WISATA MESIR, MENJUAL MASA LALU DAN KINI SEBUAH ‘IBRAH MENUJU SUMUT BERMARTABAT

0
952 views

Oleh: Prof.DR. Hasan Bakti Nasution, MA

Wisata, atau perjalanan menuju suatu lokasi yang menarik untuk dilihat, adalah sebuah trend masyarakat moderen, sehingga menjadi komoditi yang menggiurkan. Kegiatan ini tentu mengandung banyak missi, baik missi agama, maupun missi ekonomi, pendidikan, politik, budaya dan sebagainya. Missi agama yang dalam ini Islam ialah mengamalkan perintah beberapa ayat al-Qur’an karena disebut sebanyak 21 kali dalam beberapa ayat. Surat Ali Imran/3: 137, misalnya mengatakan : “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalankan kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan rasul-rasul”.

Missi ekonomi ialah untuk melihat perkembangan ekonomi di suatu lokasi, jenis produk yang ditawarkan pada suatu lokasi, dan sebagainya. Tentu untuk dijadikan sebagai upaya engembangan bisnis ekonomi. Mudah-mudahan dilanjutkan pada kerjasama, baik kerjasama transmisi keilmuandan skill tentang ekonomi maupun mdyah-mudahan kerjasama pemasaran produk.

Dikaitkan kepada wisata sebagai salah satu kegiatan bisnis modern, dengan melihat apa yang dilakaukan oleh suatu negara akan dapat dijadikan sebagai pengacaan diri, sejauh mana upaya yang sudah dan belum dikerjakan. Missi pendidikan tentu juga sangat terkait, baik dalam kaitan dengan agama dan ekonomi maupun dalam bidang lain secara umum. Misalnya dari pertemuan dengan lembaga pendidikan, akan diperoleh adanya bantuan bea siswa, baik untuk studi S1 maupun S2 dan S3.

Missi politik tentunya diharapkan adanya kerjasama yang saling menguntungkan, seperti juga missi budaya yang bertujuan untuk saling memahami dan mengenal antar budaya. Tidak terlepas juga ialah missi psikologi, yaitu melihat daya juang mamsyarrakat di negara yang dituju dalam menjalani kehidupan. Missi terakhir ini perlu, karena banyak negara tujuan wisata yang memiliki empat musim tidak bisa bekerja 12 bulan penuh, berbeda dengan Indonesia. Namun dalam kondisi itu mereka tetap eksis.

Semua missi itu tentu memiliki makna tersendiri yang perlu diresapi. Namun tulisan singkat ini lebih pada missi ekonomi sebagai trend global, yaitu bagaimana agar aktifitas wisata dapat mendatangkan uang; Dolar, Euro, Foundsterling, Yuan, Riyal, Ringgit, dan sebagainya. Paling tidak ada dua kata kunci kesuksesan mendatangkan wisatawan, dan itulah yang disoroti dalam tulisan ini.

MENJUAL MASA LALU

Berbahagilan sebuah negara yang memiliki masa lalu, dan itulah yang saya lihat di negara Mesir. Dengan warisan budaya kunonya yang eksis sejak ribuan tahun, tentu sangat menarik minat para wisatawan datang ke sini. Paling tidak terdapat tiga buaya besar yang pernah berkembang di sini, yaitu Yunani, Rumawi, dan Fir’aun sendiri. Bagi umat Islam nama-nama figur dalam sejarah Mesir kuno tentu tidak asing lagi, karena tercatat dalam kitab suci al-Qur’an, seperti Fir’aun, Nabi Musa, Nabi Yusuf, dan sebagainya. Semua kisahnya tercatat dalam al-Qur’an. Apa yang digambarkan al-Qur’an tentang Fir’aun misalnya, dapat disaksikan hari ini hanya dengan memasuki museum Fir’aun. Selain menyimpan mumi Fir’aun yang digambarkan al-Qur’an yang diabadikan, museum ini juga menyimpan tidak kurang dari 8000 patung dengan berbagai ukuran mulai dari berat 5 ons sampai 2,5 ton.

Ketika al-Qur’an menggambarkan kekayaan Fir’an, museum ini menampilkan gambaran kekayaan tersebut, mulai dari perhiasan gelang emas, kalung emas, sepatu emas, dan asesoris lainnya. Termasuk peti penyimpanan harta kekayaan yang juga dibuat dari lapisan emas.

Bagi penulis nampaknya memiliki sisi lain, karena pada tanggal 15-10-2019 yang lalu diamanahkan sebagai ketua panitia seminar internasional “Titik Nol Islam di Indonesia”. Salah satu daya dukung menjadikan Barus sebagai Titik Nol Islam di Indonesia ialah komoditi kapur Barus yang hanya ada di daerah ini. Salah satu rekomendasinya ialah perlu dilakukan uji laboratorium apakah benar bahwa

para mummi itu mengandung kapus Barus. Jika iya, berarti kapur Barus menjadi bahan pengawet yang digunakan untuk mummi-mummi tersebut.

Tidak kalah menariknya ialah situs pyramid yang cukup terkenal dan menjadi salah satu keajaiban dunia. Kendati pyramid sebetulnya adalah makam raja-raja layaknya Taj Mahal sebagai makamnya raja Syah Jehan dan isterinya Mumtaz Mal di India yang juga sebagai salah satu keajaiban dunia, namun karena didesain secara mengagumkan, kekaguman menjadi selera yang tidak terelakkan. Bagaimana mungkin bongkahan batu satu meter persegi bisa diangkat ke puncak bukit, tentu menjadi kekaguman yang luar biasa.

Bagi dunia pendidikan, di sini terdapat pula pohon papyrus yang bisa dijadikan sebagai kertas hanya dengan teknologi sederhana. Papyrus begitu penting, karena dengan temuan ini Mesir memasuki era baru budaya dari budaya pahat memahat memasuki budaya tulis.

Ketika belajar sejarah modernisme di dunia Islam, Mesir menjadi ikonnya, karena di sini muncul para pembaru, seperti Muhammad Ali Pasha yang kuburannya diabadikan dalam sebuah masjid dengan namanya sendiri. Masjid ini berada di kawasan benteng Shalahuddin al-Ayyubi yang terkenal, karena kemampuannya menghalau pasukan Salih dalam peranag Salib yang berlangsung beberapa dekade.

Selain itu, Mesir juga memiliki situs religius, seperti Universitas Al-Azhar yang berusia ribuan tahun yang menghasilkan ribuan sarjana ke seluruh penjuru dunia. Di sini juga terdapat makam Imam Syafii sebagai pendiri Mazhab Syafii yang dianut masyarakat Islam Indonesia. Bagi yang ingin mendalami tasawuf di sini ada makam tiga sufi besar, yaitu makam Imam Qushayri dan muridnya Syekh Mursyidul Abbas yang berdekatan. Adapun sufi ketiga sekaligus pengarang buku Al-Hikam, yaitu makam Syekh Ibn Athaillah Al-Sakandari, dan sebagainya. Pendeknya, dengan mengunjungi Mesir seolah beranjangsana ke masa ribuan tahun silam.

MENJUAL MASA KINI

Menjual masa kini dimaksudkan adalah apa yang dimiliki destinasi wisata hari ini dan bagimana kemolekan itu dibungkus dengan pelayanan prima, sehingga wisatawan datang dengan senang, heppy dan memperoleh ketenangan. Menjual masa lalu adalah sebuah tawaran keunikan dan kekaguman dan belum tentu indah dengan ukuran hari ini. Jika hanya sekedar menjual masa lalu tentulah terasa menjenuhkan, cukup dua kali dilihat. Namun akan datang sekali dua kali lagi jika ditata penuh keindahan.

Menjual keindahanpun akan terasa jenuh dua tiga kali, maka harus diikuti dengan pelayanan prima, yang tentu tidak bisa dikukur dengan kebosanan. Oleh karena itu, kata kuncinya ialah bagaimana agar wisatawan tidak bosan dan merasa memperoleh ketenangan ketika menerima pelayanan wisata dari pemandu atau pihak-pihak yang terkat, seperti jualan.

Hal ini menjadi kata kunci, karena seringkali wisatawan jengkel dengan pelayanan tidak prima atau prilaku insan wisata yang memuakkan, seperti penipuan, yang seolah menjadi praktek terselubung di berbagai lokasi wisata. Untuk itu, biasanya sudah diingatkan oleh pemandu.

Apa yang dirasakan dalam menjalani wisata di Mesir, nampaknya mereka menyadari betul betapa pelayanan wisatawan harus dinomor satukan, mulai dari hotel, sarana transportasi, dan sarana pendukung lainnya. Sekedar contoh, di bus wisata terdapat wifi, charger HP dan toilet. Suatu pelayanan yang membuat wisatawan merasa heppy, tidak kuatir lowbet HP, tidak ada jaringan, atau sesak ke belakang. Semuanya selesai dengan menaiki bus pariwisata.

Demikian juga dengan pelayanan dari para guide wisata benar-benar menjadikan wisatawan sebagai raja, layaknya pejabat di Indonesia yang dilayani oleh pejabat di bawahnya. Misalnya, agar pemandu mampu berbahasa Indonesia dengan baik, mereka disekolahkan di Indonesia dan tinggal di Indonesia minimal satu tahun.

MENGAMBIL IBRAH UNTUK SUMUT BERMARTABAT

Daya tarik wisatawan mendatangi Mesir tentulah tidak hanya mengandalkan masa lalu, banyak faktor pendukung yang saling terkait. Dan ini penting menjadi renungan bagi Sumatera Utara yang ingin bermartabat. Alhamdulillah Sumatera Utara kaya dengan keindahan alam dan keunikan daerah seperti danau Toba, orang utan, peternakan buaya, perawatan gajah, keaslian hutan lindung, keragaman hayati, keragaman kuliner yang enak dan sangat enak, dan sebagainya.

Suatu ketika saya menanyakan teman yang datang ke Sumut bagaimana kesannya tentang kuliner Sumut, dia mengatakan kuliner Sumut dapat dikelompokkan kepada dua, yaitu enak dan sangat enak. Artinya semuanya enak.

Semuanya tentu menjadi modal penting untuk menarik wisatawan datang. Namun sekali lagi, semuanya hanya akan sementara jika tidak diimbangi dengan pelayanan prima dan fasilitas yang layak. Untuk itu, “budaya raja” yang harus dilayani harus diganti denggan budaya melayani, karena memang wisatawan adalah calon pembeli dan pembeli adalah raja.

Begitu juga dengan fasilitas yang variatif harus ditampilkan, seperti tawaran wisata halal. Wisata halal bukanlah islamisasi atau syariahisasi, melainkan hanyalah bentuk pelayanan prima bagi wisatawan yang membutuhkannya. Jika semua keinginannya terpenuhi ia akan datang dan datang lagi. Jika tidak, dia akan datang hanya sekali, habis itu cukup.

Dengan dua upaya itu, yaitu pelayanan prima dan tawaran fasilitas yang variatif diharapkan wisatawan akan datang dan secara langsung akan menggerakkan ekonomi masyarakat. Ggerakan ekonomi ini tentu akan menaikkan income masyarakat sehingga diharapkan akan mengalami gradasi menjadi bermartabat.

PENUTUP

Trend wisata seiring dengan budaya anak manusia tentulah harus disikapi dengan arif bijaksana, dengan mencari peluang positif dan nilai tambah dari kenyataan yang ada. Berbahagialah sebuah negara yang di sana terdapat lokasi wisata yang menyimpan masa lalu dan keindahan. Namun bukan berarti negara yang tidak memiliki dua hal itu tidak bisa mengambil nilai positif. Bisa saja dengan catatan memberikan pelayanan prima dengan mengadakan kreatifitas baru.