BELAJAR DARI TURKI (Catatan Kunjungan MUI Sumut)

0
3.202 views

Mukaddimah

Turki (Turkiye) memiliki sejarah yang sangat panjang dan telah mengukir perjalanan pradaban dunia. Berbagai agama besar dari Kristen hingga Islam pernah menjadikannya sebagai pusat kerajaan sekaligus pusat peradaban. Agama Kristen pernah menguasai wilayah Turki dengan peninggalan yang hingga saat ini masih dapat disaksikan berdiri kokoh yaitu gereja Aghya Sophia. Kejayaan dari Kekaisaran Byzantium Romawi Timur ditandai dengan benteng Konstantinopel di bibir pantai laut Marmara sepanjang 26 KM. Benteng Konstantinopel (diambil dari nama kaisar Constantine the Great) yang kokoh dan canggih pada masanya itu berfungsi untuk menjaga dan melindungi seluruh wilayah kekuasaan Kaisar Romawi Timur (Nova Roma). Benteng ini baru dapat ditaklukkan oleh Sultan Muhammad al-Fâtih (sang penakluk) yang berhasil merebut benteng konstantinopel dari kerajaan Byzantium pada 29 Mei 1453 M. Penaklukan ini telah disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad SAW:

قال النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ فَلَنِعْمَ الْأَمِيرُ أَمِيرُهَا وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ” (رواه الإمام أحمد، والطبراني والبخاري في التاريخ الكبير)

Artinya: Nabi Muhammad SAW Bersabda: ““Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad, ath-Thabrani dan al-Al-Bukhârî dalam kitab at-Târîkh al-Kabîr)

Sultan Muhammad al-Fâtih ketika Menaklukkan Benteng Konstantinopel tahun 1453 M

Sejak itu pula, umat Islam menguasai wilayah itu dan merubah fungsi Aghya Sophia menjadi masjid pada tahun 1453 M sampai dengan tahun 1935 M. Namun menarik untuk diperhatikan bahwa Sultan Muhammad al-Fâtih tetap membiarkan mozaik Bunda Maria yang menggendong nabi Isa di dindingnya dengan diapit kaligrapi besar Allah dan Muhammad. Sehingga pengunjung saat ini tetap dapat melihat keindahan mozaik tersebut. Sejak tahun 1935 M Aghya Sophia difungsikan sebagai museum hingga sekarang. Kekhalifahan Turki Utsmani (Otthoman Empire) menguasai bukan hanya wilayah Turki akan tetapi dari laut Kaspia, Eropa, Afrika hingga Timur Tengah di Asia. Pada Masa Sultan Suleyman I yang bergelar al-Qânûnî kekhalifahan Turki Utsmani mencapai puncak kejayaannya dengan total luas wilayah mencapai 6,5 juta km.[1]

Harmoni beragama dalam kehidupan bangsa Turki bukanlah peradaban baru, akan tetapi telah menjadi budaya yang mengakar. Oleh karena itu, Turki modern dengan sistem Republik yang diproklamirkan Mustafa Kamal Attaturk pada tahun 1924 M memilih sistem sekuler sebagai bentuk jaminan pranata kehidupan sosial, budaya bahkan agama.[2] Kehidupan umat beragama dijamin Pemerintah namun terpisah dari urusan politik dan negara. Dengan caranya tersendiri Turki telah mampu membangun masyarakat yang toleran dan menghempang paham-paham radikal. Sekalipun warga Turki berdampingan langsung dengan Eropa, bahkan kota Istanbul sebagiannya berada di dataran Eropa. Namun, nilai-nilai kehidupan mereka tidak serta merta mengikuti gaya hidup Eropa. Moderasi Islam sebagai agama yang berkarakter rahmat bagi seluruh alam begitu sangat kental dirasakan diseluruh wilayah Turki khususnya di Istanbul.

Ruangan Utama Hagya Sophia terdapat mozaik Bunda Maria memangku Nabi Isa dan Kaligrafi bertuliskan Allah SWT dan Muhammad SAW

Mufti dengan otoritas mengeluarkan fatwa memiliki kedudukan yang begitu besar pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Turki Utsmani. Agama menjadi faktor penting dalam transformasi sosial dan politik di Turki hingga saat ini. Mufti sebagai pejabat mengeluarkan fatwa sangat mempengaruhi cara pandang politik masyarakat dan dapat membentuk serta mengarahkan opini. Bahkan pada masa kekhalifahan Turki Utsmani tanpa legitimasi Mufti, keputusan hukum Kerajaan bisa tidak berjalan.[3] Hal ini juga mewarnai perjalanan sosial politik masyarakat Turki hingga hari ini. Sekalipun faham sekuler begitu kuat digaungkan, namun peran fatwa ulama selalu menjadi penentu bagi warga Turki. Namun demikian, karakter warga Turki tidaklah sama dengan bangsa Arab. Bahkan mereka tidak begitu suka ketika digolongkan kepada bangsa Arab. Hal ini pula yang menjadikan Turki berbeda dengan Arab dalam mengelola permasalahan keagamaan, sosial dan politik.

Belajar dari kenyataan di atas, DP MUI Sumatera Utara melihat perlu untuk belajar dari Turki. Untuk melihat dari dekat praktek toleransi beragama dalam membangun harmoni kebangsaan. Kemajemukan dan keragaman merupakan sunnatullah yang tidak dapat dihindarkan. Oleh karena itu, kita dituntut untuk mampu mengelola keragaman dan kemajemukan itu. Dari sini kita wajib untuk terus mengkaji dan belajar dari negeri yang telah berhasil. Ulama dan tokoh Sumatera Utara perlu berkunjung ke Turki untuk belajar tentang toleransi, moderasi dan mencegah terorisme. Para ulama yang terkait dengan tiga isu ini diharapkan pulang ke tanah air dapat memiliki format khusus dari Turki tentang tiga isu tersebut. Di sisi lain, fatwa yang dikeluarkan oleh MUI Sumut memiliki titik singgung dengan tiga isu sentral yang dikaji. Selain itu, dakwah menjadi kewajiban untuk mewujudkan Indonesia yang damai dan aman lagi makmur. Semoga dengan Kunjungan Silaturrahim dan Ziarah Ilmiah DP MUI Sumatera Utara ke Turki ini menjadi upaya mewujudkan Sumut Bermartabat. Kajian sosial keagamaan dan pengamatan langsung terhadap kehidupan masyarakat Turki menjadi fokus Kunjungan DP MUI Sumatera Utara kali ini. Sehingga mampu memperkaya wawasan dan mengkokohkan Islam Wasathiyah (Islam Moderat) dikalangan pengurus MUI Sumatera Utara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sekilas Sejarah Turki (Otthoman Empire)

Dalam sejarah perjalanan pradaban umat Islam, kondisi politik pemerintahan Islam mengalami pasang surut. Kadang mengalami kemajuan dalam fase berikutnya menghadapi kemunduran terutama pada masa pertengahan (1250-1800). Kemajuan-kemajuan yang dicapai umat Islam pada periode klasik telah dihancurkan oleh tentara Monghol dan mengakibatkan runtuhnya Khilafah Abbasiyah di Baghdad. Runtuhnya kekhalifahan ini mengakibatkan kekuasaan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis dan signifikan. Wilayah kekuasaan Islam terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan-kerajaan kecil yang satu dengan lainnya saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam dihancurkan oleh tentara-tentara Mongol yang terkenal kejam dan bengis. Kondisi politik tersebut terus berlangsung hingga muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar yang di antaranya adalah kerajaan Turki Utsmani (Otthoman Empire). Kerajaan ini berhasil memajukan dan telah membangkitkan kembali semangat politik Islam, meskipun kemajuan-kemajuan tersebut tidaklah secemerlang generasi pada era sebelumnya. Sejarah kerajaan Turki Utsmani yang ditulis di dalam buku-buku tarikh Islam sering tidak mendapat porsi sebanyak yang diperoleh Dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Melihat dari hasil budaya yang dipersembahkannya dipermukaan, Turki Utsmani ini tidaklah bisa disamakan dengan kedua Dinasti sebelumnya di atas, tetapi melihat peranannya sebagai benteng kekuatan Islam dalam menangkal ekspansi bangsa Eropa ke timur, maka dengan ini ia tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kajian sejarah Islam.[4] Sebab, Turki Utsmani telah menunjukkan kehebatannya dalam menangkis serangan musuh. Serangan-serangan perluasan yang dilakukannya langsung menusuk ke wilayah penting, termasuk penaklukan benteng Konstantinopel yang sangat canggih dan megah pada masa itu.

Demikianlah Turki Utsmani tentang kerajaan Islam yang sampai kini pemerintahannya masih terwariskan, dan telah berubah menjadi negara Republik Turki atau Republic of Turkey, sebuah negeri tua yang menyimpan aneka ragam kemegahan karya budaya Islam masa silam, dan di masa itu perkembangan Islam cukup signifikan, dan terus berlanjut sampai sekarang, era kontemporer, yakni ketika bangsa Turki memasuki masa reformasi. Republik Turki yang dewasa ini ibukotanya Ankara, tercatat sebagai negara Muslim yang tetap bertahan dijalur demokrasi dalam upaya menegakkan sebuah tatanan masyarakat Islami yang beradab.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan Dinasti Turki Utsmani dalam perluasan wilayah Islam, dan antara lain:

  1. Kemampuan orang-orang Turki dalam strategi perang terkombinasi dengan cita-cita memperoleh ghanimah, harta rampasan perang;
  2. Sifat dan karakter orang Turki yang selalu ingin maju dan tidak pernah diam, serta gaya hidupnya yang sederhana, sehingga memudahkan untuk tujuan penyerangan;
  3. Semangat jihad dan ingin mengembangkan Islam;
  4. Letak Istanbul yang sangat strategis sebagai ibukota kerajaan juga sangat menunjang kesuksesan perluasan wilayah ke Eropa dan Asia. Istambul terletak antara dua benua dan dua selat (selat Bosphaoras dan selat Dardanala), dan pernah menjadi pusat kebudayaan dunia, baik kebudayaan Macedonia, kebudayaan Yunani maupun kebudayaan Romawi Timur;
  5. Kondisi kerajaan-kerajaan di sekitarnya yang kacau memudahkan Dinasti Utsmani mengalahkannya. Kemajuan dan perkembangan ekspansi Kerajaan Turki Utsmani berlangsung dengan cepat, hal ini diikuti pula oleh kemajuan dalam bidang politik, terutama dalam hal mempertahankan eksistensinya sebagai negara besar. Hal ini berkaitan erat dengan sistem pemerintahan yang diterapkan para pemimpin dinasti ini. Selain itu, tradisi yang berlaku saat itu telah membentuk stratifikasi yang membedakan secara menyolok antara kelompok penguasa (small group of rulers) dan rakyat biasa (large mass). Penguasa yang begitu kuat itu bahkan memiliki keistimewaan, seperti (1) pengakuan dari bawahan untuk loyal pada sultan dan negara, (2) penerimaan dan pengamalan, serta sistem berpikir dalam bertindak dalam agama yang dianut merupakan kerangka yang integral, (3) pengetahuan dan amalan tentang sistem adat yang rumit. Yang terpenting adalah bahwa para pejabat dalam hal apapun tetap sebagai budak sultan. Tugas utama seluruh warga negara, baik pejabat maupun rakyat biasa adalah mengabdi untuk keunggulan Islam, melaksanakan hukum serta mempertahankan keutuhan imperium.[5]

Republik Turkiye (Turki Modern)

Negara Turki (Republik Turkiye) terletak di antara dua benua, yaitu Eropa di Utara dan Asia di Selatan. Sebagian kecil dari Negara ini berada di wilayah benua Eropa. Istanbul sebagai kota terbesar di Turki merupakan pertemuan Timur dan Barat. Sehingga dikenal dengan julukan “satu kota dua benua”. Kota ini pernah menjadi ibukota Turki dan merupakan kota terbesar serta terpadat hingga saat ini. Sehingga dalam percaturan politik modern di Turki, kota Istanbul menjadi penentu. Bahkan sering dikatakan, siapa yang menguasai Istanbul, maka ia akan menguasai Turki. Wilayahnya berbatasan dengan Yunani dan Bulgaria di Barat dan Utara, Azerbaijan di Timur Laut, Suriah dan Irak di Selatan serta Iran di Tenggara.

Sebagai negara yang berawal dari salah satu kekhalifahan terbesar Islam, maka keterikatan Turki terhadap Islam begitu kuat sebab mereka adalah bangsa terkemuka di dunia Islam selama beratus-ratus tahun lamanya. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa Turki sebagai bangsa tidak terpisahkan dengan Islam. Sehingga penduduk Turki merasa tersinggung ketika ditanya tetang agamanya. Sebab setiap penduduk Turki adalah Muslim, demikian pandangan masyarakatnya. Walaupun Turki sebagai Negara yang menganut faham sekuler. Hal ini terlihat dari cara berpakaian dan budaya mereka yang lebih dekat kepada Eropa daripada Timur Tengah (baca: Arab).

Kelahiran Republik Turki yang diproklamirkan oleh Mustafa Kemal pada 29 Oktober 1923. Pada tahun 1934, Parlemen Turki memberikan gelar Atatürk (Bapak Bangsa Turki) kepada Mustafa Kemal. Sejak itu pula Turki beralih ke masa republik yang merupakan metamorfosis dari imperium Usmani yang sama sekali berbeda dalam sistem kenegaraannya maupun keberagamaannya.[6] Keputusan Mustafa Kemal Atatürk untuk membentuk Turki sebagai sebuah negara sekuler modern didasarkan kepada kekecewaannya yang sangat mendalam terhadap sistem kekhalifahan sebelumnya. Perjanjian Lausanne tanggal 24 Juli 1923 mendapat pengakuan internasional terhadap kedaulatan negara “Republik Turki” yang baru dibentuk sebagai negara penerus dari Kesultanan Utsmaniyah, dan secara resmi dinyatakan pada tanggal 29 Oktober 1923 di Ankara, ibu kota Turki yang baru. Akhirnya, pada 3 Maret 1924 ia membubarkan institusi yang telah ada sejak masa lalu. Jadi, sistem pemerintahan Turki di era ini bukan lagi sistem dinasti, tetapi sistem demokrasi yang berdasar pada kehendak dan pilihan rakyat. Dengan demikian, kedaulatan Turki di masa reformasi diberikan kepada rakyat, dan sistem kekhalifahan sudah tidak diterapkan lagi di Turki modern saat ini.

Walaupun jauh sebelumnya, Islam telah berkembang pesat di Turki, dan memasuki masa reformasi atau masa peralihan dari kekhalifahan ke republik pada dekade 1920-an dan 1930-an Islam semakin mengalami perkembangan signifikan, sebab memang dalam sejarahnya, mayoritas bangsa Turki adalah Muslim. Bahasa resmi adalah Bahasa Turki, yang diucapkan oleh 85,4 persen populasi sebagai bahasa ibu, sedangkan 11,9 persen populasi berbicara dalam dialek Bahasa Kurdi yakni Kurmanji. Komposisi penduduk di dalam batas-batas Republik Turki berubah secara dramatis, dan sensus tahun 1927 jumlah penduduk non-Muslim berkurang dari 20% menjadi 2,6%, dan terus berkurang setelah itu. Sebaliknya, populasi umat Islam terus berkembang. Pada sensus terakhir di tahun 2000, umat Islam mencapai angka 98%. Tentu saja sampai saat ini, tahun 2007 jumlah populasi tersebut tetap bertahan dan bahkan meningkat untuk tidak mengatakan bahwa penduduknya adalah Muslim semua.[7] Pada kenyataannya, masyarakat Turki selalu mengidentikkan diri mereka dengan Islam. Bahkan mereka merasa kurang senang ketika ditanya apakah ia seorang muslim? Mereka biasanya langsung menjawab bahwa setiap penduduk Turki adalah Muslim. Hal ini tentunya tidaklah aneh karena begitu kuatnya melekat sejarah kejayaan Islam di Turki. Selain itu, untuk menjaga identitas dari keberagamaan mereka ketika bersinggungan dengan masyarakat Eropa lainnya.

Perkembangan Islam dari aspek lain di Turki adalah termasuk dari segi penerapan hukum Islam yang diatur oleh undang-undang negara tersebut. Misalnya, undang-undang keluarga 1924 mengharamkan poligami, menjadikan suami dan istri berkedudukan sama dalam perceraian harus dijatuhkan di pengadilan dengan syarat-syarat tertentu tidak semata-mata hak prerogatif suami. Konstitusi menegakkan hak persamaan wanita dalam pendidikan dan dalam pekerjaan, dan pada tahun 1934 kaum wanita diberi hak untuk dicalonkan dalam pemilihan nasional.[8] Perkembangan dari segi lain, adalah bahwa di Turki dimasa reformasi, lahir partai-partai Islam yang mewadahi aspirasi umat dan mengontrol jalannya sistem pemerintahan. Pada dekade 1960-an Turki dilanda konflik partai, dan antara lain sebab konflik tersebut adalah meningkatnya kecenderungan kesadaran politik. Namun demikian, dalam suasana seperti itu Islam tetap berkembang.

Aspek perkembangan Islam dan sekaligus kebangkitan Islam lainnya diwakili oleh The National Salvation Party yang juga terbentuk pada dekade 1960-an. Partai ini bukan hanya partai agama (Islam), melainkan juga bermaksud mendirikan kembali negara Islam di Turki sebagaimana di masa sebelumnya. Partai Islam ini menentang kapitalisme dan menyerukan kepada negara untuk menegakkan moral dan keadilan sosial. Semangat moral diserukan partai ini kepada kalangan pengrajin di kota-kota kecil, khususnya di Anatolia tengah dan timur. Partai ini mewakili upaya perlindungan sekelompok kecil borjouis Anatolia dari kesewenang-wenangan pemerintah, dan sekaligus mewakili upaya meningkatkan peranan konstituante terhadap pembangunan ekonomi.

Beberapa gerakan Islam di Turki juga menyerukan kepada penduduk perkampungan dan kota-kota kecil yang berpindah ke kota-kota besar dan yang mempertahankan orientasi komunitas kecil dan nilai-nilai lama di lingkungan baru tersebut. Dengan demikian, perkembangan Islam di Turki harus dipahami kaitannya dengan perubahan dan persaingan politik yang bersifat pluralistik di era reformasi dengan adanya partai-partai politik. Perkembangan dinamika politik Turki tidak terlepas dari pengaruh dunia Eropa. Sehingga sering kali pula kebisingan politik yang melanda Eropa mempengaruhi suasana politik di Turki.

Di samping itu, Islam di negara Turki era kontemporer, tetap saja menjadikan ideologi republik sebagai bentuk sekuler dan kalangan atas berkomitmen terhadap ideologi sekuler tersebut. Kelas terdidik perkotaan dari kalangan atas Turki memandang Islam sebagai simbol kemajuan. Sebaliknya, Demikian pula tradisi sufi-pedalaman tetap bertahan dan loyalitas keislaman masyarakat umum belum pernah tergoyahkan.[9]

Warga Turki senantiasa mengindentifikasi diri sebagai Muslim, bahkan sepanjang periode Kemal mereka senantiasa melaksanakan peribadatan di masjid-masjid dan di beberapa makam para wali. Perkembangan Islam di Turki di era kontemporer ini merupakan instrumen bagi kebijakan pemerintah. Ia diakui sebagai komponen vital dalam kandungan budaya bangsa dan digalang untuk meningkatkan persatuan nasional, serta mengajarkan secara perlahan-lahan kebajikan kewarganegaan. Shalat, khususya shalat Jumat di masjid-masjid, didukung pelaksanaannya karena ia mengajarkan secara perlahan-lahan disiplin rasa bermasyarakat. Demikian pula puasa membangun ketabahan dan kesabaran, sementara membayar zakat mendorong rasa murah hati seseorang. Materi khutbah Jumat di Turki ditulis secara khusus untuk mengajarkan kepada masyarakat yang pergi ke masjid, terutama yang buta huruf perihal tugas-tugas warga negara. Dikatakan kepada mereka bahwa kewajiban agama meliputi membayar pajak, mengikuti wajib militer, bekerjasama dengan pemerintah, dan menjadi warga negara yang setia serta patuh. Islam di Turki dewasa ini ditampilkan sebagai sebuah agama rasional dan ilmiah.[10]

Demikianlah Islam di Turki dengan aktivitas ritual keislamannya yang terus tersosialisai merupakan simbol perkembangan Islam itu sendiri di negara tersebut. Salah satu pelajaran besar yang amat berharga bagi perkembangan dunia Islam pada umumnya adalah, bahwa Turki telah melakukan reformasi sejarah, yang bermuara pada kenyataan bahwa hampir seluruh penduduknya muslim. Hal tersebut sesungguhnya telah berproses lama sejak masa kerajaaan Turki Usmani sampai masa kini di era kontemporer.

Kunjungan DP MUI Sumatera Utara

Majelis Ulama Indonesia (disingkat MUI) MUI Pusat adalah wadah tempat bergabungnya ulama, zu’ama, aqhniya dan cendekiawan Muslim, berdiri pada tanggal 11 Januari 1975 M bertepatan dengan 28 Zulhijjah 1394 H. Lahir sebagai respon terhadap kondisi internal umat Islam yang majemuk (heterogen) dalam alam pikiran keagamaan, organisasi sosial, dan kecenderungan aliran dan aspirasi politik, sehingga  umat Islam terjebak ke dalam egoisme kelompok (ananiyah hizbiyah). Kondisi ini meniscayakan (wajib al amanah), adanya kepemimpinan umat Islam yang bersifat kolektif sebagai pemersdatu dan perekat umat Islam.

Selain itu juga sebagai respon terhadap tantangan global, seperti  dominasi Barat dengan ideologi liberalisme, kapitalisme, dan sekularisme. Ditambah lagi dengan keinginan perwujudan masyarakat Indonesia baru, masyarakat madani (khair al-ummah) yang menekankan nilai-nilai persamaan manusia (al-musawah), keadilan (al-adalah), dan demokrasi (syura). Dalam kondisi ini para ulama, zuama, dan cendikiawan Muslim menyadari pentingnya wadah bersama sebagai perkhidmatan bersama yang mengikat, dan dalam kaitan itulah Mjelis Ulama Indonesia lahir.

MUI Sumatera Utara berdiri tanggal  11 Januari 1975, bertepatan dengan 28 Zulhijjah 1394 H. Dibentuk sebagai hasil musyawarah ulama se Sumatera Utara tanggal 10-11 Januari 1975. Majelis Ulama Indonesia memiliki Sembilan Orientasi, salah satunya adalah “ta’âwuniyah” yaitu bahwa MUI Sumatera Utara adalah wadah perkhidmatan yang mendasari diri pada semangat tolong-menolong untuk kebaikan dan ketakwaan dalam membela kaum dhu’afa untuk meningkatkan harkat dan martabat, serta derajat kehidupan masyarakat, yang didasarkan pada ukhuwah Islamiyah sebagai landasan mengembangkan persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) sebagai bagian Integral bangsa Indonesia dan memperkukuh persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) sebagai anggota masyarakat dunia. Dalam menjalin hubungan ini DP MUI Sumatera Utara memnadang perlu melakukan kunjungan silaturrahim baik dalam maupun luar negeri. Hal ini untuk mempererat hubungan persaudaraan baik sebangsa dan setanah air maupun dengan saudara seakidah di seluruh belahan dunia.

Oleh karena itu, pada tahun 2019 ini DP MUI Sumatera Utara merencanakan untuk melakukan kunjungan silaturrahim ke beberapa Negara seperti Turki, Mesir, Saudi Arabia, Australia dan Asia Tenggara. Hal ini dipandang sangat penting untuk memperkaya khazanah wawasan pemikiran dan pengetahuan DP MUI Sumatera Utara dalam menjawab berbagai problematika keumatan di tanah air. Dalam kunjungan silaturahim ini akan menemui para ulama dan berkunjung ke institusi keulamaan di berbagai negera tersebut. Berdiskusi dan bertukar pikiran serta pengalaman dalam mengatasi beragam permasalahan khususnya dalam urusan agama dan sosial budaya.

Dasar dan Tujuan Kunjungan Silaturrahim DP MUI SU

Kunjungan Silaturrahim DP. MUI Sumatera Utara merupakan program kerja yang telah dirancang beberapa tahun yang lalu. Pembahasan terhadap kegiatan MUI Sumatera Utara dilakukan pada Rapat Kerja MUI Sumtaera Utara yang dilaksanakan setiap tahun. Selanjutnya dibahas secara mendetail dalam rapat-rapat Dewan Pimpinan MUI Sumatera Utara. Pada Rencana Anggaran Biaya MUI Sumatera Utara tahun 2019 dituangkan program kunjungan silaturrahim dan multaqa ulama di beberapa negara seperti Turki, Mesir, Saudi Arabia, Australia dan Asia Tenggara. Dalam buku ini secara khusus disampaikan tentang hasil kunjungan silaturrahim DP MUI Sumatera Utara ke Turki.

Adapun tujuan kunjungan silaturrahim ini antara lain sebagai berikut:

  1. Untuk menjalin silaturrahim antara DP MUI Sumatera Utara dengan Ulama di Turki.
  2. Untuk melihat dari dekat penerapan nilai-nilai Moderasi Islam (Islam wasathiyah) yang dilaksanakan di Turki dalam membangun harmoni tolerasi antar umat beragama dan internal umat beragama guna mencegah terorisme.
  3. Untuk mengetahui dan melihat langsung tata cara beribadah masyarakat Turki baik yang bersifat individual maupun berjamaah. Hal ini sangat urgen untuk memperkaya wawasan pengetahuan dijajaran DP MUI Sumatera Utara dalam menghadapi berbagai problematika Umat di tanah air.
  4. Untuk menjalin hubungan silaturrahim dan berdiskusi serta bertukar pikiran dengan Dewan Fatwa di Istanbul Turki seputar Fatwa dan jawaban hukum terhadap permasalahan keagamaan dan sosial di tanah air khususnya di Sumatera Utara.
  5. Untuk menjalin hubungan baik dengan yayasan pendidikan dan keagamaan di Turki dalam rangka pengembangan Pendidikan Tinggi Kader Ulama MUI SU.
  6. Untuk melihat langsung dan menghayati perjalanan kejayaan peradaban umat Islam yang pernah dicapai pada masa Turki Utsmani.
  7. Untuk mengembangankan dan membina wawasan pemikiran dan pandangan keislaman dalam merealisasikan islâm rahmatan lil ‘âlamîn.

Tempat, Waktu, dan Pelaksana Kunjungan Silaturrahim

Kegiatan kunjungan silaturrahim dan ziarah ilmiah DP MUI Sumatera Utara ini akan dilaksanakan di Turki (Bursa dan Istanbul) pada tanggal 18-25 Juni 2019. Dalam kegiatan kunjungan silaturrahim ini DP MUI Sumatera Utara mengunjungi kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia di Istanbul – Turki, Dewan Fatwa dan Ma’had Tahfizh al-Qur’an Sulaimaniye di wilayah Umraniye Turki serta lembaga keagamaan lainnya di Bursa dan Istanbul Turki.

Adapun rombongan DP MUI Sumatera Utara yang mengikuti Kunjungan Silaturrahim dan Ziarah Ilmiah ini sebanyak 11 orang. Namun salah seorang peserta tidak dapat ikut disebabkan administrasi. Berikut keterangan peserta:

NO NAMA JABATAN PASPOR NO HP
1 Prof. Dr. H. Abdullah Syah, MA Ketua Umum*) C 3375764 081375082777
2 Dr. H. Maratua Simanjuntak Wakil Ketua Umum B 0560742 081361113548
3 Prof. Dr. H. Asmuni, MA Ketua Pemuda B 3758969 081397015844
4 Dr. H. Ramlan Yusuf Rangkuti, MA Ketua Hukum C 0933033 08126584794
5 Dr. H. Asren Nasution, MA Ketua Infokom B 4193725 08126050956
6 Dr. H. Ardiansyah, MA Sekretaris Umum C 2427768 08126077543
7 Dr. H. Sakhira Zandi, M.Si Sekretaris B 6567810 081262016759
8 Dr. H. Arifinsyah, M.Ag Sekretaris B 6107082 081376460415
9 H. Ahmad Husein, SE Bendahara Umum B 7055011 0811636086
10 H. Alimuddin, SE Bendahara C 3378321 085275700782
11 Zain  Makruf, S.Sos.I Pembantu Bendahara C 1409899 081361488588
  • Jadwal Kunjungan

JADWAL KUNJUNGAN SILATURRAHIM MULTAQA’ ULAMA

DEWAN PIMPINAN MAJELIS ULAMA INDONESIA PROVINSI SUMATERA UTARA

TURKI 18 S/D 25 JUNI 2019

NO HAR/TANGGAL WAKTU KEGIATAN KET
1 Selasa, 18 Juni 2019 13.00 Berkumpul di Kuala Namu Int. Airport untuk berangkat menuju Istanbul via KLAI.  
15.45 take off terbang ke KLAI dengan Malaysia Airline.  
23.05 take off terbang Istanbul dengan Turkish Airline  
2 Rabu 19 Juni 2019 05.05 Tiba di bandara International Istanbul, proses imigrasi dan pengambilan bagasi, bertemu dengan guide (Namic). Sarapan pagi dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju ke Bursa. Menyeberangi Laut Marmara dengan kapal. Mengunjungi kawasan Green Tomb, Green Mosque, Ulu Camii’ (Grand Mosque). Makan siang.  
19.30 Chek in di Hotel Kervansaray Thermal Bursa Makan malam dan istirahat.  
3 Kamis 20 Juni 2019 08.00 Sarapan pagi di Hotel Kervansaray Thermal Bursa. Selanjutnya Chek out menuju ke KJRI di Istanbul  
10.00 Kunjungan Silaturrahmi DP MUI SU ke kantor KJRI Istanbul.  
13.00 Makan Siang di Galata Bridge  
14.30 Mengunjungi kawasan Suleymaniye Mosque, makam Sultan Suleyman I, Hurrem Sultan, Mihrimah Sultan.  
16.00 Mengunjungi Kantor Dewan Fatwa Istanbul dan bertemu dengan Pengurus Dewan Fatwa.  
18.00 Mengunjungi dan melihat dari dekat aktifitas perkuliahan di Istanbul Universitesi.  
20.00 Makan malam  
21.30 Ditransfer ke Hotel Clarion di Mehmetbay – Istanbul dan Istirahat.  
4 Jum’at 21 Juni 2019 07.00 Sarapan pagi di Hotel Clarion di Mehmetbay – Istanbul.  
09.00 Kunjungan Silaturrahim DP MUI SU ke Ma’had Tahfizh al-Qur’an Sulaimaniye di kawasan Umraniye Istanbul.  
12.00 Makan Siang  
13.30 Mengikuti Pelaksanaan Shalat Jumat di Masjid Camlica Camii’ yang dibangun Presiden Erdogan.  
16.00 Mengunjungi dan melihat dari dekat sejarah penaklukan Benteng Konstantinopel, Laut Marmara dan teluk Tanduk Emas.  
19.00 Makan malam  
20.30 Istirahat kembali ke Hotel Clarion di Mehmetbay – Istanbul.  
5 Sabtu 22 Juni 2019 07.00 Sarapan pagi di Hotel Clarion di Mehmetbay – Istanbul.  
08.00 Mengunjungi situs sejarah dan melihat langsung peninggalan sejarah Turki Utsmani (Otthoman Empire); Topkapi Palace, dan Blue Mosque, serta melaksanakan Shalat Berjamaah.  
13.00 Makan siang  
14.30 Mengunjungi dari dekat situs sejarah agama Kristen; Basilica (gereja) Hagya Sophia dan Hippodrome square peninggalan sejarah Kaisar Constantine dari Byzantium Romawi Timur.  
19.00 Makan Malam  
20.30 Istirahat kembali ke Hotel Clarion di Mehmetbay – Istanbul.  
6 Minggu 23 Juni 2019 08.00 Sarapan pagi di Hotel Clarion di Mehmetbay – Istanbul.  
11.00 Persiapan Chek out DP MUI SU  
12.00 Mengunjungi Museum Panorama 1453 M yang mengilustrasikan Penaklukan Benteng Konstantinopel oleh Sultan Muhammad al-Fatih.  
14.00 Makan siang di Galata Bridge  
15.00 Menyusuri dengan kapal Selat Bosphorus yang memisahkan Benua Asia dan Eropa, Teluk tanduk emas, jembatan al-Fatih Sultan Mehmet dan jembatan Bhosphorus,  serta menyaksikan keindahan alam sekitar Istanbul sebelum kembali ke tanah air.  
18.30 Makan Malam  
20.00 Menuju Istanbul International Airport untuk terbang menuju KLAI Malaysia  
23.00 Proses Imigrasi di Istanbul International Airport  
7 Senin 24 Juni 2019 03.15 Waktu Istanbul Terbang dari Istanbul International Airport menuju Kuala Lumpur dengan Turkis Airline  
17.15 Waktu Kuala Lumpur Tiba di KLIA selanjutnya menuju hotel transit (Hotel Sri Langit).  
18.30 Proses Imigrasi di bandara KLAI Malaysia  
21.00 Makan malam dan Istirahat di Hotel Sri Langit Kuala Lumpur.  
8 Selasa 25 Juni 2019 08.30 Waktu KL Terbang dari Kuala Lumpur menuju KNO Deli Serdang.   
08.30 WIB Tiba di Tanah Air (bandara Kuala Namu Deli Serdang) – Kunjungan selesai.  

Jadwal Penerbangan :

18 Juni 2019 : KNO KUL by MH 865 at 15.45 – 17.50

18 Juni 2019 : KUL IST by TK 061 at 23.05 – 05.05 (+1)

24 Juni 2019 : IST KUL by TK 060 at 03.15 – 17.15

25 Juni 2019 : KUL KNO at MH 860 at 08.30 – 08.30


[1] Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam; Emperium Turki Utsmani, (Jakarta: Kalam Mulia, 1988), hlm. 83-85. Lihat juga Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, penerjemah Ghufron A. Mas’adi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999), hlm. 91

[2] Eric J. Zurcher, Sejarah Modern Turki, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm. 243

[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 19993), hlm. 137

[4] Ada tiga periode sejarah perjalanan Islam: (a) periode klasik [650-1250], (b) periode pertengahan [1250-1800 M], dan (c) periode modern [1800-sekarang]. Untuk penjelasan lebih lanjut lihat Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid I, Cet. ke-5 (Jakarta: UI-Press, 1985), 56-58.

[5] Fathur Rahman, Sejarah Perkembangan Islam di Turki, dalam jurnal Tasamuh, Vol. 10, no. 2 September 2018, hlm. 302-307

[6] Hasan Ibrahim Hasan, Mausu‘ât al-Târîkh al-Islâmi, (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Misriyah, 1967), jilid VI, hlm. 127.

[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Turki#Agama

[8] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Islam di Kawasan Dunia Islam, Cet. I (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 219. Iwan Gayo (ed.), Buku Pintar Seri Senior Plus 20 Negara Baru, Cet. VI (Jakarta: Dipayana, 2000), hlm. 581.

[9] Fathur Rahman, Sejarah Perkembangan Islam di Turki, 305

[10] Fathur Rahman, Sejarah Perkembangan Islam di Turki, hlm. 308.