TAUJIHAT KEBANGSAAN MAJELIS ULAMA INDONESIA 2021

0
106 views

  • 1. Negara Republik Indonesia didirikan di atas landasan semangat persatuan dan kesatuan. Para pendiri bangsa (founding fathers) meneladankan hal itu melalui perilaku antar mereka. Kepentingan pribadi, kelompok, suku, golongan, ataupun agama, dihindari apabila hal itu akan membawa dampak terjadinya perpecahan bangsa. Mereka mengedepankan semangat saling menyatu dan saling menguatkan untuk berdiri dan jayanya Indonesia.
  • 2. Semangat mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa tidak menghalangi para pendiri bangsa untuk saling bertukar pikiran dan bahkan berbeda pendapat. Silang pendapat atau gesekan pemikiran dilakukan demi kepentingan yang lebih konstruktif, yaitu membangun dan menguatkan ekonomi Nasional. Setajam apapun perbedaan pendapat tidak menghalangi hubungan personal di antara meraka yang tetap terjalin akrab dan hangat. Sehingga perbedaan pendapat di antara mereka membawa berkah bagi Indonesia.
  • 3. Semangat sebagaimana diteladankan oleh para pendiri bangsa tersebut saat ini terasa mulai luntur. Terindikasi kuat telah terjadi polarisasi akut di antara anak bangsa, sehingga berpotensi membelah bangsa ini. Polarisasi tersebut semakin hari menunjukkan tanda semakin menguat, dimana hal itu dikhawatirkan dapat menumbuhkan embrio perpecahan bangsa.
  • 4. Perbedaan pendapat tidak lagi ditanggapi sebagai hal yang konstruktif dalam kerangka memajukan kepentingan bangsa. Perbedaan pendapat juga dipublish tanpa mengindahkan fatsun dan norma yang telah menjadi kesepakatan bersama sebagai bangsa. Yang terjadi adalah terciptanya blok kami dan mereka. Apabun yang berasal dari kelompok kami, dianggap benar dan dibela sedemikian rupa. Sebaliknya, apapun yang berasal dari kelompok mereka, dianggap salah dan diserang habis-habisan. Tiada lagi nalar waras dan jernih untuk mendiskusikan suatu masalah.

Atas dasar itu MUI mengajak semua lapisan bangsa untuk mengambil langkah strategis dan fundamental sebagai-berikut:

  1.  Mengembalikan semangat menyatu demi kepentingan bangsa, tanpa menghilangkan perbedaan pendapat yang ada melalui ruang-ruang dialog, bertemunya pemikiran yang berbeda, dan forum perjumpaan antar kelompok masyarakat yang berbeda. Sehingga masyarakat tidak alergi terhadap perbedaan pendapat dan tidak otomatis menjadikan pihak yang tidak sepaham dengannya sebagai musuh yang harus ditolak.
  2. Kepada Pemerintah diharapkan tidak alergi / apriori terhadap kritik dan pikiran berbeda dari masyarakat. Pendekatan represif dengan mempergunakan instrument hukum untuk membungkam para pengkritik menjadi embrio semakin mengkristalnya pihak-pihak yang kritis terhadap Pemerintah.
  3. Kepada masyarakat diharapkan dapat lebih proporsional dalam menanggapi kebijakan dan kinerja Pemerintah. Yang positif diapresiasi dan didukung, sedangkan yang dirasa menyimpang disampaikan kritik dengan menggunakan saluran yang ada, memperhatikan aspek kepantasan, dan tetap mengedepankan persatuan bangsa.
  4. Mengajak semua pemagku kepentingan untuk mengehntikan segala bentuk polarisasi ini  yang akan dapat membawa dampak destruktif bagi bangsa ini. Oleh karenanya, perlu ada kesadaran bersama untuk mengembalikan semangat saling menyatu dan menjadikan kepentingan bangsa di atas semua kepentingan yang ada.
  5.  Mengajak para pemimpin bangsa untuk mengedepankan  contoh (qudwah hasanah)  oleh para pendiri bangsa, tanpa harus menghilangkan perbedaan-perbedaan yang ada. Di dalam masyarakat majemuk seperti di Indonesia perbedaan merupakan suatu keniscayaan.
  6. Secara khusus MUI mengajak pegiat dunia maya (netizen) untuk ikut serta berperan aktif dalam upaya menciptakan suasana dialogis yang konstruktif di tengah masyarakat, terciptanya forum-forum perjumpaan ide yang saling menghargai pendapat dalam menanggulangi Covid 19 dalam mewujudkan kesehatan bangsa untuk memulihkan ekonomi nasional  melalui semangat persatuan dalam konteks kebangsaan.