FATWA TENTANG MURABAHAH

0
773 views


Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah:

  1. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas
    riba.
  2. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah
    Islam.
  3. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang
    yang telah disepakati kualifikasinya.
  4. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank
    sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba.
  5. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan
    pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara utang.
  6. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah
    (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus
    keuntungannya. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu
    secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya
    yang diperlukan.
  7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut
    pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati.
  8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad
    tersebut, pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus
    dengan nasabah.
  9. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli
    barang dari pihak ketiga, akad jual beli murabahah harus
    dilakukan setelah barang, secara prinsip, menjadi milik bank.

Kedua: Ketentuan Murabahah kepada Nasabah:

  1. Nasabah mengajukan permohonan dan janji pembelian suatu
    barang atau aset kepada bank.
  2. Jika bank menerima permohonan tersebut, ia harus membeli
    terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan
    pedagang.
  3. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan
    nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan janji yang
    telah disepakatinya, karena secara hukum janji tersebut
    mengikat; kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak
    jual beli.
  4. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk
    membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal
    pemesanan.
  5. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut, biaya
    riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.
  6. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus
    ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa
    kerugiannya kepada nasabah.
  7. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari
    uang muka, maka
    a. jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia
    tinggal membayar sisa harga.
    b. jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank
    maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank
    akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak
    mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.

Ketiga: Jaminan dalam Murabahah:

  1. Jaminan dalam murabahah dibolehkan, agar nasabah serius
    dengan pesanannya.
  2. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang
    dapat dipegang.

Keempat: Utang dalam Murabahah:

  1. Secara prinsip, penyelesaian utang nasabah dalam transaksi
    murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang
    dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Jika
    nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan
    atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan
    utangnya kepada bank.
  2. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran
    berakhir, ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya.
  3. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap harus menyelesaikan utangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan.

Kelima: Penundaan Pembayaran dalam Murabahah:

  1. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda
    penyelesaian utangnya.
  2. Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau
    jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka
    penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah
    setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

Ditetapkan di : Jakarta

Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H.
1 April 2000 M

silahkan downloadh fatwa