapisan masyarakat termasuk kepada kalangan pemerintah, swasta dan calon muzakki baik lembaga ataupun perorangan. Hal itu terjadi karena mahalnya biaya sosialisasi dan sumber biaya sosialisasi yang sangat terbatas.
  3. Bidang pendistribusian dan pendayagunaan, yaitu penistribusian zakat maupun  infak kepada fakir miskin dan asnaf lainnya mengalami kendala dalam hal survey lokasi  dimana kaum mustahik itu berada karena memerlukan alamat yang jelas, data-data pendukung berupa identitas diri, dan data-data usaha bagi pemohon modal usaha.
  4. Bidang keuangan yaitu pembuatan program dengan biaya-biaya yang diperlukan semacam Rencana Kegiatan dan Anggran Tahunan (RKAT) serta pelaporan dari Baznas Kabupaten/Kota dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang seharusnya memberikan laporan ke Baznas baik itu hasil penghimpunan, pendistribusian maupun pendayagunaan, terasa selama ini belum berjalan lancar, padahal Baznas harus menyampikan laporannya kepada pemerintah dan Baznas RI secara berkala.
  5. Bidang manajemen dan SDM, yaitu tatakelola manajemen dan administrasi Sumberdaya Manusia dirasakan masih belum kuat akibat keterbatasan penambahan wawasan dan keterampilan pengelola dan perangkat pendukung lainnya seperti sarana pendidikan bagi pelaksana, keterampilan mustahik dan biaya operasional Baznas itu sendiri. (selangkapnya bisa dilihat pada https://www.muisumut.com/blog/2019/06/02/zakat-dan-persoalannya/)

Pada penyaji  kedua tentang “Kewajiban Mengkonsumsi Makanan Halal dan Fatwa MUI Seputar Makanan Halal”  disampaikan oleh Prof. Dr. Basyaruddin,  yang merupakan Direktur LPPOM MUI Sumatera Utara dan juga Kordinator Dewan Riset Daerah Sumatera Utara. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan; “makanan dan minuman bagi manusia adalah sunnatullah, baik kebutuhannya (tidak dapat menghindar dan kontinu) maupun jenisnya (komposisi kimia bahannya). Oleh karena itu, manusia tidak dapat menghindari ketergantungannya terhadap makan dan minum sebagai ketepatan Allah SWT. Makanan dan minuman berdampak langsung atau tidak langsung terhadap sikap manusia. Makanan yang halal baik menumbuhkan sikap kebaikan. Dalam al Quran terdapat sekurang-kurangnya ada 4 aspek yang berhubungan dengan peran makanan halal-thayyib terhadap pembentukan sikap manusia. Keempat peran makanan halal-thayyib tersebut meliputi: (1) menumbuhkan amal shaleh, (2) membangun kesyukuran kepada Allah SWT, (3) menumbuhkan taqwa kepada Allah SWT, dan (4) menghindari langkah syaithan (perbuatan maksiat).”

Lebih lanjut beliau menyampaikan banyak hal terkait:

1. Produk halal/subhat menyerang Umat Islam

2. Penyembelihan harus berstandar sertifikasi halal sesuai fatwa MUI No 12 Tahun 2009 (downloud fatwa)

3. Stunning hanya boleh apabila tidak menyebabkan kematian dan cacat permanen, dai ini biasanya untuk hewan yang besar seperti lembu Australia bukan untuk lembu Indoneia, maka MUI menganulir stunning. hukum penggelonggonan hewan adalah haram

4. Fatwa Kepiting (F-MUI, 2002)

5. Makan dan Minuman bercampur Najis (F MUI, 1980)

6. Cacing (F-MUI, 2000)

7. Jangkrik (F-MUI, 2008)

8. Kodok (F-MUI, 1984)

9. Bekicot (F. MUI No., 24, 2014)

10. Kopi Luwak (F-MUI, No 7 Tahun 2010)

11. Sarang Burung Walet (Fatwa MUI No 02 Tahun 2012)

FATWA SEPUTAR MINUMAN

1. Tentang Alkohol (F-MUI, N0 11 Tahun 2009)

2. Air Daur Ulang (F-MUI 02 tahun 2010)

FATWA BAHAN TAMBAHAN DAN BAHAN KIMIA

1. Pewarna makanan dan minuman dari serangga cochineal

2. Formalin dan Bahan Kimia Berbahaya untuk Pangan (F-MUI, 2012)

3. Formalin dalam Pengelolaan Ikan (F-MUI No 43, 2012

4. Penyedap Rasa Bacto Soytone (F-MUI, 2000), (F-MUI,2001)

Muzakarah khusus Ramadan tersebut ditutup dengan penyampaian dari ketua Umum MUI Sumut Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA