SHALAT JAMAAH DAN RELEVANSINYA DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

0
2.044 views


Oleh: Husnel Anwar Matondang untuk Muzakarah Ramadan MUI SUMUT

I

Menurut asumsi subjektif saya, pada umumnya ketika sesorang Muslim mendengar ungkapan, “shalat jamaah” maka persepsi awalnya selalu tertuju pada suatu kegiatan ibadah -dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan rukun dan syarat tertentu- yang dilakukan secara berkaum (berjamaah) di masjid-masjid. Kerangka generalisasi asumsi ini dilatarbelakangi bahwa telah menjadi tradisi (Sunnah) masyarakat Muslim bahwa tempat untuk shalat berjamaah adalah masjid, kalaupun ada pelaksanaan shalat jamaah di luar tempat itu, maka hal tersebut hanya di luar kebiasaan, seperti di mushalla (tanah lapang)[1] dan di rumah.[2] Kenyataan ini, tentunya menjadikan kesadaran [kejiwaan] kaum Muslim bahwa shalat berjamaah dan masjid adalah satu paket ibadah. Karena itulah, ketika menulis makalah ini maka titik fokus muzakarah kita diarahkan pada terma-terma tersebut, yaitu shalat, jamaah, dan masjid.

Di sini saya harus minta maaf. Sebab, makalah ini tidak akan banyak memenuhi harapan peserta muzakarah. Namun, bagi saya ini telah membuka ruang diskusi di dalam ‘diri sendiri’ yang hingga saat ini pun belum berakhir. Diskusi dari ‘diri sendiri’ inilah yang akan saya tuangkan dalam makalah ini.

Untuk meneruskan diskusi di seputar tema ini, saya sedikit ragu-ragu menentukan pendekatannya. Pendekatan apa yang harus dilakukan? Antropologi kah, atau sosiologi, sejarah, atau mungkin hukum (normatif) saja? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin sederhana, yaitu pilih saja salah satunya, kan selesai perkaranya! “Kok itu saja repot”, –meminjam istilah Alm. Gusdur-!  Memang bagi saya ini meropotkan sekaligus membingungkan. Lihatlah kebingungan itu, dalam diskusi selanjutnya!

II

Jika merujuk judul di atas, maka pendakatan yang paling tepat adalah sosiologi. Betapa tidak, ini kan bicara tentang relevansi dengan salah satu variabelnya adalah masyarakat, maka sosiologi jawaban yang pas! Tetapi, -saya menjadi ragu dengan pilihan ini-, sebab daerah mana yang akan dijadikan sample yang refresentatif sebagai acuan ideal untuk dijadikan suri tauladan sekaligus lokasi objek kajian ini? Di mana di kota yang konon memiliki jargon relegius dan madani ini –selain Ramadan- ada masjid yang disesaki oleh jamaahnya secara konsisten? Jika masyarakat atau jamaah masjid tidak memakmurkan (melaksanakan shalat jamaah) di masjid bagaimana relevansi itu bisa dianalisis dengan baik; yakni ketika orang-orang di sekitarnya tidak mengikatkan diri sebagai peserta rutin shalat jamaah.  Bahkan, ini bisa saja bukan menjadi gejala sosiologis, kalau peserta jamaah hanya dua atau tiga orang![3] Lebih berbahaya lagi, jika hasil penelitian tersebut tidak menunjukkan korelasi positif atau implikasi positif antara shalat jamaah dengan harmonisasi kehidupan bermasyarakat? Ini kan nantinya menjadi masalah!

III

Mungkin pendekatan antropologi, pikirku -di sela-sela mendengar azan shalat ‘Isya` dikumandangkan untuk shalat jamaah di masjid ghair jami’ di sudut kota ini! Astaghfirullah! Masih menjadi beban di pikiranku ketika mulai mengangkat takbir al-ihram dan diam sejenak sebelum membaca doa iftitah. Susah sekali mengkondisikan diri untuk khuyu’ –kendatipun sudah menggunakan tip dari buku “Kiat Shalat Khusyuk” yang pelatihannya –konon- memerlukan jutaan Rupiah itu.” Semoga saja, kebingunan menentukan pendekatan ini, tidak menjadikan saya termasuk sahun sebagaimana yang dijelaskan Allah di dalam surah al-Ma`un.

Antropologi, pikirku sekali lagi ketika selesai shalat! Namun, ini berbahaya sekali untuk reputasiku yang belakangan digadang-gadangkan sebagai ustaz berorientasi salafi. Mengapa, begitu? Tentu ada yang mencoba ikut bingung dan bertanya-tanya! Qultu, “Jika pendekatan itu diterima, berarti kajian ini harus melihat shalat jamaah hanya sebagai gejala budaya, apalagi jika menggunakan teori Sir James Frazer dengan bukunya The Golden Bough, tentang megic dan ritual; atau tiga fasenya, yaitu magic, agama, dan ilmu.[4] Oh, tidak, tidak, tidak mungkin kawan, jawabku pada bisikan hawa nafsu ilmiahku yang tidak lagi terkekang karena sudah berbuka puasa. Lalu, kesadaran imani menjawab, “Shalat jamaah itu adalah ibadah, disunnahkan oleh Nabi saw. berdasarkan bimbingan wahyu, bukan gejala budaya. Anda betul-betul payah, kata sisa-sisa pengetahuan Hermeneutika di salah satu ruang memoriku yang muali terbuka. Bukankah, Alquran saja dikatakan oleh Nashr Abu Zaid sebagai produk budaya, apatah lagi shalat jamaah! “A’uzu billah min zalik.” Saya tersentak dan berazam, “Saya tidak mau membuat hiresi (bidah) pemikiran di tengah-tengah carut-marut pemikiran Islam yang sedang tersodok-sodok oleh paradigma liberalisme, pluralisme, dan spiritualisme saat ini.’ Sebab, sudah terlalu banyak bidah yang terjadi dan disandarkan sebagai ajaran agama  Allah ini. Tuh, lihatlah, tradisi Hindu, Budha, animisme, dan isme-isme lainnya yang menggerogoti ajaran agama ini. Bahkan, ada upaya memberi lipstik islamisasi budaya-budaya syirik tersebut. Sekali lagi tidak, saya menghormati agama ini, akidah saya, dan para pewaris Nabi di sini, yaitu para ulama kita di Majlis Ulama ini. Bahkan saya merasa sangat takut jika saya harus menghadirkan persepsi individu-individu orang-orang yang menjadi objek penelitian.  Sebab, hal tersebut akan memberikan gambaran sangat pribadi dan mungkin saja menentang nash. Lagi-lagi akan terjadi hiresi pemikiran di sini. Padahal persepsi objek kajian dalam antropologi agama sangat penting dan tidak boleh diintervensi dengan penafsiran peneliti. Inilah yang dikatakan seorang antropolog Amerika Ronald A. Lukens Bull, “Biarkan objek berbunyi.”[5]

IV

Lalu, pendekatan apa lagi pikirku, -ketika akan menghantar tidur di malam Ramadan yang penuh berkah ini? Pendekatan sejarah! Aku mencoba menerawang dalam alam imajinasi masa lalu. Lho, kenapa harus sejarah, pikirku. Apa yang bisa disumbangkan dalam muzakarah Tingkat Tinggi ini kalau hanya mencatatkan data-data mentah sejarah masa lalu. Cukup kutipkan saja tentang hadis, atsar, dan syair-syair, dan mungkin maghazi (kalau ada) untuk menjelaskan sejarah shalat jamaah, lalu ditarik-tarik hubungannya dengan masyarakat Muslim saat itu tanpa analisis yang memadai! Maaf kawan, kalau hanya itu, tidak perlu muzakarah, baca saja kitab Tarikh al-Masajid, maka sudah cukup, “kafa bi nafsik.”

Jika mau kontribusi dalam kajian sejarah, maka harus melihat sosio historisnya. Ini yang jarang disumbangkan para pengkaji. Di sinilah kita bisa menemukan korelasi shalat berjamaah dalam kehidupan masyarakat awal kaum Muslim. Namun, -wahai kawan- ini sukar sekali dilakukan. Saya sadar, riak-riak sejarah awal umumnya dicatat hanya pada peristiwa yang terkait dengan ajaran, hukum, peperangan, dan akhlak. Sungguh, jarang sekali mencatatkan sejarah sosial, sebab itulah yang menjadi ciri old history di dunia ini sebagaimana kata Azyumardi Azra dan sebuah seminar. Karena itu, kita tidak tahu secara persis berapa jumlah populasi masyarakat Muslim di kota Madinah pada masa Nabi saw., berapa laki-laki dewasa, dan berapa wanitanya, berapa jamaah aktif di Masjid an-Nabawi. Jika diasumsikan bahwa populasi laki-laki di sekitar kota itu mencapai 1000 orang, lalu bagaimana masjidnya, apakah mampu menampung semua jamaah itu setiap waktu shalat? Kalau tidak mampu menampung jamaah sebesar perkiraan tersebut, lalu di mana sisa yang tidak tertampung itu shalat? Apakah realitas objektif mereka ra. sama seperti kebanyakan umat saat ini, mereka shalat masing-masing di balik rak-rak dan lemari ‘kantornya,’ atau di serambi dapur sambil mengawasi ayam makan jemuran padi, atau sebagian mereka shalat jamaah dua kali setahun, atau mereka tidak shalat dan meng-qadha shalatntya sekali 20 tahun! Jika dirujuk pada kesetian sahabat terhadap agama dan antuisias mereka –sebagaimana di dalam catan-catan sirah-, maka kemungkinan-kemungkinan terakhir ini tidak menyisakan ruang di otak saya untuk menerimanya. Lalu, di mana sebagian sahabat shalat jamaah? Tentu, kemungkinannya adalah shalat di rumah,[6] shalat di masjid-masjid selain masjid Nabawi, seperti masjid Quba`, masjid Jin [?],masjid Dhirar [?], dan saya tidak mendapatkan data lagi masjid apa namanya? Tetapi yang jelasnya Umar ibn al-Khattab tidak setiap waktu ikut pengajian Nabi di Masjid Nabawi yang biasanya dilakukan ketika orang banyak berkumpul, yaitu waktu-waktu setelah melaksanakan shalat.[7] kalau begitu, apakah Umar tinggal di dekat masjid Quba` dan shalat di sana, tentu tidak sebab masjid ini di pinggiran kota Madinah, sementara sejarah mencatatkan Umar bermukim di kota Madinah. Apakah sejumlah masjid yang ada di Madinah saat ini sudah wujud pada masa Nabi? Di sinilah perlunya kajian sosio hostris dalam ranah ini agar sketsa historis sosial tergambarkan sejara baik. Namun, hal ini perlu waktu, perlu data, dan saya tidak memiliki waktu yang cukup dan akses yang memadai untuk melakukannya kendatipun saya punya metodologi.

V

Kalau begitu, bagaimana dengan kajian hukum atau fikih (normatif)? Wah, itu kan sudah dilakukan oleh komisi fatwa. Intisari fikih biasanya khilafiyah itu sendiri. Kalau tidak ada khilaf bukan fikih namanya, itu adalah nash. Setiap ada pendapat yang muncul, maka selalu saja ada pendapat lainnya yang berseberangan. Maka menjawab masalah-masalah furu` dalam fikih tidak terlalu sukar, sebab ‘kaidahnya’ adalah qaulani, atau aqwal, yaitu ada yang mengatakan hukumnya boleh ada yang mengatakan tidak boleh,ini trik menjawab fikih di majlis ta’lim, bagi orang yang lupa objektif masalahnya. Sebab, masalah-masalah furu’ adalah kasus-kasus yang sudah jauh dari literalitas dan kontekstulitas nash. Karena itu, lihatlah buku-buku perbandingan mazhab, kalau tidak percaya. Semakin keujung furu’ masalah fikih itu maka semakin banyak khilafnya. Maka tugas faqih adalah menimbang-nimbang sebagaimana yang dilakukan asy-Sya`rani dengan Mizan I’tidal-nya. Udahlah, pikirku. Inikan tugas para ulama dan komisi fatwa, kalaupun saya ikut-ikutan berfatwa tentang shalat jamaah, paling-paling mengulangi di antara fatwa ulama yang mengatakan wajib shalat jamaah atau sunnah mu`akkadah, atau fardu kifayah. Tidak lebih dari yang tiga ini. Menurutku salah satu buku yang terbaik mendiskusikan khilaf di seputar masalah ini adalah Shahih Fiqh as-Sunnah, karya Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim.

VI

Tidak satu pun dari pendekatan di atas yang kusetujui saat ini untuk mengelaborasi judul yang diminta komisi fatwa MUI di atas. Kalau begitu, bagaimana jika pendekatan tanpa pendekatan? Apa ada? Entahlah, aku sudah lelah dari cengkraman saintifik risetnya ala modernisme. Lagi-lagi pasti tolok-ukurnya berasas pada rancang-bahas materialisme dan positivisme! Lalu, saya berbisik di dalam hati, “Biarkan aku melakukan imajinasi dan mengaktualisasi berbagai kasus dari pengalaman pribadi di seputar hubungan shalat berjamaah dengan kehudupan bermasyarakat? Waw, -gelitik semangat kritisku terhadap sikap ini, “Anda sudah terjebak ke dalam bias psikologi produk modernisme!” Hus! Sergahku kepada wiswas rasioku. “Aku akan menghindarkan diri dari langkah-langkahnya dan prosedur-prosedur penelitiannya,” jawabku di dalam hati. Dan, ini bukan masalah kejiawaan. Ini bukan psikologi, simaklah kasus-kasus berikut ini!

Di suatu ‘Masjid Sunnah’ di kota kita ini, pernah tinggal beberapa orang anak muda dan sejumlah orang tua yang umumnya belum saling mengenal, karena mereka berasal dari beberapa daerah dan beragam etnis. Mereka melakukan iktikaf sepuluh hari Ramadan di masjid itu. Semuanya, menjalin hubungan yang baik kepada Allah dengan rutinitas shalat jamaah, membaca Alquran, berzikir, dan pada saat-saat tertentu, -secara tentatif tentunya- mereka juga bercengkrama masalah agama, pribadi, dan sosial umat Islam. Sehingga, terjalin hubungan yang sangat harmonis di antara mereka. Dan lebih menarik, pada hari kesepuluh, tatkala hampir berakhirnya i’tikaf, salah seorang sosok yang sudah berumur lebih kurang menjelang enam puluh tahun bangkit dan menawarkan anak gadisnya untuk dinikahi bagi siapa pun yang mau menikah dari anak-anak muda peserta i‘tikaf itu. Dengan rada malu-malu ada yang berkeinginan. Akhirnya, pasca Ramadan laki-laki gagah yang berkemauan itu menyunting wanita berprofesi dokter anak dari Bapak yang berusia lebih kurang menjelang enam puluh tahun tersebut.

Ternyata, hubungan antar anggota jamaah yang terbentuk dari kegiatan-kegiatan ibadah mampu memberikan interaksi harmonis dan kepercayaan yang tinggi di antara sesama mereka. Saya kira, jika sepuluh hari begitu berkesan bagi setiap peserta ibadah, maka kalau pertemuan jamaah itu setiap hari, bahkan relatif setiap waktu shalat, maka hubungan itu tentu akan lebih bermakna. Oleh sebab itu, semakin banyak pesertanya tentu semakin banyak yang telah mengikatkan diri dalam hubungan harmonis yang diidealkan itu.

Cerita selanjutnya. Sudah beberapa tahun seseorang yang berpakaian gamis shalat berjamaah di suatu masjid yang tidak mengidentifikasi diri sebagai ‘Masjid Sunnah’. Ia melakukannya secara rutin, bahkan ia berpendapat shalat jamaah di masjid itu wajib. Di rumah Allah yang sama, ditemukan pula seseorang tanpa jenggot yang juga acap kali melaksanakan shalat jamaah. Tetapi, di antara ke dua orang ini tidak ada tanda-tanda harmonisasi yang diidealkan. Bahkan, sudah sekian tahun, di antara mereka tidak saling mengetahui siapa nama sebenarnya, bagaimana keadaan keluarganya, berapa anaknya, apa pekerjaannya, dan seterusnya. Usahkan memberikan anak gadisnya, mengajak minum teh ke rumah masing-masing mungkin tidak terlintas di benak keduanya. Padahal mereka intensif bertemu dan pertemuan itu dalam motivasi ibadah, shalat jamaah.

Namun, di sebalik itu, sesorang yang bergamis itu sangat akrab dan harmonis dengan seseorang yang bergamis lainnya yang juga mewajibkan shalat jamaah di masjid. Mereka sama-sama memberi hadiah, membagi informasi, keceriaan, kesedihan, dan saling mengunjungi. Tidak jauh berbeda juga dengan jamaah yang tanpa jenggot itu, ia kelihatnnya harmonis dengan seseorang yang lainnya yang juga tanpa jenggot. Konon mereka juga satu perwiridan di STM yang sama.  Fenomena apa ini?

Ternyata, tingginya intensitas shalat jamaah di masjid tidak otomatis menyebabkan antar jamaahnya memiliki hubungan harmonis yang diidealkan. Lalu, dari kasus ini disadari bahwa kesamaan simbol identitas lah yang menyebabkan pertemuan ibadah itu berdampak positif terhadap hubungan yang harmonis yang di idealkan. Kesamaan identitas di sini bukanlah hanya pada pakaian atau simbol-simbol, tetapi sesuatu yang lebih subtantif dari itu, yakni mazhab atau manhaj pemikiran keislaman.

Saya masih mau berbagi kisah. Di suatu ruangan sedang duduk beberapa orang yang multi etnis dan paham keagamaan. Mereka di sini diikat oleh ikatan pekerjaan. Dalam kelompok itu, ada yang berjenggot tanpa kumis, ada yang berkumis tanpa jenggot, ada yang berjenggot dan berkumis, serta ada pula yang tanpa jenggot dan kumis seperti wanita. Pokoknya, multi dan ragam etnis, paham, dan simbol-simbol sosial dan aliran paham keagamaan. Namun, mereka semua sama-sama mengaku Islam sebagai great tradition-nya.[8] Kelihatannya, komunitas kecil ini cukup akrab, dan bercengkerama dengan sangat bersahabat dan saling perhatian. Ketika azan berkumandang mereka pun bubar, ada yang memenuhi panggilan azan ke masjid untuk shalat berjamaah, ada yang masuk ke bilik kerjanya untuk shalat sendiri, ada pula yang meneruskan sisa pekerjaannya, ada yang pergi ke kantin untuk makan, ada juga yang mau menjemput anaknya sekolah, poknya macam-macam lah! Namun, yang saya catat, mereka memiliki hubungan yang harmonis.

Ternyata, keragaman etnis dan simbol-simbol dan paham keagamaan tidak menyebabkan disharmonisasi bagi kelompok yang diasaskan pada ikatan pekerjaan, bukan pada tujuan ibadah (shalat jamaah). Namun, jika ikatan (besarnya intensitas) pertemuan diasaskan pada tujuan-tujuan ibadah (shalat jamaah) maka paham keagamaan mempengaruhinya.

VII

Mari tinggalkan kasus-kasus di atas. Sekarang, kita akan menerjemahkan hikmah-hikmah di balik shalat jamaah dan implementasi idealnya bagi kehidupan bermasyarakat.

Keharusan melaksanakan shalat jamaah di masjid memiliki isyarat kepada kaum Muslim untuk hidup dalam lingkup jamaah. Kaum Muslim harus memiliki komunitas kecil dan pada waktu yang lain harus pula memiliki kesadaran untuk membentuk komunitas bersama yang lebih besar, hingga menjadi masyarakat Muslim. Lihatlah, kondisi objektif kaum salaf dari orang-orang yang telah mendahulu kita. Ketika shalat maktubah harian, mereka shalat di masjid-masjid kecil (ghair jami`),[9] tetapi untuk shalat Jumat mereka melaksanakannya di masjid-masjid jami’. Oleh sebab itu, pertemuan (perjumpaan) harian dilangsungkan secara intens antara sesama anggota komunitas kecil di masjid ghair jami’, namun pada hari Jumat komunitas masjid-masjid ghair jami’ berkumpul setiap minggunya di masjid jami’. Mereka bertemu di masjid jami’ tersebut untuk melangsungkan shalat Jumat. Oleh sebab itu, antar komunitas masjid-masjid ghair jami’ secara terjadwal terus melakukan pertemuan mingguan. Ini merupakan ibadah, syiar, dan konsolidasi kaum Muslim.

Jika ada pertemuan harian dan mingguan, maka syariat juga memberikan fasilitas pertemuan tahunan atau dua kali setahun antara anggota komunitas masjid jami’-masjid jami’. Pertemuan akbar itu terjadi di tanah lapang bukan di masjid. Sebab, jumlah kaum Muslim cukup banyak, karena akan menampung berbagai jamaah dari masjid jami’. Pertemuan yang dimaksud adalah shalat ‘Id Adha dan ‘Id al-Fitri secara berjamaah.

Jika kita mendalami tentang konsep jamaah, maka Islam sangat menakankan ajaran ini. Keran itu, Nabi saw. memerintahkan untuk mengikut jamaah kaum Muslim.[10] Beliau melarang seseorang memisahkan diri atau lari dari jamaah.[11] Sungguh, ada tamsil dari baginda Rasul, yaitu orang yang mengisolir diri dari jamaah kaum Muslim laksana ternak yang tertinggal dari gerombolannya. Oleh sebab itu, ia akan dimangsa serigala.[12] Nabi mengatakan umat ini akan terpecah ke dalam 73 tiga golongan, semua akan masuk neraka kecuali satu, yaitu orang yang mengikut Nabi dan al-Jamaah.[13] Karena itu pula, tidak boleh membangun rumah bersama dengan jamaah yang bukan jamaah kaum Muslim. Bahkan, sampai-sampai Nabi mengatakan, jangan saling melihat api dapurnya dengan jamaah kaum lain itu.[14]

Dalam jamaah harus ada pemimpin atau imam. Orang yang mati tanpa berbaiat kepada pemimpin kaum Muslim, matinya laksana mati jahiliyah. Itu artinya, kaum Muslim harus memiliki jamaah dan pemimpin. Banyak, ibadah yang dikaitkan dengan jamaah atau melibatkan orang banyak. Termasuk, shalat jamaah yang menjadi buah bibirkita saat ini.

Shalat jamaah itu sebenarnya memberikan pengajaran kepada kita dalam hal bersosial yang terstruktur dalam mekanisme yang jelas. Di sana ada mu`azzin yang bertugas memangil dan mengumpulkan jamaah. Itu artinya, dalam mengumpulkan manusia harus ada yang menangani urusan ini. Pemanggilan itu dikomunikasikan dengan bahasa yang sama-sama dipahami. Karena itu, membangun masyarakat harus dilakukan secara terbuka dan diintisyarkan untuk segala kalangan dan lapisan. Lebih dari itu, jamaah ditegakkan untuk membesarkan nama Allah dan bukan merendahkan dan menghinakan-Nya. Simaklah lafal azan, “Allahu akbar, Allahu akbar,”

Dalam shalat jamaah ada imam yang harus diikuti. Imam memiliki persyaratan khusus, bukan sembarang orang berhak untuk jabatan ini.  Karena itu, setiap orang harus sadar diri, apakah ia layak jadi imam atau tidak. Jika semua persyaratan telah dipenuhi oleh sejumlah orang, maka orang yang paling faqih dan qari` yang diangkat menjadi imam (memimpin). Pertimbangan lain adalah ia disukai oleh semua atau mayoritas jamaah. Karena itu, orang yang tidak diinginkan jamaah, seyogianya tidak menjadi imam. Ini merupakan pelajaran berharga bagi kaum Muslim dalam mengaktualisasikan shalat jamaah untuk tindakan di luar shalatnya.

Praktik shalat jamaah juga merupakan sebuah pelatihan bagi anggota jamaah (masyarakat) ideal, mereka harus memiliki seorang pemimpin yang mengatur urusan mereka. Dalam shalat jamaah imam harus memulai semua gerakan shalat. Makmun tidak dibenarkan mendahului dan menginterfensi imam kecuali ada kesalahan imam. Kesalahan imam tidak mesti menyebabkannya digusur begitu saja tetapi terlebih dahulu diperingatkan dengan cara-cara yang sudah disyariatkan. Penggusuran imam tidak dibenarkan di dalam shalat jamaah. Imam harus mengundurkan diri jika ia tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai imam atau persyaratan shalat. Imam yang masih melakukan kesalahan diperkenankan untuk terus melangsungkan tugasnya menjadi imam dengan pemberian penalti seperti harus sujud sahwi atau mengganti rakaatnya. Namun, beban dan tanggungjawab kesalahan ini juga harus ditanggung bersama jamaah. Artinya, mereka juga harus ikut sujud sahwi bersama imam. Ini mengajarkan kepada kita tentang kebersamaan dan kolektivitas dalam tanggungjawab umum.

Imam diangkat untuk waktu yang telah ditentukan, yaitu sejak awal shalat hingga akhirnya. Sekali lagi, ia jangan dimaghzulkan sebelum waktunya. Semua hal-ihwal dari shalat jamaah itu seyogianya dapat diterjemahkan dalam kehidupan bermasyarakat yang tertur dan taat asas.

Sebenarnya, sebelum shalat, sang imam harus mempersiapkan makmun untuk mengikutinya. Shaf harus lurus dan rapat, bahu bertemu bahu, dan tumit bertemu tumit. Tidak ada rasa riskan dalam persentuhan ini, jika memang itulah aturan syariat dan apatah lagi juga sudah menjadi kebiasaan. Nabi saw. mengatakan hal itu untuk tidak membuat kesempatan setan menyela shaf dan agar hati jamaah shalat itu bersatu dan tidak terpecah belah. Dengan kata lain, tindakan merapatkan dan meluruskan shalat ini memiliki dampak kejiawaan bagi jamaah di luar shalat secara ghaib. Namun, hal-hal seperti ini sudah tidak diperhatikan lagi oleh kebanyakan kaum Muslim. Mungkin karena itu, shalat jamaahnya tidak lagi menyatukan hati-hati mereka.

VIII

Rasanya ingin terus mendiskusikan tema ini. Tetapi, hanya ini sisa waktu yang tersedia. Jam 11 wib tanggal 18 Agustus siang, akhi dari pengurus MUI sudah menelepon agar mengantarkan makalah ini secepatnya.  Namun, yang terpenting, tuntunan yang diberikan Allah kepada manusia seperti shalat jamaah tersebut tentu memiliki relevansi positif terhadap kehidupan bermasyarakat, yaitu mashlahah. Namun, ada dua hal yang perlu diperhatikan, apakah manusia menjalankan syariat itu telah memenuhi kriteria ikhlas kepada Allah dan apakah ia telah mengikut petunjuk yang diajarkan oleh syariat tersebut (ittiba’).  Wallahu a’alam


[1] Mialnya kasus shalat ‘Id la-Fithri dan ‘Id al-Adhha seperti hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz I, h. 331.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ . وَعَنْ أَيُّوبَ عَنْ حَفْصَةَ بِنَحْوِهِ . وَزَادَ فِى حَدِيثِ حَفْصَةَ قَالَ أَوْ قَالَتِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ ، وَيَعْتَزِلْنَ الْحُيَّضُ الْمُصَلَّى

Para ulama seperti Abu Malik menjelaskan bahwa mushalla tersebut adalah shahra`, yaitu tanah lapang. Lihat Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Juz, I, h. 601.

[2] Dalam hadis Nabi saw. disebutkan indikasi kebolehan shalat di rumah. Namun, di masjid lebih diutamakan. Bahkan, ketika seseorang telah shalat di rumahnya, maka ketika ia menjumpai di masjid shalat wajib sedang dilaksanakan ia disunnahkan untuk melaksanakan shalat jamaah. Misalnya riwayat an-Nasa`i dan disahihkan oleh al-Albani, lihat Sunan an-Nasa`i, Juz II, h. 112:

إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ

[3] Dalam kaitan ini, seorang sosiologi, Joan Ferrante sangat baik menggambarkan arus masyarakat dalam sebuah sketsa kasus berikut: Ketika seorang laki-laki atau wanita menjadi pengangguran di dalam sebuah kota yang berpenduduk 100.000 orang, maka itu hanya menjadi masalah pesonal, tetapi jika yang menjadi pengangguran itu mencapai 50.000 orang maka ini telah menjadi issu sosial. Issu adalah sejumlah hal yang hanya dapat dijelaskan dengan faktor-faktor di luar sebuah kontrol individual dan lingkungan terdekatnya. Oleh sebab itu, issu relevansi shalat berjamaah dengan harmonisasi kehidupan masyarakat di sini tidak relevan untuk kasus masyarakat ketika mereka tidak melkukan kegiuatan itu secara massal. Lihat Joan Ferrante, Sosiology A Global Perspektive, h. 4-5. Justru dalam kasus ini yang menarik diteliti secara sosiologis adalah mengapa masyarakat muslim meninggalkan shalat jamaah di masjid.

[4]David C. Gellner, Pendekatan Antropologis, di dalam Aneka Pendekatan dalam Studi Agama, editor Peter Connolly, h.17.

[5] Disampaikan oleh Ronald A. Lukens Bull, dalam bimbingan penelitian antropologi dalam studi Teori Agama-Agama di AFI PPs IAIN-SU, tahun 2009.

[6] Shalat di rumah tanpa alasan syar`i tentu mendapat kecaman masyarakat saat itu, sebab Nabi memberikan ancaman bagi orang-orang yang tidak shalat berjamaah di masjid. Padahal, Nabi saat itu adalah sentral ikutan, orang yang paling disegani dan paling dikasihi. Demikian pula Abu Bakar mengecam keras anaknya yang laki-laki yang tidak shalat berjemaah ke masjid, dan lainnya. Di antara hadis yang mengecam tidak melaksanakan shalat jamaah di amsjid adalah riwayat Abi Hurairah. Lihat al-Bukhari, Juz I, h. 231.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِى الزِّنَادِ عَنِ الأَعْرَجِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ »

[7] Data tentang Nabi ceramah setelah shalat dapat dilihat pada kasus hadis ‘Irbadh bin Sariyah. Saat itu, sehabis shalat nabi berbalik ke arah makmum dan berwasiyat.

[8] Masalah yang mesti dipecahkan oleh seorang anthropologi Islam adalah pengorganisasian konseptual tentang keberagaman (diversity) di dalam Islam. Pembagian tradisi besar (great radition) dan tradisi kecil (little tradition) merupakan cara untuk menyelesaikan problematika di sepuatar keberagaman tersebut. Istilah ini dipopulerkan oleh Robert Redfield, namun dikritik oleh Bowen (1993). Lihat Ronald A. Lukens Bull, Beetwin Text And Practice: Considerations In The Antrhopologycal Study cf Islam, di dalam Marburg Journal of relegion, vpl 4, No. 2, Des. 1999, h. 5-7.

[9] Departemenagama memiliki beberapa istilah tentang kategorisasi masjid, ada mushalla, langgar, masjid jami, masjid raya, dan agung.

[10] Lihat hadis Muslim, Juz III, h. 1474:

حَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنِى بُسْرُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِىُّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ يَقُولُ كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِى فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِى جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ « نَعَمْ » فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ « نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ ». قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ « قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِى وَيَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِى تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ ». فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ « نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا ». فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ « نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا ». قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِى ذَلِكَ قَالَ « تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ ». فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ قَالَ « فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ ».

[11] Lihat Muslim, Ibid:

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ – يَعْنِى ابْنَ حَازِمٍ – حَدَّثَنَا غَيْلاَنُ بْنُ جَرِيرٍ عَنْ أَبِى قَيْسِ بْنِ رِيَاحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِى يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِى لِذِى عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَلَسْتُ مِنْهُ ».

[12] Lhat hadis riwayat Abi Darda`. Lihat Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Juz I, h. 205:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ حَدَّثَنَا السَّائِبُ بْنُ حُبَيْشٍ عَنْ مَعْدَانَ بْنِ أَبِى طَلْحَةَ الْيَعْمُرِىِّ عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فِى قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ ». قَالَ زَائِدَةُ قَالَ السَّائِبُ يَعْنِى بِالْجَمَاعَةِ الصَّلاَةَ فِى الْجَمَاعَةِ.

[13] Lihat hadis riwayat at-Tirmizi, (asy-Syamilah) Juz X, h. 139:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِىُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِىِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادِ بْنِ أَنْعُمَ الإِفْرِيقِىِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِى مَا أَتَى عَلَى بَنِى إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِى أُمَّتِى مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِى إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى ».

Dalam riwayat yang lain terdapat redaksi al-Jamaah. Namun redaksi di atas lebih kuat kedudukannya.

[14]Lihat