MENYIKAPI PEMUTUSAN SILATURRAHIM DAN SOLUSINYA

0
1.441 views

Oleh: Prof. Dr. H. Ilhamuddin Nasution, MA.

Pendahuluan

Shilaturrahim tersusun dari dua kata, shilat(h) dan al-rahim. Shilat(h) berarti  hubungan dan al-rahim berarti penyayang. Adakalanya disebut juga shilaturrahmi. Kata al-rahm bermakna rahim atau peranakan.  Tampaknya kata al-rahm ini dipakai karena rahim merupakan simbol kasih sayang atau kekerabatan. Namun, rahim atau peranakan merupakan unsur fisik yang bisa sakit, daun fi al-rihim yang disebut al-ruham umpamanya, maka term shilaturrahmi dalam kontek ini tampaknya kurang match untuk dipakai. Apalagi dari term tersebut yang ingin diketengahkan adalah sesuatu yang sehat dan positif. Maka kata al-rahim yang bermakna  sifat penyayang lebih relevan untuk digunakan karena konteknya bertalian dengan persolan yang melibatkan unsur perasaan bukan unsur fisik. Sehingga dalam kontek ini term shilaturrahim lebih tepat untuk dipopulerkan daripada shilaturrahmi. Meskipun demikian yang paling tahu dalam hal ini tentu adalah mereka yang ahli Bahasa Arab yang barangkali cukup banyak dalam ruangan ini.

Di antara unsur penting dari ajaran Islam tentang sifat positif yang mesti dikembangkan dalam diri seseorang adalah rasa kasih sayang terhadap seluruh makhluk terutama sesama manusia. Baik muslim maupun non-muslim. Allah telah menjadikan kasih sayang sebagai misi risalah Rasulullah saw. Firman Allah: “Dan Aku tidak mengutusmu melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam” (QS, al-Anbiya:107). Ketika Rasulullah menggambarkan tugasnya, beliau bersabda: “Aku hanyalah pembawa rahmat dan petunjuk” (HR. Ibn Sa’ad, al-Hakim, al-Tirmizi secara mursal. Hakim dari Abu Hurairah, Darami dan Baihaqi dalam ‘Syu’ab al-Iman.’ Shahih al-Jami’al-Shagir. 2345).

Demikian pula pada permulaan al-Qur’an dan seluruh permulaan suratnya (kecuali surat al-Taubah) Allah menggunakan kalimat Bismillahirrahmannirrahim yang sangat menekankan unsur kasih sayang. Begitu pula tatkala Allah menggambarkan sifat RasulNya, dengan harapan kita dapat meneladaninya, Allah mengatakan: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. QS. Al-Taubah:129).

Dengan demikian, dapat dipastikan sifat kasih sayang sudah menjadi sifat yang melekat pada diri Nabi saw. Dalam kaitan itu pula beliau mendorong dan menggalakkan kita untuk mengimplementasikan sifat penyayang ini dan menjauhi sifat keras dan kasar. Dalam kaitan ini, Rasulullah saw. bersabda dalam beberapa hadis, di antaranya diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra. Rasulullah saw. Bersabda: “Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang kepada manusia, maka Allah tidak akan sayang kepadanya.” (HR. Muttafaq ‘alaih. Bukhari meriwayatkannya dalam al-Adab, Muslim dalam al-Fadhail).

Dari Abu Musa ra. Diriwayatkan bahwa beliau mendengar Nabi bersabda: “Kalian tidak dikatakan beriman, sehingga kalian saling menyayangi, Para sahabat bertanya; Wahai Rasulullah, kami semua orang yang penyayang. Nabi menjawab; itu bukan kasih sayang yang diberikan kepada temannya, akan tetapi itu sebagai kasih sayang yang bersifat umum. HR. Tabrani, para perawinya adalah perawi shahih sebagaimana dikatakanMundziri, al-muntaqa; 1322 dan Haitami 8/78).

Dari Abdullah bin Amr diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Orang yang saling menyayangi akan disayang Zat yang Maha Penyayang. Sayangilah orang yang di bumi, maka yang di langit akan menyayangi kalian. HR. Abu Daud; 4921, dan Tirmizi menyebut hadis ini hasan shahih; 1925).

Demikian penting dalam pandangan Islam agar seseorang berupaya memelihara dan menumbuhkembangkan sifat penyayang antar sesama, orang yang tidak menyayangi makhluk tidak akan memperoleh kasih sayang Allah. Dalam sebuah riwayat dari Muslim, bahwa Ibn Umar menceritakan suatu kejadian yang dialaminya ketika dalam suatu hari perjalanannya bersama-sama para sahabatnya ke Mekkah. Ketika itu ia mengendarai himar dan memakai sorban yang diikatkan dikepalanya. Ia berpapasan dengan seorang Arab dusun yang mengenalnya. Bukankah engkau anak si anu, kata laki-laki itu. Benar, jawab Ibn Umar. Kemudian ia memberikan himar dan sorbannya kepada laki-laki itu. Lalu atas kejadian yang luar biasa itu, sahabat-sahabatnya mengatakan: Semoga Allah mengampunimu. Engkau berikan laki-laki itu himar yang menjadi kendaraan yang engkau sayangi dan sorban yang engkau ikatkan di kepalamu ? Ibnu Umar menjawab: Bahwa sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah mengatakan bahwa berbuat baik yang paling utama adalah menghubungkan shilaturrahim dengan keluarga yang dicintai bapak. Kisah ini dipandang sebagai sabab al-wurud dari Hadis Rasulullah saw: Inna abarra al-birri an yashila al-rajulu ahla wuddi abihi ba’da an yuwalli al-ab. Menurut riwayat Abu Daud dari Abu Usaid, sabab al-wurud hadis ini adalah bahwa ketika mereka duduk-duduk di sekeliling Nabi saw, tiba-tiba datang seorang laki-laki bertanya; Wahai Rasulullah masihkah tersisa kesempatan bagi saya untuk berbakti kepada orang tua saya setelah beliau meninggal dunia ? Nabi menjawab: Benar, yaitu berupa ibadah shalat dan istigfar (memohonkan ampun) keduanya melaksanakan janji (amanah)nya, dan menghubungkan shilaturrahim yang tidak terwujud kecuali karena usaha keduanya dan memuliakan sahabat-sahabatnya. Terkait dengan ini, maka Ibn Umar memberikan himar dan sorbannya adalah karena ia tahu bahwa laki-laki itu seseorang yang disenangi Bapaknya.

Uaraian di atas menunjukkan betapa shilaturrahim itu merupakan bagian penting dalam ajaran Islam yang dalam kontek kekinian kita terkesan semakin terkikis dari kehidupan ril umat Islam. Bahkan oleh berbagai sebab tidak sedikit orang yang justru memutuskan shilaturrahim.