ANAK DALAM AL QURAN

0
1.793 views

Di dalam Al-Quran, anak sering disebutkan dengan kata waladawlâd yang berarti anak yang dilahirkan orang tuanya, laki-laki maupun perempuan, besar atau kecil, tunggal maupun banyak. Karenanya jika anak belum lahir belum dapat disebut al-walad atau al-mawlûd, tetapi disebut al-janĭn yang berarti al-mastûr (tertutup) dan al-khafy (tersembunyi) di dalam rahim ibu.[1]

Kata al-walad dipakai untuk menggambarkan adanya hubungan keturunan, sehingga kata al-wâlid dan al-wâlidah diartikan sebagai ayah dan ibu kandung. Berbeda dengan kata ibn yang tidak mesti menunjukkan hubungan keturunan dan kata ab tidak mesti berarti ayah kandung.[2] Selain itu, Al-Quran juga menggunakan istilah ¯ifl[3] (kanak-kanak) dan gulâm[4] (muda remaja) kepada anak, yang menyiratkan fase perkembangan anak yang perlu dicermati dan diwaspadai orang tua, jika ada gejala kurang baik dapat diberikan terapi sebelum terlambat, apalagi fase gulâm (remaja) di mana anak mengalami puber, krisis identitas dan transisi menuju dewasa.

Al-Quran juga menggunakan istilah ibn pada anak, masih seakar dengan kata bana yang berarti membangun atau berbuat baik, secara semantis anak ibarat sebuah bangunan yang harus diberi pondasi yang kokoh, orang tua harus memberikan pondasi keimanan, akhlak dan ilmu sejak kecil, agar ia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang memiliki prinsip dan kepribadian yang teguh.[5] Kata ibn juga sering digunakan dalam bentuk taşgĭr sehingga berubah menjadi bunayy yang menunjukkan anak secara fisik masih kecil dan menunjukkan adanya hubungan kedekatan (al-iqtirâb).[6] Panggilan ya bunayya (wahai anakku) menyiratkan anak yang dipanggil masih kecil dan hubungan kedekatan dan kasih sayang antara orang tua dengan anaknya. Begitulah mestinya hubungan orang tua dengan anak, hubungan yang dibangun dalam fondasi yang mengedepankan kedekatan, kasih sayang dan kelembutan. Sikap orang tua yang mencerminkan kebencian dan kekerasan terhadap anak jelas tidak dibenarkan dalam Al-Quran.

Dalam Al-Quran seperti yang termuat dalam Surah Al Kahfi ayat 46 yang artinya “Harta dan anak adalah perhiasan dunia“. Al-Quran telah menjelaskan bagaimana anak menjadi perhiasan dunia, sehingga bagaimana anak sebagai sesuatu yang mewah atau kemewahan yang dimiliki orang orang tua dalam suatu keluarga, sehingga bagaimana suatu keluarga yang memiliki anak dan menjadikan anak sebagai sesuatu yang harus dijaga dengan baik dan benar sehingga anak-anak menjadi berarti dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Dalam Al-Quran yang termuat dalam Surah Ataaghabun ayat 15 yang artinya “Anak adalah sebagai ujian dan cobaan (berpeluang mendapat kebaikan dan pahala dan kemungkinan menerima karena tantangan dan kelengahan. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan.” Bila dikaitkan dengan ayat tersebut di atas, selain anak sebagai perhiasan dunia, anak juga menjadi cobaan, karena apabila orang tua dan atau keluarga tidak memberikan yang terbaik bagi anak, sangat mungkin anak tersebut membawa permasalahan bagi orang tua atau keluarga. Sebaliknya, apabila anak-anak dididik secara baik dan benar dapat menghasilkan sesuatu yang dapat mengangkat  harkat dan martabat orangtua atau keluarga.

Dalam Al-Quran Surah Ali Imran Ayat 14 yang artinya “Anak adalah sasaran kecintaan dan perhiasan hidup serta bagian dari unsur kebahagiaan, dijadikan indah pada manusia kecintaan pada wanita dan anak-anak.“ Penegasan Al-Quran dalam ayat ini anak harus dijadikan sebagai kecintaan dan dapat menciptakan kebahagiaan, oleh sebab itu ada perintah untuk mencurahkan kecintaan kepada anak dari orangtua atau keluarga. Hal ini dapat menumbuhkan kecintaan anak yang pada akhirnya kehidupan dengan penuh cinta dan kasih antara sesama.

Perwalian adalah kewenangan untuk melaksanakan perbuatan hukum demi kepentingan anak atau atas nama anak yang tidak memiliki orangtua atau yang disebut dengan anak yatim.

Al-Baqarah (2): 215.  “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.”

Dari ayat di atas didahulukan anak yatim dari orang miskin karena ia tidak hanya butuh materi tapi juga kasih sayang karena itu sangat terpuji bagi yang memberi makan anak yatim. Islam tidak memandang anak yatim sekedar dengan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, tetapi juga sebagai manusia yang kehilangan sumber kasih sayang dari orangtuanya, kehangatan dan rasa aman. Oleh sebab itu Islam menggerakkan hati pengikutnya untuk berperan sebagai orangtua yang mengasuh, mengasah dan mengasihi mereka, yaitu dengan melakukan islah untuk mereka.

Dalam tafsir al-Maraghi ayat ini diturunkan karena pada waktu itu setiap sahabat yang memiliki anak yatim merasa takut dan khawatir. Oleh karena itu mereka memisahkan makanan anak yatim dengan makannya dan minumannya, kemudian diberikan tambahan makanan dari kepunyaannya lalu dibiarkan terpisah sampai anak yatim memakannya atau dibiarkan sampai rusak kalau tidak dimakan. Sikap seperti ini justru menambah buruk keadaan mereka dan akhirnya menuturkan hal ini kepada Rasulullah saw. Kemudian turunlah surat al Baqarah ini.[7]

Ayat ini mewajibkan kita untuk memperbaiki dan mendidik serta mengajarkan anak yatim, mengembangankan harta mereka, sebab masing-masing berjalan menuju keadaan kebaikan bersama.

Al Baqarah (2): 220.  dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, Maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. dan Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ad Dhuha (93): 9.  Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang

Al Ma’un : 2.  Itulah orang yang menghardik anak yatim,

šDalam sebuah hadis Rasulullah memberikan contoh perlakuan terhadap anak yatim,  yaitu “ Barangsiapa mengusap kepala anak yatim, (dengan penuh kasih sayang) karena semata-mata mengharap rida Allah, maka setiap rambut yang diusap berpahala sekian kebaikan, dan barang siapa memelihara/mengasuh anak yatim maka kedudukannya di surga berada disisiku seperti halnya jari telunjuk dan jari tengah. Melalui hadis ini Rasulullah mengajak umatnya melalui konsep kafalah, untuk mengasuh anak yatim sepenuhnya agar mereka tetap mendapat cinta dan kasih sayang

Tugas wali adalah memberikan perlindungan baik terhadap diri, maupun harta si anak  sampai ia  dewasa.  Dalam hal ini al Quran menegaskan dalam surat al An’am : 152 Artinya:  “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. dan apabila kamu berkata, Maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.”

Ayat di atas menyuruh agar wali atau yang menerima wasiat mengurus harta anak  untuk mengurus harta anak yatim secara baik dan benar  dan tidak mengambilnya secara batil. Wali hanya diperkenankan mengambilnya secara wajar sebagaimana firman Allah dalam surat an Nisa: 6 Artinya:  “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka Telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, Maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).”

Memakan harta anak yatim tanpa alasan yang dibenarkan, menurut salah satu hadis Nabi, merupakan salah satu dari tujuh dosa besar yang akan membinasakan pelakunya.[8] Siksa memakan harta anak yatim sangatlah berat, Mereka yang memakan hata anak yatim secara tidak benar  sesungguhnya yang mereka makan adalah api neraka ( An Nisa ayat 10) Artinya:  “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”.

Ibnu Asyur memahami kata “api” pada ayat di atas sebagai sesuatu yang menyakitkan, sehingga ayat tersebut menjadi bermakna, tindakan mereka yang memakan harta anak yatim akan menyebabkan mereka menderita di dunia dan akhirat seperti halnya api yang menyebabkan kepedihan bagi setiap orang yang menyentuhnya.[9]

Pemeliharaan anak yatim berlangsung sampai mereka mencapai usia yang disebut dalam al Quran sebagai rusyd, yaitu kematangan berfikir dan kecakapan mengelola uang secara mandiri, yang dapat diketahui dengan mengujinya, membimbing dan melepaskannya secara perlahan.


[1] Lois Ma’luf, al-Munjid, (Beirut, al-Mathba’ah al-Katsolikiyyah, t.th), h. 1019 dan 99.

[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbãh:Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Al-Quran, (jilid XV, Jakarta, Lentera Hati, 2004), h. 614.

[3] Q.S. al-Nur/24:31 dan 59; al-Hajj/22: 5; al-Mukmin/ 40: 67

[4]. Q.S. Ali Imran/3: 40; Yusuf/ 12: 19; al-Hijr/ 15: 53, al-Kahfi/18: 80; Maryam/ 19: 7,8 dan 20; al-Shaffat/37: 101 dan al-Dzariyat/51: 28.

[5] Abdul Mustakim, “Kedudukan dan Hak-hak Anak dalam Perspektif al-Al-Quran”, dalam Jurnal Musawa, vol.4 No. 2, Juli-2006, h. 149-50.

[6] Hadlarat Hifni Bik Nasif et.al., Qawã’id al-Lugah al-‘Arabiyyah, (Surabaya, Syirkah Maktabah wa Mathba’ah, t.t), h. 79.

[7] Ahmad Mushtafa al Maraghi, Tafsir al Maraghi, terj., jil.2 (Semarang:Toha Putra), h. 257

[8]HR Bukhari, Bab Ramyul Muhsanat, dan Muslim, Bab Bayan al Kaba’ir wa Akhbaruha

[9]Ibnu Asyur, Muhammad at Tahir, at Tahrir wa Tanwir, (Tunis: ad Dar at Tunisiyah lil Nasyr,t.t) jilid III,h.254