KIAT MERAIH LAILATUL QADR, Oleh : Hj.Tjek Tanti, Lc, MA

0
753 views

Disampaikan pada Ahad, 17 Ramadhan 1441 H, secara live streaming Yutube, Facebook, dan Instagram

Pendahuluan

Lailatul Qadar adalah satu malam yang sangat  instimewa bagi umat Islam. Malam ini menjadi istimewa karena ia di sebut di dalam Al Quran sebagai malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Artinya, siapa yg beramal di malam Lailatul Qadar ini, lebih baik bagimya dari beramal 1000 bulan atau 83 tahun lebih. Maka dari itu, setiap Muslim yang taat pastilah mendambakan untuk mendapatkan malam istimewa ini.

Malam Lailatul Qadar juga dikenal sebagai malam diturunkannya kitab suci Al-Qur’an ke muka bumi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Qadar;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ . لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ . تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ . سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ .

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al Qur’an] pada malam Lailatul Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadr itu. Malam Lailatul Qadr1 itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan.  Malam itu [penuh] kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Rasulullah saw bersabda tentang keutamaan Lailatul Qadar sebagai berikut:

ان هذا الشهر قد حضركم وفيه ليلة خير من الف شهر من حرمها فقد حرم الخير كله

 ولايحرم خيرها الا محروم

            “Sesungguhnya bulan ini telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa terhalang untuk mendapatkan kebaikannya, berarti ia terhalang untuk mendapatkan seluruh kebaikan. Dan tidak terhalang mendapatkan kebaikannya, kecuali orang yang betul-betul bernasib buruk.”(HR. Ibnu Majah)

Makna Lailatul Qadr

Al-Qadr dari satu sisi memiliki arti kedudukan yang tinggi dan kehormatan yang besar. Berdasarkan makna ini, Lailatul Qadr berarti malam yang memiliki kemulian, kehormatan dan keagungan. Di malam ini, Allah menganugerahkan kemuliaan dan kehormatan yang selayaknya diterima oleh hamba-hambaNya yang salih di dunia maupun di akhirat.

Dari sisi yang lain, al-Qadr berarti penetapan hukum-hukum dan pembagian jatah rezeki kepada seluruh umat manusia. Berdasarkan makna yang kedua ini, Lailatul Qadr berarti malam di mana Allah menentukan takdir hamba-hambaNya, berbagi kondisi dan masa depan mereka. Ketentuan takdir ini diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia, untuk diberlakukan kepada mereka selama setahun.

Dari kedua makna ini, Lailatul Qadr merupakan malam terbaik sepanjang tahun. Karena seluruh bagiannya telah dipenuhi dengan berkah dan kebaikan. Jika kita mendapatkan kebaikan dan keberkahannya, berarti kita telah meraih karunia yang besar dan mendapatkan kemuliaan yang agung. Sebaliknya, jika terhalang mendapatkan kebaikan dan keberkahannya, berarti kita akan terhalang mendapatkan kebaikan dan keberkahan di malam-malam lainnya.

Kemuliaan dan Keagungan Lailatul Qadr

Malam ini memiliki keutamaan dan keagungan yang sangat banyak, diantaranya adalah :

  • Malam ini lebih baik daripada seribu bulan, yakni amal salih yang dikerjakan pada malam ini lebih baik daripada amal kebaikan yang dikerjakan selama seribu bulan, yang tidak ada Lailatul Qadr di dalamnya.
  • Pada malam ini, para malaikat di bawah pimpinan Malaikat Jibril turun ke bumi. Dengan banyaknya malaikat yang berada di bumi, akan memberikan kebaikan dan menyingkirkan setan-setan, sehingga kita merasa mudah untuk berbuat kebajikan.
  • Pada malam ini, kaum Muslim dipenuhi dengan kesejahteraan hingga terbit fajar. Setan tidak bisa mengusik dan mengganggu mereka.
  • Malam ini penuh dengan berkah, sehingga barangsiapa yang terhalang mendapatkan berkahnya, maka ia terhalang mendapatkan anugerah yang sangat besar.
  • Pada malam ini, Allah memberikan ampunan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Abu Abdurrahman berkata: “Pada malam kemuliaan, didatangkan buku catatan besar selama setahun. Lalu Allah mengampuni orang-orang yang dikehendakiNya.”
  • Malam kemuliaan ini akan selalu ada hingga hari kiamat. Abu Dzar ra berkata:

يا رسولَ اللهِ ، أخبِرْني عن ليلةِ القدرِ أفي رمضانَ أم في غيرِ رمضانَ ؟ قال صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ : بلْ في رمضانَ . قلتُ : يا رسولَ اللهِ ، أهيَ مع الأنبياءِ ما كانوا فإذا قُبِضَ الأنبياءُ رُفِعَتْ ، أم هيَ إلى يومِ القيامةِ ؟ قال صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ : بل هيَ إلى يومِ القيامةِ قلت يا رسول الله أخبرنى فى أي رمضان هي ؟ قال في العشر الأواخر لا تسألنى عن شئ بعدها

“Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku mengenai Lailatul Qadr. Apakah ia di bulan Ramadhan ataukah di luar bulan Ramadhan?”

Rasulullah saw menjawab,“Justru ia berada di bulan Ramadhan”

Aku bertanya, “Beritahukanlah kepadaku wahai Rasulullah, apakah malam itu terjadi pada masa para nabi selama mereka masih hidup? Apabila mereka meninggal dunia, apakah malam itu akan diangkat, ataukah tetap ada hingga hari Kiamat?”

Rasulullah saw menjawab, “Tidak, justru ia akan tetap ada hingga hari Kiamat”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, di hari apakah dari bulan Ramadhan malam itu tiba?”

Beliau pun menjawab,“Pada sepuluh hari terakhir. Setelah ini, janganlah kamu bertanya kepadaku lagi mengenai hal ini sedikit pun.”(HR. al-Hakim)

  • Tidak ada tanda-tanda permulaan yang dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menentukan bahwa malam tertentu adalah malam Lailatul Qadr. Justru tanda-tanda itu muncul di pagi harinya setelah berlalu Lailatul Qadr. Seperti matahari bersinar terang, tetapi tidak terasa menyengat di esok harinya. Oleh karena itu, pedoman kita dalam mencari Lailatul Qadr adalah penjelasan dari Rasulullah saw. Karena itu, mau tidak mau kita harus bersungguh-sungguh meningkatkan amal ibadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil, terutama pada tujuh malam terakhir.

Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadr

Ubadah bin ash-Shamit ra menuturkan:

Rasulullah keluar untuk memberitahukan kepada kami tentang Lailatul Qadr, lalu ada dua orang dari kalangan Muslimin yang berdebat. Beliau pun bersabda, “Aku keluar untuk memberitahukan kepadamu tentang Lailatul Qadr, lalu Fulan dan Fulan berdebat, sehingga ingatan tentang malam itu terangkat dari memoriku. Semoga hal ini justru lebih baik bagimu. Oleh karena itu, carilah Lailatul Qadr di malam kesembilan, ketujuh dan kelima.”(HR. Bukhari)

Rasulullah saw menjadi lupa pada malam keberapa tepatnya Lailatul Qadr, tapi beliau masih mengingat bahwa Lailatul Qadr jatuh pada sepuluh hari yang terakhir di malam-malam ganjil, sebagaimana sabda beliau,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

            Carilah Lailatul Qadr pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Beberapa Hikmah Mengapa Lailatul Qadr ini Datangnya Dirahasiakan

  • Allah merahasiakannya agar tidak hanya Lailatul Qadr yang diagungkan, tetapi semua malam yang diperkirakan sebagai kemungkinan Lailatul Qadr juga diagungkan, dengan mengerjakan berbagai bentuk ibadah secara bersungguh-sungguh di semua malam yang diharapkan sebagai Lailatul Qadr. Sebagaimana Allah menyembunyikan asma Allah Yang Paling Agung agar umat manusia mengagungkan semua asmaNya.
  • Ketika seorang hamba bersungguh-sungguh beribadah karena berharap mendapatkan Lailatul Qadr, meskipun ia belum yakin apakah malam ini adalah Lailatul Qadr, maka Allah akan membanggakan hamba itu di hadapan malaikat seraya berfirman, yang artinya, “kalian telah mengatakan bahwa manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi dan akan menumpahkan darah, padahal hambaKu ini telah diketahuinya dengan yakin. Bagaimana seandainya Aku memberitahukan secara jelas Lailatul Qadr kepadanya? Pada saat itulah akan terlihat jelas bahwa Aku Maha Mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui.”
  • Allah menyembunyikannya agar kaum Muslimin bersungguh-sungguh untuk mencari dan menentukannya, sehingga mereka mendapatkan pahala orang-orang yang berjihad. Berbeda halnya kalau Lailatul Qadr telah diberitahukan, berarti mereka tidak akan mendapatkan pahala jihad di samping pahala ibadah yang dikerjakannya.

Kendati demikian, sebagian besar ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadr itu jatuh pada malam ke-27, berdasarkan sabda Rasulullah saw,…

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِى لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

            “Barangsiapa yang mencarinya, maka hendaklah mencarinya di malam kedua puluh tujuh.” (HR. Ahmad)

     Oleh karena itu, kita harus meningkatkan amal ibadah kita selama sepuluh hari terakhir, terlebih lagi pada malam-malam ganjil, terutama pada tujuh malam yang tersisa, terlebih lagi malam kedua puluh tujuh.

Langkah-langkah Meraih Lailatul qadr

            Tidak ada seorangpun yang lebih tahu tentang bagaimana meraih atau mendapatkan Lailatul Qadr selain Rasulullah saw. Oleh sebab itu siapa saja yang ingin meraih Lailtul Qadr hendaklah mengikuti apa yang beliau saw lakukan.

  • Mengoptimalkan amal ibadah dan meminimalkan amal duniawi selama sepuluh hari terakhir. Aisyah ra menuturkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ

“Rasulullah saw sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Aisyah ra juga menuturkan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila Nabi saw memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (tidak menggauli istri), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)

  • Melakukan iktikaf selama sepuluh hari terakhir, sehingga dengan demikian kita bisa meningkatkan amal ibadah tanpa mendapatkan banyak gangguan, Aisyah ra menuturkan,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ،

 ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Bahwa Nabi saw selalu beriktikaf selama sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, hingga beliau meninggal dunia. Setelah itu, para isteri beliau beriktikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Memperbanyak shalat malam, Rasulullah saw bersabda,…

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang mengerjakan ibadah (shalat) pada malam Qadar dengan iman dan berharap hanya kepada Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (HR al-Bukhari dan Muslim).

  • Memperbanyak istighfar dan mohon ampunan. Imam ar-Rafi’i berkata, “Disunahkan untuk memperbanyak doa di semua waktu, lebih banyak lagi di bulan Ramadhan, lebih banyak lagi di sepuluh malam terakhir, lebih banyak lagi di malam-malam ganjilnya. Di antara doa yang disunahkan untuk selalu kita baca adalah doa yang terdapat dalam hadits yang  diriwayatkan Aisyah ra. Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw :

            يَارَسُوْلَ اللهِ اَرَاَيْتَ اِنْ عَلِمْتُ اَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلًةَ الْقَدْرِ مَااَقُولُ فِيْهَا. قَالَ قُوْلِى

         اَللَّهُمَّ اِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى‎

     “Wahai Rasulullah, apa pendapat Engkau, seandainya aku menemukan malam Lailatul Qadar, maka do’a apakah yang semestinya aku ucapkan? Rasullullah SAW, menjawabnya; berdo’alah dengan mengucapkan “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, menyukai  ampunan, maka ampunilah aku.” (HR.Ahmad).

  • Tidak berbuka terlalu kenyang dan tidak memenuhi perut dengan makanan di malam hari, agar tidak mengantuk, sehingga bisa menghidupkan malam-malam Ramadhan. Rasulullah saw senantiasa mengencangkan sarungnya, yang berarti beliau tidak banyak makan malam hari, sehingga bisa menghidupkan malam untuk mendapatkan Lailatul Qadr.
  • Membersihkan diri dari dorongan syahwat, agar lebih konsentrasi dalam melaksanakan ibadah. Diantara makna mengencangkan ikatan sarung adalah tidak menggauli isteri dan tidak makan terlalu kenyang.

Keluasan Ampunan Allah swt

Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan :

  عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ :قَالَ اللهُ تَبَارَك وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ لْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً. Dari Anas bin Malik ra ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda; Allah Azza wa Jalla berfirman : Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli.Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR.Tirmidzi)   Hadis ini menyebutkan tiga syarat mendapatkan ampunan : Berdoa Disertai Harapan يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ Berdoa disertai harapan, karena doa diperintahkan dan dijanjikan untuk dikabulkan. Allah Azza wa Jalla berfirman : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Dan Tuhanmu berfirman, berdoalah kamu kepadaku niscaya Kuperkenankan permintaan kamu itu (QS. al-Mu’min:60). Rasulullah saw bersabda: اُدْعُوا اللّٰـهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالْإِجَابَةِ ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰـهَ تَعَالَـى لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ “Berdoalah kamu kepada Allah sedangkan kamu yakin bakal diijabah. Ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengijabah doa dari hati orang yang lalai lagi main-main”. Senantiasa Istighfar يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ 3. Tauhid Merupakan Faktor Terbesar Penyebab Ampunan يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً
Barangsiapa tidak mempunyai tauhid, ia tidak mendapatkan ampunan Allah Azza wa Jalla berfiman : إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An-Nisa:48)
Lafazh-lafazh Istighfar Yang Biasa Diamalkan Rasulullah Saw أَسْتَغْفِر ُاللهَ…أَسْتَغْفِرُ اللهَ  العَظِيم  َالَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ اْلحَيُّ اْلقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي  فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم.اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيْرًا, وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ اللهَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.سيد الاستغفار اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ (أَمَاتُك)، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ “Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau”.     Dari Abdullah bin Abbas ra ia berkata: Rasulullah saw bersabda:     مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هُمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا،   وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ                                                                                                 “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Allah akan membebaskannya dari segala kegundahan, melepaskannya dari segala kesempitan dan memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (HR. Abu Daud & Ibnu Majah)    
           Demikianlah paparan singkat tentang Kiat Meraih Lailatul Qadr; makna Lailatul Qadr; kemuliaan dan keagungannya; hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadr; langkah-langkah untuk mendapatkannya; serta penjelasan Rasulullah saw tentang keluasan ampunan Allah swt. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu mengoptimalkan amal ibadah di malam kemuliaan ini, sehingga dapat meraih ridho dan limpahan pahala yang telah dijanjikan oleh Allah swt. Amin…