RAMADAN DAN ETOS KERJA*

0
1.164 views

Oleh: Prof.Dr.Saiful Akhyar Lubis,M.A.**

Rasional

         Islam menjadikan bekerja adalah sebagai hak dan kewajiban individu. Rasulullah SAW memotivasi umatnya untuk bekerja sebaik-baiknya dengan penuh kesungguhan. Justeru itu, Islam memandang bahwa memiliki pekerjaan merupakan salah satu perwujudan kewajiban bagi setiap umat Islam, seperti terkandung isyaratnya pada surah al-Qasas (28) ayat 77.

         Pekerjaan mempunyai dimensi yang cukup luas, yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan, baik secara spritual, personal, sosial, secara kultural, maupun secara kehidupan bernegara. Secara spritual pekerjaan merupakan salah satu kewajiban ibadah kepada Allah. Dari as­pek personal, pekerjaan merupakan aspek perkembangan dan perwujudan diri. Dari segi sosial, pekerjaan merupakan perwujudan peranan individu sebagai makhluk sosial. Secara kultural, pekerjaan merupakan salah satu perwujudan karya manusia sebagai makh­luk budaya. Dalam kehidupan bernegara, masalah peker­jaan para warga negara merupakan kunci kekuatan dan kemajuan suatu negara.

         Ditegaskan pula bahwa Ramadhan adalah bulan amal dan perjuangan. Perintah puasa ramadhan bukan hanya sekedar ibadah rutin sekali setahun dengan menahan haus dan lapar belaka, tetapi jauh lebih mulia, yaitu puasa ramadhan merupakan pintu dari sebuah perjuangan panjang menegakkan kalimah Allah di permukaan bumi ini, yang batas akhirnya tidak kunjung diketahui manusia.

Penghayatan Makna Ramadhan

       Ada tiga hal berkenaan dengan Ramadhan yang harus dihayati oleh setiap muslim, yakni: 1) Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur`an kepada Rasulullah Muhammad SAW, 2) Ramadhan adalah bulan maghfirah (keampunan), 3) Ramadhan adalah bulan amal dan perjuangan.

         Ketiga hal itu sederhana dan pada umumnya diketahui serta dapat mewujudkan amal dimaklumi oleh setiap muslim, tetapi sejauhmana ia mengimaninya dan nyata dalam seluruh aspek kehidupan, tentu sangat dipengaruhi oleh sejauhmana ia dapat memetik intisari dan hikmah dari ibadah puasa yang dilaksanakannya. Jika ditelusuri kronologi turunnya perintah berpuasa kepada Nabi Muhammad SAW pada tahun kedua Hijrah adalah setelah melalui tiga fase perjuangan, yakni: 1) Fase perjuangan menerima wahyu Allah sebagai amanah yang sangat besar untuk disampaikan kepada seluruh manusia, 2) Fase perjuangan penyampaian wahyu sebagai cahaya yang menyingkap tabir kegelapan dan kebodohan, 3) Fase Hijrah (dari Makkah ke Madinah) sebagai pernyataan dan sikap mental untuk melepaskan diri dari segala bentuk kemusyrikan, kezaliman dan kefasikan, dalam upaya mewujudkan suatu tempat yang memungkinkan tumbuhnya dinul Islam yang kondusif.

         Namun, perintah berpuasa tersebut sepertinya belum cukup untuk mempersiapkan seorang mukmin yang setia sebagai pengemban amanah, sehingga pada tahun ketiga Hijrah (saat kaum muslimin melaksanakan puasa ramadhan) turun pula perintah untuk berperang melawan kaum kafir yang dikenal dengan perang Badar al-Qubra (terjadi pada tanggal 17 Ramadhan). Dalam hal ini dapat dihayati sebuah isyarat bahwa berpuasa bukanlah sekedar ibadah rutin yang dilaksanakan sekali setahun dengan menahan haus dan lapar belaka, tetapi ia jauh lebih mulia karena ia merupakan pintu dari sebuah perjuangan panjang untuk menegakkan kalimah Allah di permukaan bumi yang batas akhirnya tidak dapat diketahui oleh manusia. Kunci pintu perjuangan dimaksud adalah:

  1. Mempelajari tulis baca, menghayati dan memahami al-Qur`an.

Memahami makna yang terkandung dalam al-Qur`an adalah tanggung jawab setiap muslim. Sangat ideal sunnah dan sirah Rasulullah SAW yang mewajibkan setiap muslim untuk mampu membaca al-Qur`an dengan baik (saat ini dikembangkan metode Iqra`).

  • Mendapatkan maghfirah (keampunan) dari Allah SWT.

Mendapatkan keampunan Allah SWT berarti melakukan upaya membersihkan diri dari segala bentuk kemusyrikan, kezaliman dan kefasikan, berikut mentaati perintah Allah SWT tanpa mencari-cari alasan seperti: menahan haus dan lapar serta hal-hal yang membatalkan puasa di hadapan kita (yang pada asasnya halal lagi baik). Ia diharamkan sampai waktu yang ditentukan (berbuka). Begitu taatnya seorang muslim karena ia mengharapkan keampunan dari Allah SWT Yang Maha Pengampun.

  •    Kesiapan melakukan amal (taat dan takwa).

Kesiapan melakukan amal dan taat untuk memperoleh derajat takwa adalah perintah Allah SWT dan sunnah Rasulullah SAW kepada setiap muslim. Amal pada bulan ramadhan diantaranya adalah zakat (fithrah dan mal) untuk kepentingan  dan kesejahteraan ummat, dan sekaligus mengangkat derajat Islam menegakkan kalimah Allah yang paling tinggi). Hal ini dapat dilihat isyaratnya dalam Firman Allah surah al-Saff (61): 10-11 dan surah Ali Imran (3): 31-32. Pernyataan sikap ini akan diiringi dengan ikrar yang didengungkan pada penghujung ramadhan dan di awal syawal dengan ucapan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai perwujudan dari suatu kemenangan pada sebuah perjuangan.