PERAN IBU DALAM MENGELOLA PEMBELANJAAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI IDUL FITRI

0
435 views

Oleh: Hj. Yusnaini [1]

PENDAHULUAN

Idul Fitri merupakan hari kemenangan  yang dirayakan oleh umat Islam setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Beragam cara dilakukan oleh umat Islam untuk mengekspresikan kegembiraan menyambut hari raya ini. Di Indonesia Idul Fitri atau sering disebut Lebaran disambut dan dirayakan dengan meriah. Takbir di malam hari raya, shalat ‘Id di pagi hari diikuti oleh sebagian besar kaum muslimin. Di samping aktifitas ibadah, umat Islam memeriahkan Idul Fitri dengan berbagai tradisi termasuk menyediakan makanan dan minuman, memakai baju baru dan lain-lain. Persiapan menyambut hari raya menyebabkan pengeluaran bertambah karena jumlah belanjaan yang cenderung lebih banyak. Sebagian masyarakat cenderung berperilaku konsumtif.

Ibu rumah tangga mempunyai peran penting dalam mengelola pembelanjaan keluarga dalam menghadapi Idul Fitri agar kestabilan keuangan keluarga dapat dipelihara. Pembelanjaan yang tidak dikelola secara baik dapat menimbulkan kesulitan keuangan bagi keluarga setelah hari raya.

HAKIKAT IDUL FITRI

Dalam terminologi Islam, Idul Fitri secara sederhana adalah hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali dibolehkan makan dan minum di siang hari. Dalam hal ini kata fitri diartikan “berbuka atau berhenti puasa”. Idul Fitri dengan makna yang umum adalah hari raya berbuka puasa, karena al-fitri artinya sarapan atau berbuka. Al-Fitri dapat pula diartikan kesucian (fitrah). Jadi hari raya Idul Fitri hari raya kembali kepada kesucian (fitrah) karena sesudah puasa dan Insya Allah diterima Allah amal ibadahnya, dia sudah bersih dari dosa dan noda sehingga dia seperti anak yang baru dilahirkan. (Abdullah Syah, 2009: 189).

M. Quraish Shihab (1998) menjelaskan bahwa Id berarti “kembali” dan fithr berarti “agama yang benar” atau “kesucian” atau “asal kejadian”. Kesucian adalah: gabungan unsur benar, baik, dan indah. Sehingga orang yang beridul fitri dalam arti “kembali ke kesuciannya” akan selalu berbuat yang indah, benar, dan baik.

Selanjutnya hakikat hari raya dalam Islam adalah hari berzikir dan bersyukur, sekaligus bersilaturrahim dan bermaafan. Ketika merayakan Idul Fitri setidaknya ada 3 sikap yang harus kita punyai, yaitu:

  1. Rasa penuh harap kepada Allah SWT. Harap akan diampuni dosa-dosa yang berlalu. Janji Allah SWT akan ampunan itu sebagai buah dari “kerja keras” sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa.
  2. Melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang kita lakukan telah sarat dengan makna, atau hanya puasa menahan lapar dan dahaga saja.  Di siang bulan Ramadhan kita berpuasa, tetapi hati, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyak orang yang hanya sekedar berpuasa  dari makan dan minum saja: “Berapa banyak orang yang berpuasa tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu, kecuali lapar dan dahaga”.
  3. Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, karena predikat takwa seharusnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Allah SWT: “Hai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (Q.S. Ali Imran,3 : 102).

PERANAN IBU DALAM MENGELOLA PEMBELANJAAN KELUARGA

            Urusan pembelanjaan keluarga merupakan bagian dari ekonomi keluarga. Ibu rumah tangga mempunyai fungsi dan peranan penting dalam menata perencanaan dan penggunaannya. Sikap dan tingkah laku yang ideal dalam mengelola ekonomi keluarga setidak-tidaknya adalah:

  1. Hemat
  2. Sederhana
  3. Menghindari pola hidup konsumtif
  4. Bijaksana dalam menentukan skala prioritas

Apabila sikap ibu rumah tangga dalam mengelola ekonomi keluarga didasari dengan perencanaan rasional, selalu memperhatikan jumlah pengeluaran yang berimbang dengan pemasukan, maka berarti ibu rumah tangga tersebut telah berperan baik dalam memelihara kestabilan ekonomi keluarga.

Dalam menyambut dan merayakan Idul Fitri ada beberapa tradisi yang dilaksanakan umat Islam dalam mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraannya. Dalam masyarakat kita hari raya Idul Fitri disambut dengan meriah dan bersemangat dengan berbagai kebiasaan antara lain:

  • Menyediakan makanan dan minuman: kue-kue kering, kue tradisional, ketupat, lontong, dan sebagainya disertai minuman sirup dan lain-lain.
  • Membeli baju baru terutama untuk anak-anak.
  • Pulang kampung atau mudik, terutama kalau masih ada orang tua di kampung.
  • Memberi hadiah kepada orang-orang tertentu dan memberi uang kepada yang lebih muda atau anak-anak.
  • Kunjung mengunjungi antar keluarga, jiran tetangga dan teman sejawat.

Berkaitan dengan berbagai hal yang biasa dilakukan dalam menyemarakkan hari Raya Idul Fitri tersebut, maka pengeluaran akan meningkat dari hari-hari biasanya. Pada dasarnya apa yang dilakukan untuk menyambut dan merayakan Idul Fitri tersebut tidaklah salah selama masih didasari dengan ikhlas dan niat karena Allah SWT. Adalah sikap yang keliru ketika hari Raya Idul Fitri tersebut dijadikan momen untuk bermewah-mewah, menunjukkan prestise dan berbelanja berlebih-lebihan. Karena itu perlulah terus dibangun kesadaran akan makna hari raya tersebut sebagai bagian dari ibadah, berzikir, dan bersyukur, juga bersilaturrahim dan bermaafan. Segala macam hidangan, pakaian baru dan lain-lain hanyalah pelengkap saja dalam suasana bahagia dan gembira tersebut. Bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan, tuntutan kebutuhan untuk menyambut hari raya terasa menjadi kesulitan tersendiri. Untuk itu perlu dibangun semangat bahwa kita tidak akan kehilangan makna Idul Fitri hanya karena tidak memakai baju baru dan tidak bisa membeli kue-kue seperti yang diinginkan.

Bagaimana langkah-langkah mengelola keuangan keluarga agar dapat melewati momentum Ramadhan dan Idul Fitri dengan selamat. Beberapa kiat berikut ini, yang disarikan dari berbagai sumber, mudah-mudahan bermanfa’at bagi ibu-ibu dalam menjalankan peranannya sebagai pengelola urusan belanja keluarga:

  • Tentukan skala prioritas dengan baik

Utamakan pengeluaran yang wajib seperti untuk zakat fitrah, fidyah kalau ada. Selanjutnya prioritaskan membeli kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak makan, dan sebagainya. Untuk kebutuhan lainnya pertimbangkan mana yang harus dibeli sampai dengan yang bisa ditunda atau mungkin belum perlu dibeli. Sederhana dalam berbelanja adalah salah satu sifat hamba Allah yang mendapat kemuliaan. “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. (Q.S. Al-Furqaan 25: 67).

  • Susun anggaran (buat daftar)

Sesuaikan anggaran dengan pemasukan yang ada. Cobalah masukkan dalam daftar semua rencana pengeluaran secara detail dan buatlah sehemat mungkin. Dengan membuat perencanaan  yang baik, keluarga sudah mereka-reka kebutuhan yang diperlukan. Hal ini dapat mengurangi biaya yang tidak penting.

  • Bijak dalam berbelanja

Usahakan belanja tidak keluar dari yang dianggarkan. Untuk menyiasati agar belanja lebih murah, ada ibu-ibu yang mencicil keperluan hari raya, misalnya membeli baju anak-anak jauh-jauh hari sebelum hari raya tiba, bahkan sebelum Ramadhan. Jangan pernah lupa untuk membandingkan harga di toko satu dengan lainnya agar kita dapat membeli dengan harga yang lebih murah. Harga barang-barang di pasar tradisional biasanya lebih murah dari pada harga di supermarket.

  • Disiplin dan kendalikan diri

Disiplin berarti mematuhi anggaran yang dibuat beserta waspada agar tidak terjadi kebobolan di pos tertentu. Pengendalian diri merupakan bagian dari usaha menahan hawa nafsu untuk tidak boros. Hendaknya kita selalu dapat membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. “Bujukan” obral yang bertebaran di pusat-pusat pembelanjaan seringkali menyebabkan orang tergoda dan ingin membeli barang-barang yang ditawarkan sekalipun sebenarnya barang-barang itu tidak begitu penting. Sikap disiplin dan pengendalian diri merupakan antisipasi agar kita tidak terjebak pada gaya hidup “besar pasak daripada tiang”.

  • Atur menu makanan dengan baik

Perhitungkan banyaknya tamu yang datang berdasarkan pengalaman hari raya tahun yang lalu, terutama pada satu hari raya. Dengan demikian ibu-ibu dapat mengatur menu dengan cermat dan menyediakan makanan yang sesuai dengan perkiraan jumlah tamu, sedapat mungkin tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan.

  • Jangan berhutang

Sekalipun banyak pos pengeluaran yang akan membengkak pada momen spesial ini, jangan lantas menjadi alasan anda untuk berhutang. Pengeluaran yang tak terkontrol bisa membuat kita jadi berhutang. Sedapat mungkin pengeluaran harus disesuaikan dengan kemampuan yang ada. Berhutang berarti akan menjadi beban di kemudian hari.

            Prinsipnya untuk berbelanja kebutuhan hari raya hendaklah tepat porsinya. Menurut Safir Senduk, financial planner dari Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk & Rekan, belanja Lebaran “normal” umumnya hanya menaikkan pengeluaran keluarga sekitar 1,5 kali, maksimal 2,5 kali pengeluaran biasa. Jika pengeluaran keluarga melebihi 5 kali, sudah bisa mengguncang keuangan rumah tangga. Lebih-lebih lagi jika anda berhutang kepada orang lain untuk mencukupi kebutuhan Lebaran.

PENUTUP

            Kunci dari kesuksesan dalam mengolah pembelanjaan keluarga dalam menyambut Idul Fitri adalah kesadaran akan makna Idul Fitri dan pengendalian diri agar tidak terpengaruh oleh tarikan hawa nafsu dalam menggunakan uang (harta) untuk berbelanja secara berlebihan.

DAFTAR BACAAN

Abdullah Syah, 2009, Butir-butir Mutiara Ramadhan, Medan, Cita Pustaka.

M. Quraish Shihab, 1998, ”Membumikan” Al Qur’an”, Bandung, Mizan.

Hardjito Notopuro, 1979, Peranan Wanita dalam Masa Pembangunan di Indonesia”, Jakarta, Ghalia Indonesia


[1]  Makalah disampaikan dalam Muzakarah yang dilaksanakan oleh Komisi Fatwa, MUI Provinsi Sumatera Utara tanggal 13 September 2009 di Medan.