JUAL BELI ISTISHNA’

0
400 views

Kebutuhan masyarakat untuk memperoleh sesuatu, sering
memerlukan pihak lain untuk membuatkannya, dan hal seperti itu
dapat dilakukan melalui jual beli istishna’ ( الاستـصناع ),yaitu akad
jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu
dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara
pemesan (pembeli, mustashni’) dan penjual (pembuat, shani’). Transaksi istishna’ pada saat ini telah dipraktekkan oleh lembaga keuangan syari’ah. Agar praktek tersebut sesuai dengan syari’ah Islam, DSN
memandang perlu menetapkan fatwa tentang istishna’ untuk
menjadi pedoman.

Ketentuan tentang Pembayaran:

  1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa
    uang, barang, atau manfaat.
  2. Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan.
  3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.

Ketentuan tentang Barang:

  1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang.
  2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
  3. Penyerahannya dilakukan kemudian.
  4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan
    berdasarkan kesepakatan.
  5. Pembeli (mustashni’) tidak boleh menjual barang sebelum
    menerimanya.
  6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis
    sesuai kesepakatan.
  7. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan
    kesepakatan, pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk
    melanjutkan atau membatalkan akad.

Ketentuan Lain:

  1. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan,
    hukumnya mengikat.
  2. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di
    atas berlaku pula pada jual beli istishna’.
  3. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika
    terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka
    penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah
    setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

Ditetapkan di : Jakarta

Tanggal : 29 Dzulhijjah 1420 H.
4 April 2000 M

download fatwa DSN