HUKUM VASEKTOMI DAN TUBEKTOMI SEBAGAI ALAT KONTRASEPSI MANTAP MENURUT ISLAM

0
3.565 views

Oleh: Dr. H. Ramlan Yusuf Rangkuti, M.A.*

Pendahuluan

Berdasarkan perkiraan statistik, pada tahun 2000 jumlah penduduk dunia ± 7 milyard, yang sebelumnya (1970) baru berjumlah 1000 juta orang. Angka-angka ini menunjukkan terjadinya ledakan penduduk yang sangat dahsyat yang oleh para ahli kependudukan disebut “Population Explotion”. Sementara itu di Indonesia, bila pertambahan penduduk 2,5% pertahun sejak 1980, maka jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 diperkirakan mencapai 240 juta jiwa.

Ledakan penduduk yang dahsyat itu oleh para ahli dan pengamat kependudukan akan menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan ummat manusia pada masa yang akan datang.

Lester R. Brown, Patricial L.Mc Grouth dan Bruce Strokes dalam sebuah tulisan yang berjudul “Twenty Two Dimensions of the Population Problem”, menyimpulkan bahwa terdapat 22 dimensi masalah kependudukan yang mempengaruhi hubungan antara pertumbuhan penduduk dengan: 1. Tingkat pendidikan, 2. Perikanan laut, 3. Rekreasi alam, 4. Polusi, 5. Inflasi, 6. Penyakit yang disesbabkan lingkungan, 7. Bahaya kelaparan, 8. Perumahan, 9. Perubahan iklim, 10. Penggunaan tanah, 11. Kepadatan lingkungan, 12. Tingkat penghasilan, 13. Urbanisasi, 14. Penebangan hutan, 15. Konflik politik, 16. Masalah air, 17. Pengangguran, 18. Ancaman kepunahan, 19. Pelayanan kesehatan, 20. Sumber tenaga kerja, 21. Bahan-bahan mineral, 22. Kebebasan individu.

Musyawarah Nasional Ulama tentang Kependudukan, Kesehatan dan Pembangunan yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 10-13 Muharram 1404 H. (17-20 Oktober 1983 M.) telah memutuskan berbagai hal, antara lain:…..3. Pertambahan penduduk yang tidak terkendalikan mengakibatkan timbulnya berbagai masalah, antara lain terjadinya konflik ekonomi dan konflik sosial. Untuk mengatasi hal tersebut perlu ditempuh berbagai jalan antara lain melalui keluarga berencana dan pemindahan penduduk.

Pengertian dan Tujuan Keluarga Berencana

Keluarga Berencana adalah istilah resmi yang dipakai didalam lembaga-lembaga Negara kita seperti Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Istilah “Keluarga Berencana” ini mempunyai arti yang sama dengan istilah yang umum dipakai di dunia Internasional, yakni “Family Planning” atau “Planned Parenthood”, seperti “International Planned Parenthood Federation (IPPF)”, nama sebuah organisasi Keluarga Berencana tingkat internasional, dengan kantor pusatnya di London. Dalam bahasa Arab, Keluarga Berencana disebut dengan istilah “Tanzim al-Nasl”, bukan “Tahdid al-Nasl” atau “Birth Control” (Inggris).

Secara umum, Keluarga Berencana berarti pasangan suami isteri yang telah mempunyai perencanaan yang konkrit mengenai kapan anaknya lahir agarsetiap anaknya yang lahir itu disambut dengan rasa gembira dan syukur. Dan pasangan suami isteri itu juga telah merencanakan berapa anak yang dicita-citakan, yang disesuaikan dengan kemampuannya sendiri dan situasi-kondisi masyarakat dan negaranya. Jadi Keluarga Berencana itu dititikberatkan pada perencanaan, pengaturan dan pertanggungjawaban orang terhadap anggota-anggota keluarganya.

Salah satu keputusan Musyawarah Nasional Ulama tanggal 17-20 Oktober 1983 ditemukan pengertian dan tujuan Keluarga Berencana itu, antara lain disebutkan:…”1. Keluarga Berencana adalah suatu ikhtiar atau usaha manusia untuk mengatur kehamilan dalam keluarga, serta tidak melawan hukum Agama, Undang-undang Negara dan moral Pancasila, demi untuk mendapatkan kesejahteraan keluarga khususnya dan kesejahteraan Bangsa pada umumnya”.

Dalam Tap. MPR No.IV/MPR/1978 tentang GBHN disebutkan, bahwa Program Keluarga BErencana bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan keluarga bahagia yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat yang sejahtera dengan mengendalikan kelahiran, sekaligus dalam rangka menjamin terkendalinya pertambahan penduduk Indonesia. Didalam berbagai kebijakan Pemerintah — sebagai penjabaran dari Tap. MPR. Tersebut, disebutkan pula tujuan program Keluarga Brencana itu antara lain: untuk menurunkan tingkat kelahiran sekaligus mendukung program pengendalian laju pertambahan penduduk; dan untuk melembagakan serta membudayakan Norma Keluarga Kecil yang Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).

Dari data-data yang dikemukakan diatas dapat disimpulakan bahwa: 1. Keluarga Berencana (Tanzim al-Nasl) ialah suatu usaha manusia untuk mengatur keturunan (kehamilan/kelahiran). 2. Tujuan Keluarga Berencana itu ialah untuk kesejahteraan keluarga pada khususnya dan bangsa pada umumnya.

Pendapat para Ulama tentang hukum Keluarga Berencana

A. Rahmat Rosyadi dan Soeroso Dasar, mengutip pendapat para ulama (Muhammad Yusuf Al-Qardawi), Abdurrahman Abdullah al-Farizi dan Dr. Abdussalam Natkur yang membolehkan program Keluarga Berencana dengan syarat-syarat tertentu, yang pada pokoknya untuk kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak. Namun mereka menolak program Kelaurga Berencana bila didasarkan atas ketakutan kefakiran dan kemiskinan serta dilakukan dengan cara yang mengakibatkan kemandulan yang tetap.

Mahmud Syaltut, dalam tulisannya tentang “Tanzim al-Nasl” lebih dulu menjelaskan bahwa kejadian ini pada mulanya dahulu (‘Ibarat al-qadim) kebanyakan ditulis dengan judul “Al-Azl”, kemudian belakangan (‘Ibarat al-Hadis) kebanyakan ditulis dengan judul “Tahdid al_Nasl”, dan sekarang ditulis dengan judul “Tanzim al-Nasl”. Judul-judul tersebut kata Syaltut, semuanya hanya membahas suatu masalah, yaitu “Apakah boleh mencegah kehamilan dalam keadaan tertentu saja atau secara umum?”. Imam al-Gazali, demikian Syaltut, berpendapat bahwa mencegah kehamilan itu mubah karena anak itu merupakan hak Bapak, kecuali motifnya dilarang agama — seperti takut lahir anak perempuan – maka pencegahan kehamilan itu dilarang. Ulama Hanafiyah membolehkan pencegahan kehamilan itu dengan syarat harus ada izin dari isteri, karena anak itu merupakan hak suami isteri (ibu dan bapak). Jumhur Ulama, kata Syaltut, memandang pencegahan kehamilan itu makruh bila dilihat adanya hak ummat (negara) pada anak itu, dan haram suami melakukan ‘azl bila tanpa kerelaan isteri, karena dilihat bahwa anak itu merupakan hak suami isteri (ibu dan bapak). Namun secara umum kata Syaltut, Jumhur membolehkan pencegahan kehamilan bila ada hajat penting, seperti suami isteri itu ikut berperang. Sementara itu, Ibn Hibban, Ibn Hazm, kata Syaltut, mengharamkan pencegahan kehamilan secara mutlak, karena mereka memandang hak ummat (negara) terhadap anak itu lebih kuat dari pada hak ibu-bapak (suami isteri).

Pendapat Syaltut sendiri akan tampak dengan jelas dalam kitabnya “Al-Fatawa”. Dengan judul “Al-Nasl baina Al-Tahdid wa al-Tanzim”, Mahmud Syaltut mengemukakan bahwa, kalau program Keluarga Berencana itu dimaksuskan sebagai usaha pembatasan anak dalam jumlah tertentu, misalnya hanya 2 anak untuk setiap keluarga dalam segala situasi dan kondisi tanpa kecuali, maka hal tersebut bertentangan dengan syariat Islam, hukum alam, dan hikmah Allah menciptakan manusia ditengah-tengah alam semesta ini agar berkembang biak dan dapat memanfaatkan karunia Allah yang ada di alam semesta ini untuk kesejahteraan hidupnya. Tetapi jika program Keluarga Berencana itu dimaksudkan sebagai usaha pengaturan/penjarangan kelahiran, atau usaha pencehgahan kehamilan sementara atau untuk selamanya, sehubungan dengan situasi dan kondisi khusus, baik untuk kepentingan keluarga yang bersangkutan maupun untuk kepentingan masyarakat dan Negara, tidak dilarang oleh agama. Misalnya suami dan / isteri menderita penyakit berbahaya yang bisa menurun kepada keturunannya.

Dari uraian diatas, tampak adanya keanekaragaman pandangan para ulama tentang hukum  dan hal-hal yang berkaitan dengan program Keluarga Berencana itu (Tanzim al-Nasl).

Berkenaan dengan itu, pada tempatnyalah kalau dilakukan penelitian sejauh mana isyarat-isyarat al-Quran berbicara tentang masalah ini. Oleh karena itu masalah pokok yang akan dibahas dalam makalah ini ialah: Apakah ada isyarat-isyarat al-Quran yang berkaitan dengan masalah Keluarga Berencana?, dan kalau ada, bagaimanakah masalah Keluarga Berencana ini menurut pandangan al-Quran?.

Ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan masalah Tanzim al-Nasl (Keluarga Berencana).

Secara eksplisit tidak ditemukan dalam ayat-ayat al-Quran kalimat Tanzim al-Nasl (Keluarga Berencana), namun secra implisit dapat dipahami adanya isyarat-isyarat ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan masalah ini. Ayat-ayat tersebut antara lain:

  • Q.S. An-Nisa’ (4) : 1,

“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”.

  • Q.S. Al-Hujurat (49) : 13,

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal”.

  • Q.S. Ar-Rum (30) : 21,

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesunggungnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

  • Q.S. An-Nahl (16) : 72,

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberi rezki dari yang baik-baik”.

  • Q.S. Al-Furqan (25) : 74,

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturuanan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”.

  • Q.S. Ali Imran (3) : 38,

“Disana Zakariya mendoakan kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berikanlah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa”.

  • Q.S. Al-Kahfi (18) : 46

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…”

  • Q.S. Al-Hadid (57) : 20,

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak…”

  • Q.S. At-Tagabun (64) : 14-15,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka;…”

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu):…”

  • Q.S. Al-Munafiqun (63) : 9,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-oarang yang rugi”.

  • Q.S. Al-Mujadalah (58) : 17,

“Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah…”

  • Q.S. Asy-Syu’ara’ (26) : 88,

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna”.

  • Q.S. An-Nisa’ (4) : 9,

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka nak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

  • Q.S. Al-Baqarah (2) : 233,

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya, dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepda Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Meliaht apa yang kamu kerjakan”.

  • Q.S. Luqman (31) : 14,

“Dan Kami perintahkan kepada manusia terhadap dua orang ibu bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya       kepada-Ku lah kembalimu”.

  • Q.S. Al-Ahqaf (46) : 15,

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

  • Q.S. At-Tahrim (66) : 6,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. …”

  • Q.S. An-Nur (24) : 33,

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”. ….”

Analisa dan Pembahasan

Masih banyak ayat-ayat al-Quranyang dapat dipahami bahwa makdus dan tujuannya sama dengan ayat-ayat yang dikutip diatas, namun untuk dianalisa dalam makalah ini ayat-ayat tersebut dipandang sudah memadai untuk mewakili ayat-ayat lainnya.

Ayat-ayat tersebut diatas ada yang termasuk kelompok ayat-ayat Makkiyah, yaitu: Q.S. 30:21, 16:72, 25:74, 18:46, 26:88, 31:14, sedang yang termasuk kelompok Madaniyah ialah: Q.S. 4:1, 49:13, 3:38, 57:20, 64:14-15, 63:9, 58:17, 4:9, 2:233, 46:15, 66:6, 24:33, Kendatipun ada ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, tampaknya tidak ditemukan ayat-ayat yang saling bertentangan dan nasikh mansukh, bahkan melengkapi dan menyempurnakan.

Bila kita analisa ayat-ayat tersebut diatas akan tampak hal-hal sebagai-berikut: Q.S. 4:1, 49:13, 30:13, 30:21, 16:72, menunjukkan hikmah Allah menciptakan manusia ditengah-tengah jagat raya ini ialah agar berkembang biak dan dapat memanfaatkan karunia Allah yanga ad di alam semsta ini untuk kesejahteraan hidupnya. Sunnatullah menetapkan bahwa pengembangbiakan itu lewat perkawinan, karena itulah Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan hidup untuk membuhul cinta dan kasih sayang. Dari perkawinan itu diharapkan lahir anak-anak dan cucu-cucu sebagai generasi penerus, pelanjut keturunan. Dari anak cucu ini berkembang menjadi kelompok-kelompok, suku-suku dan bangsa-bangsa, yang satu dengan yang lain saling bekerja sama dalam membentuk suatu masyarakat yang damai dan sejahtera. Begitu pentingnya perkawinan sebagai sarana pengembangbiakan manusia, akan nampak lebih jelas dalam hadis-hadis Nabi yang memerintahkan kawin bagi orang-orang yang mampu. Misalnya: H.R. Bukhari dan Muslim: Bahkan bagi orang-orang yang bermaksud untuk tidak kawin tanpa alasan yang dapat diterima diancam Nabi dengan sabdanya dalam H.R. Bukhari dan Muslim:

Dalam pada itu, bagaimana pentingnya kehadiran dan kedudukan anak dalam kehidupan manusia, nampak dengan jelas dalam Q.S. 18:46, 57:20, sebagai perhiasan dan kebanggaan. Bahkan bukan hanya sekedar perhiasan dan kebanggaan didalam kehidupan dunia ini tetapi juga dalam kehidupan kelak di hari akhirat. Hal ini dapat dilihat dalam sabda Nabi: H.R. Ahmad, yang disahihkan Ibn Hibban,

Namun harus diingat pula, bahwa dalam Q.S. 64:14-15, dinyatakan bahwa anak-anak itu sesungguhnya merupakan cobaan (fitnah), bahkan sebahagian dari padanya menjadi musuh dalam kehidupan. Oleh karena itu, dalam Q.S. 63:9 Allah mengingatkan agar orang-orang yang beriman jangan sampai lalai meningat Allah dengan kehadiran anak-anak itu. Sebab, anak-anak itu menurut Q.S. 58:17 dan Q.S. 26:88 tidak akan berguna bagi ibu bapaknya kelak di akhirat, oleh karena anak-anak itu tidaka akn dapat membebaskan ibu bapaknya dari azab Allah.

Mengingat kedudukan anak dalam kehidupan ini – seperti diuraikan di atas – tidak bersifat netral, maka Allah dalam Q.S. 3:38 dan Q.S. 25:74 menjelaskan bahwa anakketurunan yang didambakan itu ialah zurriyatan tayyibah (anak yang saleh sebagaimana salehnya Maryam) dalam doa Zakaria itu, dan sesungguhnya kehadiran anak yang saleh itu akan mendatangkan kesenangan hati dan ketenteram batin. Sebab itu Q.S. 2:233 mengisyaratkan agar kehadiran anak-anak di tengah-tengah keluarga itu jangan sampai menimbulkan penderitaan kepada ibu, bapak dan ahli warisnya.

Masalah yang muncul ialah bagaimana caranya memperoleh dan menjadikan anak keturunan yang saleh itu? Tentu peranan dan tanggung jawab ibu bapak sangat menentukan. Kepada ibu bapak dituntut berbagai kewajiban. Bukan hanya untuk membiayai kebutuhan makan dan minum anak itu sekedar mampu bertahan hidup, atau hanay sekedar menyediakan pakaian dan tempat tinggalnya saja, tetapi lebih dari itu, ibu bapak dituntut memeliharanya dengan penuh kasih sayang, mendidik dan membiayai pendidikannya, serta menyediakan semua sarana dan prasarana yang memungkinkan anak itu sehat fisik dan mentalnya. Itulah yang diisyaratkan secara umum dan tersirat dalam Q.S. 66:6, dan secra rinci banyak ditemukan dalam hadis-hadis Nabi, antara lain: H.R. Turmuzi dan Abu Daud, Rasulullah S.A.W. bersabda. Demikian juga dalam H.R. Al-Hakim, Nabi bersabda:

Bila kewajiban-kewajiban orang tua tersebut tidak dapat mereka laksanakan karena banyaknya anak dan rapatnya jarak kelahiran, serta keterbatasan kemampuan mereka memenuhi keperluan hidup dan kehidupan anak-anak mereka, tentu akibatnya anak salih yang didambakan dan dibanggakan ibu bapaknya dalam kehidupan ini, serta ummat yang banyak yang akan dibanggakan Rasul kelak di akhirat, tidak akan tercapai dan terpenuhi. Bahkan yang akan muncul adalah anak-anak yang tidak salih, generasi generasi ummat yang lemah fisik dan mentalnya, menyusahkan ibu bapaknya serta masyarakat dalam kehidupan didunia ini, dan memalukan Nabi kelak di hari kemudian. Oleh karena itu, Allah telah memperingatkan hal ini dalam Q.S. 4:9 agar orang tua jangan sampai meninggalkan anak keturunan mereka dalam keadaan lemah, karena mereka tidak memberikan warisan kepada anak-anak mereka yang masih kecil-kecil — sebagaimana kebiasaan Arab Jahiliyah — dan jangan mereka mewasiatkan harta mereka secara berlebihan yang menyebabkan anak-anak mereka lemah, meminta-minta, tidak mempunyai bekal untuk membiayai kebutuhan hidup mereka. Pernyataan yang senada ditemukan pula dalam berbagai hadis, antara lain: H.R. Bukhari dan Muslim, Rasullah S.A.W. bersabda:

Hadis ini memberi petunjuk bahwa faktor kemampuan suami isteri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya hendaknya dijadikan pertimbangan mereka yang ingin menambah jumlah anaknya. Bahkan faktor kemampuan memikul beban keluarga dapat dijadikan pertimbangan oleh seseorang untuk menunda perkawinannya, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. 24:33. Selain dari itu, dalam H.R. Muslim, Rasulullah S.A.W. bersabda:

Bahkan banyaknya ummat Islam tapi tidak mempunyai kualitas yang baik adalah sesuatu yang tidak diharapkan dan dikhawatirkan Nabi bahwa pada suatu ketika hal itu akan terjadi pada ummat Islam. Dalam H.R. Muslim, Rasulullah S.A.W. bersabda:

Kedua hadis tersebut memberi petunjuk, bahwa Islam lebih menghargai kualitas dari pada kuantitas. Dan yang dimaksud dengan orang mukmin yang kuat dalam hadis itu ialah orang mukmin yang mempunyai kekuatan mental maupun fisik, moril maupun materil, sehingga benar-benar dapat mencerminkan kekuatan Islam itu sendiri. Dan sebaliknya, kuantitas yang tidak dibarengi dengan kualitas justru membahayakan dan dijadikan mangsa oleh ummat yang minoritas tapi berkualitas.

Dari uraian dan analisa di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan ibu bapak (suami isteri) untuk membiayai kebutuhan anak-anaknya, baik sandang, pangan, papan maupun biaya pendidikan dan pemeliharaan anak-anak itu sehingga mereka kuat fisik dan mentalnya, moril dan materilnya, dapat dijadikan salah satu alas an untuk membolehkan ibu bapak (suami isteri) merencanakan berapa jumlah anak-anak yang mereka harapkan sesuai dengan kemampuan mereka. Masalahnya bagaimanakah ukuran kemampuan itu? Jelas tidak ditemukan ukuran yang absolute dan pasti, oleh karena itu ukurannya relative dan akan bervariasi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Untuk ini tentu diharpkan kecermatan, kematangan, kejujuran dan keikhlasan dari kedua ibu bapak (suami isteri) yang bersangkutan.

Bagaimana cara yang dapat dilakukan oleh ibu bapak (suami isteri) untuk mewujudkan rencana mereka itu? Insya Allah akan terungkap pada uraian dibawah ini.

Bila dianalisa pula Q.S. 2:233, 31:14, 46:15, dapat disimpulkan beberapa hal pokok:

  1. Lamanya masa penyusuan yang sempurna bagi seorang bayi adalah dua tahun. Bila ada keinginan untuk menyapih anak itu sebelum dus tahun, hukumnya mubah, tapi diisyaratkan harus atas musyawarah dan persetujuan kedua suami isteri itu.
  2. Seorang ayah (suami) sebagai kepala keluarga wajib bertanggung jawab atas kebutuhan atas kebutuhan dan kesejahteraan anak-anak dan isterinya.
  3. Seorang ibu tidak dibenarkan menderita karena anaknya, demikian pula ayahnya dan ahli warisnya.
  4. Seorang ibu cukup menderita selama 30 bulan, yaitu selama hamil, melahirkan dan menyusukan anaknya.

Bila hal-hal tersebut dianalisa dalamkonteks kajian ini, maka ayat-ayat tersebut memberi isyarat perlunya melaksanakan Keluarga Berencana (Tanzim al-Nasl)

Ibu bapak (suami isteri) hendaknya mengatur jarak antara dua kehamilan/kelahiran minimal selama 30 bulan. Tenggang waktu selama 30 bulan itu sesungguhnya baru dilihat dari kepentingan si anak untuk dapat menyususelama dua tahun penuh. Hal ini memang sangat penting bila dilihat dari aspek kesehatan, karena tidak ada makanan yang lebih baik gizinya bagi seorang bayi selain dari air susu ibu (ASI). Namun bila dilihat pula dari segi kepentingan si ibu, tenggang waktu 30 bulan itu dipandang masih kurang, karena diisyaratkan bahwa selama 30 bulan itu seorang ibu berada dalam penderitaan. Bila kehamilan/kelahiran berjalan terus sekali dalam setiap 30 bulan, berarti seorang ibu selama masih mampu melahirkan, selama itu pula ia berada dalam penderitaan, dan tidaka da waktu bagi sang ibu untuk beristirahat dari penderitaan itu walau untuk mengembalikan tenaga dan kesehatan tubuhnya. Tentu kondisi ini menimbulkan penderitaan terus menerus bagi sang ibu, yang oleh al-Quran dinyatakan agar kehadiran seorang anak jangan sampai mengakibatkan penderitaan bagi ibunya. Sebab itu, sesungguhnya tersirat dalam ayat-ayat tersebut keharusan memberi waktu — diluar minimal 30 bulan itu — yang dapat dipergunakan sang ibu untuk mengembalikan kondisi kesehatan tubuhnya. Batas waktu itu relatif, tergantung kepada kondisi dan kesiapan fisik dan mental sang ibu. Oleh karena itu, faktor kesehatan dan kemampuan ibu untuk melahirkan dibawah waktu 30 bulan menjadi salah satu pertimbnagan dibenarkan melakukan pengaturan kehamilan/kelahiran (Tanzim al-Nasl).

Dalam pada itu, dituntut pula peranan seorang ayah/suami untukturut serta mengatur jarak kelahiran/kehamilan, sebab untuk menyapih anak sebelum dua tahun diharuskan ada musyawarah dan persetujuan diantara dua ibu bapak/suami isteri yang bersangkutan. Tambahan lagi dengan adanya pernyataan bahwa ayah tidak boleh teraniaya dan menderita karena kelahiran anak-anak yang tidak direncanakan itu, sebab banyaknya anak akan menuntut berbagai kebutuhan hidup yang menjadi beban dan tanggung jawan sang ayah. Oleh karena itu pulalah seorang ayah harus mempertimbangkan kemampuannya untuk memenuhi semua kebutuhan anak-anak dan isterinya dengan jumlah anak yang direncanakan, sehingga mereka hidup dalam kesejahteraan. Bahkan diingatkan pula agar kelahiran anak-anak itu jangan sampai mendatangkan penderitaan dsan kesengsaraan bagi ahli waris.

Adapun cara bagaimana mengatur jarak tenggang waktu kehamilan/kelahiran dengan kehamilan/kelahiran berikutnya tidak diatur dalam al-Quran. Namun di dalam hadis-hadis hal tersebut dapat ditemukan, antara lain dengan melakukan ‘azal. Misalnya: H.R. Bukhari dan Muslim dan H.R. Muslim.

Kedua hadis tersebut jelas menunjukkan bahwa ‘azal yang dilakukan orang dalam rangka usahanya menghindari kehamilan, dapat dibenarkan oleh al-Quran, sebab sekiranya ‘azal itu dilarang, pasti al-Quran diturunkan Allah untuk melarangnya, atau paling tidak dengan keterangan Nabi sendiri. Dengan tidak turunnya ayat al-Quran melarang ‘azal, bahkan Nabi menyuruh melakukan ‘azal walaupun itu hanya merupakan usaha manusia, dapat dipahami sesungguhnya secara implicit al-Quran juga membenarkan melakukan usaha pengaturan kehamilan/kelahiran dengan cara ‘azal.

Dalam pada itu, harus diingat pula bahwa ditemukan hadis-hadis Nabi yang melarang pengebirian, antar lain H.R. Bukhari dan Muslim dan H.R. At-Tabrani, Rasulullah S.A.W. bersabda.

Kedua hadis tersebut secara eksplisit menyatakan larangan untuk melakukan pengebirian (pemandulan). Larangan ini juga terjadi pada masa Nabi, yang berarti al-Quran masih diturunkan. Sebab itu, dapat pula dikatakan secara implicit al-Quran melarang juga pengebirian (pemandulan) itu. Oleh karena seandainya hal itu dibolehkan tentu al-Quran akan diturunkan Allah membolehkannya.

Dari analisa terhadap hadis-hadis diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ‘azal dan sejenisnya (usaha lain yang tidak menyebabkan kemandulan) boleh dilakukan dalam rangka pengaturan jarak kehamilan/kelahiran. Akan tetapi mengatur jarak kehamilan/kelahiran dengan cara pengebirian (pemandulan) dan sejenisnya (usaha lain yang dapat menyebabkan kemandulan) tidak boleh dilakukan.   

Penutup

Makalah ini ditutup dengan beberapa kesimpulan :

  1. Secara eksplisit masalah Keluarga Berencana (Tanzim al-Nasl) tidak ditemukan aturannya dalam ayat-ayat al-Quran.
  2.  Jarak dan tenggang waktu kehamilan/kelahiran dengan kehamilan/kelahiran berikutnya minimal 30 bulan.
  3. Suami isteri dibolehkan mengatur jarak tenggang waktu kehamilan/kelahiran atas dasar musyawarah dan persetujuan kedua belah pihak, serta dibolehkan pula keduanya merencanakan berapa jumlah anak yang mereka inginkan.
  4. Keluarga Berencana (Tanzim al-Nasl) boleh dilakukan karena pertimbangan berbagai faktor; kemampuan suami untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, baik moril maupun materil, kondisi fisik dan mental ibu yang melahirkan, serta pemeliharaan, pendidikan dan pembinaan anak-anak.
  5. Cara dan teknis pelaksanaan Keluarga Berencana (Tanzim al-Nasl) tidak dijelaskan dalam al-Quran, tetapi diterangkan didalam hadis-hadis Nabi.
  6. Keluarga Berencana (Tanzim al-Nasl) bersifat individu dan suka rela, dan tidak boleh dipaksakan untuk diberlakukan dengan menyamaratakan secara umum bagi semua keluarga.

Wallahu a’lam bissawab.