Tanah Wakaf Pekuburan Aras Kabu Kecamatan Beringin

0
538 views

Permasalahan tanah wakaf Aras Kabu Kecamatan Beringin ini sudah sampai ke ranah hukum baik pada tingkat pertama (Pengadilan Negeri) maupun tingkat banding Pengadilan Tinggi Medan (PUTUSAN  Nomor : 25/PDT/2016/PT.MDN)

Permasalahan ini melibatkan dua pihak antara nazhir Wakaf dan Ahli Waris. Pengurus/nazir tanah wakaf Binjai,  Desa Aras Kabu, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, sebagai  Pengurus Badan Kenaziran sebelumnya menerangkan bahwa Badan  Kenaziran Tanah Wakaf Binjai, Desa Aras Kabu, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, mempunyai tanah wakaf yang diperoleh/diberikan  oleh Datuk Menteri Kedatukan Aras Kabu yang terletak di Dusun Karya, Desa  Aras Kabu, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang pada Tahun 1927

seluas sekitar 4 bahu (yang setelah dilakukan pengukuran di lapangan sesuai dengan batas-batas yang sepadan tanah luasnya sekitar 38.000 m2.) semasa pembukaan kampung besar Aras Kabu yang diperuntukkan bagi pekuburan Muslim.

Oleh karena pada awal tanah wakaf tersebut diperoleh cukup luas,  pada tahun 1950 tanah tersebut yang belum dipergunakan sebagai kuburan, dikelola oleh H. Rais untuk diusahai tanaman palawija agar tidak menjadi semak dan hutan, setelah beberapa tahun dikelola oleh H. Rais tanah tersebut ditinggalkan karena sering terjadi banjir.

Pada tahun 1963, tanah wakaf tersebut digarap oleh BTI (Barisan Tani Indonesia) untuk dikuasai, sehingga pada waktu itu Khatib Mansur dan Zakaria D. selaku Pengurus PATM (Persatuan Amal Tolong Menolong) bersama masyarakat setempat merebut kembali tanah wakaf tersebut. Setelah tanah wakaf tersebut dapat dikuasai kembali, maka tanah wakaf tersebut diusahai dan dikelola kembali oleh pengurus PATM Khatib Mansur, Muhammad Ayat, Amran, Ismail Amal termasuk Zakaria D. (Ketua PATM) yang terus menerus menguasai tanah wakaf tersebut sampai meninggal dunia dan selanjutnya dikelola oleh ahli warisnya. Demikian juga pada tahun-tahun berikutnya masyarakat menganggap masih dikelola oleh pengurus PATM dan silih berganti mengelola tanah tersebut seperti : alm. Husni, Ahmad, alm. Hasan, Azharuddin, Muhtar Buyung, yang semuanya termasuk pengurus PATM. Bahwa pada tahun 2002 Penghurus PATM berganti, kemudian Pengurus baru PATM tersebut mempertanyakan keberadaan Tanah Wakaf Binjai, Desa Aras Kabu tersebut kepada Pengurus PATM lama (Zakaria D. mantan

Ketua PATM), apakah tanah wakaf tersebut sudah disuratkan/disertifikatkan…? Tapi tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti, kemudian pada rapat tahunan tahun 2005 persoalan tanah wakaf ini

kembali dipertanyakan, dan ketika itu mendapatkan jawaban dari mantan Kepala Desa Aras Kabu yang bernama Syaparuddin bahwa tanah wakaf tersebut sudah disertifikatkan dan disampaikan juga kepada pengurus PATM agar mempertanyakan kepada Kantor Urusan Agama Kecamaan Beringin.

Pada tahun 2005 itu juga pengurus PATM tersebut mendatangi Kantor Urusan Agama Kecamatan Beringin. Ternyata tanah yang disertifikatkan dengan Sertifikat No. 4 tanggal 02-06-1992 hanya seluas 8.945 m2, dan  disitu terlihat jelas sebagai penunjuk batas adalah alm. ZAKARIA D. (sesuai yang tertera dalam sertifikat), Karena ketika itu alm Zakaria D. sebagai Nazir tanah wakaf bersama dengan Hasan dan Azharuddin yang pada waktu itu sebagai pengurus PATM. Yang kesemuanya saat ini telah meninggal dunia. Disinilah awal kecurigaan warga masyarakat dimana tanah wakaf seluas 4 bahu (yang setelah dilakukan pengukuran di lapangan sesuai dengan batasbatas yang sepadan tanah luasnya sekitar 38.000 m2.) tapi yang disertifikatkan hanya seluas 8.945 m2.  Atas kecurigaan masyarakat tersebut akhirnya setelah ditelusuri ternyata atas Tanah Wakaf Binjai seluas sekitar 4 bahu (yang setelah dilakukan pengukuran dilapangan luasnya sekitar 38.000. m2.) telah terbit beberapa surat atas nama orang lain atau lembaga sebagai berikut :

  1. Seluas 5.765 m2. Atas nama Zakaria D. berdasarkan SURAT KETERANGAN TANAH Bupati Deli Sergang Nomor : 69768/A/V/8. tanggal 26 Agustus 1974. Dengan batas-batas sebagai berikut : Sebelah Utara berbatas dengan Tanah Kas Desa.

Sebelah Timur berbatas dengan Pasar Prepol.

Sebelah Selatan berbatas dengan tanah Junib/Agam.

Sebelah Barat berbatas dengan Tanah wakaf.

  • Seluas 600 m2. Atas nama Nilawati Lubis, dibeli dari Zakaria D, berdasarkan SURAT PERNYATAAN MELEPASKAN HAK ATAS TANAH Nomor : 592.27309/Br/3/ 1997 anggal 16 Juni 1997. Dengan batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatas dengan tanah wakaf.

Sebelah Timur berbatas dengan Pasar Prepol.

Sebelah Selatan berbatas dengan Tanah Kas Desa.

Sebelah Barat berbatas dengan Tanah wakaf.

  • Seluas 2.200 m2. Atas nama Tanah Kas Desa Aras Kabu. Dengan batasbatas sebagai berikut : Sebelah Utara berbatas dengan Tanah wakaf/Nilawati Lubis.

Sebelah Timur berbatas dengan Pasar Prepol.

Sebelah Selatan berbatas dengan Tanah Zakaria D.

Sebelah Barat berbatas dengan Tanah wakaf.

Atas 3 bidang tanah tersebut diatas yang seluruhnya seluas sekitar 8.565 m2. berdasarkan rapat warga masyarkat diputuskan untuk tidak mempersoalkan atau menuntut kepada yang bersangkutan. Dalam artian warga masyarakat secara ikhlas melepaskan tiga bidang tanah tersebut dari Tanah Wakaf Binjai Desa Aras Kabu tersebut.

Selain dari pada itu diatas tanah wakaf seluas sekitar 4 bahu ( yang setelah pengukuran dilapangan luasnya sekitar 38.000 m2) juga sudah terbit 2 (dua) surat tanah wakaf yaitu :

  1. Seluas 8.945 m2. berdasarkan Sertifikat Tanah Wakaf No. 4 Milik Wakaf, tanggal tanggal 2 Juni 1992, dengan tanda batas sesuai dengan Gambar Situasi Nomor : 1650 -06/1992.
  2. Seluas 12.028 m2, berdasarkan Surat Keterangan Tanah Wakaf yang dikeluarkan oleh Kepala desa Aras Kabu, Kecamatan Beringin Nomor : 593/626/AK/2011 tanggal 10 Oktober 2011. Dengan batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatas dengan Jalan Dusun Karya.

Sebelah Timur berbatas dengan Tanah wakaf.

Sebelah Selatan berbatas dengan Tanah wakaf.

Sebelah Barat berbatas dengan Tanah wakaf.

Dengan demikian Tanah Wakaf Binjai seluas sekitar 4 bahu (yang setelah dilakukan pengukuran dilapangan luasnya sekitar 38.000 m2.) yang telah memiliki surat wakaf jumlahnya baru seluas 8.945 m2. + 12.028 m. = sekitar 20.973 m2. Bahwa dengan demikian, tanah wakaf binjai yang seluas sekitar 4 bahu (yang setelah dilakukan pengukuran dilapangan luasnya sekitar 38.000 m2.) yang telah keluar suratnya, seluruhnya luasnya berjumlah 8.565 m2. + 20.973 m2. = sekitar 29.538 m2. Sehingga sisa tanah wakaf binjai yang belum memiliki surat sekitar seluas 38.000 m2. -29.538 m2. = sekitar 8.462 m2.

Pada tahun 2007, di Desa Aras Kabu terjadi pengukuran tanah-tanah yang akan terkena proyek Jalan Arteri Bandara Kualanamu, diatas tanah wakaf dan tanah Zakaria D., Tanah Kas Desa dan Tanah Nilawati Lubis tersebut terkena pembebasan jalan seluas + 9.583 m2. sesuai dengan pengumuman Panitia Pengadaan Tanah Kabupaten Deli Serdang tertanggal 15 Februari 2008.

Bahwa setelah dilakukan pendataan ulang terhadap tanah-anah yang terkena pembebasan jalan tersebut terdapat tanah Kas Desa seluar + 2.200 m2, tanah Nilawaty Lubis seluas 600 m2. serta sebahagian tanah atas nama Zakaria D. dari seluas 5.765 m2. sebagai mana dilampirkan Surat Keterangan Bupati Deli Serdang No. 69768/A/V/8. Tanggal 26 Agustus 1974 dan sebagian dari tanah wakaf yang belum bersurat seluas sekitar sekitar 2.000 m2. yang hingga saat ini uang ganti rugi tanah wakaf yang terkena proyek jalan Arteri tersebut masih dititipkan kepada Pengadilan negeri Lubuk Pakam sejumlah Rp. 220,000.000,-(dua ratus dua puluh juta rupiah) Karena masih sengketa dengan ahli waris

Pada Pengadilan Tingkat pertama Pengadilan Negeri Medan menyatakan tidak berwenang untuk mengadili sengketa tersebut, dikarenakan pada satu sisi permasalahan wakaf adalah wewenang absolut di Pengadilan Agama. Putusan ini juga dikuatkan dalam Putusan Pengadilan Tinggi Negeri Medan. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian kita bersama jika memang Pengadilan Negeri Medan tidak berwenang mengadili sengketa wakaf, maka perlu ada langkah-langkah untuk menyelesaikannya di Pengadilan Agama.