PTKU MUI SUMUT MENGABDI di Daerah Muslim Minoritas

0
719 views

Tgl 7 sd 12 Mei 2019

Ketika mendengar kata Muslim Minoritas, maka yang terbesit dalam benak kita adalah sedikitnya jumlah orang Islam di daerah tersebut. Umumnya jika jumlah muslimnya sedikit, maka kekuatan keislamannya lemah. Berbeda halnya dengan penduduk muslim yang hidup di perkotaan, jumlah Masjidnya banyak dan para pengajarnya pun bertebaran, sehingga sarana untuk memperoleh ilmu mudah didapat. Begitulah yang terjadi di Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, sebuah daerah muslim minoritas yang serba kekurangan terhadap fasilitas untuk menjalankan Agama Islam dengan sempurna.

Melihat latar belakang ini, maka Direktur PTKU-MUI SUMUT mengutus mahasiswa PTKU yang berjumlah dua belas orang untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat yang berada disana. Pengabdian itu dilakukan dienam Masjid yang ada di Kecamatan Pangaribuan selama enam hari mulai dari tanggal 7 sampai 12 Mei 2019. Kegiatan ini didanai oleh PTKU-MUI SUMUT, berupa biaya makan dan transportasi, sehingga mahasiswa hanya fokus memaksimalkan kegitannya di Masjid tempat pengabdiannya.

Mahasiswa diberangkatkan pada hari Selasa, 7 Mei 2019 pukul 11.00 menuju Kecamatan Pangaribuan dengan sebuah bus bersama dua orang pendamping yaitu ustadz Fuadi dan ustadz Dahri. Keberangkatan itu dilakukan setelah acara pelepasan oleh ketua MUI SU kepada mahasiswa PTKU yang dihadiri oleh beberapa petinggi MUI SU.

Sesampainya di Kecamatan Pangaribuan tepatnya di K.U.A. Desa Batunadua pukul 23.00, mahasiswa PTKU diberikan arahan oleh Bapak Hamzah selaku pengurus K.U.A untuk menginap di Kantor tersebut dan menasehati hal yang harus dilakukan dalam pengabdian serta pengenalan tentang kampung yang akan dikunjungi.

Acara penyerahan mahasiswa dari Bapak Hamzah kepada pengurus BKM

Mulai pada hari Rabu pagi, semua mahasiswa dijemput dan diantarkan oleh pengurus masjid masing-masing desa yang merupakan penanggung jawab tepat tinggal mahasiswa, dengan terlebih dahulu dilakukan acara penyerahan oleh Bapak Hamzah, mulai dari masjid yang jaraknya dekat seperti masjid Taqwa ditugaskan kepada Arjan saputra dan Agusman Fatemaluo, hingga tempat terakhir yang berjarak sekitar 22 kilometer diantar pukul 14.00 ke Mesjid Baiturrahman Silantom Jae, yaitu Saddan Yasir dan Fandi Fakhruddin.

Keadaan jalan yang dilalui begitu sangat mengerikan, mulai dari tanjakan yang tinggi disertai jurang-jurang disamping jalan sampai melalui jalan yang tidak beraspal jika hujan turun maka jalanan akan becek dan licin sehingga dapat menyebabkan kecelakaan.

Pada malam pertama, acara yang dilakukan mahasiswa di Masjid tempat pengabdiannya adalah sesi perkenalan kepada warga desa tepatnya setelah shalat tarawih karena pada waktu shalat yang lain banyak warga yang sibuk bekerja. Mahasiswa memberitahukan tujuan dan kegiatannya, seperti ceramah setelah tarawih, mengajar anak-anak mengaji, tanya jawab dengan bapak-bapak dan ibu-ibu, dan kegiatan tambahan lainnya yang dianggap perlu.

Selain melaksanakan kegiatan diatas mahasiswa juga membersihkan toilet Mesjid untuk mengingatkan jamaah masjid akan pentingnya menjaga kebersihan, bertindak sebagai khatib Jumat serta mengunjungi warga sekitar untuk mencontohkan betapa pentingnya saling mengunjungi untuk mempererat tali silaturrahim.

Salah satu penyuluh agama yaitu ustadz Yunus Gultom yang dikunjungi Saddan Yasir dan Fandi Fakhruddin mengatakan bahwa pengabdian masyarakat semacam ini sangat dibutuhkan, karena muslim disini sangat jarang mendapatkan pengajian agama langsung maupun melalui media sosial dikarenakan jaringan internet yang tidak bagus. Selain itu kami juga mengharapkan kepada PTKU MUI SUMUT untuk mendatangkan kembali dai’-da’inya ketempat ini, selain mengajari Agama Islam diharapkan juga adanya pelatihan bilal mayit, pelatihan khatib dan imam, serta mengadakan sunnat massal gratis. Ditambah lagi keadaan ekonomi yang sulit membuat sebagian Muslim kadang memutuskan untuk murtad, oleh karena itu diharapkan kepada pihak-pihak yang dapat menanggulanginya agar membantu menyediakan sarana dan fasilitas serta pelatihan-pelatihan produksi seperti cara pengolahan singkong menjadi keripik, pengolahan kopi dan sebagainya.

Mahasiswa PTKU yang melakukan pengabdian melakukan acara pamitan pada malam terakhir, yakni pada Minggu, 12 Mei 2019 dengan menyampaikan pesan untuk tetap istiqomah dalam iman dan ibadah kepada Allah ta’ala dan meminta agar jamaah mendoakan agar mahasiswa selamat sampai tujuan untuk berangkat keesokan harinya serta berharap dapat berjumpa pada lain waktu.